Hamba yang Allah rahmati itu akan Allah pancarkan ke dalam qalbnya cahaya kuasa-Nya sehingga menampilkan apa-apa yang ada di dalam, maka sesungguhnya dunia yang dihadapi orang tersebut tiada lain merupakan gambaran kondisi hatinya sendiri.
Dalam tingkat fenomena proyeksi dari hati itu bisa berupa kesialan, musibah, atau kemudahan dan kebahagiaan.Biasanya manusia cenderung menunjuk orang atau melempar kesalahan kepada sesuatu di luar dirinya alih-alih berintrospeksi ke dalam diri. Fenomena yang tampak di sekitar kita bagaikan layar tiga dimensi dari hati masing-masing, menjadi warna kehidupan yang menimpa setiap orang, jadi kalau kita murung jangan salahkan Tuhan, akan tetapi harus paham hidup ini apa, bukan masalah benar atau salahnya, tapi hendaklah belajar memahami mekanismenya. Setiap warna kehidupan yang terpancar tentu dibaca subyektif oleh setiap individu, adapun Allah dari awal sampai akhir hanya memancarkan cahaya kaish-Nya yang sama. Jadi, daripada menunjuk-nunjuk hidung orang, mencari kambing hitam dan menyimpan amarah atau benci kepada seseorang, lebih baik energi yang ada dipakai untuk membaca kondiri hati per saat ini. Tampaknya itu lebih meringankan hati.
(Disajikan ulang dari pengajian Hikmah Al QUran yang disampaikan Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
Showing posts with label Takdir. Show all posts
Showing posts with label Takdir. Show all posts
Sunday, July 28, 2013
Sunday, June 16, 2013
Antara Takdir dan Ikhtiar Manusia
Dan bagi setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya
- Al Quran
Sungguh pengetahuan tentang sekat-sekat takdir yang membatasi kehidupan kita masing-masing adalah sesuatu yang sangat besar dan untuk memahaminya diperlukan banyak bekal pengetahuan dan kebijaksanaan.
Kita terlahir ke muka bumi ini tidak diberikan pilihan mau dilahirkan dari orang tua seperti apa, keluarga yang bagaimana, bentuk fisik yang mana dsb, sebagaimana seseorang tidak dapat menegosiasikan berapa lama dia akan hidup. Kesadaran akan garis-garis kehidupan yang telah ditorehkan di Lauh Mahfuz yang sebagaimana kuatnya keinginan manusia tidak akan mampu merubahnya - itulah yang membuat manusia menjadi lebih bisa berkompromi dengan kehidupan alih-alih memaksakan kehendaknya sampai babak belur.
Banyak ketetapan hidup yang Allah memang sudah gariskan, tidak bisa diubah, tapi ada wilayah yang sepenuhnya menjadi 'free will', kehendak bebas manusia, yaitu hatinya sendiri, semesta yang luas yang tak terbatas. Adalah hati yang bisa liar ke mana-mana, bisa naik ke surga yang paling tinggi atau ke neraka yang paling bawah. Inilah pilihan yang dalam Al Quran dikatakan sebagai
"Datanglah kepada-Ku dalam keadaan suka cita atau terpaksa"
Kesukacitaan dan keterpaksaan letaknya di dalam hati. Kita lah yang menetukan apakah semesta hati kita mau tunduk dan berserah diri dengan keadaan yang ada atau menjalaninya dengan ngedumel, ngomel-ngomel, dan marah-marah.
Ibaratnya setiap manusia diberikan buku mewarnai masing-maisng dengan desain dan pola yang berbeda-beda. Gambarnya telah tersedia, tugas kita hanya mewarnai dengan sebaik mungkin. Ada yang berusaha merubah gambar yang ada, ada yang iri dengan gambar orang, ada yang mewarnai dengan serampangan, dan yang terbaik tentu mewarnai dengan sapuan warna serapih dan sebaik mungkin sehingga menyenangkan hati Yang Memberikan buku.
