Saat kita menyiapkan hati agar ingin diatur Allah dalam kehidupan, maka Al Haq akan mulai mengalir ke dalam diri. Kehadiran Al Haq dalam diri akan meruntuhkan konsep yang salah dalam pikiran, waham yang tidak tepat dalam kehidupan dan sikap yang tidak pas. Tadinya takut miskin jadi kurang takut, tadinya kurang berani menjadi mengalir keberaniannya. Kalau kita minta diatur oleh Allah Ta'ala, maka Dia akan mengatur, sebaliknya kalau sekadar bicara ingin diatur oleh Allah tapi hatinya belum siap, maka Al Haq tidak akan pernah tampil dalam diri kita, sekalipun kita riyadhoh (latihan olah jiwa) setiap hari sekalipun. Jadi semua berawal dari niat.
Proses mengalirnya Al Haq dalam diri kita menandakan kita sudah mulai berada pada status orang yang berserah diri kepada Allah Ta'ala. Apapun yang kita miliki diserahkan kepada Allah Ta'ala, Sang Pemilik semua, apakah itu kepandaian kita, cita-cita kita, kegelisahan kita, kesedihan kita, anak kita yang kita khawatirkan masa depannya, serahkan semuanya. Kalau sudah kosong nanti Al Haq akan muncul dan semua kegelapan kita akan diganti dengan cahaya kebenaran.***
Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts
Monday, November 25, 2013
Wednesday, July 17, 2013
Bertaubatlah dan Berserahdirilah
وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).
(QS Az Zumar: 54)
Pada ayat yang terlihat sederhana ini tersimpan rahasia yang besar. Perhatikan bahwa kata bertaubat disandingkan dengan Rabb sedangkan kata berserah diri ditujukan untuk-Nya (Huwa).
Rabb adalah pangkat yang Dia (Huwa) miliki.
Kenapa kita bertaubat kepada Rabb?
Karena mengenal Rabb adalah gerbang untuk mengenal-Nya. KIta berinteraksi dengan Allah melalui Rubbubiyah-Nya. Allah sebagai Rabb yang memberi kita kehidupan, menggoreskan takdir, dilimpahkan ketetapan dan amr yang berbeda-beda. Setiap orang diciptakan berbeda-beda potensinya, kecerdasannya, raut wajahnya, kadar rezeki dan usianya. Dia sebagai Rabb yang menata, mengurus, mengqadha dan mengkadar seluruh kejadian dalam alam semesta ini. Maka apabila seorang manusia berbuat melampaui batas yang Dia tetapkan, dia patut bertaubat kepada-Nya sebagai Rabbul Áalamiin.
Dalam lingkup pertaubatan selalu ada komponen berserah diri. Jalan tarekat adalah jalan pertaubatan dan mekanismenya adalah dengan berserah diri. Berserah diri inilah yang ditata dengan teknik riyadhoh, fana itu berserah diri. Riyadhoh yang dikerjakan sebetulnya hanya metoda agar diri kita sampai ke maqam Al Islam, sebuah penyerahan diri yang haq. Tapi seringkali orang berserah diri dengan tanpa pengetahuan, pasrah begitu saja tanpa belajar apa-apa. Tanpa mempelajari Kitabullah, tanpa berkaca ke proses penyerahan diri yang dicontohkan para nabi dan orang-orang terang kita hanya akan menduga-duga bahwa kita telah berserah diri dengan benar. Sebagai
pejalan pemula kita seringkali jatuh bangun dalam memaknai penyerahan diri
kepada Allah, bagaimana itu ketaatan kepada Allah, kepada rasul, kepada mursyid dst, memang tidak
mudah, kita belajar terus.
Pada intinya tiada pertaubatan kecuali diikuti dengan penyerahan
diri, maka jalan manapun yang mengatakan sebagai jalan pertaubatan pasti ada
mekanisme berserah diri kepada Allah taála, Adapun berserah diri yang sesungguhnya bukan
semata-mata terletak pada pemotongan pikiran, syahwat, hawa nafsu, tapi sebuah
mentalitas, sebuah jiwa, sebuah kesadaran. Berserah kepada Allah taála adalah sesuatu abstrak, ukurannya apa? Kita hanya membentuk pengalaman pribadi masing-masing dan kita berinteraksi antara takdir yang ditetapkan kepada kita. Melalui takdir harian
kehidupan itulah kita belajar menemukan cara berserah diri yang Dia ridhai
untuk diri masing-masing.
