Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya Allah
bersama malaikat dalam naungan awan...
(QS Al Baqarah 210)
Hamba Allah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah mereka yang mengharapkan dirinya untuk diubah oleh Sang Maha Ilmu, setelah menyadari banyak kekufuran, banyak hijab, banyak kebodohan dan kegelapan dalam dirinya, bahwa dirinya tak lain hanya hamba yang lemah dan tidak tahu apa-apa, oleh karenanya ia menantikan datangnya kuasa Allah dalam dirinya.
Maka nuansa ayat ini adalah nuansa kehancuran, karena cahaya Allah apabila ia datang dalam hati seseorang, ia akan menghancurkan kebatilan, meruntuhkan hijab-hijab hati, kehancuran itu bisa jadi dirasakan sebagai sesuatu yang menyakitkan, tapi sebetulnya bukan diri kita yang sejati yang hancur akan tetapi ego kita, hawa nafsu kita, obsesi kita dan sekian banyak bentuk-bentuk kekufuran dan sisi gelap dalam diri. Perlahan-lahan sang hamba mulai merasakan adanya perubahan dalam dirinya, yang sebelumnya gampang tersinggung menjadi lebih legowo hatinya, yang tadinya mudah marah menjadi sabar, yang tadinya pelit tak ketulungan menjadi lebih pemurah, cahaya Allah berwujud menjadi sifat-sifat baik yang merahmati alam sekitarnya.
Adapun pengertian turunnya malaikat, ia adalah simbol dari kekuatan samawiyah, terbukanya indera-indera batin berupa mata hati, telinga hati, sirr, ruh, lub dll yang merupakan perangkat batin yang Allah berikan untuk membantu sang hamba mengenal kebenaran di balik fenomena kehidupan. Dalam skala besar peristiwa yang juga pernah didemonstrasikan pada zaman Musa as saat menerima 10 perintah Allah ini niscaya akan kita alami juga di alam mahsyar. Dalam konteks saat ini di dunia, ada orang-orang yang Allah hidupkan indera-indera batinnya untuk mengenal kebenaran.
(Disajikan ulang dari catatan pengajian hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Zamzam AJT, 17 Desember 2005)
Showing posts with label suluk. Show all posts
Showing posts with label suluk. Show all posts
Thursday, July 18, 2013
Friday, May 24, 2013
Kebanyakan Manusia Gagal Mencari Allah Ta'ala
Terlahir dalam alam yang merupakan ujung terjauh dari 'selendang-Nya', manusia kerap terperangkap dalam bentuk-bentuk dunia ini. Entah dia seorang milyuner atau seorang tukang sampah sekalipun sering ia lupa kepada siapa yang memberikan qadha (ketetapan) itu kepadanya. Bahwa Dia menetapkan ada yang rezekinya banyak, sedang dan sedikit di dunia ini. Allah Ta'ala menetapkan amal-amal manusia sebagai sesuatu yang mengikat dalam kehidupannya dan ia tidak bisa lari dari ketetapannya itu, adapun hati manusia maka Allah Ta'ala bebaskan, ada hati yang bersukur dan hati yang mengingkari-Nya.
Maka nilai seorang manusia terletak pada kebeningan hatinya masing-masing, sejauh mana hatinya mencari Allah Ta'ala. Seorang Sulaiman yang kaya raya menjadi hamba kesayangan-Nya karena hatinya mencari Sang Kekasih, sama derajatnya seperti seorang waliyullah yang berprofesi sebagai tukang tikar biasa. Allah hanya melihat hati manusia, bukan pernak-pernik dunia yang ia miliki yang sebenarnya semua datang dan ditetapkan oleh-Nya.
Sebetulnya pada apapun yang Allah berikan, besar atau kecil di mata manusia, selalu ada kemuliaan di dalamnya. Takdir kehidupan yang mengalirkan kita ke tempat dimana kita sekarang berada adalah bersifat suci dan mensucikan karena semua datang dari tangan-Nya. Sadarilah bahwa hidup kita dinaungi oleh kemuliaan-Nya, jangan terpaku oleh bentul-bentuk lahiriah dan fenomena semata, agar kita menjadi hamba-Nya yang bersyukur atas apapun yang Ia berikan.
Syukur memang kata yang singkat namun tidak mudah dilakukan dalam kehidupan, butuh kesabaran untuk bisa berkompromi dengan ketetapan-Nya sementara dalam benak kita dipenuhi oleh seribu satu keinginan dan harapan. Untuk sekedar menerima dengan baik penggal kehidupan kita yang telah lewat atau yang sedang dilakoni pun butuh rahmat-Nya. Memang kebanyakan manusia tidak mensyukuri dirinya dan gagal mencari Allah Ta'ala.
Maka nilai seorang manusia terletak pada kebeningan hatinya masing-masing, sejauh mana hatinya mencari Allah Ta'ala. Seorang Sulaiman yang kaya raya menjadi hamba kesayangan-Nya karena hatinya mencari Sang Kekasih, sama derajatnya seperti seorang waliyullah yang berprofesi sebagai tukang tikar biasa. Allah hanya melihat hati manusia, bukan pernak-pernik dunia yang ia miliki yang sebenarnya semua datang dan ditetapkan oleh-Nya.
Sebetulnya pada apapun yang Allah berikan, besar atau kecil di mata manusia, selalu ada kemuliaan di dalamnya. Takdir kehidupan yang mengalirkan kita ke tempat dimana kita sekarang berada adalah bersifat suci dan mensucikan karena semua datang dari tangan-Nya. Sadarilah bahwa hidup kita dinaungi oleh kemuliaan-Nya, jangan terpaku oleh bentul-bentuk lahiriah dan fenomena semata, agar kita menjadi hamba-Nya yang bersyukur atas apapun yang Ia berikan.
Syukur memang kata yang singkat namun tidak mudah dilakukan dalam kehidupan, butuh kesabaran untuk bisa berkompromi dengan ketetapan-Nya sementara dalam benak kita dipenuhi oleh seribu satu keinginan dan harapan. Untuk sekedar menerima dengan baik penggal kehidupan kita yang telah lewat atau yang sedang dilakoni pun butuh rahmat-Nya. Memang kebanyakan manusia tidak mensyukuri dirinya dan gagal mencari Allah Ta'ala.