Suatu saat nanti masing-masing kita akan menerima buku kehidupannya sendiri. Warna-warna hati yang kita torehkan saat ini akan dilihat hasilnya di suatu masa yang akan tiba. Semoga kita mendapati buku kita dalam keadaan yang indah, aamiin.
(Disajikan ulang dari Pengajian Hikmah Al Quran yang disampaikan Zamzam AJT, 26 November 2005)
- Al Quran
Sungguh pengetahuan tentang sekat-sekat takdir yang membatasi kehidupan kita masing-masing adalah sesuatu yang sangat besar dan untuk memahaminya diperlukan banyak bekal pengetahuan dan kebijaksanaan.
Kita terlahir ke muka bumi ini tidak diberikan pilihan mau dilahirkan dari orang tua seperti apa, keluarga yang bagaimana, bentuk fisik yang mana dsb, sebagaimana seseorang tidak dapat menegosiasikan berapa lama dia akan hidup. Kesadaran akan garis-garis kehidupan yang telah ditorehkan di Lauh Mahfuz yang sebagaimana kuatnya keinginan manusia tidak akan mampu merubahnya - itulah yang membuat manusia menjadi lebih bisa berkompromi dengan kehidupan alih-alih memaksakan kehendaknya sampai babak belur.
Banyak ketetapan hidup yang Allah memang sudah gariskan, tidak bisa diubah, tapi ada wilayah yang sepenuhnya menjadi 'free will', kehendak bebas manusia, yaitu hatinya sendiri, semesta yang luas yang tak terbatas. Adalah hati yang bisa liar ke mana-mana, bisa naik ke surga yang paling tinggi atau ke neraka yang paling bawah. Inilah pilihan yang dalam Al Quran dikatakan sebagai
"Datanglah kepada-Ku dalam keadaan suka cita atau terpaksa"
Kesukacitaan dan keterpaksaan letaknya di dalam hati. Kita lah yang menetukan apakah semesta hati kita mau tunduk dan berserah diri dengan keadaan yang ada atau menjalaninya dengan ngedumel, ngomel-ngomel, dan marah-marah.
Ibaratnya setiap manusia diberikan buku mewarnai masing-maisng dengan desain dan pola yang berbeda-beda. Gambarnya telah tersedia, tugas kita hanya mewarnai dengan sebaik mungkin. Ada yang berusaha merubah gambar yang ada, ada yang iri dengan gambar orang, ada yang mewarnai dengan serampangan, dan yang terbaik tentu mewarnai dengan sapuan warna serapih dan sebaik mungkin sehingga menyenangkan hati Yang Memberikan buku.
Suatu saat nanti masing-masing kita akan menerima buku kehidupannya sendiri. Warna-warna hati yang kita torehkan saat ini akan dilihat hasilnya di suatu masa yang akan tiba. Semoga kita mendapati buku kita dalam keadaan yang indah, aamiin.
(Disajikan ulang dari Pengajian Hikmah Al Quran yang disampaikan Zamzam AJT, 26 November 2005)
Sunday, June 9, 2013
Berhenti Menyalahkan Keadaan
"Saya tidak peduli apa yang akan menimpa saya esok, apakah sebuah penderitaan atau suatu kesenangan, karena bagi saya semua sama"
- Umar bin Khaththab ra
Orang yang ihsan dalam kehidupan tidak akan terperangkap oleh fenomena semata karena ia akan lebih melihat apa yang ada di balik kejadian yang Allah berikan (the divine meaning).
Oleh karenanya orang yang mencari Allah selalu berupaya menangkap apa maksud Allah di balik segala keadaan atau perasaan hati yang tengah berkecamuk, ia tidak akan menyalahkan kondisi atau orang lain untuk sekedar mencari kambing hitam. Ini adalah tauhid yang baik.
(disajikan ulang dari pengajian hikmah Al Quran, Kang Zamzam AJT. 26 November 2005)
- Umar bin Khaththab ra
Orang yang ihsan dalam kehidupan tidak akan terperangkap oleh fenomena semata karena ia akan lebih melihat apa yang ada di balik kejadian yang Allah berikan (the divine meaning).
