Showing posts with label taubat. Show all posts
Showing posts with label taubat. Show all posts

Wednesday, January 15, 2014

Saat Pikiran Dikalahkan Hawa Nafsu

"Dan Kami selamatkan kamu dari keluarga Firáun.
Keluarga Firáun itu menyembelih anak laki-laki dan membiarkan anak perempuan..."
(QS Al Baqarah [2]: 49)

Anak laki-laki adalah lambang dari akal, dan akal itu bertingkat-tingkat sejak dari akal pikiran jasad (otak) hingga akal pikiran di jiwa (lubb). Sedangkan anak perempuan (annisaa) adalah lambang dari hawa nafsu dan syahwat.

Dalam skala masyarakat, ayat ini menggambarkan bagaimana semrawutnya kondisi rakyat apabila tidak ada pengaturan yang baik dari pimpinan.
Dalam skala kehidupan diri pribadi, masing-masing kita mempunya aspek 'firáun'dalam diri yang kerjanya adalah membangkitkan hawa nafsu dan syahwat sehingga akal pikiran tidak jalan.
Kalau seseorang asal bicara tanpa dipikirkan lebih dahulu, gemar mengumbar syahwatnya - entah pada wanita, makanan, pakaian, perhiasan, mobil, perilaku konsumtif hingga harus hutang sana-sini dll itu semua adalah gejala ketidakterkendalian diri. Pertanda akal pikirannya 'tersembelih'dan membiarkan hawa nafsu dan syahwatnya mengambil alih setiap keputusan yang ia buat.


(Zamzam AJT)

Wednesday, July 17, 2013

Bertaubatlah dan Berserahdirilah

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). 
(QS Az Zumar: 54)

Pada ayat yang terlihat sederhana ini tersimpan rahasia yang besar. Perhatikan bahwa kata bertaubat disandingkan dengan Rabb sedangkan kata berserah diri ditujukan untuk-Nya (Huwa).
Rabb adalah pangkat yang Dia (Huwa) miliki.

Kenapa kita bertaubat kepada Rabb?
Karena mengenal Rabb adalah gerbang untuk mengenal-Nya. KIta berinteraksi dengan Allah melalui Rubbubiyah-Nya. Allah sebagai Rabb yang memberi kita kehidupan, menggoreskan takdir, dilimpahkan ketetapan dan amr yang berbeda-beda. Setiap orang diciptakan berbeda-beda potensinya, kecerdasannya, raut wajahnya, kadar rezeki dan usianya. Dia sebagai Rabb yang menata, mengurus, mengqadha dan mengkadar seluruh kejadian dalam alam semesta ini. Maka apabila seorang manusia berbuat melampaui batas yang Dia tetapkan, dia patut bertaubat kepada-Nya sebagai Rabbul Áalamiin.

Dalam lingkup pertaubatan selalu ada komponen berserah diri. Jalan tarekat adalah jalan pertaubatan dan mekanismenya adalah dengan berserah diri. Berserah diri inilah yang ditata dengan teknik riyadhoh, fana itu berserah diri. Riyadhoh yang dikerjakan sebetulnya hanya metoda agar diri kita sampai ke maqam Al Islam, sebuah penyerahan diri yang haq. Tapi seringkali orang berserah diri dengan tanpa pengetahuan, pasrah begitu saja tanpa belajar apa-apa. Tanpa mempelajari Kitabullah, tanpa berkaca ke proses penyerahan diri yang dicontohkan para nabi dan orang-orang terang kita hanya akan menduga-duga bahwa kita telah berserah diri dengan benar. Sebagai pejalan pemula kita seringkali jatuh bangun dalam memaknai penyerahan diri kepada Allah, bagaimana itu ketaatan kepada Allah, kepada rasul, kepada mursyid dst, memang tidak mudah, kita belajar terus.

Pada intinya tiada pertaubatan kecuali diikuti dengan penyerahan diri, maka jalan manapun yang mengatakan sebagai jalan pertaubatan pasti ada mekanisme berserah diri kepada Allah taála, Adapun berserah diri yang sesungguhnya bukan semata-mata terletak pada pemotongan pikiran, syahwat, hawa nafsu, tapi sebuah mentalitas, sebuah jiwa, sebuah kesadaran. Berserah kepada Allah taála adalah sesuatu abstrak, ukurannya apa? Kita hanya membentuk pengalaman pribadi masing-masing dan kita berinteraksi antara takdir yang ditetapkan kepada kita. Melalui takdir harian kehidupan itulah  kita belajar menemukan cara berserah diri yang Dia ridhai untuk diri masing-masing.

