Showing posts with label ad diin. Show all posts
Showing posts with label ad diin. Show all posts

Tuesday, August 20, 2013

Amar Makruf: Tidak Sekedar Menasihati Pada Kebaikan

Agama adalah nasihat
- Rasulullah saw

Saling menasihati, amar makruf nahi munkar adalah kewajiban di antara kita.
Suatu masyarakat yang baik adalah sistem yang didalamnya subur mekanisme saling menasihati tentang kebenaran, dimulai dari etika, akhlak, persoalan muamalah hingga amar makruf yang tertinggi yaitu menasihati seseorang berkaitan dengan jati diri orang tersebut.

Amar makruf berkaitan dengan kata amr suatu tugas suci dari Allah Ta'ala. Jadi bukan sekedar menasihati melakukan perbuatan yang baik, tapi juga seyogyanya perbuatan itu harus sesuai dengan jati diri orang itu. Ini memang tidak mudah, oleh karenanya wajib untuk saling mengenal dengan baik sahabat kita, inilah ladang amalnya. Oleh karena itu dikatakan dalam Al Quran ;

"Siapa yang menghidupkan seorang manusia sama dengan menghidupkan seluruh manusia"

Karena kebangkitan jiwa satu manusia yang terhubung dengan Yang Maha Kuasa akan juga menerangi sekitarnya. Mari mulai mengenal dengan baik, menunjukkan antusiasme, ketertarikan kepada mereka yang Allah hadirkan di sekitar kita, mulai dari pasangan yang terdekat, orang tua, adik, kakak, saudara, teman, tetangga dan seterusnya.

(Disajikan ulang dari Kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Zamzam AJT, Januari 2006)


Tuesday, July 23, 2013

Nafs Wahidah

Insan manusia itu bukan sekedar jiwa atau sekedar raga penyatuan antara aspek malakutiyah dan aspek jasadiyah. Adapun seseorang yang sudah integral aspek jasadnya yang terdiri dari banyak elemen panca indera ke dalam jiwa itu dinamakan sebagai ummatan wahidah.

Jalan menuju peng-ummatan wahidah melalui jihadun nafs, suatu perjuangan seumur hidup yang Rasullah saw katakan sebagai jihadul akbar. Manakala kita nanti semua berhasil menyatukan komponen dalam raga kita, artinya dengan menggunakan perangkat apapun dalam indera kita, telinga, mata hidung kita selalu dzikrullah, selalu mengantarkan kepada ahadiyahnya Allah, itu baru disebut nafs wahidah. 

Kita seringkali berteriak dengan lantang bahwa semua masalah yang kita terima adalah dari Allah bukan dari yang lain, karena tidak ada hal yang tercipta selain dari Allah Ta'ala, tetapi ketika masalah mendera kita terjebak dalam kebingungan dan kekhawatiran, itu belum dikatakan nafs wahidah. Karena orang yang sudah menyatu semua komponen dirinya (Divine oneness ) akan melihat semua fenomena, mencium dan mendengar semua hal sebagai representasi Dia, bukan sesuat yang terpisah dari Allah Taála. Hal itu dikarenakan akal nafsul wahidah sudah menyinari dalam dirinya.

Maka kalau kita masih berkeluh kesah dalam kehidupan, itu praktis sudah menunjukkan belum adanya akal wahidah dalam diri. Atau kita masih menyombongkan diri, menganggap remeh yang lain, saling dengki, itu semua otomatis merupakan sebuah dalil yang haq akan tiadanya aql wahidah dalam dirinya, dan dia pada prinsipnya belum menegakkan diinnya.

(Dari catatan pengajian Hikmah Al Quran, Zamzam AJT. 31 Desember 2005)

Tuesday, May 7, 2013

Peran Yang Harus Kita Mainkan

Setiap manusia yang dilahirkan ke muka bumi terikat dengan peran yang harus dimainkan dengan baik oleh masing-masing. Ada yang dibungkus dalam pakaian laki-laki, ada yang berfungsi sebagai perempuan, ibu rumah tangga; ada yang misinya sebagai seorang guru spiritual, ada yang kebagian menjadi tukang bubur sebagai profesinya seumur hidup. Semua peran itu di mata Allah adalah sama, sungguh tidak ada yang satu lebih tinggi dari yang lain, karena semua ciptaan-Nya.

