Showing posts with label jiwa. Show all posts
Showing posts with label jiwa. Show all posts

Monday, November 25, 2013

Membebaskan Jiwa dari Dominasi Jasad

Proses membebaskan jiwa kita dari pengaruh jasad adalah proses yang panjang. Setelah sekian puluh tahun lamanya jasad kita terbiasa dengan pola makan tertentu, pola tidur tertentu, memiliki selera tertentu, keinginan tertentu yang semuanya seperti membentuk siapa diri kita, padahal semuanya kebanyakan terpengaruh dari orang tua, masa asuhan, keluarga dan masyarakat sekitar. 'man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu', kenali dirimu maka engkau akan mengenali Rabb-mu, proses membebaskan jiwa dari pengaruh jasadiyah merupakan bagian dari proses pengenalan diri.

Lalu dimulai dari mana? Minimal kita mengimani dulu bahwa kehidupan kita yang tampaknya berserakan dan tak berhubungan ini ada hubungannya dengan Al Quran, minimal itu. Karena kalau sudah tidak yakin dengan Al Quran maka Al Quran itu tidak akan bekerja untuk kita, jadi sesuatu yang tidak diyakini tidak akan mujarab.

Prinsipnya jika sudah ada kepercayaan bahwa ada hubungan antara kita dengan Al Quran, baru akan terbuka rahasianya. Kalau tidak peduli dengan Qurannya, dibaca pun tidak, tidak peduli dengan nasib kita, dan kita pun tidak berusaha mencari jawaban pertanyaan dalam kehidupan selain hanya menunggu entah mentor yang menerangkan, entah pak ustadz, maka sungguh harta karun itus tidak akan terbuka. Jadi masing-masing harus membuka sendiri, kenapa? Karena setiap orang beda-beda kepalanya, beda-beda ujiannya, beda jalan hidupnya. Tidak ada yang mengetahui dengan detil kehidupan sahabat sekalian kecuali diri sendiri dan Allah Ta'ala.***

Tuesday, July 23, 2013

Nafs Wahidah

Insan manusia itu bukan sekedar jiwa atau sekedar raga penyatuan antara aspek malakutiyah dan aspek jasadiyah. Adapun seseorang yang sudah integral aspek jasadnya yang terdiri dari banyak elemen panca indera ke dalam jiwa itu dinamakan sebagai ummatan wahidah.

Jalan menuju peng-ummatan wahidah melalui jihadun nafs, suatu perjuangan seumur hidup yang Rasullah saw katakan sebagai jihadul akbar. Manakala kita nanti semua berhasil menyatukan komponen dalam raga kita, artinya dengan menggunakan perangkat apapun dalam indera kita, telinga, mata hidung kita selalu dzikrullah, selalu mengantarkan kepada ahadiyahnya Allah, itu baru disebut nafs wahidah. 

Kita seringkali berteriak dengan lantang bahwa semua masalah yang kita terima adalah dari Allah bukan dari yang lain, karena tidak ada hal yang tercipta selain dari Allah Ta'ala, tetapi ketika masalah mendera kita terjebak dalam kebingungan dan kekhawatiran, itu belum dikatakan nafs wahidah. Karena orang yang sudah menyatu semua komponen dirinya (Divine oneness ) akan melihat semua fenomena, mencium dan mendengar semua hal sebagai representasi Dia, bukan sesuat yang terpisah dari Allah Taála. Hal itu dikarenakan akal nafsul wahidah sudah menyinari dalam dirinya.

Maka kalau kita masih berkeluh kesah dalam kehidupan, itu praktis sudah menunjukkan belum adanya akal wahidah dalam diri. Atau kita masih menyombongkan diri, menganggap remeh yang lain, saling dengki, itu semua otomatis merupakan sebuah dalil yang haq akan tiadanya aql wahidah dalam dirinya, dan dia pada prinsipnya belum menegakkan diinnya.

