Hati-hati dalam menggunakan firasat, kita harus belajar dulu sampai ke tahapan diridhai Allah, baru akan terasa mana yang haq (benar) dan mana yang tidak. Kalau dalam hati kita masih tercampur aduk bisa berbahaya, kita bisa mengira sesuatu itu haq padahal batil dan sebaliknya.
Jadi tumbuhkan titik ridha dulu, cinta kepada Allah Ta’ala, karena itu tanda Allah ridha kepada kita. Entah apa yang membuat Dia ridha, kita hanya tiba-tiba dibuat mencintai-Nya, mencintai kehendak-Nya, mencintai ketetapan-Nya, memang bukan kita yang aktif, diberi begitu saja. Maka berbuat kebajikanlah banyak-banyak.
Tentang kebajikan (al birr) lihat QS Al Baqarah ayat 177.
...Kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan masa peperangan.***
Showing posts with label qalb. Show all posts
Showing posts with label qalb. Show all posts
Monday, November 25, 2013
Tanda Hati Sudah Berserah Diri
Saat kita menyiapkan hati agar ingin diatur Allah dalam kehidupan, maka Al Haq akan mulai mengalir ke dalam diri. Kehadiran Al Haq dalam diri akan meruntuhkan konsep yang salah dalam pikiran, waham yang tidak tepat dalam kehidupan dan sikap yang tidak pas. Tadinya takut miskin jadi kurang takut, tadinya kurang berani menjadi mengalir keberaniannya. Kalau kita minta diatur oleh Allah Ta'ala, maka Dia akan mengatur, sebaliknya kalau sekadar bicara ingin diatur oleh Allah tapi hatinya belum siap, maka Al Haq tidak akan pernah tampil dalam diri kita, sekalipun kita riyadhoh (latihan olah jiwa) setiap hari sekalipun. Jadi semua berawal dari niat.
Proses mengalirnya Al Haq dalam diri kita menandakan kita sudah mulai berada pada status orang yang berserah diri kepada Allah Ta'ala. Apapun yang kita miliki diserahkan kepada Allah Ta'ala, Sang Pemilik semua, apakah itu kepandaian kita, cita-cita kita, kegelisahan kita, kesedihan kita, anak kita yang kita khawatirkan masa depannya, serahkan semuanya. Kalau sudah kosong nanti Al Haq akan muncul dan semua kegelapan kita akan diganti dengan cahaya kebenaran.***
Proses mengalirnya Al Haq dalam diri kita menandakan kita sudah mulai berada pada status orang yang berserah diri kepada Allah Ta'ala. Apapun yang kita miliki diserahkan kepada Allah Ta'ala, Sang Pemilik semua, apakah itu kepandaian kita, cita-cita kita, kegelisahan kita, kesedihan kita, anak kita yang kita khawatirkan masa depannya, serahkan semuanya. Kalau sudah kosong nanti Al Haq akan muncul dan semua kegelapan kita akan diganti dengan cahaya kebenaran.***
Wednesday, August 14, 2013
Duka Cita Itu Bagaikan Muntahan
Nabi Muhammad mengatakan alasan engkau yang tidak menemukan kedamaian,
Jadi kenapa engkau tidak menemukan kedamaian dan terus menerus dilanda duka cita?
Karena duka cita itu bagaikan muntahan.
Selama masih ada kenikmatan yang tinggal dalam perutmu engkau tidak akan diberikan apapun untuk dimakan. Dan orang yang muntah tidak akan mampu makan apapun
Ketika sudah selesai muntah lantas ia mampu makan...
(Jalaluddin Rumi)
Warna hidup kita,takdir yang menimpa kita itu semua muntahan hati kita. Buram atau cemerlangnya kehidupan yang menerpa kita adalah manifestasi dari apa yang terkandung di hati yang termanifestasikan ke bentuk luar.
Ketika Nur Allah bertajali ke dalam hati kita, maka yang pertama kali terlempar itu adalah segala bentuk hijab-hijab hati, segala duka cita kita, hwa nafsu kita, kesombongan kita, semua hal itu akan mencengkram diri kita.
Seseorang yang diberi rahmat oleh Allah Ta'ala akan dihabiskan proses pembersihan hatinya selama hidup di dunia, karena apabila seseorang mati sementara dalam hatinya masih banyak hijab maka semua itu akan termanifestasi. Oleh karena itu Rasulullah saw mengatakan bahwa di hari kiamat nanti orang-orang yang sombong akan dimakan oleh anjingnya sendiri. Anjing-anjing itu adalah kesombongan yang berwujud, diberikan bentuk luar. Sesungguhnya alam akhirat itu adalah alam manifestasi dari hati kita masing-masing, semuanya berbentuk konkrit di sana, apakah itu kesombongan, amarah, dendam, dengki, dsb.
Jadi kenapa engkau tidak menemukan kedamaian dan terus menerus dilanda duka cita?
Karena duka cita itu bagaikan muntahan.
Selama masih ada kenikmatan yang tinggal dalam perutmu engkau tidak akan diberikan apapun untuk dimakan. Dan orang yang muntah tidak akan mampu makan apapun
Ketika sudah selesai muntah lantas ia mampu makan...
(Jalaluddin Rumi)
Warna hidup kita,takdir yang menimpa kita itu semua muntahan hati kita. Buram atau cemerlangnya kehidupan yang menerpa kita adalah manifestasi dari apa yang terkandung di hati yang termanifestasikan ke bentuk luar.
Ketika Nur Allah bertajali ke dalam hati kita, maka yang pertama kali terlempar itu adalah segala bentuk hijab-hijab hati, segala duka cita kita, hwa nafsu kita, kesombongan kita, semua hal itu akan mencengkram diri kita.
