Showing posts with label syukur. Show all posts
Showing posts with label syukur. Show all posts

Monday, November 25, 2013

Bagaimana Mengetahui Tindakan Kita Sejalan Dengan Kehendak-Nya?

Ada yang bertanya, “Bagaimana menentukan bahwa semua rasa dan tindakan kita sejalan dengan kehendak Allah?”
Tugas kita berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya serta sabar dalam kehidupan hingga Allah memberikan tanda-tanda.
Seseorang bisa sabar, rajin shalat, bergairah menuntut ilmu dsb itu buat kita sekedar tanda bahwa Allah sedang meniup bahtera kita, karena sungguh surga tidak akan bisa terbeli dengan semua amal kita.

Kita harus mensyukuri semua bentuk niatan baik, ilham dan tindakan baik yang Dia tiupkan. Amal itu terkait dengan ibadah hati, tidak berarti orang yang raganya sehat dan bugar kemudian otomatis rajin ibadahnya, bahkan bisa sebaliknya, ragasang orang itu Allah jadikan lemah tapi hatinya senantiasa bergairah beribadah kepadanya. Maka berbuat baiklah dimanapun dan kapanpun***

Perbedaan Dua Penyikapan Hidup

Seorang mukmin itu Allah atur kehidupannya. Kita harus memahami ini, bahwa kehidupan kita sejak lahir hingga meninggal nanti itu Allah atur sebenarnya, semuanya berada dalam satu garis di Lauh Mahfuzh, siapapun kita hanya ada satu garis kehidupan. Kemanapun kita merancang dan berencana yang akan terjadi tetap saja ketetapan-Nya.

Orang yang tidak paham dalam kehidupan akan merasa hidupnya penuh derita dan rintangan, "Kok saya sudah berusaha tapi gagal terus, kenapa hidup saya awut-awutan, kenapa masa lalu saya kelam sekali, kenapa suami saya begini, kenapa istri saya begitu, kenapa anak saya susah diatur dsb" Semua itu membuat seolah-olah hidup kita berantakan, seolah-olah kita salah jalan, seolah-olah kita gagal.

Orang yang hatinya terang dan yang hatinya gelap akan mengalami takdir kehidupan yang sama, hanya bedanya orang yang dalam kegelapan sepanjang hidupnya hanya sibuk berkeluh-kesah, protes dan berprasangka buruk kepada Allah Ta'ala. Sedangkan bagi orang yang hatinya dibuka dengan cahaya Allah ia telah diberi pengetahuan yang haq, maka walaupun ia mengalami ujian yang sama berat tapi hatinya tetap bersyukur.

Ujian dan kesulitan hidup hanya akan membuat orang yang tertutup hatinya menjadi sebuah penderitaan, sedangkan bagi orang yang beriman semua adalah kebaikan. Semua mengalami kesulitan yang sama dalam hidup hanya yang satu dihiasi dengan sumpah serapah dan sampah keluhan dalam hatinya, sedangkan yang satu hatinya penuh dengan senyum dan kebersyukuran kepada Allah Ta'ala. ***

Sunday, June 9, 2013

Berhenti Menyalahkan Keadaan

"Saya tidak peduli apa yang akan menimpa saya esok, apakah sebuah penderitaan atau suatu kesenangan, karena bagi saya semua sama"
- Umar bin Khaththab ra

Orang yang ihsan dalam kehidupan tidak akan terperangkap oleh fenomena semata karena ia akan lebih melihat apa yang ada di balik kejadian yang Allah berikan (the divine meaning).

Oleh karenanya orang yang mencari Allah selalu berupaya menangkap apa maksud Allah di balik segala keadaan atau perasaan hati yang tengah berkecamuk, ia tidak akan menyalahkan kondisi atau orang lain untuk sekedar mencari kambing hitam. Ini adalah tauhid yang baik.

(disajikan ulang dari pengajian hikmah Al Quran, Kang Zamzam AJT. 26 November 2005)



Friday, May 24, 2013

Kebanyakan Manusia Gagal Mencari Allah Ta'ala

Terlahir dalam alam yang merupakan ujung terjauh dari 'selendang-Nya', manusia kerap terperangkap dalam bentuk-bentuk dunia ini. Entah dia seorang milyuner atau seorang tukang sampah sekalipun sering ia lupa kepada siapa yang memberikan qadha (ketetapan) itu kepadanya. Bahwa Dia menetapkan ada yang rezekinya banyak, sedang dan sedikit di dunia ini. Allah Ta'ala menetapkan amal-amal manusia sebagai sesuatu yang mengikat dalam kehidupannya dan ia tidak bisa lari dari ketetapannya itu, adapun hati manusia maka Allah Ta'ala bebaskan, ada hati yang bersukur dan hati yang mengingkari-Nya.