(Sajian ulang dari Pengajian Hikmah Al Quran yang disampaikan Kang Zam, 17 Desember 2005)
Friday, November 23, 2012
Tanda Hati Bercahaya
Orang yang hatinya
diberi cahaya oleh Allah Swt, makrifatnya akan kuat dan dipenuhi cahaya
keimanan. Hatinya menjadi istiqamah dan mantap. Jiwanya menjadi tenang,
tentram, penuh percaya dan yakin. Ia akan menyerahkan segala perkara dan
urusannya pada Allah Swt.
Jika setan membisikinya dalam urusan rezeki dan sumber kehidupannya, hatinya tidak gundah atau goncang, karena ia sungguh yakin bahwa Allah sangat dekat padanya, Allah tidak pernah lalai atau lupa, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Allah Maha Pengampun dan Welas Asih, Allah Maha Adil dan tidak akan berbuat zalim, Allah Maha Kuasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya, Allah melindunginya dan Allah tidak perlu perlindungan dari yang lain.
Sebagaimana Allah telah menciptakannya dalam keadaan memiliki keinginan dan kebutuhan, maka Allah pun akan memberinya sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak hamba-Nya, dengan kadar yang ditentukan oleh-Nya, bukan oleh hamba-Nya, dalam waktu yang ditentukan-Nya, bukan oleh hamba-Nya.
(Imam At Tirmidzi)
Jika setan membisikinya dalam urusan rezeki dan sumber kehidupannya, hatinya tidak gundah atau goncang, karena ia sungguh yakin bahwa Allah sangat dekat padanya, Allah tidak pernah lalai atau lupa, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Allah Maha Pengampun dan Welas Asih, Allah Maha Adil dan tidak akan berbuat zalim, Allah Maha Kuasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya, Allah melindunginya dan Allah tidak perlu perlindungan dari yang lain.
Sebagaimana Allah telah menciptakannya dalam keadaan memiliki keinginan dan kebutuhan, maka Allah pun akan memberinya sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak hamba-Nya, dengan kadar yang ditentukan oleh-Nya, bukan oleh hamba-Nya, dalam waktu yang ditentukan-Nya, bukan oleh hamba-Nya.
(Imam At Tirmidzi)
Wednesday, October 3, 2012
Qalb Tempat Menerima Petunjuk Allah
..Barangsiapa yang beriman billah, maka Allah beri petunjuk kepada hatinya. (Al Qur’an [64]: 11)
Di ayat ini disebutkan fungsi qalb sebagai penerima petunjuk Allah Ta’ala. Hampir dalam setiap langkah dalam hidup kita harus menentukan pilihan, mulai saat membuka mata di pagi hari apakah kita akan segera bangun atau tidur lagi? Saya harus kemana? Pekerjaan yang mana yang harus saya ambil? Buku mana yang saya baca? Pasangan hidup saya yang mana? It’s a never ending story.
Saat kita memohon kepada Allah sesuatu, akan tetapi dalam dada kita masih dipadati oleh debu-debu dunia, hawa nafsu dan syahwat, maka sebenarnya sulit untuk menangkap yang mana petunjuk Allah Ta’ala. Mirip halnya gelombang radio FM, kalau tidak ada alat antena atau dekodernya maka gelombang tersebut tidak akan tertangkap walaupun gelombang terpancar setiap saat. Begitu pun petunjuk Allah yang bertebaran dimana-mana, akan sulit dibaca oleh orang yang hatinya masih khawatir akan dunia dan penuh hijab. Oleh karena itu kadang seseorang membutuhkan bantuan seorang guru dalam kehidupan untuk membantu membaca petunjuk Allah yang turun, sambil melatih hati kita, berjuang membersihkan jiwa untuk bisa lebih peka terhadap petunjuk Allah.
Namun, tatkala seseorang menerima petunjuk Allah Ta’ala sedangkan di hatinya ada unsur yang belum bersih, maka akan terjadi pertarungan di dalam diri. Berat untuk menjalankan petunjuk, khawatir akan hari esok. Misal seorang salik mendapatkan peluang bisnis yang tampaknya mendatangkan keuntungan besar, lalu turun petunjuk agar tidak menjalankannya, atau seseorang mempunyai pilihan calon suami atau istri, lalu petunjuknya mengatakan tidak boleh menikahinya, tentu bukan hal yang ringan untuk menjalankan dengan penuh keberserahan diri.