Seseorang yang diberi rahmat oleh Allah Ta'ala akan dihabiskan proses pembersihan hatinya selama hidup di dunia, karena apabila seseorang mati sementara dalam hatinya masih banyak hijab maka semua itu akan termanifestasi. Oleh karena itu Rasulullah saw mengatakan bahwa di hari kiamat nanti orang-orang yang sombong akan dimakan oleh anjingnya sendiri. Anjing-anjing itu adalah kesombongan yang berwujud, diberikan bentuk luar. Sesungguhnya alam akhirat itu adalah alam manifestasi dari hati kita masing-masing, semuanya berbentuk konkrit di sana, apakah itu kesombongan, amarah, dendam, dengki, dsb.
(Disajikan ulang dari Pengajian Hikmah Al Quran yang disampaikan Zamzam AJT, 21 Januari 2006)
Tuesday, August 6, 2013
Dunia Sekitar Sebagai Cerminan Kondisi Hati
Hati atau qalb manusia disebut sebagai Baitullah, namun tidak sembarang qalb bisa disinggahi oleh kekuasaan-Nya, di dalam hadits dikatakan:
"Langit-Ku dan bumi-Ku tidak dapat memuat-Ku
Tapi yang dapat memuat-Ku hanyalah qalb hamba-Ku yang mukmin"
Jadi, qalb seorang manusia yang sudah ditempa menjadi seorang mukmin lah yang dapat dihampiri oleh kuasa Allah, insipirasi-Nya, pengetahuan-Nya, kebijakan-Nya, ilmu-Nya dan sifat-sifat-Nya , bukan Dia secara Dzat yang ada di sana.
Cahaya Allah yang bertajali di dalam qalb manusia itu bagaikan sinar proyektor yang menimpa klise film, klise itu adalah hati kita, apapun yang ada dalam klise akan terpantul keluar oleh cahaya tersebut. Semua kehidupan kita sejak kecil menjejak di qalb masing-masing, apa-apa yang kita lihat dengan mata dan tangkap dengan indera kita semua menempel di hati - oleh karenanya penting untuk menggunakan indera kita dengan baik, sesuai dengan aturan-Nya.
Seorang hamba yang dirahmati Allah akan Ia pancarkan cahaya kuasa-Nya ke dalam qalbnya yang akan menampakkan isi hati orang itu. Kadang proyeksi dalam kehidupan bisa berupa suatu kesialan, musibah atau hal-hal yang menyenangkan, yang semuanya itu tidak lain merupakan cerminan kondisi hati kita per saat itu, jadi kehidupan kita adalah layar tiga dimensi dari hati masing-masing.
Dalam Al Quran dikatakan bahwa "semua hasanah berasal dari Allah sedangkan semua musibah itu berasal dari jiwamu sendiri". Qalb manusia terletak di dalam jiwa, yang merupakan entitas inti manusia. Kalau kita masih murung terhadap kehidupan, jangan lantas menyalahkan Tuhan, tapi coba pahami apa yang sebenarnya tengah terjadi, hidup ini apa sebenarnya? apa makna sebuah musibah? apa hikmah di balik segala peristiwa. Bukan sekedar mencari benar atau salah, tapi harus belajar memahami mekanismenya.
Kalau permukaan qalb orang itu jernih, hatinya bersih, maka ketika Allah bertajali dan semua isi hati dipancarkan dalam pandangan dia indah saja, walaupun pada fenomenanya itu adalah sebuah peperangan kehidupan, ini disebut tajali Al Jamal, warnanya dibaca secara subyektif oleh orang itu. Jadi apapun itu yang terjadi segeralah berkaca kepada hati masing-masing.
"Langit-Ku dan bumi-Ku tidak dapat memuat-Ku
Tapi yang dapat memuat-Ku hanyalah qalb hamba-Ku yang mukmin"
Jadi, qalb seorang manusia yang sudah ditempa menjadi seorang mukmin lah yang dapat dihampiri oleh kuasa Allah, insipirasi-Nya, pengetahuan-Nya, kebijakan-Nya, ilmu-Nya dan sifat-sifat-Nya , bukan Dia secara Dzat yang ada di sana.
Cahaya Allah yang bertajali di dalam qalb manusia itu bagaikan sinar proyektor yang menimpa klise film, klise itu adalah hati kita, apapun yang ada dalam klise akan terpantul keluar oleh cahaya tersebut. Semua kehidupan kita sejak kecil menjejak di qalb masing-masing, apa-apa yang kita lihat dengan mata dan tangkap dengan indera kita semua menempel di hati - oleh karenanya penting untuk menggunakan indera kita dengan baik, sesuai dengan aturan-Nya.
Seorang hamba yang dirahmati Allah akan Ia pancarkan cahaya kuasa-Nya ke dalam qalbnya yang akan menampakkan isi hati orang itu. Kadang proyeksi dalam kehidupan bisa berupa suatu kesialan, musibah atau hal-hal yang menyenangkan, yang semuanya itu tidak lain merupakan cerminan kondisi hati kita per saat itu, jadi kehidupan kita adalah layar tiga dimensi dari hati masing-masing.
Dalam Al Quran dikatakan bahwa "semua hasanah berasal dari Allah sedangkan semua musibah itu berasal dari jiwamu sendiri". Qalb manusia terletak di dalam jiwa, yang merupakan entitas inti manusia. Kalau kita masih murung terhadap kehidupan, jangan lantas menyalahkan Tuhan, tapi coba pahami apa yang sebenarnya tengah terjadi, hidup ini apa sebenarnya? apa makna sebuah musibah? apa hikmah di balik segala peristiwa. Bukan sekedar mencari benar atau salah, tapi harus belajar memahami mekanismenya.