Maka nilai seorang manusia terletak pada kebeningan hatinya masing-masing, sejauh mana hatinya mencari Allah Ta'ala. Seorang Sulaiman yang kaya raya menjadi hamba kesayangan-Nya karena hatinya mencari Sang Kekasih, sama derajatnya seperti seorang waliyullah yang berprofesi sebagai tukang tikar biasa. Allah hanya melihat hati manusia, bukan pernak-pernik dunia yang ia miliki yang sebenarnya semua datang dan ditetapkan oleh-Nya.

Sebetulnya pada apapun yang Allah berikan, besar atau kecil di mata manusia, selalu ada kemuliaan di dalamnya. Takdir kehidupan yang mengalirkan kita ke tempat dimana kita sekarang berada adalah bersifat suci dan mensucikan karena semua datang dari tangan-Nya. Sadarilah bahwa hidup kita dinaungi oleh kemuliaan-Nya, jangan terpaku oleh bentul-bentuk lahiriah dan fenomena semata, agar kita menjadi hamba-Nya yang bersyukur atas apapun yang Ia berikan.

Syukur memang kata yang singkat namun tidak mudah dilakukan dalam kehidupan, butuh kesabaran untuk bisa berkompromi dengan ketetapan-Nya sementara dalam benak kita dipenuhi oleh seribu satu keinginan dan harapan. Untuk sekedar menerima dengan baik penggal kehidupan kita yang telah lewat atau yang sedang dilakoni pun butuh rahmat-Nya. Memang kebanyakan manusia tidak mensyukuri dirinya dan gagal mencari Allah Ta'ala.



(Sajian ulang dari Pengajian Hikmah Al Qur'an yang disampaikan Kang Zamzam AJT, 26 November 2005)

Tuesday, May 7, 2013

Mensyukuri Takdir Baik Maupun Buruk

Orang yang dikategorikan hamba-Nya yang berdzikir adalah mereka yang dzikirnya sudah menyatu dalam diri sehingga menjadi kepribadiannya. Dengan demikian hamba yang berdzikir 'alhamdulillah' dengan sebenar-benarnya adalah dia yang sudah menyatu kebersyukuran dalam dirinya sehingga membentuk karakter kebersyukuran. Dzikir di lisan adalah baik sebagai latihan awal dan juga doa agar Allah senantiasa melimpahkan hati yang bersyukur.

Apabila sang hamba sudah diberi hati yang bersyukur, maka segala kejadian yang terjadi, hitam-putih, baik-buruk, untung-rugi, sedih-gembira diresponnya senantiasa dengan 'alhamdulillah'.
Dalam kenyataannya kita memang lebih mudah berucap 'alhamdulillah' saat mendapat keberuntungan misalnya dibandingkan saat kehilangan sesuatu. Bayangkan ada orang yang sadar mobilnya hilang dan kemudian respon pertamanya 'alhamdulillah!' dengan kesadaran semua kejadian tidak lepas dari kehendak-Nya, tidak mudah bukan?

Membiasakan diri meringankan hati mengikuti setiap gerakan kehidupan yang digerakkan dengan karsa-Nya akan lebih membawa kebahagiaan dalam hidup. Alhamdulillah...

(Disajikan ulang dari Pengajian Hikmah Al Quran, Zamzam AJT. 12 November 2005)

Tukang Bubur dan Pak Ustadz

Syahdan di bumi hiduplah berdampingan tukang bubur yang sederhana dan tetangganya pak ustadz yang dikenal kesholehannya sekampung. Suatu ketika tibalah kematian menjemput mereka dan masing-masing berdiri di pengadilan yaumil akhir. Saat dinampakkan amal-amal dalam timbangan amal terpanalah keduanya karena cahaya yang keluar dari amalan saat dunia tukang bubur yang nampak biasa saja itu sangat cemerlang melebihi amalan sang ustadz yang ibadahnya nampak lebih tekun dan banyak melakukan kebaikan terhadap sesama.

Bertanyalah sang ustadz, "Wahai Allah, hamba telah beribadah kepada-Mu siang dan malam, kulewatkan malam-malam dalam berjaga di hadiratmu dan hamba telah berkorban banyak untuk mengajari hamba-hambaMu dan mengajak mereka dalam kebenaran. Maka mengapakah amalan hamba nampak kecil dibanding tetangga hamba yang ibadahnya tampak biasa saja?"