(Dari catatan pengajian Hikmah Al Quran, Zamzam AJT. 31 Desember 2005)

Wednesday, September 12, 2012

Pertumbuhan Jiwa

Saat jiwa dimasukkan bersama ruh ke dalam raga manusia yang berusia 120 hari di dalam kandungan ibu, jiwa yang masuk adalah jiwa yang masih segar menyimpan ingatan tentang peristiwa persaksian di alam alastu dengan Tuhannya. Maka dikatakan dalam hadis Rasulullah saw bahwa setiap bayi yang lahir masih dalam keadaan fitrah, suci tidak terkotori waham dunia. Namun saat tumbuh dan berkembang seiring itu ada dosa yang mulai menutupi sang jiwa, sehingga lumpuh segala kemampuan jiwa, buta matanya, tuli telinganya, hingga tidak mampu menerima petunjuk Tuhan yang bertebaran dalam kehidupan.

Adalah tugas setiap insan untuk kembali membangunkan jiwanya masing-masing untuk mengenal kodrat diri. Oleh karena itu wajib setiap pribadi melakukan suluk, menempuh perjalanan kembali menuju kesejatian diri, menuju Sang Maha Pencipta.

Untuk membantu hamba-Nya menemukan fitrahnya kembali, Sang Khalik sering menurunkan perkara-perkara dalam kehidupan sang hamba untuk menghidupkan jiwanya. Kadang kala perkara yang diturunkan itu seringkali dirasakan pahit oleh raga, namun pada saat yang bersamaan ada yang tumbuh dalam jiwa. Bisa jadi seseorang diuji dengan kematian anak kesayangannya, atau sulit mencari penghidupan dalam dunia dan lain sebagainya.

Amanah yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia itu bagaikan benih yang ditanam ke dalam jiwa masing-masing hamba. Benih itu harus tumbuh menjadi sebuha pohon yang berbuah. Dalam ilmu botani, benih tidak bisa ditanam begitu saja akan tetapi harus dikeringkan supaya bisa tumbuh. Manusia pun sama, tidak bisa jiwanya ditumbuhkan dalam kondisi ‘basah’, dalam kondisi kehidupan yang serba nyaman, semua tercukupi dan tidak ada masalah, maka akan cenderung mengumbar hawa nafsu dan syahwat. Maka dalam Al Quran, Surat Yusuf diceritakan tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh sapi yang kurus. Ini adalah simbol bahwa setiap manusia yang berjalan kepada Tuhan niscaya akan dikuruskan oleh masalah dan ujian, tapi Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang tak ternilai.

Setelah benih dikeringkan, ada beberapa syarat lain agar benih bisa tumbuh dengan baik, yaitu harus ada sinar matahari, mineral, air, udara, tanah yang subur dll Apabila benih tumbuh dengan baik ia akan pecah dan menumbuhkan kecambah, akarnya menjalar di bumi hingga ia menjadi pohon besar. Kalau sudah jadi pohon, baru ketahuan buahnya. Oleh karena itu pohon diberi nama karena buahnya. Manusia pun punya nama dari Allah Ta’ala, hanya kalau benih yang dibawa manusia sudah ditanam, tumbuh dan berbuah baru namanya teridentifikasi. Seorang manusia yang telah ‘berbuah’, jiwanya tumbuh dan bertemu diri, akan banyak buah yang keluar berupa pengetahuan, kebijaksanaan, karomah dll. Dan perhatikan bahwa tidak ada satu pohon pun yang menyerap buahnya. Buah adalah untuk orang lain. Jadi agama Islam ini betul-betul untuk menjadi rahmat bagi orang lain, bukan memalak atau menzalimi orang lain. Semakin banyak diambil buahnya justru semakin tumbuh banyak.