Kalau permukaan qalb orang itu jernih, hatinya bersih, maka ketika Allah bertajali dan semua isi hati dipancarkan dalam pandangan dia indah saja, walaupun pada fenomenanya itu adalah sebuah peperangan kehidupan, ini disebut tajali Al Jamal, warnanya dibaca secara subyektif oleh orang itu. Jadi apapun itu yang terjadi segeralah berkaca kepada hati masing-masing.
(Disajikan ulang dari Kajian HIkmah Al Quran, Disampaikan oleh Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
Monday, August 5, 2013
Bukti Kita Terhijab Dari Allah Taála
Ada hukum kehidupan yang Allah Taála nyatakan dalam Al Qurán, tentang keniscayaan ujian dalam kehidupan khususnya bagi mereka yang mencari Allah Taála. Di sisi lain, bagi orang yang kufur kepada-Nya maka Dia akan bukakan pintu-pintu khazanah dunia; semua hal dibuat mudah, cari rezeki mudah, bisnis untung terus, manusia tertentu akan dibuat tenggelam dalam dunianya masing-masing apakah itu dalam bisnis, akademi, kehidupan sosial atau bahkan yang seolah-olah berbau spiritual. Tapi semua yang dia lakoni bukan membuat hatinya dekat dengan Allah Taála, dan tahu-tahu maut datang menjemput. Naudzubillahimindzalik.
Bukti hatinya masih berjarak dengan Allah Taála adalah ketidakmengertiannya atas beberapa fenomena yang menimpa dirinya atau kehidupan, keraguannya dalam perjalanan, kecemasannya akan masa depan, ketakutannya terhadap masa lalu, ketidaksabarannya menghadapi ujian, kesombongannya menikmati limpahan karunia-Nya, keputusannya dengan Al Qurán dan bahkan memaki-maki Allah di lisan atau hati, menuduh Dia tidak adil! Dia bikin aku sengsara! Dia tidak mengabulkan doaku!
Semoga Allah Taála berkenan mengangkat hijab dalam hati kita.
(Disajikan ulang dari Kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
Bukti hatinya masih berjarak dengan Allah Taála adalah ketidakmengertiannya atas beberapa fenomena yang menimpa dirinya atau kehidupan, keraguannya dalam perjalanan, kecemasannya akan masa depan, ketakutannya terhadap masa lalu, ketidaksabarannya menghadapi ujian, kesombongannya menikmati limpahan karunia-Nya, keputusannya dengan Al Qurán dan bahkan memaki-maki Allah di lisan atau hati, menuduh Dia tidak adil! Dia bikin aku sengsara! Dia tidak mengabulkan doaku!
Semoga Allah Taála berkenan mengangkat hijab dalam hati kita.
(Disajikan ulang dari Kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
Friday, November 23, 2012
Tanda Hati Bercahaya
Orang yang hatinya
diberi cahaya oleh Allah Swt, makrifatnya akan kuat dan dipenuhi cahaya
keimanan. Hatinya menjadi istiqamah dan mantap. Jiwanya menjadi tenang,
tentram, penuh percaya dan yakin. Ia akan menyerahkan segala perkara dan
urusannya pada Allah Swt.
Jika setan membisikinya dalam urusan rezeki dan sumber kehidupannya, hatinya tidak gundah atau goncang, karena ia sungguh yakin bahwa Allah sangat dekat padanya, Allah tidak pernah lalai atau lupa, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Allah Maha Pengampun dan Welas Asih, Allah Maha Adil dan tidak akan berbuat zalim, Allah Maha Kuasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya, Allah melindunginya dan Allah tidak perlu perlindungan dari yang lain.
Sebagaimana Allah telah menciptakannya dalam keadaan memiliki keinginan dan kebutuhan, maka Allah pun akan memberinya sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak hamba-Nya, dengan kadar yang ditentukan oleh-Nya, bukan oleh hamba-Nya, dalam waktu yang ditentukan-Nya, bukan oleh hamba-Nya.
(Imam At Tirmidzi)
Jika setan membisikinya dalam urusan rezeki dan sumber kehidupannya, hatinya tidak gundah atau goncang, karena ia sungguh yakin bahwa Allah sangat dekat padanya, Allah tidak pernah lalai atau lupa, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Allah Maha Pengampun dan Welas Asih, Allah Maha Adil dan tidak akan berbuat zalim, Allah Maha Kuasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya, Allah melindunginya dan Allah tidak perlu perlindungan dari yang lain.
Sebagaimana Allah telah menciptakannya dalam keadaan memiliki keinginan dan kebutuhan, maka Allah pun akan memberinya sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak hamba-Nya, dengan kadar yang ditentukan oleh-Nya, bukan oleh hamba-Nya, dalam waktu yang ditentukan-Nya, bukan oleh hamba-Nya.
(Imam At Tirmidzi)
Thursday, November 1, 2012
Bangun Dalam Keadaan Buta
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku
Maka baginya penghidupan yang sempit
Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta
Padahal sungguh sebelumnya ia adalah orang yang melihat
(QS Thahaa [20: 124-125)
Akan ada suatu masa dimana setelah akhir kehidupan alam raya, kiamat tiba dan setelah itu semua manusia akan dibangkitkan di alam mahsyar. Jiwa-jiwa yang dibangkitkan itu akan dipasangkan dengan raga yang baru, raga yang merupakan cerminan dari kondisi terakhir hati manusia saat ia meninggal. Jadi raga manusia saat itu bisa lebih baik atau lebih buruk daripada raga yang ia miliki sewaktu di dunia.