Masing-masing orang akan diuji dengan perannya itu, apakah seorang kaya bertingkah angkuh terhadap si miskin? Apakah yang kurang pandai merasa minder terhadap yang dianggap intelek? Apakah yang merasa dirinya kyai dan guru besar menganggap dirinya lebih benar?
Allah berfirman dalam Al Quran '...agar Kami melihat siapa yang paling baik amalnya'
Amal juga tercermin dalam sikap seseorang, dalam tingkah laku dan perangainya.

Sayangnya sebagian besar orang menolak memainkan peran yang telah Allah gariskan di dunia ini, dipikirnya peran ini dan itu lebih baik, lebih keren atau bahkan dibumbui embel-embel 'lebih spiritual'. Ketidakmampuan seseorang membaca diri dari takdir kehidupan yang telah membentuknya dari kecil hingga saat ini - yang sebenarnya di situ letak keping-keping puzzle siapa peran diri kita ditebarkan - membuat dia selalu mencari peran yang bukan dirinya. Ibaratnya seekor keledai yang terobsesi menjadi kuda pacuan, maka yang dia lakukan setiap hari memompa ototnya dan seluruh badannya untuk bisa lari sekencang kuda pacuan, tanpa mau berkaca dengan benar. Tentu saja sekencang-kencangnya keledai berlari tidak akan secepat seekor kuda pacuan yang terlahir dengan bakat dan modal yang sudah ada dalam dirinya.

Lantas, apa peran saya?
Mari kita mulai hening sesaat, berkontemplasi, bercermin dalam cermin kehidupan yang telah Allah rancang sampai saat ini, kita mulai identifikasi hal-hal apa saja yang Allah mudahkan sejauh ini, apa saja yang kita anggap sulit untuk dilakukan, apa saja kegagalan dan keberhasilan kita dll.
Kita mulai berjalan dari apa yang ada di genggaman tangan kehidupan per hari ini, dengan apa yang dimiliki, saat ini, di sini. Bismillah...

(Disajikan ulang dari Pengajian Hikmah Al Quran, Zamzam AJT, 5 November 2005)

Amsterdam, 7 Mei 2013
3.49 pm

Tuesday, February 26, 2013

Menikah Itu Tidak Mudah


Hendaklah kalian menempuh salah satu di antara dua jalan
Jalan Muhammad atau jalan Isa
- Jalaluddin Rumi

Menempuh jalan Muhammad berarti engkau memberanikan diri untuk menikah dan menempuh segala pernak-pernik kehidupan berumah tangga, sedangkan jalan Isa adalah jalan kerahiban, bersabar dalam kesendirian dan menerjang kesepian.

Rasulullah saw pun berpesan sama mengenai hal ini, "Menikahlah, jika kau tidak sanggup maka berpuasalah"

Suatu ketika seorang murid kemudian menanggapi spontan atas kata-kata Rumi yang tengah dikutip sang guru dengan berkata, "Guru, aku ingin menempuh jalan Muhammad saja, menikah kan enak!" seraya senyam-senyum penuh percaya diri. Kemudian sang guru menjawab dengan ringan, "Hehe, dasar kamu belum tahu ya nak, justru jalan pernikahan itu jalan yang lebih sulit dan mendaki"

Banyak orang tenggelam dalam fantasi romantis ketika mereka memutuskan untuk menikah sehingga ada istilah "when the honeymoon is over", banyak hal menjadi terasa kurang geregetnya atau malah mengecewakan. Jim McNulty, seorang Profesor Psikologi di Universitas Tennessee yang meneliti selama 15 tahun terhadap pasangan yang menikah  berkata bahwa banyak pasangan yang bahagia di awal waktu dan kemudian kebahagiaan itu memudar seiring dengan waktu. Tahun pertama dikatakan sebagai tahun yang penuh kemelut dan angka perceraian biasanya tinggi di lima tahun pertama usia pernikahan.

Menikah itu dalam istilah Ibnu Arabi dikatakan sebagai, "Engkau masuk ke lingkungan nisaa (perempuan-perempuan) yang engkau tidak sanggup untuk bersabar." Tapi justru melalui jalan pernikahanlah kita diajarkan untuk bersabar. Oleh karenanya mereka yang memegang teguh perjanjian pernikahan, yang dikatakan sebagai perjanjian kedua teragung setelah perjanjian antara hamba dengan Rabb-nya , diberi ganjaran telah menegakkan setengah dari agama (ad diin)nya. Dengan kata lain, konflik, ketidakcocokan, kekecewaan, dan segala perasaan tidak enak lainnya itu adalah keniscayaan yang akan dihadapi dalam pernikahan (surprise! surprise !;)) ..meminjam istilah ibu saya , "itu hal yang biasa...". Justru dengan menghadapi segala hal yang hawa nafsu kita cenderung tidak sukai itu jiwa kita tertempa menjadi baik. Apalagi kalau kedua pasangan hatinya mencari Allah, maka tidak ada hal yang buruk dalam apapun yang menimpa mereka berdua, lain kiranya kalau dunia yang dicari, maka dunia juga yang akan menghancurkan pernikahan itu, istilah populernya 'ada uang abang sayang, tiada uang abang melayang'.