(Sajian ulang dari Pengajian Hikmah Al Qur'an yang disampaikan Kang Zamzam AJT, 26 November 2005)
Tuesday, March 5, 2013
Kenali Ragamu
Dan carilah apa-apa
yang telah Allah tetapkan bagimu…
(QS Al Baqarah 187)
Kita lahir di dunia ini dalam kondisi dilingkupi oleh
ketetapan Allah Yang maha Kuasa. Tidak ada yang bisa menawar ingin dilahirkan
di orang tua tertentu atau di tempat tertentu, mempunyai bawaan bentuk wajah,
hidung atau warna kulit apa, it’s all
given! Semua datang dari ketetapan-Nya yang Maha Ilmu.
Kemudian Allah memerintahkan kita dalam ayat di atas untuk
mempelajari apa-apa yang Dia telah berikan dan mengevaluasi semua potensi
keragaan kita. Mengenali apa kelemahan raga dan apa kekuatannya merupakan hal
yang penting dalam jalan suluk. Jauh lebih penting dari sekedar mengalami
berbagai pengalaman spiritual yang gemilang tanpa disertai dengan pengetahuan
kedirian yang haq.
Idealnya setiap manusia diberi waktu 40 tahun lamanya untuk mengenali
dengan baik raga masing-masing. Kapan dia segar, kapan dia ambruk, makanan apa
yang membuat raga kita aktif, makanan apa yang membuat badan kita sakit.
Masing-masing akan mengenali hingga detail takaran apa yang thayyib dan apa yang
tidak, dan untuk melakukan ini tidak ada satu guru pun yang bisa mengatakan ini
dan itu karena semua betul-betul bersifat pribadi, hanya kita dengan Sang
Pencipta yang tahu persis.
Karena raga adalah bayangan dari jiwa, maka saat kita bisa
mengenali karakter asli raga kita dengan segala batasannya dan kemudian hidup
sesuai dengan kadar yang ditetapkan dalam arti tidak menabrak-nabrak pagar diri
sendiri, maka apapun yang raga kita lakukan baik itu makan, minum, beraktivitas
fisik akan berdampak baik dan mencerahkan bagi jiwa.
Semoga Allah membimbing kita dalam jalan pengenalan diri.
Aamiin
Wednesday, October 24, 2012
Tashawuf (Syaikh Abdul Qadir Jailani)
Istilah shufi berasal dari kata Arab “shaf” yang berarti suci. Kaum sufi diberi gelar ini karena alam batin mereka disucikan dan diterangi oleh cahaya ilmu, tauhid, dan keesaan. Dalam pengertian lain, mereka disebut sufi karena secara ruhani mereka dekat dengan para sahabat Rasulullah yang disebut “Ahlu Shufah” (Ahlu Shufah juga sering dimaknai sebagai para penghuni serambi. Sebutan ini merujuk kepada para sahabat Nabi saw. yang tinggal di serambi Mesjib Nabawi. Mereka adalah para sahabat yang fakir dan selalu beribadah kepada Allah- pen) – yang berbaju kasar terbuat dari bulu domba. Bahkan, mereka sendiri mungkin selalu mengenakan pakaian kasar dan murah yang terbuat dari bulu domba (shuuf) dan banyak pula dari mereka yang selalu mengenakan pakaian usang penuh tambalan.
Seperti penampilan lahir mereka yang miskin dan hina, begitu pula kehidupan duniawi mereka. Mereka sangat bersahaja dalam makan, minum dan kesenangan duniawi lainnya. Dalam kitab berjudul al-Majma’ dikatakan, “Kaum sufi adalah mereka yang bersikap sederhana dalam pakaian dan pandangan hidup.” Mungkin saja mereka tampak tertarik oleh kehidupan dunia. Namun, pengetahuan mereka diwujudkan dalam perilaku yang sopan dan santun sehingga orang-orang lain tertarik kepada mereka. Sesungguhnya mereka merupakan teladan bagi manusia. Mereka mngikuti ajaran-ajaran Allah. Dalam pandangan Tuhan, mereka berada di garis terdepan manusia; dalam pandangan para salik, terlepas dari penampilan lahiriah, mereka adalah orang-orang yang menawan hati. Mereka memiliki ciri yang sangat khas, karena mereka telah mencapai tingkatan tauhid yang sesungguhnya.
Dalam bahasa Arab, kata tashawwuf, terdiri atas empat huruf, t, sh, w, dan f. Huruf pertama, t, adalah singkatan dari tawbah, tobat. Inilah langkah pertama yang harus ditempuh di jalan ruhani, yang meliputi langkah lahir dan langkah batin. Langkah lahir ditempuh dengan perkataan, perbuatan dan perasaan. Secara lahiriah, orang yang bertobat harus memelihara hidupnya dari dosa dan maksiat serta condong kepada ketaatan; ia harus membebaskan diri dari penyimpangan dan kekafiran, seraya mencari keridhaan dan keselarasan. Langkah batin tobat ditempuh oleh hati. Langkah ini ditempuh dengan menyucikan hati dari segala noda dan salah. Langkah ini bersumber dari perlawanan terhadap hasrat duniawi dan keteguhan dalam kesucian. Tobat – yang merupakan kesadaran atas dosa dan kemestian meninggalkannya, juga merupakan kesadaran atas kebaikan dan tekad untuk mengamalkannya – akan membawa seseorang kepada tingkatan kedua.
Tingkatan kedua adalah keadaan tenang dan bahagia, shafaa. Tingkatan ini pun meliputi dua langkah, yakni langkah menuju kesucian hati, dan langkah menuju inti hakikatnya.
Ketentraman datang dari hati yang bebas dari kecemasan. Kecemasan disebabkan oleh kesenangan kepada dunia – makanan, minuman, tidur, dan cengkerama. Semua ini, seperti daya tarik bumi, menurunkan eter hati. Tentu saja, membebaskan diri dari tarikan duniawi merupakan langkah yang sangat berat dan melelahkan. Perjuangan itu menjadi semakin berat karena ada ikatan lain yang membelenggu eter hati ke bumi, termasuk hasrat, kekayaan, juga cinta istri dan anak-anak.