(Sajian ulang dari Pengajian Hikmah Al Quran yang disampaikan Kang Zam, 17 Desember 2005)


Tuesday, September 18, 2012

Taubat Adalah Membangun Kecintaan Kepada Allah

Dalam dunia tasawuf kita kerap menemukan ekspresi orang-orang yang hatinya demikian mencintai Allah. Seorang Rumi yang mabuk kepayang tenggelam dalam ekstasi kecintaan kepada tuhan yang diekspresikan lewat tariannya yang kemudian dikenal dengan ‘the whirling dervish’. Seorang Rabiah Al Adawiya yang sempat mengungkapkan ekspresi ‘Tidak mengapa aku ditempatkan dalam neraka-Mu, asal Engaku mencintaiku…’. Dan banyak lagi manusia-manusia cahaya Tuhan yang sebagian besar namanya bahkan tidak dikenal orang banyak.

Walaupun demikian, pada kenyataannya lebih banyak manusia yang hatinya diisi dengan kecintaan yang luar biasa kepada selain Allah. Bukan berarti kita tidak boleh mencintai segala hal, tapi kecintaan itu tidak boleh melebihi cinta kepada Allah. Itulah salah satu ciri orang beriman yang digambarkan dalam Al Quran “Adapun orang-orang beriman maka sangat besar kecintaan mereka kepada Tuhannya”

Tentu hal yang alami bila kita mencintai pasangan kita, anak kita, orang tua, saudara, tanaman kita, bahkan tubuh kita. Bukankah itu semua titipan dari Allah yang harus dijaga dengan baik, tapi semua itu ada kadarnya. Dan manakala cinta kepada Tuhan disandingkan dengannya maka kepentingan Tuhan selaiknya yang didahulukan.

Kita bisa mengukur sejauh mana kecintaan kita kepada Allah Ta’ala. Bila hati kita lebih senang berada berjam-jam di depan tv daripada bermunajat atau dzikir kepada-Nya, bila kita lebih asyik berselancar di dunia maya untuk mencari hiburan dibandingkan dengan mempelajari ayat-ayat dan hikmah-Nya, itu artinya ikatan dan makna Allah untuk diri kita belum kuat adanya, Allah masih bersifat simbolik semata.

Pertaubatan adalah proses panjang untuk membangun kecintaan kepada Allah kembali. Kita pernah sedemikian dekat dengan-Nya. Maka kita kadang merasakan rindu yang membara di saat-saat tertentu, kekosongan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, dan hanya Dia yang bisa mengisinya. Membangun kecintaan itu juga tidak bisa dengan duduk berpangku tangan. Harus berupaya dan menggali ilmunya, sebagaimana ungkapan ‘tak kenal maka tak sayang’, maka semakin kita mengenal sifat-sifat-Nya, makin kita menghargai apapun yang Dia berikan ke dalam kehidupan kita dan makin kita rindu untuk sering berduaan dengan-Nya dalam dzikir kita di tengah kehidupan.

Mari kita renungkan ciri-ciri hamba yang bertaubat yang digambarkan oleh Nabi Isa as yang direkam dalam Injil Barnabas sbb, semoga kita menjadi hamba-Nya yang bertaubat dengan taubat nasuha. aamiin:

Fasal 101
1. Kemudian Isa berkata, “Bahwa taubat itu adalah lawan dari kehidupan yang jahat. Dari sebab itu tiap pancaindera harus mengerjakan sebalik yang dikerjakan di waktu berbuat dosa.
2. Maka harus meratap sebagai gantinya bersenang-senang.
3. Dan menangis sebagai gantinya tertawa
4. Dan berpuasa sebagai gantinya berlebih-lebihan
5. Dan berjaga (malam) sebagai gantinya tidur
6. Dan bekerja sebagai gantinya menganggur
7. Dan wara (berhati-hati) sebagai gantinya syahwat
8. Dan hendaknya kelebihan berbicara diubah menjadi sembahyang dan kelobaan itu diubah menjadi sedekah.
13. Jika demikian ketahuilah bahwa taubat itu harus dikerjakan lebih banyak dari segala sesuatu, hanya semata-mata karena cinta kepada Allah. Jika tidak maka ia akan menjadi sia-sia belaka.

(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT; Injil Barnabas)