Setiap agama mengajari umatnya banyak hal tentang kehidupan sedemikian rupa, agar dadanya menyala terang dengan cahaya Ilahi, agar besar penyerahan dirinya kepada Allah Ta’ala dan cahaya imannya menyala terang.
Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita dalam menerima petunjuk-Nya. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Di ayat ini disebutkan fungsi qalb sebagai penerima petunjuk Allah Ta’ala. Hampir dalam setiap langkah dalam hidup kita harus menentukan pilihan, mulai saat membuka mata di pagi hari apakah kita akan segera bangun atau tidur lagi? Saya harus kemana? Pekerjaan yang mana yang harus saya ambil? Buku mana yang saya baca? Pasangan hidup saya yang mana? It’s a never ending story.
Saat kita memohon kepada Allah sesuatu, akan tetapi dalam dada kita masih dipadati oleh debu-debu dunia, hawa nafsu dan syahwat, maka sebenarnya sulit untuk menangkap yang mana petunjuk Allah Ta’ala. Mirip halnya gelombang radio FM, kalau tidak ada alat antena atau dekodernya maka gelombang tersebut tidak akan tertangkap walaupun gelombang terpancar setiap saat. Begitu pun petunjuk Allah yang bertebaran dimana-mana, akan sulit dibaca oleh orang yang hatinya masih khawatir akan dunia dan penuh hijab. Oleh karena itu kadang seseorang membutuhkan bantuan seorang guru dalam kehidupan untuk membantu membaca petunjuk Allah yang turun, sambil melatih hati kita, berjuang membersihkan jiwa untuk bisa lebih peka terhadap petunjuk Allah.
Namun, tatkala seseorang menerima petunjuk Allah Ta’ala sedangkan di hatinya ada unsur yang belum bersih, maka akan terjadi pertarungan di dalam diri. Berat untuk menjalankan petunjuk, khawatir akan hari esok. Misal seorang salik mendapatkan peluang bisnis yang tampaknya mendatangkan keuntungan besar, lalu turun petunjuk agar tidak menjalankannya, atau seseorang mempunyai pilihan calon suami atau istri, lalu petunjuknya mengatakan tidak boleh menikahinya, tentu bukan hal yang ringan untuk menjalankan dengan penuh keberserahan diri.
Setiap agama mengajari umatnya banyak hal tentang kehidupan sedemikian rupa, agar dadanya menyala terang dengan cahaya Ilahi, agar besar penyerahan dirinya kepada Allah Ta’ala dan cahaya imannya menyala terang.
Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita dalam menerima petunjuk-Nya. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Cahaya Keberserahdirian
Barangsiapa yang Allah kehendaki diberi petunjuk maka dilapangkanlah dadanya untuk al islam ( berserah diri). (Al Quran [6]: 126)
At Turmudzi mengatakan bahwa aspek shadr (rongga dada) terkait dengan cahaya Islam (cahaya penyerahan diri). Kadang rongga dada manusia penuh oleh sesuatu di dalamnya yang merupakan elemen kebumian. Bagaikan paru-paru yang penuh dengan tanah, maka lambang kematian. Ini adalah gambaran manusia yang qalbnya terikat dengan bungkusnya, pertanda elemen dunia masih melekat dalam hatinya.
Ciri utamanya adalah hatinya masih berat untuk berserah diri kepada ketetapan Allah. Dalam hidup seringkali kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan, kerap kali antara cita-cita dan kenyataan bertolak belakang. Kita ingin bekerja di tempat A yang ada malah kerja di tempat B. Kita merindukan pasangan seperti X yang kita dapatkan pasangan Y. Kita ingin melakukan ini tidak bisa, ingin beli itu tidak punya uang, dan seterusnya. Manusia akan selalu terkepung oleh kekecewaan, sakit hati, pesimis, stress apabila tidak bisa berjalan sesuai dengan aturan main Sang Maha Pencipta. Padahal ‘Thy will be done’, sekuat apapun keinginan kita tidak akan mampu melawan kehendak-Nya.
Maka cara yang paling jitu untuk terlepas dari kemelut kebingungan di alam dunia adalah mengetahui dan mengerti apa maksud Sang Pencipta di balik semua tindakan, fenomena dan kejadian yang menimpa diri kita dan sekitarnya. Jalannya tidak lain adalah dengan berserah diri.