Cara membebaskan dan menyucikan hati adalah mengingat Allah. Pada awalnya, zikir dilakukan secara lisan dengan menyebut nama-Nya berulang-ulang, melafalkannya dengan keras sehingga kau dan orang lain mendengar dan mengingat-Nya. Ketika ingatan kepada-Nya telah mantap, zikir berlangsung dalam hati dan menjadi bagian batin; yang tertinggal hanya keheningan. Allah berfirman:
Sesungguhnya orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) (QS Al Anfaal [8]: 2)
Gemetar berarti kagum, takut, dan cinta kepada Allah. Dengan berzikir menyebut asma Allah, hati terjaga dari kelalaian, dibersihkan dan diterangi. Dengan begitu, bentuk dan rupa rahasia alam ghaib akan terpantul padanya. Rasulullah saw. bersabda, “Para ulama secara lahir mengunjungi dan memeriksa segala sesuatu dengan pikiran mereka, sedangkan kaum bijak secara batin sibuk membersihkan dan menerangi hati mereka.”
Inti hati akan meraih ketentraman jika telah disucikan dari segala sesuatu dan dipersiapkan untuk hanya menerima zat Allah, yang akan memasukinya jika ia telah dihiasi oleh cinta Ilahi. Inti hati dapat dibersihkan dengan zikir batin dan terus-terusan melafalkan kalimat tauhid “laa ilaaha illallaah” dengan lidah hakikat. Ketika hati dan intinya berada dalam keadaan tenteram dan bahagia maka tingkatan kedua, yang disimbolkan oleh huruf sh menjadi sempurna.
Huruf ketiga, w, adalah singkatan dari wilayah, yakni tingkat kewalian para pecinta dan kekasih Allah. Tingkatan ini bergantung kepada kesucian batin. Dalam kitab suci Alquran disebutkan bahwa para wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, dan bahwa bagi mereka berita gembira di kehidupan dunia dan (di kehidupan) akhirat… (QS Yunus [10]: 62 , 64).
Orang yang telah mencapai maqam kewalian sepenuhnya mencintai dan terhubung kepada Allah. Buah keadaan ini adalah perilaku yang sopan dan kepribadian yang hangat. Inilah karunia Ilahi yang dianugerahkan kepadanya. Rasulullah saw. bersabda, “Perhatikanlah akhlak Allah dan berperilakulah sesuai dengannya.” Pada tingkatan ini, seseorang telah menghapuskan sifat-sifat duniawinya yang fana dan menyatu dengan sifat-sifat Ilahi. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
Jika Aku mencintai hamba-Ku, Aku menjadi matanya, telinganya, lidahnya, tangannya, dan kakinya. Dia melihat melalui Aku, dia mendengar melalui Aku, dia berbicara melalui Aku, tangannya menjadi tangan-Ku dan dia berjalan bersama Aku.
Sucikan hatimu dari segala sesuatu dan ingatlah hanya kepada Allah, sebab: Katakanlah olehmu (Hai Muhammad), telah datang kebenaran dan telah binasa kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu binasa. (QS Al Israa [17]: 81)
Ketika kebenaran datang dan kebatilan binasa, tingkatan wilayah menjadi sempurna.
Huruf keempat, f, merupakan singkatan dari kata fana’, peniadaan diri. Diri yang batil dan keakuan luruh musnah ketika sifat-sifat Ilahi memasuki jiwa seseorang. Keakuan digantikan oleh keesaan.
Pada hakikatnya, kebenaran akan selalu ada, tak pernah hilang ataupun surut. Pemusnahan yang dimaksudkan di sini adalah bahwa seorang mukmin menyadari dan menyatu dengan zat yang telah menciptakannya. Ketika berada bersama-Nya, ia menerima keridhaan-Nya: wujud manusia yang fana menemukan eksistensinya dengan menyadari hakikat yang kekal: Segala sesuatu musnah kecuali zat-Nya…(QS Al Qashash [28]: 88) []
(Sirr al Asrar)
Seperti penampilan lahir mereka yang miskin dan hina, begitu pula kehidupan duniawi mereka. Mereka sangat bersahaja dalam makan, minum dan kesenangan duniawi lainnya. Dalam kitab berjudul al-Majma’ dikatakan, “Kaum sufi adalah mereka yang bersikap sederhana dalam pakaian dan pandangan hidup.” Mungkin saja mereka tampak tertarik oleh kehidupan dunia. Namun, pengetahuan mereka diwujudkan dalam perilaku yang sopan dan santun sehingga orang-orang lain tertarik kepada mereka. Sesungguhnya mereka merupakan teladan bagi manusia. Mereka mngikuti ajaran-ajaran Allah. Dalam pandangan Tuhan, mereka berada di garis terdepan manusia; dalam pandangan para salik, terlepas dari penampilan lahiriah, mereka adalah orang-orang yang menawan hati. Mereka memiliki ciri yang sangat khas, karena mereka telah mencapai tingkatan tauhid yang sesungguhnya.
Dalam bahasa Arab, kata tashawwuf, terdiri atas empat huruf, t, sh, w, dan f. Huruf pertama, t, adalah singkatan dari tawbah, tobat. Inilah langkah pertama yang harus ditempuh di jalan ruhani, yang meliputi langkah lahir dan langkah batin. Langkah lahir ditempuh dengan perkataan, perbuatan dan perasaan. Secara lahiriah, orang yang bertobat harus memelihara hidupnya dari dosa dan maksiat serta condong kepada ketaatan; ia harus membebaskan diri dari penyimpangan dan kekafiran, seraya mencari keridhaan dan keselarasan. Langkah batin tobat ditempuh oleh hati. Langkah ini ditempuh dengan menyucikan hati dari segala noda dan salah. Langkah ini bersumber dari perlawanan terhadap hasrat duniawi dan keteguhan dalam kesucian. Tobat – yang merupakan kesadaran atas dosa dan kemestian meninggalkannya, juga merupakan kesadaran atas kebaikan dan tekad untuk mengamalkannya – akan membawa seseorang kepada tingkatan kedua.
Tingkatan kedua adalah keadaan tenang dan bahagia, shafaa. Tingkatan ini pun meliputi dua langkah, yakni langkah menuju kesucian hati, dan langkah menuju inti hakikatnya.
Ketentraman datang dari hati yang bebas dari kecemasan. Kecemasan disebabkan oleh kesenangan kepada dunia – makanan, minuman, tidur, dan cengkerama. Semua ini, seperti daya tarik bumi, menurunkan eter hati. Tentu saja, membebaskan diri dari tarikan duniawi merupakan langkah yang sangat berat dan melelahkan. Perjuangan itu menjadi semakin berat karena ada ikatan lain yang membelenggu eter hati ke bumi, termasuk hasrat, kekayaan, juga cinta istri dan anak-anak.