Apabila ketika ajal menjemput hatinya masih buta, maka si raga baru akan buta, seperti yang digambarkan di ayat Al Quran di atas. Bahkan Rasulullah saw bersabda bahwa di akhirat nanti ada orang yang dibangkitkan raganya manusia tapi kepalanya unta, atau raganya seperti harimau (karena meninggal masih menyimpan amarah, yang merupakan sifat hewaniyah), ada yang bangkit mempunyai lidah yang sangat luas karena lisannya selama di dunia sering menghina orang. Tidak sedikit riwayat mengenai kehidupan alam setelah kiamat diceritakan. Artinya raga yang dibentuk kembali dalam kehidupan berikutnya akan tergantung kepada kondisi hati seseorang saat ia meninggal. Kalau hati busuk, penuh kebencian, amarah dan dendam maka bentuk raga akan tak beraturan, sebaliknya kalau hatinya baik maka bentuk raganya baik pula.
Dalam kisah Nabi Isa Al Masih, berkata beliau saat berkunjung ke pemakaman “Ini (kuburan) orang yang sudah meninggal, mari kita lihat apa yang dia bawa saat ia meninggal”. Karena Nabi Isa adalah Ruhullah, maka bisa membangkitkan orang yang telah mati. Kemudian sang nabi berkata “Bangkitlah hai hamba Allah!” Begitu bangkit orang itu langsung berkata “mana keledaiku, mana keledaiku?” Menunjukkan bahwa saat ia hidup yang mendominasi pikirannya adalah keledainya. Suatu gambaran bahwa apa yang terbawa mati di alam pikiran juga akan terekam dan mewujud di sana.
Maka kalau kita meninggal jangan sampai urusan dunia terbawa, bisa dibayangkan di alam mahsyar nanti cari ‘keledai’nya masing-masing, tentu melelahkan dan menyiksa. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati atribut dunia, silahkan saja asal jangan sampai ‘nangkring’di hati kita sehingga kadar cinta-Nya melebihi kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada beribadah kepada-Nya.
Semoga kita termasuk hamba-Nya yang dibangunkan di alam nanti dalam keadaan baik. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Akan ada suatu masa dimana setelah akhir kehidupan alam raya, kiamat tiba dan setelah itu semua manusia akan dibangkitkan di alam mahsyar. Jiwa-jiwa yang dibangkitkan itu akan dipasangkan dengan raga yang baru, raga yang merupakan cerminan dari kondisi terakhir hati manusia saat ia meninggal. Jadi raga manusia saat itu bisa lebih baik atau lebih buruk daripada raga yang ia miliki sewaktu di dunia.
Apabila ketika ajal menjemput hatinya masih buta, maka si raga baru akan buta, seperti yang digambarkan di ayat Al Quran di atas. Bahkan Rasulullah saw bersabda bahwa di akhirat nanti ada orang yang dibangkitkan raganya manusia tapi kepalanya unta, atau raganya seperti harimau (karena meninggal masih menyimpan amarah, yang merupakan sifat hewaniyah), ada yang bangkit mempunyai lidah yang sangat luas karena lisannya selama di dunia sering menghina orang. Tidak sedikit riwayat mengenai kehidupan alam setelah kiamat diceritakan. Artinya raga yang dibentuk kembali dalam kehidupan berikutnya akan tergantung kepada kondisi hati seseorang saat ia meninggal. Kalau hati busuk, penuh kebencian, amarah dan dendam maka bentuk raga akan tak beraturan, sebaliknya kalau hatinya baik maka bentuk raganya baik pula.
Dalam kisah Nabi Isa Al Masih, berkata beliau saat berkunjung ke pemakaman “Ini (kuburan) orang yang sudah meninggal, mari kita lihat apa yang dia bawa saat ia meninggal”. Karena Nabi Isa adalah Ruhullah, maka bisa membangkitkan orang yang telah mati. Kemudian sang nabi berkata “Bangkitlah hai hamba Allah!” Begitu bangkit orang itu langsung berkata “mana keledaiku, mana keledaiku?” Menunjukkan bahwa saat ia hidup yang mendominasi pikirannya adalah keledainya. Suatu gambaran bahwa apa yang terbawa mati di alam pikiran juga akan terekam dan mewujud di sana.
Maka kalau kita meninggal jangan sampai urusan dunia terbawa, bisa dibayangkan di alam mahsyar nanti cari ‘keledai’nya masing-masing, tentu melelahkan dan menyiksa. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati atribut dunia, silahkan saja asal jangan sampai ‘nangkring’di hati kita sehingga kadar cinta-Nya melebihi kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada beribadah kepada-Nya.
Semoga kita termasuk hamba-Nya yang dibangunkan di alam nanti dalam keadaan baik. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Friday, October 19, 2012
Rasa – Karsa – Cipta – Karya
Dalam tasawuf dikenal empat tingkatan hijab hati, mulai dari rasa – karsa – cipta – karya. Rasa itu perasaan, karsa itu keinginan -baik yang positif atau negatif, cipta menyangkut pemikiran, sedangkan karya adalah pengamalan.
Misalnya seorang laki-laki melihat seorang perempuan, tatkala tersentuh hatinya menyukai sang wanita itu adalah tingkat rasa. Kemudian apabila rasa itu dibiarkan hingga muncul keinginan, itu karsa syahwat. Lalu apabila karsa dibiarkan semakin kuat sehingga pikirannya merancang bagaimana agar keinginan itu tercapai, maka itu adalah tingkatan cipta. Dan kalau sampai melakukan perbuatan zina maka sudah tingkat karya. Jadi perbuatan hati itu sudah mulai sejak tingkat ‘rasa’. Oleh karena itu agama mengontrol sejak rasa.