Menikah itu pada hakikatnya membentuk jiwa setiap orang menjadi lebih baik, lebih mengenal Tuhannya, rindu pada Tuhannya, semakin kuat pencarian dan pengabdian kepada-Nya. Maka pernikahan yang baik itu parameter utamanya. Sakinah atau ketenangan yang sering diucapkan mengiringi doa kepada mempelai baru, sungguh hanya bisa benar-benar terwujud ketika jiwa sudah ditransformasi menjadi cahaya Allah, bukan sekedar ketenangan semu di balik atribut dunia. Tapi kita harus sadar betul bahwa proses transformasi jiwa itu bagaikan proses penempaan besi yang harus dibakar dalam api ujian untuk kemudian dibentuk menjadi 'alat Tuhan', tidak senyaman berendam di jacuzzi spa untuk membersihkan diri.

Menikah juga berbeda jauh dengan sekedar hidup bersama, dalam pernikahan ada ijab kabul, suatu prosesi sakral yang dihadiri para saksi serta kerabat dan tentunya disaksikan oleh Allah Ta'ala. Suatu komitmen yang mengikat masing-masing. Adalah mudah kalau tidak cocok dengan pekerjaan atau teman hidup kita bisa putuskan dengan mudah dan cari yang baru, tapi menikah tidak bisa seperti itu, butuh tanggung jawab dan kedewasaan tingkat tinggi di sini. Kita tidak bisa kabur dari masalah begitu saja, ya hadapi saja, telan saja, inilah jalan yang paling mantap untuk membentuk jiwa menjadi sabar. Kalaupun 'monkey mind' kita merekayasa untuk mengganti pasangan hidup karena konon rumput tetangga selalu tampak lebih hijau,  maka berapa ribu kali kita berganti pasangan pun niscaya tidak akan terlepas dari hukum alam ini, kita akan menemukan hal yang sama yang kita harus bersabar di dalamnya.

Rasulullah mengatakan, "Agama itu terletak dalam sabar dan iman."
Maka tidak tegak agama kita tanpa kesabaran yang baik dan menikah adalah mekanisme Ilahiyah untuk mewujudkan jiwa yang sabar. 

Jadi menikah itu tidak mudah ya? Tentu saja, jalan menuju surga kan berliku, mendaki lagi penuh onak duri!
Tapi ini perjalanan yang patut untuk ditempuh, ada Dia Sang Kekasih di akhir perjalanan <3
Semoga Allah membantu meringankan berat hati kita saat menjalaninya dan menunjukkan hikmah pada kita di balik segala sesuatunya, Dia berfirman, "Bisa jadi kamu tidak menyukai beberapa hal dari pasanganmu, padahal di situ terletak kebaikan yang sangat banyak."

(Referensi: Catatan Pengajian HAQ, Zamzam AJT, Juli 2005 & www.usatoday.com)

Saturday, September 22, 2012

Struktur Insan = Struktur Target

Mengenal diri kita tidak lepas kaitannya dengan mengenal komponen yang ada dalam diri, potensi yang Allah Ta’ala Sang Pencipta berikan. Untuk mengetahui konsep dasar tentang struktur diri tentu rujukan yang paling valid adalah keterangan yang diberikan oleh Sang Pencipta yang sebenarnya bertebaran dalam kitab suci atau keterangan para pembawa risalah-Nya.