Cara membebaskan dan menyucikan hati adalah mengingat Allah. Pada awalnya, zikir dilakukan secara lisan dengan menyebut nama-Nya berulang-ulang, melafalkannya dengan keras sehingga kau dan orang lain mendengar dan mengingat-Nya. Ketika ingatan kepada-Nya telah mantap, zikir berlangsung dalam hati dan menjadi bagian batin; yang tertinggal hanya keheningan. Allah berfirman:
Sesungguhnya orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) (QS Al Anfaal [8]: 2)
Gemetar berarti kagum, takut, dan cinta kepada Allah. Dengan berzikir menyebut asma Allah, hati terjaga dari kelalaian, dibersihkan dan diterangi. Dengan begitu, bentuk dan rupa rahasia alam ghaib akan terpantul padanya. Rasulullah saw. bersabda, “Para ulama secara lahir mengunjungi dan memeriksa segala sesuatu dengan pikiran mereka, sedangkan kaum bijak secara batin sibuk membersihkan dan menerangi hati mereka.”
Inti hati akan meraih ketentraman jika telah disucikan dari segala sesuatu dan dipersiapkan untuk hanya menerima zat Allah, yang akan memasukinya jika ia telah dihiasi oleh cinta Ilahi. Inti hati dapat dibersihkan dengan zikir batin dan terus-terusan melafalkan kalimat tauhid “laa ilaaha illallaah” dengan lidah hakikat. Ketika hati dan intinya berada dalam keadaan tenteram dan bahagia maka tingkatan kedua, yang disimbolkan oleh huruf sh menjadi sempurna.
Huruf ketiga, w, adalah singkatan dari wilayah, yakni tingkat kewalian para pecinta dan kekasih Allah. Tingkatan ini bergantung kepada kesucian batin. Dalam kitab suci Alquran disebutkan bahwa para wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, dan bahwa bagi mereka berita gembira di kehidupan dunia dan (di kehidupan) akhirat… (QS Yunus [10]: 62 , 64).
Orang yang telah mencapai maqam kewalian sepenuhnya mencintai dan terhubung kepada Allah. Buah keadaan ini adalah perilaku yang sopan dan kepribadian yang hangat. Inilah karunia Ilahi yang dianugerahkan kepadanya. Rasulullah saw. bersabda, “Perhatikanlah akhlak Allah dan berperilakulah sesuai dengannya.” Pada tingkatan ini, seseorang telah menghapuskan sifat-sifat duniawinya yang fana dan menyatu dengan sifat-sifat Ilahi. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
Jika Aku mencintai hamba-Ku, Aku menjadi matanya, telinganya, lidahnya, tangannya, dan kakinya. Dia melihat melalui Aku, dia mendengar melalui Aku, dia berbicara melalui Aku, tangannya menjadi tangan-Ku dan dia berjalan bersama Aku.
Sucikan hatimu dari segala sesuatu dan ingatlah hanya kepada Allah, sebab: Katakanlah olehmu (Hai Muhammad), telah datang kebenaran dan telah binasa kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu binasa. (QS Al Israa [17]: 81)
Ketika kebenaran datang dan kebatilan binasa, tingkatan wilayah menjadi sempurna.
Huruf keempat, f, merupakan singkatan dari kata fana’, peniadaan diri. Diri yang batil dan keakuan luruh musnah ketika sifat-sifat Ilahi memasuki jiwa seseorang. Keakuan digantikan oleh keesaan.
Pada hakikatnya, kebenaran akan selalu ada, tak pernah hilang ataupun surut. Pemusnahan yang dimaksudkan di sini adalah bahwa seorang mukmin menyadari dan menyatu dengan zat yang telah menciptakannya. Ketika berada bersama-Nya, ia menerima keridhaan-Nya: wujud manusia yang fana menemukan eksistensinya dengan menyadari hakikat yang kekal: Segala sesuatu musnah kecuali zat-Nya…(QS Al Qashash [28]: 88) []
(Sirr al Asrar)
Tuesday, October 16, 2012
Ketika Shadr Bercahaya
Saat manusia lahir ke bumi, hatinya bersih dan lapang, maka seorang bayi atau anak kecil tidak menyimpan dendam, akan tetapi seiring dengan pertumbuhannya dan interaksinya dengan dunia sekitar, sang dada mulai penuh dengan pengaruh-pengaruh lingkungannya, dan ini adalah suatu keniscayaan, bahwa setiap orang akan melalui fase kegelapan dirinya masing-masing, untuk kemudian menemukan kembali cahayanya.
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk dan sifat yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami menurunkan derajatnya ke tingkat yang serendah-rendahnya…” (Al Quran, Surat At Tiin, ayat 4-5)
Orang yang hatinya sempit seringkali merasa tidak nyaman dengan kehidupan, apabila dihadapkan dengan sebuah masalah mudah cemas, hatinya goncang. Mudah tersinggung, ‘pundungan’. Adapun orang yang sudah lapang dadanya, seperti Rasulullah saw, mau dilempar batu, dilempar kotoran, mau dihina, tetap lapang hatinya. Saat beliau kepalanya berdarah karena dilempari batu disertai ejekan saat berdakwah ke Thaif, sehingga malaikat Jibril pun menawarkan untuk menimpakan gunung ke atas kota itu sebagai azab, Rasulullah menolak dan memaafkan seraya berkata, “..saya berharap dengan kehendak Allah, ada keturunan mereka yang akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya”.
Rasulullah adalah seorang yang teguh dalam pendirian. Ia sangat yakin akan ketentuan Tuhan dalam dirinya. Ia sangat percaya akan kekuasaan Tuhan terhadap segala sesuatu yang ada dalam alam raya ini. Maka dari itu Rasulullah tidak pernah khawatir hari esok, tidak pernah merasa putus asa dalam kondisi apapun. Rasulullah Muhammad selalu bersabar dan berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan untuk mengatasi segala ujian dan cobaan yang ditimpakan kepadanya. Rasulullah adalah seorang yang sangat bijaksana. Ia tidak pernah menghujat, mendengki, mencaci maki orang yang ada di sekelilingnya.
Demikianlah ketika cahaya keberserahdirian (Islam) telah menerangi dada seseorang, maka hati akan bersih dan lapang. Ini adalah suatu hal dapat terjangkau oleh setiap orang yang diizinkan Allah Ta’ala, dengan perjuangan mengalahkan ego dan hawa nafsu serta mensucikan jiwa.
