Seorang mukmin itu Allah atur kehidupannya. Kita harus memahami ini, bahwa kehidupan kita sejak lahir hingga meninggal nanti itu Allah atur sebenarnya, semuanya berada dalam satu garis di Lauh Mahfuzh, siapapun kita hanya ada satu garis kehidupan. Kemanapun kita merancang dan berencana yang akan terjadi tetap saja ketetapan-Nya.
Orang yang tidak paham dalam kehidupan akan merasa hidupnya penuh derita dan rintangan, "Kok saya sudah berusaha tapi gagal terus, kenapa hidup saya awut-awutan, kenapa masa lalu saya kelam sekali, kenapa suami saya begini, kenapa istri saya begitu, kenapa anak saya susah diatur dsb" Semua itu membuat seolah-olah hidup kita berantakan, seolah-olah kita salah jalan, seolah-olah kita gagal.
Orang yang hatinya terang dan yang hatinya gelap akan mengalami takdir kehidupan yang sama, hanya bedanya orang yang dalam kegelapan sepanjang hidupnya hanya sibuk berkeluh-kesah, protes dan berprasangka buruk kepada Allah Ta'ala. Sedangkan bagi orang yang hatinya dibuka dengan cahaya Allah ia telah diberi pengetahuan yang haq, maka walaupun ia mengalami ujian yang sama berat tapi hatinya tetap bersyukur.
Ujian dan kesulitan hidup hanya akan membuat orang yang tertutup hatinya menjadi sebuah penderitaan, sedangkan bagi orang yang beriman semua adalah kebaikan. Semua mengalami kesulitan yang sama dalam hidup hanya yang satu dihiasi dengan sumpah serapah dan sampah keluhan dalam hatinya, sedangkan yang satu hatinya penuh dengan senyum dan kebersyukuran kepada Allah Ta'ala. ***
Showing posts with label kafir. Show all posts
Showing posts with label kafir. Show all posts
Monday, November 25, 2013
Thursday, July 18, 2013
Orang Yang Dihidupkan Indera Batinnya
Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya Allah
bersama malaikat dalam naungan awan...
(QS Al Baqarah 210)
Hamba Allah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah mereka yang mengharapkan dirinya untuk diubah oleh Sang Maha Ilmu, setelah menyadari banyak kekufuran, banyak hijab, banyak kebodohan dan kegelapan dalam dirinya, bahwa dirinya tak lain hanya hamba yang lemah dan tidak tahu apa-apa, oleh karenanya ia menantikan datangnya kuasa Allah dalam dirinya.
Maka nuansa ayat ini adalah nuansa kehancuran, karena cahaya Allah apabila ia datang dalam hati seseorang, ia akan menghancurkan kebatilan, meruntuhkan hijab-hijab hati, kehancuran itu bisa jadi dirasakan sebagai sesuatu yang menyakitkan, tapi sebetulnya bukan diri kita yang sejati yang hancur akan tetapi ego kita, hawa nafsu kita, obsesi kita dan sekian banyak bentuk-bentuk kekufuran dan sisi gelap dalam diri. Perlahan-lahan sang hamba mulai merasakan adanya perubahan dalam dirinya, yang sebelumnya gampang tersinggung menjadi lebih legowo hatinya, yang tadinya mudah marah menjadi sabar, yang tadinya pelit tak ketulungan menjadi lebih pemurah, cahaya Allah berwujud menjadi sifat-sifat baik yang merahmati alam sekitarnya.
Adapun pengertian turunnya malaikat, ia adalah simbol dari kekuatan samawiyah, terbukanya indera-indera batin berupa mata hati, telinga hati, sirr, ruh, lub dll yang merupakan perangkat batin yang Allah berikan untuk membantu sang hamba mengenal kebenaran di balik fenomena kehidupan. Dalam skala besar peristiwa yang juga pernah didemonstrasikan pada zaman Musa as saat menerima 10 perintah Allah ini niscaya akan kita alami juga di alam mahsyar. Dalam konteks saat ini di dunia, ada orang-orang yang Allah hidupkan indera-indera batinnya untuk mengenal kebenaran.
(Disajikan ulang dari catatan pengajian hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Zamzam AJT, 17 Desember 2005)
bersama malaikat dalam naungan awan...
(QS Al Baqarah 210)
Hamba Allah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah mereka yang mengharapkan dirinya untuk diubah oleh Sang Maha Ilmu, setelah menyadari banyak kekufuran, banyak hijab, banyak kebodohan dan kegelapan dalam dirinya, bahwa dirinya tak lain hanya hamba yang lemah dan tidak tahu apa-apa, oleh karenanya ia menantikan datangnya kuasa Allah dalam dirinya.
Maka nuansa ayat ini adalah nuansa kehancuran, karena cahaya Allah apabila ia datang dalam hati seseorang, ia akan menghancurkan kebatilan, meruntuhkan hijab-hijab hati, kehancuran itu bisa jadi dirasakan sebagai sesuatu yang menyakitkan, tapi sebetulnya bukan diri kita yang sejati yang hancur akan tetapi ego kita, hawa nafsu kita, obsesi kita dan sekian banyak bentuk-bentuk kekufuran dan sisi gelap dalam diri. Perlahan-lahan sang hamba mulai merasakan adanya perubahan dalam dirinya, yang sebelumnya gampang tersinggung menjadi lebih legowo hatinya, yang tadinya mudah marah menjadi sabar, yang tadinya pelit tak ketulungan menjadi lebih pemurah, cahaya Allah berwujud menjadi sifat-sifat baik yang merahmati alam sekitarnya.
Adapun pengertian turunnya malaikat, ia adalah simbol dari kekuatan samawiyah, terbukanya indera-indera batin berupa mata hati, telinga hati, sirr, ruh, lub dll yang merupakan perangkat batin yang Allah berikan untuk membantu sang hamba mengenal kebenaran di balik fenomena kehidupan. Dalam skala besar peristiwa yang juga pernah didemonstrasikan pada zaman Musa as saat menerima 10 perintah Allah ini niscaya akan kita alami juga di alam mahsyar. Dalam konteks saat ini di dunia, ada orang-orang yang Allah hidupkan indera-indera batinnya untuk mengenal kebenaran.
(Disajikan ulang dari catatan pengajian hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Zamzam AJT, 17 Desember 2005)
Tuesday, May 7, 2013
Kekafiran Dalam Diri
"Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran..." (Al Qur'an [49]: 7)
Pertama kali perhatikan apakah ada benih-benih kekafiran dalam diri kita sebelum menunjuk orang lain. Karena setiap orang akan bertanggung jawab masing-masing di hadapan Sang Pemilik Semesta.
Hati yang masih mengeluh, kurang bersyukur, prasangka buruk kepada Allah dan tidak menerima dengan baik ketetapan yang Dia berikan sesungguhnya merupakan benih-benih kekafiran dalam diri. Kekafiran dalam arti ketertutupan dari cahaya kasih-Nya sehingga ia kesulitan memandang kebaikan dalam fase-fase kehidupan adalah tirai besar yang menghalangi seorang hamba untuk bisa bersyukur kepada-Nya.
Orang beriman akan sangat benci untuk mengutuk kehidupan, mengeluh pada keadaan, dan menyimpan prasangka buruk dalam hati. Semua itu adalah bentuk-bentuk kekafiran dalam diri. Astaghfirullah...
(Disajikan ulang dari Pengajian Hikmah Al Quran, Zamzam AJT. 12 November 2005)
Subscribe to:
Posts (Atom)