Showing posts with label tarekat. Show all posts
Showing posts with label tarekat. Show all posts

Thursday, July 18, 2013

Orang Yang Dihidupkan Indera Batinnya

Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya Allah 
bersama malaikat dalam naungan awan...
(QS Al Baqarah 210)

Hamba Allah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah mereka yang mengharapkan dirinya untuk diubah oleh Sang Maha Ilmu, setelah menyadari banyak kekufuran, banyak hijab, banyak kebodohan dan kegelapan dalam dirinya, bahwa dirinya tak lain hanya hamba yang lemah dan tidak tahu apa-apa, oleh karenanya ia menantikan datangnya kuasa Allah dalam dirinya.

Maka nuansa ayat ini adalah nuansa kehancuran, karena cahaya Allah apabila ia datang dalam hati seseorang, ia akan menghancurkan kebatilan, meruntuhkan hijab-hijab hati, kehancuran itu bisa jadi dirasakan sebagai sesuatu yang menyakitkan, tapi sebetulnya bukan diri kita yang sejati yang hancur akan tetapi ego kita, hawa nafsu kita, obsesi kita dan sekian banyak bentuk-bentuk kekufuran dan sisi gelap dalam diri. Perlahan-lahan sang hamba mulai merasakan adanya perubahan dalam dirinya, yang sebelumnya gampang tersinggung menjadi lebih legowo hatinya, yang tadinya mudah marah menjadi sabar, yang tadinya pelit tak ketulungan menjadi lebih pemurah, cahaya Allah berwujud menjadi sifat-sifat baik yang merahmati alam sekitarnya.

Adapun pengertian turunnya malaikat, ia adalah simbol dari kekuatan samawiyah, terbukanya indera-indera batin berupa mata hati, telinga hati, sirr, ruh, lub dll yang merupakan perangkat batin yang Allah berikan untuk membantu sang hamba mengenal kebenaran di balik fenomena kehidupan. Dalam skala besar peristiwa yang juga pernah didemonstrasikan pada zaman Musa as saat menerima 10 perintah Allah ini niscaya akan kita alami juga di alam mahsyar. Dalam konteks saat ini di dunia, ada orang-orang yang Allah hidupkan indera-indera batinnya untuk mengenal kebenaran.

(Disajikan ulang dari catatan pengajian hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Zamzam AJT, 17 Desember 2005)

Tuesday, September 4, 2012

Makna Thariqah

Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa yang menempuh (salaka) suatu thariqan (jalan) untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan ke surga.

Istilah thariqah ini juga berasal dari kata kerja tharaqa, artinya memukul sesuatu dengan palu atau menempa sesuatu menjadi tipis. Karena itu dalam sebuah thariqah, isinya penempaan. Dari besi yang tidak berbentuk, dibakar dan ditempa jadi pedang tipis yang tajam. Atau arti lainnya, mengetuk pintu. Sesuatu yang terus menerus dan ada tujuannya.

Siapapun yang menempa dirinya dengan tuntunan Allah Ta’ala, maka dirinya sedang menempuh thariqah, maka jangan mempersempit kata thariqah ini dengan tarekat. Thariqah adalah istilah dalam agama yaitu jalan yang sangat bersifat individu yang masing-masing kita wajib mencarinya mulai dari alam dunia ini. Siapapun yang berjuang melaksanakan aspek syariat dengan baik lalu masuk ke tahapan thariqah maka cirinya ada produk-produk pertaubatan yang terpantul pada dirinya, terlepas dari orang itu tergabung dalam suatu jamaah tarekat atau tidak. Istilah thariqah tidak secara khusus mengatakan Tarekat Naqshabandi, Maulawiyah , Kadisiyyah dsb itu hanya bentuknya saja. Ada yang berjalan sendirian, ada yang tersistem, kita tidak pernah tahu.

Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqatan, barangsiapa menempuh salah satunya niscaya akan sampai

Istilah thariq juga terdapat di Al Quran [46]: 30 Hai kaumku, sesungguhnya aku telah mendengar sebuah kitab yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Kitab Al quran itu memberi petunjuk kepada Al Haqq dan thariqi mustaqiim.

Dari ayat di atas Allah memberi tuntunan kepada kita bahwa kunci untuk membuka jalan (thariq) masing-masing menuju Al Haqq adalah dengan mempelajari Al Quran sehingga kita mendapatkan petunjuk darinya. Al haqq itu sifatnya kebenaran yang umum, yang semua harus mengenalnya. Tapi thariq itu spesifik per individu. Ini terkait orbit diri dan misi suci masing-masing dari Allah.

Di ayat ini juga Allah menggunakan nama lain di depan mustaqiim dengan istilah ‘thariqimustaqiim’ . Kalau kita berdoa dalam shalat memohon ‘ihdina shiraathal mustaqiim’ maka ini identik dengan ‘thariqi mustaqiim’

Setiap hari kita berdoa dalam shalat ‘ihdina shiraathalmustaqiim.’ meminta jalan yang teguh. Setidaknya lima waktu dalam sehari. Dimana inti Al Fatihah adalah pada doa itu. Sebagai muslim kita harus mengerti apa yang kita minta, jangan meminta pada Allah sesuatu yang kita tidak pahami, sehingga pada saat Allah mengabulkan atau tidak mengabulkan, kita tidak tahu . Padahal dalam Al Quran dikatakan, ‘Janganlah engkau meminta kepadaKu sesuatu yang engkau tidak pahami.’ 