Berserah diri tidak sama dengan pasrah. Dibutuhkan elemen kerja keras dan ikhtiar optimal dalam berserah diri, tidak sekadar menunggu takdir turun dengan bertumpang tangan.
Anugerah Allah yang diberikan kepada seseorang agar hati orang itu mudah berserah diri yaitu melalui cahaya keislaman atau cahaya keberserahdirian yang diturunkan ke dalam shadr, sehingga lapanglah ia. Cahaya ini yang mengusir kegelapan dalam hati. Kegelapan yang bermanifestasi menjadi rasa khawatir hari esok, tidak menerima keadaan kita, marah dengan ketetapan-Nya dan aspek batil lainnya. Semakin gelap dada seseorang akan semakin khawatir dan tidak tenang dalam kehidupan, semakin kurang patuh dalam memenuhi perintah Allah, semakin tidak menerima ketetapan-Nya.
Tazkiyatun Nafas atau olah jiwa adalah proses yang dilalui dalam sebuah jalan suluk untuk membuang sampah dunia dari dalam dada kita. Hanya setelah dada dikosongkan dari yang tidak haq, maka qalb perlahan-lahan akan mulai bercahaya. Dada yang lapang membuat manusia lebih jernih dan lebih ringan menjalani kehidupan.
Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan kepada kita hati yang berserah diri. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
At Turmudzi mengatakan bahwa aspek shadr (rongga dada) terkait dengan cahaya Islam (cahaya penyerahan diri). Kadang rongga dada manusia penuh oleh sesuatu di dalamnya yang merupakan elemen kebumian. Bagaikan paru-paru yang penuh dengan tanah, maka lambang kematian. Ini adalah gambaran manusia yang qalbnya terikat dengan bungkusnya, pertanda elemen dunia masih melekat dalam hatinya.
Ciri utamanya adalah hatinya masih berat untuk berserah diri kepada ketetapan Allah. Dalam hidup seringkali kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan, kerap kali antara cita-cita dan kenyataan bertolak belakang. Kita ingin bekerja di tempat A yang ada malah kerja di tempat B. Kita merindukan pasangan seperti X yang kita dapatkan pasangan Y. Kita ingin melakukan ini tidak bisa, ingin beli itu tidak punya uang, dan seterusnya. Manusia akan selalu terkepung oleh kekecewaan, sakit hati, pesimis, stress apabila tidak bisa berjalan sesuai dengan aturan main Sang Maha Pencipta. Padahal ‘Thy will be done’, sekuat apapun keinginan kita tidak akan mampu melawan kehendak-Nya.
Maka cara yang paling jitu untuk terlepas dari kemelut kebingungan di alam dunia adalah mengetahui dan mengerti apa maksud Sang Pencipta di balik semua tindakan, fenomena dan kejadian yang menimpa diri kita dan sekitarnya. Jalannya tidak lain adalah dengan berserah diri.
Berserah diri tidak sama dengan pasrah. Dibutuhkan elemen kerja keras dan ikhtiar optimal dalam berserah diri, tidak sekadar menunggu takdir turun dengan bertumpang tangan.
Anugerah Allah yang diberikan kepada seseorang agar hati orang itu mudah berserah diri yaitu melalui cahaya keislaman atau cahaya keberserahdirian yang diturunkan ke dalam shadr, sehingga lapanglah ia. Cahaya ini yang mengusir kegelapan dalam hati. Kegelapan yang bermanifestasi menjadi rasa khawatir hari esok, tidak menerima keadaan kita, marah dengan ketetapan-Nya dan aspek batil lainnya. Semakin gelap dada seseorang akan semakin khawatir dan tidak tenang dalam kehidupan, semakin kurang patuh dalam memenuhi perintah Allah, semakin tidak menerima ketetapan-Nya.
Tazkiyatun Nafas atau olah jiwa adalah proses yang dilalui dalam sebuah jalan suluk untuk membuang sampah dunia dari dalam dada kita. Hanya setelah dada dikosongkan dari yang tidak haq, maka qalb perlahan-lahan akan mulai bercahaya. Dada yang lapang membuat manusia lebih jernih dan lebih ringan menjalani kehidupan.
Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan kepada kita hati yang berserah diri. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Tuesday, August 28, 2012
Hadits Tentang 3 Pilar Ad Diin
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata :
Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata:
“ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.
Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.
Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Muslim)
Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata:
“ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.
Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.
Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Muslim)
Subscribe to:
Posts (Atom)