Imam Ali kw berkata tentang melihat perempuan, “pandangan pertama itu rezeki, sedangkan yang kedua adalah fitnah”. Rasulullah saw pun bersabda “apabila engkau berhasrat sesuatu kepada wanita, maka datangilah istrimu, sesungguhnya apa yang engkau cari ada padanya”. Demikian aspek syariat membuat koridor dalam berkehidupan agar hati tertib, hingga tertiblah seluruh tubuh, tidak sembarangan dipakai tanpa aturan Sang Pencipta.
Rasa hati yang tidak tepat bisa memburamkan qalb. Maka harus banyak-banyak istighfar. Supaya tidak lanjut ke tingkat karsa apalagi karya. Kebanyakan orang ‘menghukumi’ seseorang dari aspek ‘karya’, perbuatan yang tampak oleh mata. Perzinaan, pencurian, pembunuhan dihukumi. Akan tetapi aspek yang tiga (rasa-cipta-karya) juga tidak kalah berbahayanya dan perintah Allah sama kuatnya melarang hal yang tidak tampak ini. Yaitu jangan takabur, jangan dengki, tidak boleh bangga diri, jangan berkeluh kesah dll. Seringkali seseorang merasa dirinya sudah beragama karena sudah melakukan semua aspek jasadiyah; sholat, shaum, zakat, naik haji. Tapi kenapa hatinya kebanyakan tetap buta? Karena ada aspek dalam yang tidak dijaga.
Maka eksistensi ilmu tasawuf dalam khazanah Islam itu sangat penting, karena tasawuf memperdalam ilmu mengolah aspek rasa karsa cipta. Orang sufi yang benar tentu juga akan mengolah karya, hingga ia tidak mungkin menyepelekan syariah. Semuanya dilakukan secara beriringan dan harmoni.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Misalnya seorang laki-laki melihat seorang perempuan, tatkala tersentuh hatinya menyukai sang wanita itu adalah tingkat rasa. Kemudian apabila rasa itu dibiarkan hingga muncul keinginan, itu karsa syahwat. Lalu apabila karsa dibiarkan semakin kuat sehingga pikirannya merancang bagaimana agar keinginan itu tercapai, maka itu adalah tingkatan cipta. Dan kalau sampai melakukan perbuatan zina maka sudah tingkat karya. Jadi perbuatan hati itu sudah mulai sejak tingkat ‘rasa’. Oleh karena itu agama mengontrol sejak rasa.
Imam Ali kw berkata tentang melihat perempuan, “pandangan pertama itu rezeki, sedangkan yang kedua adalah fitnah”. Rasulullah saw pun bersabda “apabila engkau berhasrat sesuatu kepada wanita, maka datangilah istrimu, sesungguhnya apa yang engkau cari ada padanya”. Demikian aspek syariat membuat koridor dalam berkehidupan agar hati tertib, hingga tertiblah seluruh tubuh, tidak sembarangan dipakai tanpa aturan Sang Pencipta.
Rasa hati yang tidak tepat bisa memburamkan qalb. Maka harus banyak-banyak istighfar. Supaya tidak lanjut ke tingkat karsa apalagi karya. Kebanyakan orang ‘menghukumi’ seseorang dari aspek ‘karya’, perbuatan yang tampak oleh mata. Perzinaan, pencurian, pembunuhan dihukumi. Akan tetapi aspek yang tiga (rasa-cipta-karya) juga tidak kalah berbahayanya dan perintah Allah sama kuatnya melarang hal yang tidak tampak ini. Yaitu jangan takabur, jangan dengki, tidak boleh bangga diri, jangan berkeluh kesah dll. Seringkali seseorang merasa dirinya sudah beragama karena sudah melakukan semua aspek jasadiyah; sholat, shaum, zakat, naik haji. Tapi kenapa hatinya kebanyakan tetap buta? Karena ada aspek dalam yang tidak dijaga.
Maka eksistensi ilmu tasawuf dalam khazanah Islam itu sangat penting, karena tasawuf memperdalam ilmu mengolah aspek rasa karsa cipta. Orang sufi yang benar tentu juga akan mengolah karya, hingga ia tidak mungkin menyepelekan syariah. Semuanya dilakukan secara beriringan dan harmoni.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Tuesday, October 16, 2012
Ketika Shadr Bercahaya
Saat manusia lahir ke bumi, hatinya bersih dan lapang, maka seorang bayi atau anak kecil tidak menyimpan dendam, akan tetapi seiring dengan pertumbuhannya dan interaksinya dengan dunia sekitar, sang dada mulai penuh dengan pengaruh-pengaruh lingkungannya, dan ini adalah suatu keniscayaan, bahwa setiap orang akan melalui fase kegelapan dirinya masing-masing, untuk kemudian menemukan kembali cahayanya.
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk dan sifat yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami menurunkan derajatnya ke tingkat yang serendah-rendahnya…” (Al Quran, Surat At Tiin, ayat 4-5)
Orang yang hatinya sempit seringkali merasa tidak nyaman dengan kehidupan, apabila dihadapkan dengan sebuah masalah mudah cemas, hatinya goncang. Mudah tersinggung, ‘pundungan’. Adapun orang yang sudah lapang dadanya, seperti Rasulullah saw, mau dilempar batu, dilempar kotoran, mau dihina, tetap lapang hatinya. Saat beliau kepalanya berdarah karena dilempari batu disertai ejekan saat berdakwah ke Thaif, sehingga malaikat Jibril pun menawarkan untuk menimpakan gunung ke atas kota itu sebagai azab, Rasulullah menolak dan memaafkan seraya berkata, “..saya berharap dengan kehendak Allah, ada keturunan mereka yang akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya”.