Hanya kebanyakan manusia benihnya terhalang dari hujan dan matahari. Jadi walaupun ada matahari dan hujan yang turun dalam dirinya, tapi benih itu tidak tumbuh, perumpamaannya seperti benih yang tertutup kaleng. Maka seminimalnya Allah melubangi kaleng yang menutupi benih dengan paku, hingga masuklah cahaya dan hujan. Manusia sering membuat ‘kaleng’ dalam kehidupan, kebanyakan karena menuruti hawa nafsu, syahwat dan kurang baik dalam mengendalikan pikirannya. Makanya persoalan menumbuhkan jiwa betul-betul persoalan taubat, karena hanya Allah Ta’ala yang bisa mengambil kaleng, bukan semata terapi melalui psikolog. Karena taubat yang sempurna itu hanya diberikan bagi orang-orang yang mencari Allah. 

Seseorang akan mengenal dirinya jika jiwanya tumbuh, jika ada pertumbuhan dalam jiwa pasti akan terefleksikan ke luar dalam tataran jasadiyah. Ketika ia sudah mengenal dirinya, maka ia seakan menjadi seorang yang terlahir kembali. Seperti yang dikatakan oleh Nabi Isa as, “Setiap manusia harus lahir dua kali, pertama lahir secara jasadiyah oleh ibu kita, dan kemudian lahir jiwanya”

(Referensi: Materi Serambi Suluk, 2008. Zamzam AJT)

Monday, September 10, 2012

Tentang Ruh, Jiwa dan Raga

Inti suluk adalah mengenal kembali jiwa, karena komponen dari manusia yang pernah bersaksi di hadapan Allah adalah jiwanya, dengan mengenal kembali jiwa kita masing-masing maka semua mandat yang Allah berikan kepada kita di alam persaksian akan kembali teridentifikasi. Maka Rasulullah bersabda man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu. Barangsiapa mengenal jiwanya maka akan mengenal Rabb-nya.

Proses mengenal jiwa betul-betul proses musyahadah atau persaksian, suatu peristiwa nyata yang bukan merupakan imaginasi atau sangkaan semata. Untuk mengenal jiwa ini mau tidak mau harus melalui proses tazkiyatun nafs atau pensucian jiwa, dengan sabar, tidak boleh bangga diri, tekun beribadah, giat bekerja, harus bersih hati. Lama kelamaan hijab hati yang terdapat dalam jiwa dapat terangkat dan terbuka. Dan setiap kita akan bisa bicara dengan jiwanya masing-masing. Ini memang suatu proses yang orang katakan mistik.

Gambaran saat seseorang mengenal jiwanya atau bermusyahadah diceritakan oleh seorang ulama di Bandung, almarhum adalah seorang sufi yang sangat sederhana, saat dia bertemu dirinya, suatu malam beliau wudhu hendak shalat malam, di rumah hanya ada beliau istri dan anaknya. Saat masuk ke mushala, di sejadahnya ada orang yang duduk menghadap kiblat, berjubah dan bersorban, beliau langsung bertanya, “kamu siapa?” Ketika orang itu berbalik ternyata wujudnya adalah dirinya sendiri, dia berkata “Aku adalah engkau, engkau adalah aku.”

Raga kita hanya kendaraan saja. Sebagaimana raga punya mata telinga, perasaan dll semua itu juga dimilki oleh jiwa. Mata jiwa (mata hati) disebut bashirah. Akal jiwa disebut lubb, fuad dsb (ada 7 tingkatan akal dalam), rasa jiwa disebut qalb. Apabila jiwa terhijab - tertutup oleh dosa maka qalb, lubb, fuad dsb tidak berfungsi. Adapun kalau kita merasakan sedih, gelisah, kecewa itu bukan qalb. Tapi di perasaan yang tersambung dengan pikiran jasadiyah kita.