Semoga Allah Ta’ala menambah cahaya dalam dada kita hingga ia lapang. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk dan sifat yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami menurunkan derajatnya ke tingkat yang serendah-rendahnya…” (Al Quran, Surat At Tiin, ayat 4-5)
Orang yang hatinya sempit seringkali merasa tidak nyaman dengan kehidupan, apabila dihadapkan dengan sebuah masalah mudah cemas, hatinya goncang. Mudah tersinggung, ‘pundungan’. Adapun orang yang sudah lapang dadanya, seperti Rasulullah saw, mau dilempar batu, dilempar kotoran, mau dihina, tetap lapang hatinya. Saat beliau kepalanya berdarah karena dilempari batu disertai ejekan saat berdakwah ke Thaif, sehingga malaikat Jibril pun menawarkan untuk menimpakan gunung ke atas kota itu sebagai azab, Rasulullah menolak dan memaafkan seraya berkata, “..saya berharap dengan kehendak Allah, ada keturunan mereka yang akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya”.
Rasulullah adalah seorang yang teguh dalam pendirian. Ia sangat yakin akan ketentuan Tuhan dalam dirinya. Ia sangat percaya akan kekuasaan Tuhan terhadap segala sesuatu yang ada dalam alam raya ini. Maka dari itu Rasulullah tidak pernah khawatir hari esok, tidak pernah merasa putus asa dalam kondisi apapun. Rasulullah Muhammad selalu bersabar dan berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan untuk mengatasi segala ujian dan cobaan yang ditimpakan kepadanya. Rasulullah adalah seorang yang sangat bijaksana. Ia tidak pernah menghujat, mendengki, mencaci maki orang yang ada di sekelilingnya.
Demikianlah ketika cahaya keberserahdirian (Islam) telah menerangi dada seseorang, maka hati akan bersih dan lapang. Ini adalah suatu hal dapat terjangkau oleh setiap orang yang diizinkan Allah Ta’ala, dengan perjuangan mengalahkan ego dan hawa nafsu serta mensucikan jiwa.
Semoga Allah Ta’ala menambah cahaya dalam dada kita hingga ia lapang. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Wednesday, October 3, 2012
Cahaya Keberserahdirian
Barangsiapa yang Allah kehendaki diberi petunjuk maka dilapangkanlah dadanya untuk al islam ( berserah diri). (Al Quran [6]: 126)
At Turmudzi mengatakan bahwa aspek shadr (rongga dada) terkait dengan cahaya Islam (cahaya penyerahan diri). Kadang rongga dada manusia penuh oleh sesuatu di dalamnya yang merupakan elemen kebumian. Bagaikan paru-paru yang penuh dengan tanah, maka lambang kematian. Ini adalah gambaran manusia yang qalbnya terikat dengan bungkusnya, pertanda elemen dunia masih melekat dalam hatinya.
Ciri utamanya adalah hatinya masih berat untuk berserah diri kepada ketetapan Allah. Dalam hidup seringkali kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan, kerap kali antara cita-cita dan kenyataan bertolak belakang. Kita ingin bekerja di tempat A yang ada malah kerja di tempat B. Kita merindukan pasangan seperti X yang kita dapatkan pasangan Y. Kita ingin melakukan ini tidak bisa, ingin beli itu tidak punya uang, dan seterusnya. Manusia akan selalu terkepung oleh kekecewaan, sakit hati, pesimis, stress apabila tidak bisa berjalan sesuai dengan aturan main Sang Maha Pencipta. Padahal ‘Thy will be done’, sekuat apapun keinginan kita tidak akan mampu melawan kehendak-Nya.
Maka cara yang paling jitu untuk terlepas dari kemelut kebingungan di alam dunia adalah mengetahui dan mengerti apa maksud Sang Pencipta di balik semua tindakan, fenomena dan kejadian yang menimpa diri kita dan sekitarnya. Jalannya tidak lain adalah dengan berserah diri.
Berserah diri tidak sama dengan pasrah. Dibutuhkan elemen kerja keras dan ikhtiar optimal dalam berserah diri, tidak sekadar menunggu takdir turun dengan bertumpang tangan.
Anugerah Allah yang diberikan kepada seseorang agar hati orang itu mudah berserah diri yaitu melalui cahaya keislaman atau cahaya keberserahdirian yang diturunkan ke dalam shadr, sehingga lapanglah ia. Cahaya ini yang mengusir kegelapan dalam hati. Kegelapan yang bermanifestasi menjadi rasa khawatir hari esok, tidak menerima keadaan kita, marah dengan ketetapan-Nya dan aspek batil lainnya. Semakin gelap dada seseorang akan semakin khawatir dan tidak tenang dalam kehidupan, semakin kurang patuh dalam memenuhi perintah Allah, semakin tidak menerima ketetapan-Nya.
Tazkiyatun Nafas atau olah jiwa adalah proses yang dilalui dalam sebuah jalan suluk untuk membuang sampah dunia dari dalam dada kita. Hanya setelah dada dikosongkan dari yang tidak haq, maka qalb perlahan-lahan akan mulai bercahaya. Dada yang lapang membuat manusia lebih jernih dan lebih ringan menjalani kehidupan.
Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan kepada kita hati yang berserah diri. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
At Turmudzi mengatakan bahwa aspek shadr (rongga dada) terkait dengan cahaya Islam (cahaya penyerahan diri). Kadang rongga dada manusia penuh oleh sesuatu di dalamnya yang merupakan elemen kebumian. Bagaikan paru-paru yang penuh dengan tanah, maka lambang kematian. Ini adalah gambaran manusia yang qalbnya terikat dengan bungkusnya, pertanda elemen dunia masih melekat dalam hatinya.
Ciri utamanya adalah hatinya masih berat untuk berserah diri kepada ketetapan Allah. Dalam hidup seringkali kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan, kerap kali antara cita-cita dan kenyataan bertolak belakang. Kita ingin bekerja di tempat A yang ada malah kerja di tempat B. Kita merindukan pasangan seperti X yang kita dapatkan pasangan Y. Kita ingin melakukan ini tidak bisa, ingin beli itu tidak punya uang, dan seterusnya. Manusia akan selalu terkepung oleh kekecewaan, sakit hati, pesimis, stress apabila tidak bisa berjalan sesuai dengan aturan main Sang Maha Pencipta. Padahal ‘Thy will be done’, sekuat apapun keinginan kita tidak akan mampu melawan kehendak-Nya.