Allah Ta'ala kemudian menjawab, "Wahai hamba-Ku, ketahuilah bahwa Aku menghargai semua jerih payah yang kau lakukan, adapun amalan tetanggamu sang tukang bubur yang nampak berkilau adalah karena hatinya yang bersyukur dan menerima dengan lapang apapun yang Aku berikan kepadanya. Dijalani kehidupan apa adanya dengan hati yang ikhlas dan tidak pernah mengeluh atau berandai-andai ingin ini dan itu. Sedangkan engkau kerap menginginkan ini dan itu, memang tidak berwujud kekayaan dunia yang engkau sangat menjauhinya, tapi pangkat kesholehan yang engkau kejar dan kenikmatan mendapatkan penghormatan dari manusia adalah penghalang besar di hatimu dari mendapat nikmat cahaya-Ku, maka inilah keadaan hatimu apa adanya."

(Disajikan ulang dari Pengajian Hikmah Al Qur'an, Zamzam AJT, 5 November 2005)

Peran Yang Harus Kita Mainkan

Setiap manusia yang dilahirkan ke muka bumi terikat dengan peran yang harus dimainkan dengan baik oleh masing-masing. Ada yang dibungkus dalam pakaian laki-laki, ada yang berfungsi sebagai perempuan, ibu rumah tangga; ada yang misinya sebagai seorang guru spiritual, ada yang kebagian menjadi tukang bubur sebagai profesinya seumur hidup. Semua peran itu di mata Allah adalah sama, sungguh tidak ada yang satu lebih tinggi dari yang lain, karena semua ciptaan-Nya.

Masing-masing orang akan diuji dengan perannya itu, apakah seorang kaya bertingkah angkuh terhadap si miskin? Apakah yang kurang pandai merasa minder terhadap yang dianggap intelek? Apakah yang merasa dirinya kyai dan guru besar menganggap dirinya lebih benar?
Allah berfirman dalam Al Quran '...agar Kami melihat siapa yang paling baik amalnya'
Amal juga tercermin dalam sikap seseorang, dalam tingkah laku dan perangainya.

Sayangnya sebagian besar orang menolak memainkan peran yang telah Allah gariskan di dunia ini, dipikirnya peran ini dan itu lebih baik, lebih keren atau bahkan dibumbui embel-embel 'lebih spiritual'. Ketidakmampuan seseorang membaca diri dari takdir kehidupan yang telah membentuknya dari kecil hingga saat ini - yang sebenarnya di situ letak keping-keping puzzle siapa peran diri kita ditebarkan - membuat dia selalu mencari peran yang bukan dirinya. Ibaratnya seekor keledai yang terobsesi menjadi kuda pacuan, maka yang dia lakukan setiap hari memompa ototnya dan seluruh badannya untuk bisa lari sekencang kuda pacuan, tanpa mau berkaca dengan benar. Tentu saja sekencang-kencangnya keledai berlari tidak akan secepat seekor kuda pacuan yang terlahir dengan bakat dan modal yang sudah ada dalam dirinya.

Lantas, apa peran saya?
Mari kita mulai hening sesaat, berkontemplasi, bercermin dalam cermin kehidupan yang telah Allah rancang sampai saat ini, kita mulai identifikasi hal-hal apa saja yang Allah mudahkan sejauh ini, apa saja yang kita anggap sulit untuk dilakukan, apa saja kegagalan dan keberhasilan kita dll.
Kita mulai berjalan dari apa yang ada di genggaman tangan kehidupan per hari ini, dengan apa yang dimiliki, saat ini, di sini. Bismillah...

(Disajikan ulang dari Pengajian Hikmah Al Quran, Zamzam AJT, 5 November 2005)

Amsterdam, 7 Mei 2013
3.49 pm

Syukur Adalah Selalu Melihat Kebaikan

Hamba Allah yang bersyukur adalah dia yang senantiasa berusaha untuk melihat kebaikan pada segala sesuatu yang Allah berikan atau tampilkan di sekelilingnya. Hatinya bersih dari kutukan dan cercaan kepada semua ciptaan-Nya. Kesadaran bahwa semua yang datang adalah dari 'tangan'-Nya yang Maha Suci betul-betul dia genggam erat dalam kehidupan.

Hamba Allah yang seperti ini akan senantiasa menapaki hari-harinya dalam kesadaran penuh, menjadi pengamat yang baik dalam pagelaran qadha dan qadar Allah di muka bumi. Banyak mengeluh hanya akan membuat seseorang tercerabut dari kehariiniannya, hatinya akan tersiksa, jiwanya akan makin rapuh, dia akan tercerabut dari akarnya, dari pohon kehidupan yang sudah didesain dengan teliti jauh-jauh hari sebelum ia dilahirkan di muka bumi.

Bersikap positif seperti ini bukan berarti kita diam dan kemudian membenarkan apa yang salah. Tapi ketika kita berespon dalam koridor syukur, maka tindakan yang kita lakukan akan dalam niatan agar menghasilkan kebaikan untuk semuanya.

(Disajikan ulang dari Kajian HAQ, Kang Zam 5 November 2005)