Rasulullah adalah seorang yang teguh dalam pendirian. Ia sangat yakin akan ketentuan Tuhan dalam dirinya. Ia sangat percaya akan kekuasaan Tuhan terhadap segala sesuatu yang ada dalam alam raya ini. Maka dari itu Rasulullah tidak pernah khawatir hari esok, tidak pernah merasa putus asa dalam kondisi apapun. Rasulullah Muhammad selalu bersabar dan berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan untuk mengatasi segala ujian dan cobaan yang ditimpakan kepadanya. Rasulullah adalah seorang yang sangat bijaksana. Ia tidak pernah menghujat, mendengki, mencaci maki orang yang ada di sekelilingnya.
Demikianlah ketika cahaya keberserahdirian (Islam) telah menerangi dada seseorang, maka hati akan bersih dan lapang. Ini adalah suatu hal dapat terjangkau oleh setiap orang yang diizinkan Allah Ta’ala, dengan perjuangan mengalahkan ego dan hawa nafsu serta mensucikan jiwa.
Semoga Allah Ta’ala menambah cahaya dalam dada kita hingga ia lapang. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk dan sifat yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami menurunkan derajatnya ke tingkat yang serendah-rendahnya…” (Al Quran, Surat At Tiin, ayat 4-5)
Orang yang hatinya sempit seringkali merasa tidak nyaman dengan kehidupan, apabila dihadapkan dengan sebuah masalah mudah cemas, hatinya goncang. Mudah tersinggung, ‘pundungan’. Adapun orang yang sudah lapang dadanya, seperti Rasulullah saw, mau dilempar batu, dilempar kotoran, mau dihina, tetap lapang hatinya. Saat beliau kepalanya berdarah karena dilempari batu disertai ejekan saat berdakwah ke Thaif, sehingga malaikat Jibril pun menawarkan untuk menimpakan gunung ke atas kota itu sebagai azab, Rasulullah menolak dan memaafkan seraya berkata, “..saya berharap dengan kehendak Allah, ada keturunan mereka yang akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya”.
Rasulullah adalah seorang yang teguh dalam pendirian. Ia sangat yakin akan ketentuan Tuhan dalam dirinya. Ia sangat percaya akan kekuasaan Tuhan terhadap segala sesuatu yang ada dalam alam raya ini. Maka dari itu Rasulullah tidak pernah khawatir hari esok, tidak pernah merasa putus asa dalam kondisi apapun. Rasulullah Muhammad selalu bersabar dan berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan untuk mengatasi segala ujian dan cobaan yang ditimpakan kepadanya. Rasulullah adalah seorang yang sangat bijaksana. Ia tidak pernah menghujat, mendengki, mencaci maki orang yang ada di sekelilingnya.
Demikianlah ketika cahaya keberserahdirian (Islam) telah menerangi dada seseorang, maka hati akan bersih dan lapang. Ini adalah suatu hal dapat terjangkau oleh setiap orang yang diizinkan Allah Ta’ala, dengan perjuangan mengalahkan ego dan hawa nafsu serta mensucikan jiwa.
Semoga Allah Ta’ala menambah cahaya dalam dada kita hingga ia lapang. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Wednesday, October 3, 2012
Qalb Tempat Menerima Petunjuk Allah
..Barangsiapa yang beriman billah, maka Allah beri petunjuk kepada hatinya. (Al Qur’an [64]: 11)
Di ayat ini disebutkan fungsi qalb sebagai penerima petunjuk Allah Ta’ala. Hampir dalam setiap langkah dalam hidup kita harus menentukan pilihan, mulai saat membuka mata di pagi hari apakah kita akan segera bangun atau tidur lagi? Saya harus kemana? Pekerjaan yang mana yang harus saya ambil? Buku mana yang saya baca? Pasangan hidup saya yang mana? It’s a never ending story.
Saat kita memohon kepada Allah sesuatu, akan tetapi dalam dada kita masih dipadati oleh debu-debu dunia, hawa nafsu dan syahwat, maka sebenarnya sulit untuk menangkap yang mana petunjuk Allah Ta’ala. Mirip halnya gelombang radio FM, kalau tidak ada alat antena atau dekodernya maka gelombang tersebut tidak akan tertangkap walaupun gelombang terpancar setiap saat. Begitu pun petunjuk Allah yang bertebaran dimana-mana, akan sulit dibaca oleh orang yang hatinya masih khawatir akan dunia dan penuh hijab. Oleh karena itu kadang seseorang membutuhkan bantuan seorang guru dalam kehidupan untuk membantu membaca petunjuk Allah yang turun, sambil melatih hati kita, berjuang membersihkan jiwa untuk bisa lebih peka terhadap petunjuk Allah.
Namun, tatkala seseorang menerima petunjuk Allah Ta’ala sedangkan di hatinya ada unsur yang belum bersih, maka akan terjadi pertarungan di dalam diri. Berat untuk menjalankan petunjuk, khawatir akan hari esok. Misal seorang salik mendapatkan peluang bisnis yang tampaknya mendatangkan keuntungan besar, lalu turun petunjuk agar tidak menjalankannya, atau seseorang mempunyai pilihan calon suami atau istri, lalu petunjuknya mengatakan tidak boleh menikahinya, tentu bukan hal yang ringan untuk menjalankan dengan penuh keberserahan diri.
Setiap agama mengajari umatnya banyak hal tentang kehidupan sedemikian rupa, agar dadanya menyala terang dengan cahaya Ilahi, agar besar penyerahan dirinya kepada Allah Ta’ala dan cahaya imannya menyala terang.
Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita dalam menerima petunjuk-Nya. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Di ayat ini disebutkan fungsi qalb sebagai penerima petunjuk Allah Ta’ala. Hampir dalam setiap langkah dalam hidup kita harus menentukan pilihan, mulai saat membuka mata di pagi hari apakah kita akan segera bangun atau tidur lagi? Saya harus kemana? Pekerjaan yang mana yang harus saya ambil? Buku mana yang saya baca? Pasangan hidup saya yang mana? It’s a never ending story.
Saat kita memohon kepada Allah sesuatu, akan tetapi dalam dada kita masih dipadati oleh debu-debu dunia, hawa nafsu dan syahwat, maka sebenarnya sulit untuk menangkap yang mana petunjuk Allah Ta’ala. Mirip halnya gelombang radio FM, kalau tidak ada alat antena atau dekodernya maka gelombang tersebut tidak akan tertangkap walaupun gelombang terpancar setiap saat. Begitu pun petunjuk Allah yang bertebaran dimana-mana, akan sulit dibaca oleh orang yang hatinya masih khawatir akan dunia dan penuh hijab. Oleh karena itu kadang seseorang membutuhkan bantuan seorang guru dalam kehidupan untuk membantu membaca petunjuk Allah yang turun, sambil melatih hati kita, berjuang membersihkan jiwa untuk bisa lebih peka terhadap petunjuk Allah.
Namun, tatkala seseorang menerima petunjuk Allah Ta’ala sedangkan di hatinya ada unsur yang belum bersih, maka akan terjadi pertarungan di dalam diri. Berat untuk menjalankan petunjuk, khawatir akan hari esok. Misal seorang salik mendapatkan peluang bisnis yang tampaknya mendatangkan keuntungan besar, lalu turun petunjuk agar tidak menjalankannya, atau seseorang mempunyai pilihan calon suami atau istri, lalu petunjuknya mengatakan tidak boleh menikahinya, tentu bukan hal yang ringan untuk menjalankan dengan penuh keberserahan diri.
Setiap agama mengajari umatnya banyak hal tentang kehidupan sedemikian rupa, agar dadanya menyala terang dengan cahaya Ilahi, agar besar penyerahan dirinya kepada Allah Ta’ala dan cahaya imannya menyala terang.
Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita dalam menerima petunjuk-Nya. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Struktur Qalb
Salah satu waliyullah yang menjelaskan dengan gamblang tentang persoalan qalb adalah At Turmudzi. Beliau menerangkan bahwa qalb itu strukturnya terdiri dari 4 tingkatan:
1. Shadr (dada)
2. Qalb (hati)
3. Fu’ad (hati lebih dalam)
4. Lubb (hati yang terdalam).
Fu’ad atau lubb adalah aql hati atau aql jiwa. Ini beda dengan pikiran yang diproses dalam otak kita. Semua yang ada di raga adalah bayangan dari jiwa. Kalau raga punya mata, maka jiwa juga punya mata. Raga punya telinga karena itu bayangan dari jiwa yang punya telinga. Hanya kualitas yang dimiliki jiwa lebih tinggi, seperti halnya perbedaan antara benda dan bayangannya.
Setiap tingkatan struktur qalb akan teraktivasi oleh cahayanya masing-masing, seperti yang disebutkan dalam Al Quran. Shadr terkait dengan cahaya islam. Qalb terkait dengan cahaya iman. Fu’ad (akal hati yang pertama) terkait dengan cahaya ihsan. Lubb (akal hati yang terdalam) terkait dengan cahaya tauhid.
Orang yang telah memiliki cahaya islam, cahaya iman dan cahaya ihsan disebut orang telah beragama, insan yang telah memenuhi kondisi Ad Diin. Ingat hadis Jibril yang datang kepada Rasulullah dan para sahabat. Dikatakan beragama harus punya aspek islam, iman dan ihsan. Tapi itu bukan sekedar kata-kata, islam, iman dan ihsan yang dimiliki seseorang mewujud sebagai cahaya dalam dirinya, jadi bukan sekedar ungkapan dan tidak bisa asal diklaim. Setiap kebaikan yang tampak dalam diri insan dan anugerah yang Allah berikan kepada insan itu ada cahayanya, orang yang punya mata hati bisa melihat hal tersebut.
Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kita cahaya-Nya. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
1. Shadr (dada)
2. Qalb (hati)
3. Fu’ad (hati lebih dalam)
4. Lubb (hati yang terdalam).
Fu’ad atau lubb adalah aql hati atau aql jiwa. Ini beda dengan pikiran yang diproses dalam otak kita. Semua yang ada di raga adalah bayangan dari jiwa. Kalau raga punya mata, maka jiwa juga punya mata. Raga punya telinga karena itu bayangan dari jiwa yang punya telinga. Hanya kualitas yang dimiliki jiwa lebih tinggi, seperti halnya perbedaan antara benda dan bayangannya.
Setiap tingkatan struktur qalb akan teraktivasi oleh cahayanya masing-masing, seperti yang disebutkan dalam Al Quran. Shadr terkait dengan cahaya islam. Qalb terkait dengan cahaya iman. Fu’ad (akal hati yang pertama) terkait dengan cahaya ihsan. Lubb (akal hati yang terdalam) terkait dengan cahaya tauhid.