Oleh karena itu kita ambil ayat [24]: 35 dalam kitab suci Al Quran yang bicara dengan gamblang dan indah tentang struktur manusia sbb: “Allah cahaya petala langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya bagaikan sebuah misykat yang didalamnya terdapat pelita terang. Pelita tersebut didalam kaca, kaca itu seakan-akan kaukab yang berkilau dinyalakan (minyak) dari pohon yang banyak berkahnya; pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur dan tidak pula disebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walau tanpa disentuh api. Cahaya diatas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa-siapa yang Dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 

Di sini Allah membuat perumpamaan terhadap cahaya Allah, bukan terhadap Allah-nya. Karena kalau aspek Allah-nya tidak ada perumpamaan apapun terhadap Dia. Cahaya Allah tersebut terdiri dari tiga komponen: 1) Misykaat, yaitu sebuah lubang yang tidak tembus, simbol dari raga manusia
2) Zujaajah atau bola kaca. Diterjemahkan ‘seakan-akan bintang’, padahal istilah ‘kaukab’ yang digunakan di ayat itu adalah istilah untuk planet, sebuah benda langit yang tidak mempunyai cahayanya sendiri. Planet bercahaya karena ia memantulkan cahaya dari sumber cahaya lain. Begitupun zujaajah, ia bisa menyala terang karena ada minyak bercahaya yang menyelimutinya.
3) Mishbah atau pelita, perlambang dari ruh al quds.

Tiga elemen ini juga merupakan perwakilan dari tiga alam. Misykat ~ Raga ~ Dari alam mulk Zujaajah ~ Qalb, bagian dari Nafs (jiwa) ~ Dari alam malakut Mishbah ~ Ruh Al Quds ~ Dari alam jabarut.

Misykat adalah suatu material yang tidak tembus cahaya, sebagaimana raga kita. Sedangkan jiwa seolah-olah sesuatu yang transparan, tidak terlihat, dilambangkan dengan kaca yang bening. Antara zujaajah dan misykat terdapat ruang yang dinamakan Shadr (rongga dada).

Struktur manusia yang termuat dalam ayat Al Quran di atas adalah struktur target, sesuatu yang harus dicapai oleh setiap insan. Betapa besar potensi yang ada dalam setiap insan, sehingga Allah berfirman dalam Hadits Qudsiy, “Kalau bukan engkau, maka Aku tidak akan menciptakan alam semesta”. Maka setiap diri kita menyimpan sesuatu yang berharga dalam dirinya yang menanti untuk dijawantahkan. Tidak ada manusia kelas dua atau kelas tiga, di hadapan-Nya semua insan adalah berharga.

Semoga Allah memudahkan jalan kita menjadi cahaya-Nya. Aamiin

(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT)

Kodrat Diri

Kata kodrat diri berasal dari qudrah, artinya kuasa. Istilah ini juga sering disebutkan oleh Nabi Isa dan direkam dalam Perjanjian Baru. ‘Kuasa Tuhan’ erat kaitannya dengan ruhul kudus (ruh al quds). Artinya suatu urusan yang dikuasakan dari Tuhan kepada hamba-Nya. Misi hidup seseorang adalah kuasa Tuhan yang disimpan dalam setiap diri manusia. Itulah yang membuat manusia menjadi spesial dibanding makhluk Tuhan lainnya, karena manusia yang mengemban amanah kuasa Allah untuk dikerjakan di kehidupan dunia ini. Dengan demikian, semua manusia di mata Allah secara potensial. Hanya ada yang bisa berjuang menemukan dirinya ada yang tidak.

Allah Ta’ala telah mendesain kehidupan kita sedemikian rupa, dilahirkan dimana, dari orang tua yang mana, melalui sekian tahapan kehidupan dan pergumulan hidup, semata-mata untuk menempa sang hamba agar kian mendekati kodrat dirinya, tinggal si hamba merenungkan setiap langkah yang telah ia tempuh dan berjuang untuk mendapatkan rahmat Allah.

Nabi Isa as berkata sebelum ia meninggalkan para sahabatnya untuk naik ke langit, “aku akan pergi ke Bapakku, jangan khawatir kehilangan aku karena sepeninggalku nanti engkau akan ditemani oleh sesuatu yang kamu tidak akan berpisah dengan dirimu selama-lamanya, yaitu Ruh al Quds” Demikianlah yang terjadi, pada hari ke-50 , rasul-rasul itu berkumpul di sebuah rumah yang Nabi Isa amanahkan, muncullah api dari langit, pada saat itu semua dinyalakan hatinya – menyala misbah dalam qalb masing-masing, hari itu disebut Pentakosta hari dimana terbitnya ruh al quds dalam hati masing-masing sahabat Nabi Isa. Maka tiba-tiba mereka berbicara dalam bahasa asing yang berlainan, ada yang berbicara Bahasa Mesir, Bahasa Yunani dsb. Itulah tanda bahwa setiap orang diutus sebagai rasul ke daerah-daerah yang ditentukan untuk menjalankan kodrat dirinya masing-masing.