Oleh karenanya orang yang mencari Allah selalu berupaya menangkap apa maksud Allah di balik segala keadaan atau perasaan hati yang tengah berkecamuk, ia tidak akan menyalahkan kondisi atau orang lain untuk sekedar mencari kambing hitam. Ini adalah tauhid yang baik.
(disajikan ulang dari pengajian hikmah Al Quran, Kang Zamzam AJT. 26 November 2005)
Friday, November 23, 2012
Agar Hati Menjadi Tenang
Dalam hal rizki dan sumber kehidupan, ahlul yaqiin menyerahkan sepenuhnya kepada Allah serta menjadikannya sebagai Wakil (yang kepada-Nya dipasrahkan segala perkara). Karena mereka telah yakin bahwa Allah lebih menyayangi mereka daripada mereka sendiri terhadap dirinya, Allah lebih berhak terhadap diri mereka karena Allah telah menciptakan dan membentuk mereka, lalu menyusun dan menjadikan mereka makhluk yang sempurna serta seimbang.
Mereka sama sekali tidak memiliki ilmu dan kuasa atas apa-apa yang telah diatur oleh-Nya. Mereka meyakini bahwa Allah adalah Raja Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, Allah berbuat sesuai kehendak-Nya. Ilmu Allah telah sempurna, Ia mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka, apa yang bermanfaat dan apa saja yang membahayakan mereka.
Lauh Mahfuzh telah mencatat mereka beserta segala sesuatu yang berkaitan dengan mereka. Allah dapat dicapai oleh hati secara nyata. Bagi mereka, segala hal yang dicapai dan didapat oleh hati adalah lebih dapat dipercaya daripada hal yang tidak dapat dilihat oleh hati. Mereka tidak meragukan kemampuan hati ini. Allah menciptakan Lauh Mahfuzh dan menetapkan takdir-takdir mereka bukanlah karena Allah membutuhkan hal tersebut, tetapi agar hati manusia lebih mantap, agar jiwa menjadi tenang dan tentram atas apa-apa yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh.
Sehingga apabila nafsu menjadi tenang, ia akan konsentrasi beribadah, menjaga hukum-hukum Allah, dan melaksanakan segala perintah-Nya. Segala bisikan dan keinginan nafsu pun hilang dalam hati, karena nafsu telah putus asa ketika mengetahui bahwa segalanya telah digariskan. Dalam keputusasaan inilah nafsu menjadi tenang dan tentram.
Mereka sama sekali tidak memiliki ilmu dan kuasa atas apa-apa yang telah diatur oleh-Nya. Mereka meyakini bahwa Allah adalah Raja Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, Allah berbuat sesuai kehendak-Nya. Ilmu Allah telah sempurna, Ia mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka, apa yang bermanfaat dan apa saja yang membahayakan mereka.
Lauh Mahfuzh telah mencatat mereka beserta segala sesuatu yang berkaitan dengan mereka. Allah dapat dicapai oleh hati secara nyata. Bagi mereka, segala hal yang dicapai dan didapat oleh hati adalah lebih dapat dipercaya daripada hal yang tidak dapat dilihat oleh hati. Mereka tidak meragukan kemampuan hati ini. Allah menciptakan Lauh Mahfuzh dan menetapkan takdir-takdir mereka bukanlah karena Allah membutuhkan hal tersebut, tetapi agar hati manusia lebih mantap, agar jiwa menjadi tenang dan tentram atas apa-apa yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh.
Sehingga apabila nafsu menjadi tenang, ia akan konsentrasi beribadah, menjaga hukum-hukum Allah, dan melaksanakan segala perintah-Nya. Segala bisikan dan keinginan nafsu pun hilang dalam hati, karena nafsu telah putus asa ketika mengetahui bahwa segalanya telah digariskan. Dalam keputusasaan inilah nafsu menjadi tenang dan tentram.
Subscribe to:
Posts (Atom)