Orang yang telah memiliki cahaya islam, cahaya iman dan cahaya ihsan disebut orang telah beragama, insan yang telah memenuhi kondisi Ad Diin. Ingat hadis Jibril yang datang kepada Rasulullah dan para sahabat. Dikatakan beragama harus punya aspek islam, iman dan ihsan. Tapi itu bukan sekedar kata-kata, islam, iman dan ihsan yang dimiliki seseorang mewujud sebagai cahaya dalam dirinya, jadi bukan sekedar ungkapan dan tidak bisa asal diklaim. Setiap kebaikan yang tampak dalam diri insan dan anugerah yang Allah berikan kepada insan itu ada cahayanya, orang yang punya mata hati bisa melihat hal tersebut.
Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kita cahaya-Nya. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Saturday, September 22, 2012
Empat Macam Qalb
Berikut hadis Rasulullah tentang empat jenis qalb.
Qalb beda dengan perasaan. Qalb adalah rasa jiwa, kalau jiwanya bangun baru seorang manusia teraktivasi qalbnya.
“Ada empat macam qalb. Pertama, qalb yang bersih yang di dalamnya ada pelita yang bersinar cemerlang, itulah qalb si mukmin. Kedua, qalb yang hitam dan terbalik, itulah qalb si kafir. Ketiga, qalb yang terbungkus dan terikat dengan bungkusnya Keempat, qalb yang campur aduk di dalamnya ada iman dan kemunafikan”
Hadis ini juga berbicara tentang struktur insan yang dijelaskan dalam QS An Nuur [24]: 35.
Qalb orang mukmin adalah yang sudah menyala api di dalamnya, yaitu api dari ruh al quds. Ini adalah tingkatan iman yang tinggi, dimana sang hamba sudah menemukan misi hidupnya, tandanya adalah bahwa Allah berkenan menganugerahinya utusan dari alam jabarut yaitu menyalanya rul al quds dalam qalbnya.
Qalb yang hitam terbalik, tidak ada cahayanya adalah qalb orang kafir. Kafir berasal dari kata ‘kafara’ artinya tertutup, qalbnya tertutup dari cahaya Ilahiyah. Hati yang gelap tidak ada keinginan untuk mendekat kepada Tuhannya, tidak gandrung kepada kebaikan, dan tidak segan-segan melakukan kejahatan tanpa sedikit pun perasaan bersalah. Na’udzubillah.
Qalb yang terbungkus dan melekat pada bungkusnya adalah qalb yang melekat pada jasad. Seperti halnya zujaajah (bola kaca) yang melekat pada misykat. Ini adalah qalb orang munafik, yaitu orang yang sebetulnya hanya mencintai dunia di hatinya. Walaupun kata-kata atau penampilannya menampilkan ‘keshalehan’ tapi hatinya tetap menginginkan hal-hal yang selain Allah. Hal itu bisa berjenjang dari hal yang bersifat material, kekayaan, barang-barang mewah, atau yang bersifat imateril seperti kedudukan di mata manusia, waham spiritual dll.
Qalb yang bercampur antara keimanan dan kemunafikan adalah qalb pada umumnya salik tahapan awal. Mengerjakan shalat tapi juga berprasangka buruk, melaksanakan shaum tapi juga melakukan ghibah dan merendahkan orang. Jadi penyakit-penyakit hati masih bercampur dengan aspek keimanan.
Semoga Allah Yang Maha Kasih dan Lembut membasuh hati kita hingga bercahaya dengan rahmat-Nya. Aamiin.
(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT)
“Ada empat macam qalb. Pertama, qalb yang bersih yang di dalamnya ada pelita yang bersinar cemerlang, itulah qalb si mukmin. Kedua, qalb yang hitam dan terbalik, itulah qalb si kafir. Ketiga, qalb yang terbungkus dan terikat dengan bungkusnya Keempat, qalb yang campur aduk di dalamnya ada iman dan kemunafikan”
Hadis ini juga berbicara tentang struktur insan yang dijelaskan dalam QS An Nuur [24]: 35.
Qalb orang mukmin adalah yang sudah menyala api di dalamnya, yaitu api dari ruh al quds. Ini adalah tingkatan iman yang tinggi, dimana sang hamba sudah menemukan misi hidupnya, tandanya adalah bahwa Allah berkenan menganugerahinya utusan dari alam jabarut yaitu menyalanya rul al quds dalam qalbnya.
Qalb yang hitam terbalik, tidak ada cahayanya adalah qalb orang kafir. Kafir berasal dari kata ‘kafara’ artinya tertutup, qalbnya tertutup dari cahaya Ilahiyah. Hati yang gelap tidak ada keinginan untuk mendekat kepada Tuhannya, tidak gandrung kepada kebaikan, dan tidak segan-segan melakukan kejahatan tanpa sedikit pun perasaan bersalah. Na’udzubillah.
Qalb yang terbungkus dan melekat pada bungkusnya adalah qalb yang melekat pada jasad. Seperti halnya zujaajah (bola kaca) yang melekat pada misykat. Ini adalah qalb orang munafik, yaitu orang yang sebetulnya hanya mencintai dunia di hatinya. Walaupun kata-kata atau penampilannya menampilkan ‘keshalehan’ tapi hatinya tetap menginginkan hal-hal yang selain Allah. Hal itu bisa berjenjang dari hal yang bersifat material, kekayaan, barang-barang mewah, atau yang bersifat imateril seperti kedudukan di mata manusia, waham spiritual dll.
Qalb yang bercampur antara keimanan dan kemunafikan adalah qalb pada umumnya salik tahapan awal. Mengerjakan shalat tapi juga berprasangka buruk, melaksanakan shaum tapi juga melakukan ghibah dan merendahkan orang. Jadi penyakit-penyakit hati masih bercampur dengan aspek keimanan.
Semoga Allah Yang Maha Kasih dan Lembut membasuh hati kita hingga bercahaya dengan rahmat-Nya. Aamiin.
(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT)
Subscribe to:
Posts (Atom)