Setiap waliyullah juga telah hidup dalam kodrat dirinya masing-masing, artinya dalam qalbnya telah menyala ruh al quds-nya. Para hamba Allah seperti Syaikh Abdul Qadir Jailani, Ibnu Arabi, Wali Songo dsb adalah orang-orang yang telah mengerjakan misi hidupnya. Demikian juga kita mengemban misi hidup yang harus dikerjakan dan akan diminta pertanggungjawaban nanti oleh Allah di akhirat.

Semoga Allah memudahkan kita menapaki jalan kodrat diri masing-masing. Aamiin.

(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT)

Tuesday, September 18, 2012

Manusia Sebagai Kalimah Thayyibah

Apakah engkau perhatikan bagaimana Allah membuat sebuah perumpamaan tentang kalimah yang thayyib, diumpamakan sebagai pohon yang baik. Pohon itu memberikan buah dengan seizin Rabbnya, Allah membuat perumpamaan agar manusia berpikir. Adapun perumpamaan kalimah khabiitsah (kalimah yang buruk) seperti pohon yang buruk yang telah tercerabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi tidak dapat tegak sedikit pun. (QS Ibrahim [14]: 24-27)

Kalimah adalah istilah untuk kata atau nama. Sebuah pohon di-nama-kan pohon durian karena berbuah durian. Maka pohon dinamakan sesuai dengan buah yang dihasilkannya. Itu adalah kalimah. Masing-masing manusia pun ada ‘nama-nya sesuai dengan buah pohon diri yang dihasilkan, berkarya dalam misi hidup apa. Dengan demikian kalimah juga merupakan fitrah manusia.

Dalam Al Quran atau Hadits Rasulullah kerap kali manusia digambarkan sebagai sebuah pohon. Dimulai dari benih yang ditanam, akarnya mulai tumbuh, dahannya menjulang ke langit, daunnya lebat hingga ia mengeluarkan buahnya. Perumpamaan yang sangat indah yang berkali-kali diungkapkan agar kita mengambil pelajaran darinya.

Sebagaimana benih pohon yang ditanam di dalam tanah. Maka benih ketuhanan dalam jiwa manusia ditanamkan di dalam raga masing-masing insan dan diturunkan ke alam dunia. Benih akan mengeluarkan akarnya yang berfungsi untuk menyerap sari makanan dari dalam tanah. Maka manusia pun harus bekerja dalam kehidupan berikhtiar mencari sari-sari ilmu pengetahuan untuk menumbuhkan benih diri.

Batang dari benih yang tumbuh akan menjulang ke langit, menumbuhkan dedaunan yang berfungsi untuk menyerap sinar matahari dan melakukan fotosintesa untuk menghasilkan buah. Begitupun benih yang tumbuh dalam diri manusia akan tumbuh dalam jiwa, yang sering diibaratkan sebagai langit, sebagai lawan dari raga – yaitu aspek kebumian. Adapun daun yang tumbuh adalah simbol dari amal sholeh setiap manusia. Pohon yang bagus adalah yang rindang daunnya dan banyak buahnya. Manusia yang baik di mata Allah Ta’ala pun yang banyak amalnya untuk sesama dan lingkungannya.

Oleh karena itu tidak aneh bila para rahib, biksu atau para waliyullah di berbagai penjuru dunia dalam waktu yang berbeda-beda mengajarkan para muridnya untuk bercocok tanam. Selain melatih kesabaran dan melembutkan hati, kegiatan menanam benih, menumbuhkan, memelihara serta memetik hasilnya juga sebagai pelajaran yang jelas tentang aspek benih dan pohon diri yang harus dipelihara di dalam diri masing-masing manusia. Dan tidaklah Allah memberi perumpamaan itu semua agar manusia berpikir.

(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT)

Kemusyrikan Penghalang Orang Bertemu Diri

Kerap kali kita mendengar orang menyematkan label ‘orang musyrik’ kepada mereka yang meminta petunjuk kepada dukun, percaya kepada ramalan bintang, atau menyimpan jimat-jimat tertentu. Sedemikian rupa, sehingga ketika Al Quran berkali-kali menyebutkan tentang orang-orang musyrik, kita sering merasa tidak tersentuh oleh ayat itu, merasa bahwa ayat itu bukan bicara tentang diri kita. Benarkah demikian?

Di dalam Al Quran surat Ar Ruum dikatakan bahwa kemusyrikan adalah sebab seorang manusia belum menemukan fitrah dirinya, artinya orang itu belum menyelami misi hidupnya. Dengan kata lain menyingkirkan hijab kemusyrikan adalah syarat mutlak terbukanya fitrah diri setiap insan. Kalau begitu, siapapun yang belum menemukan kodrat dirinya maka sebetulnya masih ada komponen kemusyrikan yang menyelinap di hatinya.