Bentuk raga memang dicipta berdasarkan bentuk jiwa. Raga hanya bayangan dari jiwa. Raga bagaikan kuda saja. Kalau kuda tidak mengenal penunggangnya dia tidak akan tahu fungsinya. Akhirnya manusia akan bekerja dan beramal sembarangan, apa yang ada kerjakan, apa yang dia inginkan kerjakan, apa yang menjadi ‘trend’ di kerjakan. Raga dan jiwa sangat beda kualitasnya, sejauh beda bayangan dan benda aslinya. Jadi secanggih-canggihnya raga kita tidak ada apa-apanya dibanding jiwanya, termasuk ma’rifatnya, ilmunya dll, hanya hal ini jarang dikenali padahal ilmu ini bukan hal baru sama sekali. Semua para sufi menerangkan tentang ini semua.

Matahari adalah simbol ruh, sinarnya menerpa nafs, lalu bayangan sang nafs dihidupkan menjadi raga. Komponen raga terdiri dari: air, udara, api dan tanah (Plato) Jika kita membuat sebuah boneka dari tanah liat, kan tidak hidup, sebagaimana penciptaan Adam dulu. Sebagaimana Nabi Isa membentuk bentuk burung dari tanah liat (tercantum dalam Al Quran) dia mati, hingga ditiupkan ruh. Karena Nabi Isa memiliki ruhul qudus dalam dirinya, saat dikeluarkan ruh itu dari mulutnya yang suci, burung itu menjadi hidup dan terbang.

Kita yang jasadiyah dan kuda tidak beda, terdiri dari komponen daging dan ruh. Pada saatnya ruh akan keluar dan kita pun mati. Tumbuhan pun apabila diambil ruhnya akan mati. Setiap hal di dunia ini ada ruhnya. Bahkan batu yang tampaknya diam tak bergerak pun ada ruhnya, ilmu fisika modern bisa meneropong pergerakan atom dan sub atom yang bergerak dinamis dalam partikel pembentuk batu yang seandainya partikel itu berhenti bergerak maka batu pun hancur. Jadi fungsi ruh adalah menghidupkan sesuatu yang mati.

Jasad untuk hidup perlu ruh dan untuk beraktivitas perlu energi yang diperoleh dari makanan, karena dia berasal dari bumi maka sumber makanan pun berasal dari sari bumi, agar dia bergerak/berenergi. Karena raga berasal dari bumi, maka kecenderungan raga adalah kepada bumi. Ia akan mencintai hal-hal yang dari ibu pertiwinya. Semua hal yang bersifat material akan dicintai oleh raga seperti rumah mewah, mobil bagus, gadget canggih, lahan luas, nafsu seksual dll, ini disebut sebagai syahwat.

Dikatakan ajal itu apabila ruhnya diambil, tapi selain ruh ada sesuatu di dalam raga kita, yaitu nafs, jiwa kita. Jiwa dikirimkan ke alam dunia, dari alam malakut, diberi kendaraan yaitu jasad. Jadi kalau jiwa, asalnya sesuatu hidup, sedangkan jasad asalnya sesuatu mati.

Karena jiwa adalah entitas yang sudah hidup, jadi tidak perlu faktor penghidup. Namun untuk bergerak atau beraktifitas perlu makanan juga. Yang menjadi makanannya bukan yang berasal dari unsur bumi, karena jiwa bukan berasal dari alam mulk. Makanannya adalah “perintah Allah” atau amr-amr Allah. Aktifitas jiwa kita bergantung kepada cahaya amr, atau kehendak/perintah Allah. Semua hal yang dari Allah Ta’ala, seperti hikmah, taufiq, hidayah dll merupakan sumber energi bagi jiwa. Semua tendensi jiwa untuk kembali ke ‘atas’ disebut himmah. Maka dalam diri kita akan konflik antara himmah dan syahwat.