Maka cara yang paling jitu untuk terlepas dari kemelut kebingungan di alam dunia adalah mengetahui dan mengerti apa maksud Sang Pencipta di balik semua tindakan, fenomena dan kejadian yang menimpa diri kita dan sekitarnya. Jalannya tidak lain adalah dengan berserah diri.
Berserah diri tidak sama dengan pasrah. Dibutuhkan elemen kerja keras dan ikhtiar optimal dalam berserah diri, tidak sekadar menunggu takdir turun dengan bertumpang tangan.
Anugerah Allah yang diberikan kepada seseorang agar hati orang itu mudah berserah diri yaitu melalui cahaya keislaman atau cahaya keberserahdirian yang diturunkan ke dalam shadr, sehingga lapanglah ia. Cahaya ini yang mengusir kegelapan dalam hati. Kegelapan yang bermanifestasi menjadi rasa khawatir hari esok, tidak menerima keadaan kita, marah dengan ketetapan-Nya dan aspek batil lainnya. Semakin gelap dada seseorang akan semakin khawatir dan tidak tenang dalam kehidupan, semakin kurang patuh dalam memenuhi perintah Allah, semakin tidak menerima ketetapan-Nya.
Tazkiyatun Nafas atau olah jiwa adalah proses yang dilalui dalam sebuah jalan suluk untuk membuang sampah dunia dari dalam dada kita. Hanya setelah dada dikosongkan dari yang tidak haq, maka qalb perlahan-lahan akan mulai bercahaya. Dada yang lapang membuat manusia lebih jernih dan lebih ringan menjalani kehidupan.
Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan kepada kita hati yang berserah diri. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Wednesday, September 12, 2012
Mengenal Pohon Pribadi
Dalam diri setiap insan ada benih yang Allah tanam yang harus tumbuh. Benih itu ditanam di tanah raga dan bumi yang kondisinya tertentu supaya bisa tumbuh dengan optimal. Setiap benih menyimpan potensi menjadi sebuah pohon, potensi pohon ini yang disebut dengan fitrah pohon.
Sama halnya laki-laki dan perempuan. Laki-laki punya benih berupa sperma dan perempuan mengeluarkan sel telur (ovum). Sperma dalam bahasa Al Quran, yang matang dan ditanam disebut sebagai nutfah. Jadi istilah nutfah sama dengan benih pohon. Sedangkan ovum berfungsi sebagai lahan. Di dalam sperma ada potensi insan (fitrah). Maka dalam Al Quran ada kalimat “perempuan-perempuanmu adalah lahan bagimu”.
Sebagaimana benih yang tumbuh memerlukan perawatan supaya ia tumbuh dengan baik dijaga dari hal yang dapat menghalangi pertumbuhan atau racun yang dapat membunuh benih tersebut. Sama halnya ibu yang mengandung juga harus dijaga sedemikian rupa. Demikian juga pertumbuhan di tingkat jiwa juga sensitif, sehingga kita tidak bisa membuka fitrah diri seenaknya tanpa disiplin. Jiwa harus dihindarkan dari penyakit mengeluh, jangan merendahkan orang lain, bangga diri, prasangka buruk dsb, karena semua penyakit hati itu akan membuat benih mati.
Selain itu benih hanya bisa tumbuh baik dalam kondisi yang tepat, misal benih kurma yang biasa tumbuh di daerah gurun tidak akan bisa tumbuh baik di puncak gunung. Demikian pula dalam pernikahan, perlu kecocokan antara sperma dan sel telurnya. Dan yang lebih penting lagi adalah perlu kecocokan di tingkat jiwa pasangan itu, sehingga benih masing-masing pribadi dan keturunan yang dihasilkannya bisa tumbuh dengan baik.
Dalam Al Quran [30]: 30 Allah berbicara tentang fitrah yang harus ditemukan oleh setiap manusia: “ Hadapkanlah wajahmu dengan hanif (lurus) ke dalam ad diin (agama) Allah. Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah tsb, tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang teguh (diinul qayyim). Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Fitrah Allah itu berkaitan dengan diin, agama dalam arti yang luas. Karena mengenal fitrah itu juga berarti mengenal potensi benih yang Allah tanamkan dalam tiap insan, maka persoalan mengenal diri adalah sesuatu yang penting supaya seseorang kokoh dalam beragama.
Namun dalam ayat tersebut diindikasikan bahwa kebanyakan manusia tidak mengetahui persoalan fitrah ini. Bahwa ada fitrah yang tidak akan berubah dalam diri setiap manusia, apabila dalam benih itu fitrahnya benih cemara ya tentu akan menjadi pohon cemara, tidak akan mungkin berubah menjadi pohon pisang.
Jika fitrah itu tumbuh dan dikenali, seorang mukmin itu akan mencapai tingkatan beragama yang teguh (diinul qayyiim). Itu yang disebut bahwa setiap orang punya misi hidup, sebuah tugas yang disimpan dalam fitrah, kita harus menemukan fitrah itu.
Menemukan fitrah diri bukan sesuatu yang dapat dikira-kira atau sesimpel dilakukan psikotest untuk mengetahuinya. Jalannya adalah dengan menempuh proses bersuluk. Karena suluk adalah suatu proses agar kita kembali ke fitrah diri itu. Dimana lahan diri kita dibajak lagi, awan waham, prasangka kita dihapus, supaya tumbuhlah benihnya. Jika ia tumbuh jadi pohon, orang itu akan mengenal tugas dirinya. Maka orang itu disebut orang yang “mengenal dirinya”. Mengenal jiwa artinya mengenal fitrahnya.
Sebagaimana cangkir dibuat untuk air bukan untuk jelaga, maka dibalik semua ciptaan ada fungsi yang terkait. Seseorang baru tahu fungsinya bila sang pohon dirinya telah tumbuh. Sebelum itu terjadi baru tebak-tebakan, dan belum mengenal dirinya. Status orang yang telah tumbuh pohon dirinya adalah yang baru mengenal Rabbnya, “man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu”
Semoga Allah memudahkan kita menemukan kembali fitrah diri. Aamiin.