Oleh karena itu mari kita lihat apa definisi musyrik itu dalam Al Quran. Disebutkan orang musyrik ‘yaitu orang-orang yang memecah belah agama menjadi beberapa golongan. Dan tiap-tiap golongan merasa bangga dengannya” Lalu apa maksud memecah belah agama (ad diin) itu ? Mari kita ingat kembali definisi agama (ad diin) yang diajarkan oleh Jibril as kepada Rasulullah saw dan para sahabat. Singkatnya, agama itu dibangun atas tiga pilar yang tidak terpisahkan yaitu pilar Al Islam, pilar Al Iman dan pilar Al Ihsan. Ketiga pilar inilah yang tidak boleh dipecah-pecah.

Seseorang harus beragama secara utuh dengan menggabungkan ilmu tentang syariat, tauhid dan keihsanan. Dengan demikian, tidak cukup dikatakan menegakkan agama bila telah merasa shalat, puasa, zakat, naik haji, tapi masih melakukan korupsi, hatinya penuh dengan dengki, lisannya banyak menyakiti. Orang muslim yang benar tidak akan merasa bangga diri dan golongannya yang paling benar sementara yang lain salah.

Demikianlah kita bisa introspeksi mengenai keadaan jiwa kita masing-masing. Manakala kegelisahan, kecemasan, ketakutan akan hari esok, ketidakcocokan dalam pekerjaan dan segala hal yang tidak mengenakkan di hati masih bersemayam dalam diri kita, waspadailah bahwa kita mungkin memang masih belum berjalan dalam fitrah diri kita dikarenakan hijab-hijab kecil kemusyrikan yang menyelinap di dalam hati. Ini yang harus kita mintakan ampun dalam doa-doa khusyu kita kepada Allah Ta’ala. Kiranya Sang Maha Pengampun berkenan membersihkan hati kita dari benih-benih kemusyrikan. Aamiin.

(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT)

Wednesday, September 12, 2012

Mengenal Pohon Pribadi

Dalam diri setiap insan ada benih yang Allah tanam yang harus tumbuh. Benih itu ditanam di tanah raga dan bumi yang kondisinya tertentu supaya bisa tumbuh dengan optimal. Setiap benih menyimpan potensi menjadi sebuah pohon, potensi pohon ini yang disebut dengan fitrah pohon.

Sama halnya laki-laki dan perempuan. Laki-laki punya benih berupa sperma dan perempuan mengeluarkan sel telur (ovum). Sperma dalam bahasa Al Quran, yang matang dan ditanam disebut sebagai nutfah. Jadi istilah nutfah sama dengan benih pohon. Sedangkan ovum berfungsi sebagai lahan. Di dalam sperma ada potensi insan (fitrah). Maka dalam Al Quran ada kalimat “perempuan-perempuanmu adalah lahan bagimu”.

Sebagaimana benih yang tumbuh memerlukan perawatan supaya ia tumbuh dengan baik dijaga dari hal yang dapat menghalangi pertumbuhan atau racun yang dapat membunuh benih tersebut. Sama halnya ibu yang mengandung juga harus dijaga sedemikian rupa. Demikian juga pertumbuhan di tingkat jiwa juga sensitif, sehingga kita tidak bisa membuka fitrah diri seenaknya tanpa disiplin. Jiwa harus dihindarkan dari penyakit mengeluh, jangan merendahkan orang lain, bangga diri, prasangka buruk dsb, karena semua penyakit hati itu akan membuat benih mati.

Selain itu benih hanya bisa tumbuh baik dalam kondisi yang tepat, misal benih kurma yang biasa tumbuh di daerah gurun tidak akan bisa tumbuh baik di puncak gunung. Demikian pula dalam pernikahan, perlu kecocokan antara sperma dan sel telurnya. Dan yang lebih penting lagi adalah perlu kecocokan di tingkat jiwa pasangan itu, sehingga benih masing-masing pribadi dan keturunan yang dihasilkannya bisa tumbuh dengan baik.

Dalam Al Quran [30]: 30 Allah berbicara tentang fitrah yang harus ditemukan oleh setiap manusia: “ Hadapkanlah wajahmu dengan hanif (lurus) ke dalam ad diin (agama) Allah. Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah tsb, tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang teguh (diinul qayyim). Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”

Fitrah Allah itu berkaitan dengan diin, agama dalam arti yang luas. Karena mengenal fitrah itu juga berarti mengenal potensi benih yang Allah tanamkan dalam tiap insan, maka persoalan mengenal diri adalah sesuatu yang penting supaya seseorang kokoh dalam beragama.