Adapun ruh sebagaimana api dan cahayanya. Tidak sama api dan cahayanya. Api adalah ruh, adapun cahaya ruh adalah sesuatu yang keluar dari api. Yang membuat raga hidup bukan apinya tapi cahaya api. Maka disebut “Kami hembuskan ruh Kami” Nabi Isa membuat burung dan meniupkan ruhnya, yang ditiupkan adalah cahayanya, api ruhnya ada di dalam dadanya. Manusia secara potensial mampu bukan hanya menerima cahayanya tapi apinya, jika bertemu diri suatu ketika.

Ruh setiap orang tidak sama, namun saling mengenal, karena dari alam jabarut. Ruh kita saling mengenal satu sama lain, karena ada di alam yang sangat muuwahid dengan Allah ta’ala, jadi saling mengenal satu sama lain.

Allah punya tiga alam :
1. Alam jabarrut
2. Alam malakut
3. Alam mulk

Alam Mulk, adalah alam jasad dsb. Raga manusia, hewan, jin, tata surya, galaksi, semuanya adalah di satu alam. Jadi raga kita anggota dari alam mulk. Sebagaimana jin, karena dicipta dari api (salah satu komponen manusia). Jiwa adalah anggota alam malakut, jadi jiwa mengenal para malaikat, karena satu alam. Ia mengenal yang kiri kanan depan belakang. Raga memang susah mengenal malaikat, karena beda alam. Nanti di alam kubur kita bertemu malaikat, karena raga sudah tidak ada, maka jiwanya yang bertemu dengan malaikat. Jadi tidak aneh apabila ada orang yang ketemu dan berbincang dengan malaikat, asal jiwanya bangun.

Ada hal yang harus ditemukan oleh jiwa di bumi ini, yang itu dengan bantuan kendaraannya, yaitu jasad dan segala yang terkait dengannya. Pada saat kiamat, semua jiwa mati. Maka dalam Al Quran disebutkan ada dua ajal. Yang pertama ajal atau kematian raga dan yang kedua adalah kematian jiwa. Semua yang berjiwa, manusia, jin, malaikat akan mati.

Di alam mahsyar semua dihidupkan lagi, jasad, jiwanya. Jadi manusia akan diberi raga baru. Jadi yang ke surga pun jiwa dan raganya. Jadi kalau ada buah-buahan di surga, itu surganya raga. Kata Ibn Arabi, bentuk raga saat dibangkitkan akan sesuai dengan kondisi batin saat dia meninggal. Kalau sekarang kita mempunyai raga yang mirip jiwa, karena dibentuk dari kondisi batin di alam syahadah. Nanti raga disana betul-betul berdasarkan warna batin saat meninggal, kalau batin kita buruk penuh dengki, iri, amarah dll maka raganya jadi buruk.

Alam jabarut adalah alam ruh-ruh. Segala hal yang dinamai ruh, nisbatnya ke Allah Ta’ala. Kadang-kadang masyarakat tidak paham bahwa arwah jamak dari ruh, seringkali disalah tafsirkan dengan jiwa manusia. Padahal yang melanjutkan perjalanan di alam barzakh itu bukan ruh tapi jiwanya.

Demikian, dengan memahami istilah-istilah yang ketat ini, maka kita bisa lebih melihat kesinambungan satu ayat dan yang lainnya dalam Al Quran, yang semoga kehidupan kita dicahayai olehnya.

(Referensi : Materi Serambi Suluk. Zamzam AJT, 2008)

Tuesday, September 4, 2012

Beda Antara Jiwa dan Ruh

Seringkali kita mendengar perkataan ‘semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan’ atau istilah ‘arwah gentayangan’ atau ‘perjalanan spiritual’, semuanya bicara tentang ruh, arwah adalah istilah jamak untuk ruh. Di sisi lain saat kita bernyanyi lagu Indonesia Raya, kita kumandangkan..’..bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya’ atau kita juga menyebut orang yang bermasalah mentalnya sebagai ‘mempunyai gangguan jiwa’. Nah, sebenarnya apa bedanya jiwa dan ruh? Sesungguhnya pengetahuan antara perbedaan kedua istilah ini sangat penting dalam memetakan struktur diri kita sendiri.