Maka harus kiranya masing-masing kita membaca dan mengkaji Al Quran, apa yang Allah katakan tentang shiraathal mustaqiim. Sehingga kita tidak berdoa atau shalat dengan lalai.

Semoga Allah Ta’ala membimbing kita kepada shiraathal mustaqiim. Aamiin.

(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)

Sunday, September 2, 2012

Bagaimana Cara Memilih Thariqat ?

Seorang sahabat berbicara kepada saya, mengutarakan keinginannya untuk berthariqat - setelah mengetahui tahapan perjalanan menuju makrifatullah, yaitu syariat – thariqat – haqiqat – makrifat, bagaimana cara menemukan thariqat yang baik dan benar?

Guru saya seringkali mengingatkan bahwa hal yang paling mustahil di dunia ini adalah kalau kita mencari Allah, lalu Allah tidak menuntun. Dengan demikian saya yakin sekali kalau kita berbisik di hati kita yang terdalam memohon kepada-Nya agar senantiasa dituntun, maka kita tidak akan tersesat. Sebaliknya, seseorang walaupun sudah mencapai tingkatan yang tinggi dalam beragama namun hatinya berpaling dari ikhlas mencari Allah semata, maka niscaya akan tergelincir, na’udzubillah.

Dalam sebuah buku Thariqah Tijaniyah ada hadis Rasulullah saw, dlm kitab Mizan al Qubra juz 1.”Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqatan siapapun yang menempuh (salaka) salah satunya akan sampai.”

 Jadi banyak sekali pilihan jalan menuju Allah, maka tidak pantas seseorang merasa dirinya paling benar thariqahnya, paling suci alirannya dan menganggap remeh kepercayaan atau agama lain. Lebih baik kita fokus pada pemurnian diri sendiri saja. Makin kita memohon agar ditunjukkan kepada jalan yang benar, yang haq, maka Allah yang akan memandu dengan indah ke mana kita harus berjalan. Insya Allah. []

 (Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)

Tuesday, August 28, 2012

Suluk dan Tarekat : Sebuah Pengantar

Suluk berasal dari Bahasa Arab 'salaka' yang artinya menempuh sesuatu atau melintasi/memasuki sesuatu. Jadi, kalau dikatakan melintasi sesuatu tentu ada jalan (thariq) yang ia pijaki. Oleh karena itu istilah suluk terkait erat dengan thariqah atau tarekat dalam bahasa kita.

Ketika orang berthariqah atau menempa jiwa menuju Allah, itu artinya bersuluk. Tapi aspek apa dari manusia yang dikatakan bersuluk? Apakah orang yang secara fisik melakukan zikir ribuan kali atau melakukan perjalanan menuntut ilmu atau bermeditasi itu serta merta dikatakan bersuluk? Karena ternyata tidak semua orang yang shalat itu bersuluk, tidak semua yang zikir itu bersuluk dan tidak semua muslim itu bersuluk. Jadi ada hal lain selain menetapi tata syariat lahiriah yang kita kerjakan.

Ada istilah 'perjalanan ruhani' atau 'perjalanan spiritual', terjemahan latin ruh memang spirit. Walaupun demikian sebenarnya istilah ini kurang tepat karena ruh itu berasal dari alam jabarut. Jadi istilah yang tepat adalah 'tazkiyatun nafs' atau pemurnian jiwa. Dengan demikian, yang bersuluk adalah jiwa (nafs) manusia.

Orang yang melakukan proses pensucian jiwa disebut 'salik' atau pejalan. Dalam Bahasa Persia dikenal dengan istilah 'darwish' sedangkan dalam Bahasa Arab dikenal sebagai 'zahid' - yang berzuhud, atau 'muriid'. Istilah 'muriid' artinya 'ia yang menghendaki', yaitu menghendaki Allah.

Seorang yang menempuh jalan suluk adalah dia yang mencari Allah, menata dirinya dengan syariat dan berakhlak baik. Dalam suluk dikenal tingkatan perjalanan, yang juga dikenal sebagai empat jenjang menuju Ad Diin (agama), yaitu:
1. Syariah
2. Thariqah
3. Haqiqah
4. Ma'rifah

Setelah bersyariat, kita bertarekat, maka istilahnya 'salaka', memasuki sesuatu. Jadi setelah kita menetapi kaidah syariat diperluas perjalanannya. Karena bertarekat itu berarti memasuki dunia pengalaman jiwa yang hidup, bukan sekedar teori. Pengalaman saya pribadi setelah bertarekat menjadi lebih mengerti istilah-istilah kunci dalam Al Quran seperti : iman, qalb, hawa nafsu, syahwat, alam barzakh, kekafiran, kemusyrikan dll - yang selama ini saya anggap sudah paham. Tapi lebih dari itu semua, setelah bertarekat, pencarian kepada Allah menjadi lebih fokus, terukur dan terbimbing di bawah panduan seorang mursyid.

Adapun salik juga dikenal sebagai seorang sufi, istilah dari tashawwuf yang makna esensinya adalah 'pemurnian'. Dalam proses pemurnian jiwa ini tak jarang seorang salik mengalami 'mukasyafah' atau keterbukaan sesuatu, sehingga ia makin memaknai agamanya.

(Disajikan dari materi Serambi Suluk yang disampaikan oleh Zamzam AJT)

'It is better to travel well than to arrive' - Buddha