Namun dalam ayat tersebut diindikasikan bahwa kebanyakan manusia tidak mengetahui persoalan fitrah ini. Bahwa ada fitrah yang tidak akan berubah dalam diri setiap manusia, apabila dalam benih itu fitrahnya benih cemara ya tentu akan menjadi pohon cemara, tidak akan mungkin berubah menjadi pohon pisang.

Jika fitrah itu tumbuh dan dikenali, seorang mukmin itu akan mencapai tingkatan beragama yang teguh (diinul qayyiim). Itu yang disebut bahwa setiap orang punya misi hidup, sebuah tugas yang disimpan dalam fitrah, kita harus menemukan fitrah itu.

Menemukan fitrah diri bukan sesuatu yang dapat dikira-kira atau sesimpel dilakukan psikotest untuk mengetahuinya. Jalannya adalah dengan menempuh proses bersuluk. Karena suluk adalah suatu proses agar kita kembali ke fitrah diri itu. Dimana lahan diri kita dibajak lagi, awan waham, prasangka kita dihapus, supaya tumbuhlah benihnya. Jika ia tumbuh jadi pohon, orang itu akan mengenal tugas dirinya. Maka orang itu disebut orang yang “mengenal dirinya”. Mengenal jiwa artinya mengenal fitrahnya.

Sebagaimana cangkir dibuat untuk air bukan untuk jelaga, maka dibalik semua ciptaan ada fungsi yang terkait. Seseorang baru tahu fungsinya bila sang pohon dirinya telah tumbuh. Sebelum itu terjadi baru tebak-tebakan, dan belum mengenal dirinya. Status orang yang telah tumbuh pohon dirinya adalah yang baru mengenal Rabbnya, “man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu”

Semoga Allah memudahkan kita menemukan kembali fitrah diri. Aamiin.

(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT)

Tuesday, September 4, 2012

Kenali Misi Hidupmu

Thariqah adalah utk membangun bahtera di alam dunia agar tidak tenggelam didalamnya. Kita seyogyanya bekerja dan berkarya di bumi ini tapi jangan sampai tenggelam di dalamnya. Bukan kemudian meninggalkan dunia. Adapun tujuan sejati thariqah adalah untuk mengenal diri kita.

Setiap manusia mempunyai misinya masing-masing. Namun untuk mengetahui apa misi hidupnya maka hijab hati harus terbuka, sehingga musyahadah (mempersaksikan), yaitu musyahadah siapa diri kita sebenarnya. Jadi target sebuah thariqoh adalah mengenal misi kita apa. Bukan dengan cara psikotes, tes bakat dsb, itu hanya menyentuh permukaannya saja. Akan tetapi kita harus betul-betul menyentuh esensi yang terdalam dari diri kita.

Jalaluddin Rumi membuat perumpamaan begini, ada seorang raja menyuruh menterinya ke sebuah negeri, kata sang raja “pergi ke suatu negeri dan bangunlah jembatan di sana”. Si menteri kemudian pergi ke negeri itu dan menemukan banyak persoalan di sana, ia mengerjakan banyak hal, bikin gedung, rumah, jalan dsb. Dan kembalilah si menteri menghadap raja dan mengaku sudah mengerjakan banyak hal. Kata sang raja, “Bagaimana dengan jembatan itu?” dan sang menteri pun lupa mengerjakannya.

Seperti itulah, manusia banyak yang mengerjakan banyak hal di bumi ini, tanpa mengerti apa sebenarnya tugas spesifik yang diamanahkan kepada kita. Kita sudah sekian tahun hidup, tapi belum mengenal apa yang ada di dalam kita. Sesungguhnya tugas spesifik itulah yang harus kita kerjakan, karena kita akan kembali pada Allah Ta’ala dan diminta tanggung jawab.

Jadi siapapun yang bertarekat harus menemukan kodratnya, ruhul qudusnya, karena itu adalah amal sholeh tertinggi manusia (sacred mission on earth). Misi itu tidak akan pernah tahu kalau tidak mengenal jiwa yang paling dalam, yang bertemu Allah Ta’ala di mauthin syahadah QS [7]: 172.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan kita mengetahui kesejatian diri. Aamiin.