(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT)
Sama halnya laki-laki dan perempuan. Laki-laki punya benih berupa sperma dan perempuan mengeluarkan sel telur (ovum). Sperma dalam bahasa Al Quran, yang matang dan ditanam disebut sebagai nutfah. Jadi istilah nutfah sama dengan benih pohon. Sedangkan ovum berfungsi sebagai lahan. Di dalam sperma ada potensi insan (fitrah). Maka dalam Al Quran ada kalimat “perempuan-perempuanmu adalah lahan bagimu”.
Sebagaimana benih yang tumbuh memerlukan perawatan supaya ia tumbuh dengan baik dijaga dari hal yang dapat menghalangi pertumbuhan atau racun yang dapat membunuh benih tersebut. Sama halnya ibu yang mengandung juga harus dijaga sedemikian rupa. Demikian juga pertumbuhan di tingkat jiwa juga sensitif, sehingga kita tidak bisa membuka fitrah diri seenaknya tanpa disiplin. Jiwa harus dihindarkan dari penyakit mengeluh, jangan merendahkan orang lain, bangga diri, prasangka buruk dsb, karena semua penyakit hati itu akan membuat benih mati.
Selain itu benih hanya bisa tumbuh baik dalam kondisi yang tepat, misal benih kurma yang biasa tumbuh di daerah gurun tidak akan bisa tumbuh baik di puncak gunung. Demikian pula dalam pernikahan, perlu kecocokan antara sperma dan sel telurnya. Dan yang lebih penting lagi adalah perlu kecocokan di tingkat jiwa pasangan itu, sehingga benih masing-masing pribadi dan keturunan yang dihasilkannya bisa tumbuh dengan baik.
Dalam Al Quran [30]: 30 Allah berbicara tentang fitrah yang harus ditemukan oleh setiap manusia: “ Hadapkanlah wajahmu dengan hanif (lurus) ke dalam ad diin (agama) Allah. Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah tsb, tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang teguh (diinul qayyim). Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Fitrah Allah itu berkaitan dengan diin, agama dalam arti yang luas. Karena mengenal fitrah itu juga berarti mengenal potensi benih yang Allah tanamkan dalam tiap insan, maka persoalan mengenal diri adalah sesuatu yang penting supaya seseorang kokoh dalam beragama.
Namun dalam ayat tersebut diindikasikan bahwa kebanyakan manusia tidak mengetahui persoalan fitrah ini. Bahwa ada fitrah yang tidak akan berubah dalam diri setiap manusia, apabila dalam benih itu fitrahnya benih cemara ya tentu akan menjadi pohon cemara, tidak akan mungkin berubah menjadi pohon pisang.
Jika fitrah itu tumbuh dan dikenali, seorang mukmin itu akan mencapai tingkatan beragama yang teguh (diinul qayyiim). Itu yang disebut bahwa setiap orang punya misi hidup, sebuah tugas yang disimpan dalam fitrah, kita harus menemukan fitrah itu.
Menemukan fitrah diri bukan sesuatu yang dapat dikira-kira atau sesimpel dilakukan psikotest untuk mengetahuinya. Jalannya adalah dengan menempuh proses bersuluk. Karena suluk adalah suatu proses agar kita kembali ke fitrah diri itu. Dimana lahan diri kita dibajak lagi, awan waham, prasangka kita dihapus, supaya tumbuhlah benihnya. Jika ia tumbuh jadi pohon, orang itu akan mengenal tugas dirinya. Maka orang itu disebut orang yang “mengenal dirinya”. Mengenal jiwa artinya mengenal fitrahnya.
Sebagaimana cangkir dibuat untuk air bukan untuk jelaga, maka dibalik semua ciptaan ada fungsi yang terkait. Seseorang baru tahu fungsinya bila sang pohon dirinya telah tumbuh. Sebelum itu terjadi baru tebak-tebakan, dan belum mengenal dirinya. Status orang yang telah tumbuh pohon dirinya adalah yang baru mengenal Rabbnya, “man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu”
Semoga Allah memudahkan kita menemukan kembali fitrah diri. Aamiin.
(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT)
Wednesday, August 29, 2012
Bersuluk Adalah Menata Batin
Proses bersuluk adalah perjalanan seorang hamba mensucikan dirinya menuju Allah Ta'ala, hal ini sudah berlangsung sejak manusia pertama, Adam as. Dalam perkembangannya muncullah berbagai istilah, ada tasawuf,sufi dsb. Sebetulnya tasawuf hanya nama dari sebuah proses yang sudah dilakukan manusia sejak awal. Istilahnya bisa berubah-ubah seiring dengan waktu dan tempat.
Para sufi dalam tarekat adalah orang yang banyak berkecimpung dalam menata yang batin. Karena seringkali aspek syariat batiniyah kurang diperhatikan. Padahal hadits Rasulullah mengatakan diantaranya 'tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kibir, takabur/bangga diri, walau hanya sebesar dzarrah'. Jadi yang menjamin ke surga bukan hanya shalat, zakat, shaum, tapi juga tidak boleh takabur, merendahkan orang lain, mengeluh dsb adalah syariat batin yang sama disebutkan oleh Rasulullah saw.
Walaupun para sufi sangat serius mengelola batin mereka, bukan berarti mereka menyepelekan aspek syariat lahiriyah, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang menegakkan shalat, rajin melakukan ibadah sunnah, dan menegakkan aspek-aspek fiqih dalam syariat, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.
Wallahua'lam
(Disajikan dari materi Serambi Suluk yang disampaikan oleh Zamzam AJT)
Para sufi dalam tarekat adalah orang yang banyak berkecimpung dalam menata yang batin. Karena seringkali aspek syariat batiniyah kurang diperhatikan. Padahal hadits Rasulullah mengatakan diantaranya 'tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kibir, takabur/bangga diri, walau hanya sebesar dzarrah'. Jadi yang menjamin ke surga bukan hanya shalat, zakat, shaum, tapi juga tidak boleh takabur, merendahkan orang lain, mengeluh dsb adalah syariat batin yang sama disebutkan oleh Rasulullah saw.
Walaupun para sufi sangat serius mengelola batin mereka, bukan berarti mereka menyepelekan aspek syariat lahiriyah, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang menegakkan shalat, rajin melakukan ibadah sunnah, dan menegakkan aspek-aspek fiqih dalam syariat, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.