(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)

Wednesday, August 29, 2012

Syariat - Thariqat - Haqiqat - Makrifat

Seseorang dikatakan telah beragama dengan sebenarnya apabila telah mencapai jenjang ma'rifatullah, karena hanya ketika seorang mengenal siapa dia sembah barulah agamanya tegak dengan kokoh, sehingga ia menyembah Allah bukan berdasarkan prasangka semata.

Hal ini juga ditegaskan oleh Rasulullah saw yang bersabda, 'Awaluddiina ma'rifatullah'. Makrifat kepada Allah adalah tahapan awal beragama.

Seorang waliyullah telah memetakan jalan menuju makrifatullah dalam peta sederhana yang berumuskan: Syariat - Thariqat - Haqiqat - Makrifat. Dengan demikian, perjalanan untuk mencapai makrifatullah dimulai dengan menegakkan sendi-sendi syariat di dalam diri yang mencakup syariat lahir dan batin. Bila seseorang serius menetapi jalan penataan jiwa, maka dia telah berthariqat. Dan bila seseorang sudah berthariqat, dengan izin Allah akan terbuka aspek haqiqat. Kenapa demikian? Karena dengan berthariqat hijab-hijab yang ada dalam hati mulai runtuh satu per satu, sehingga lama kelamaan akan terbuka aspek al haq, ini adalah janji Allah, 'Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk (hal yang terjauh dari diri kita) dan ke dalam anfus (jiwa-jiwa)' QS [41]:53.

Setelah melampaui tahapan haqiqat, dimana seseorang dapat mengenal aspek hakiki di balik semua ciptaan Allah, baik itu kondisi yang ada di luar dirinya maupun dirinya sendiri, barulah sampai ia pada tahapan makrifat, yaitu mengenal Sang Pencipta.

Hanya setelah seseorang bermakrifat maka dia beragama yang sebenarnya dengan kokoh. Karena bisa jadi ia sudah syahadat, shalat, zakat dan naik haji tapi masih goyah pengetahuannya tentang siapa Allah sebenarnya, bagaimana Ia mengatur kehidupan, dimana letak keadilan Allah.

Kerap kali ketika diberi ujian kehidupan sang hamba merasa bingung, stress, bahkan berprasangka buruk kepada Allah. Apabila kita berjalan dengan menyimpan prasangka buruk kepada Allah, artinya belum mengenal Allah, dengan sendirinya agamanya belum tegak sempurna.

Wallahua'lam.

(Disajikan dari materi Serambi Suluk yang disampaikan oleh Zamzam AJT)

Pembahasan Hadis Tiga Pilar Ad Diin

Dari hadis tentang 3 pilar ad diin diterangkan bahwa ketiga pilar agama itu adalah Al Islam, Al Iman dan Al Ihsan.

Kalau kita baca secara teliti, bukanlah Jibril yang bertanya kepada Rasulullah, karena sudah tentu Jibril sudah sangat tahu apa itu ad diin - sebagaimana Rasulullah mengetahui itu. Akan tetapi peristiwa ini adalah untuk mengajari para sahabat tentang apa yang dimaksud dengan ad diin.

Oleh karena itu kita harus betul-betul mempelajari ketiga pilar ini. Kadang dalam ber-ad diin kita baru berkutat dalam aspek Al Islam, dalam pengertian kalau sudah shalat, zakat, shaum dan naik haji seolah-olah sudah menegakkan ad diin. Padahal aspek syariat sendiri ada syariat lahir dan syariat batin, belum lagi pilar iman dan ihsan yang halus, aspek iman dan ihsan sulit mengukurnya dibanding dengan aspek syariat.

Seseorang bisa jadi zakat dalam jumlah banyak dan naik haji berkali-kali tapi korupsi jalan terus, maka berarti belum menegakkan ad diin. Sama halnya seperti seorang wanita ahli ibadah yang dalam satu riwayat diadukan seorang sahabat kepada Rasulullah, karena wanita itu kerap menyakiti tetangganya dengan kata-katanya, maka Rasulullah langsung tegas mengatakan bahwa wanita itu ahli neraka.

Demikianlah Allah mengajarkan kepada kita melalui hadis tersebut betapa penting kita memperhatikan ketiga pilar untuk membangun ad diin dalam diri kita masing-masing. Wallahua'lam

(Diramu dari materi kajian Serambi Suluk yang disampaikan oleh Zamzam AJT)

Tuesday, August 28, 2012

Hadits Tentang 3 Pilar Ad Diin

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata :

Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata:

“ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.

Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.

Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.

(Riwayat Muslim)