Wallahua'lam
(Disajikan dari materi Serambi Suluk yang disampaikan oleh Zamzam AJT)
Tuesday, August 28, 2012
Suluk dan Tarekat : Sebuah Pengantar
Suluk berasal dari Bahasa Arab 'salaka' yang artinya menempuh sesuatu atau melintasi/memasuki sesuatu. Jadi, kalau dikatakan melintasi sesuatu tentu ada jalan (thariq) yang ia pijaki. Oleh karena itu istilah suluk terkait erat dengan thariqah atau tarekat dalam bahasa kita.
Ketika orang berthariqah atau menempa jiwa menuju Allah, itu artinya bersuluk. Tapi aspek apa dari manusia yang dikatakan bersuluk? Apakah orang yang secara fisik melakukan zikir ribuan kali atau melakukan perjalanan menuntut ilmu atau bermeditasi itu serta merta dikatakan bersuluk? Karena ternyata tidak semua orang yang shalat itu bersuluk, tidak semua yang zikir itu bersuluk dan tidak semua muslim itu bersuluk. Jadi ada hal lain selain menetapi tata syariat lahiriah yang kita kerjakan.
Ada istilah 'perjalanan ruhani' atau 'perjalanan spiritual', terjemahan latin ruh memang spirit. Walaupun demikian sebenarnya istilah ini kurang tepat karena ruh itu berasal dari alam jabarut. Jadi istilah yang tepat adalah 'tazkiyatun nafs' atau pemurnian jiwa. Dengan demikian, yang bersuluk adalah jiwa (nafs) manusia.
Orang yang melakukan proses pensucian jiwa disebut 'salik' atau pejalan. Dalam Bahasa Persia dikenal dengan istilah 'darwish' sedangkan dalam Bahasa Arab dikenal sebagai 'zahid' - yang berzuhud, atau 'muriid'. Istilah 'muriid' artinya 'ia yang menghendaki', yaitu menghendaki Allah.
Seorang yang menempuh jalan suluk adalah dia yang mencari Allah, menata dirinya dengan syariat dan berakhlak baik. Dalam suluk dikenal tingkatan perjalanan, yang juga dikenal sebagai empat jenjang menuju Ad Diin (agama), yaitu:
1. Syariah
2. Thariqah
3. Haqiqah
4. Ma'rifah
Setelah bersyariat, kita bertarekat, maka istilahnya 'salaka', memasuki sesuatu. Jadi setelah kita menetapi kaidah syariat diperluas perjalanannya. Karena bertarekat itu berarti memasuki dunia pengalaman jiwa yang hidup, bukan sekedar teori. Pengalaman saya pribadi setelah bertarekat menjadi lebih mengerti istilah-istilah kunci dalam Al Quran seperti : iman, qalb, hawa nafsu, syahwat, alam barzakh, kekafiran, kemusyrikan dll - yang selama ini saya anggap sudah paham. Tapi lebih dari itu semua, setelah bertarekat, pencarian kepada Allah menjadi lebih fokus, terukur dan terbimbing di bawah panduan seorang mursyid.
Adapun salik juga dikenal sebagai seorang sufi, istilah dari tashawwuf yang makna esensinya adalah 'pemurnian'. Dalam proses pemurnian jiwa ini tak jarang seorang salik mengalami 'mukasyafah' atau keterbukaan sesuatu, sehingga ia makin memaknai agamanya.
(Disajikan dari materi Serambi Suluk yang disampaikan oleh Zamzam AJT)
'It is better to travel well than to arrive' - Buddha
Ketika orang berthariqah atau menempa jiwa menuju Allah, itu artinya bersuluk. Tapi aspek apa dari manusia yang dikatakan bersuluk? Apakah orang yang secara fisik melakukan zikir ribuan kali atau melakukan perjalanan menuntut ilmu atau bermeditasi itu serta merta dikatakan bersuluk? Karena ternyata tidak semua orang yang shalat itu bersuluk, tidak semua yang zikir itu bersuluk dan tidak semua muslim itu bersuluk. Jadi ada hal lain selain menetapi tata syariat lahiriah yang kita kerjakan.
Ada istilah 'perjalanan ruhani' atau 'perjalanan spiritual', terjemahan latin ruh memang spirit. Walaupun demikian sebenarnya istilah ini kurang tepat karena ruh itu berasal dari alam jabarut. Jadi istilah yang tepat adalah 'tazkiyatun nafs' atau pemurnian jiwa. Dengan demikian, yang bersuluk adalah jiwa (nafs) manusia.
Orang yang melakukan proses pensucian jiwa disebut 'salik' atau pejalan. Dalam Bahasa Persia dikenal dengan istilah 'darwish' sedangkan dalam Bahasa Arab dikenal sebagai 'zahid' - yang berzuhud, atau 'muriid'. Istilah 'muriid' artinya 'ia yang menghendaki', yaitu menghendaki Allah.
Seorang yang menempuh jalan suluk adalah dia yang mencari Allah, menata dirinya dengan syariat dan berakhlak baik. Dalam suluk dikenal tingkatan perjalanan, yang juga dikenal sebagai empat jenjang menuju Ad Diin (agama), yaitu:
1. Syariah
2. Thariqah
3. Haqiqah
4. Ma'rifah
Setelah bersyariat, kita bertarekat, maka istilahnya 'salaka', memasuki sesuatu. Jadi setelah kita menetapi kaidah syariat diperluas perjalanannya. Karena bertarekat itu berarti memasuki dunia pengalaman jiwa yang hidup, bukan sekedar teori. Pengalaman saya pribadi setelah bertarekat menjadi lebih mengerti istilah-istilah kunci dalam Al Quran seperti : iman, qalb, hawa nafsu, syahwat, alam barzakh, kekafiran, kemusyrikan dll - yang selama ini saya anggap sudah paham. Tapi lebih dari itu semua, setelah bertarekat, pencarian kepada Allah menjadi lebih fokus, terukur dan terbimbing di bawah panduan seorang mursyid.
Adapun salik juga dikenal sebagai seorang sufi, istilah dari tashawwuf yang makna esensinya adalah 'pemurnian'. Dalam proses pemurnian jiwa ini tak jarang seorang salik mengalami 'mukasyafah' atau keterbukaan sesuatu, sehingga ia makin memaknai agamanya.
(Disajikan dari materi Serambi Suluk yang disampaikan oleh Zamzam AJT)
'It is better to travel well than to arrive' - Buddha
Subscribe to:
Posts (Atom)