Ruh itu bungkusnya jiwa, sedangkan jiwa bungkusnya raga. Jadi di dalam raga kita yang kita llihat sehari-hari ini terdapat jiwa dan ruh, dua entitas yang berbeda. Sebelum jiwa bersama-sama ruh ditiupkan ke dalam raga manusia dipanggil dulu ke hadapan Allah Ta’ala di suatu saat yang peristiwa itu terekam dalam Al Quran Surat Al A’raaf [7] ayat 172. Dikatakan sbb:
Allah mengambil kesaksian atas anfus (jiwa-jiwa) mereka,
Perhatikan di sini dikatakan yang diambil kesaksian adalah jiwa-jiwa bukan ruh. Dengan demikian entitas utama manusia adalah jiwanya. Adapun ruh berfungsi untuk menghidupkan jiwa dan raga. Sedangkan raga adalah kendaraan jiwa selama berada di alam dunia dan alam mulkiyah. Jadi jiwa kita yang berjalan sejak di alam alastu (alam persaksian), alam rahim, alam dunia, di alam barzakh dan seterusnya Jiwa kita dan seluruh manusia dipanggil ke hadapan Allah ta’ala. Allah bertanya, Bukankah Aku Rabbmu ? Dan kita pun dulu menjawab Iya, dan kami bersaksi (balaa syahidna) Dialog ini menunjukkan bahwa kita sudah mengenal Tuhan disana.

Maka saat jiwa terdalam kita dan ruh ditiupkan ke dalam raga yang berusia 120 hari kandungan, sang jiwa sudah mengenal Allah. Akan tetapi seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan raga, pengaruh dari orang tua dan lingkungan menyelimuti jiwa dan meninggalkan sayyiah-sayyiah. Oleh karena itu kita sekarang menjadi ragu-ragu pada Allah Ta’ala, siapa Allah, siapa kita? Apa tugas kita? Oleh karena itu Plato, seorang filsuf Rabbani dari Yunani mengeluarkan konsep pendidikan yang berdasarkan ‘Recollection’, artinya setiap manusia dididik sesuai dengan ‘bakat langit’nya masing-masing yang perlahan-lahan akan dikenali recollection dalam perkembangannya.

Jiwa yang telah berpengetahuan awal tentang Tuhannya itu ketika dimasukkan ke dalam raga yang berupa janin tentu terjadi ‘gap’, karena akal raga sang janinn belum berkembang, sehingga belum siap menerima pengetahuan yang jiwa miliki. Jadi pengetahuan itu terkunci dalam jiwa yang ada di raga masing-masing manusia. Akan tetapi saat raga makin tumbuh, si anak mulai masuk taman kanak-kanak, sekolah dasar dan seterusnya, jiwa makin tercekik di dalam oleh pengaruh-pengaruh buruk yang diterima oleh sekitarnya. Sehingga pengetahuan itu terkubur di dalam diri.

Jikalau Allah tidak memberikan taufik dan hidayah kepada seseorang, maka pengetahuan tentang jati diri yang dia terima di alam alastu itu tidak akan pernah terbongkar hingga ia meninggal dunia dan berpindah ke alam barzakh. Kadangkala jalannya melalui ujian hidup berupa hilangnya orang yang disayangi, kehilangan pekerjaan, berbagai hal yang membuat guncang kehidupannya dan menjadikan orang tersebut mulai berpikir dalam tentan kehidupan dan mencari kesejatian hidup. Saat itulah jiwanya mulai mendapat energi kembali, seiring dengan ilmu yang dia cari dan pensucian jiwa maka perlahan-lahan pengetahuan purba ini kembali terbongkar, our own personal legend.

Rasulullah saw bersabda ‘man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu’ Siapa yang mengenal nafs (jiwa) nya maka akan mengenal Tuhannya. Perhatikan bahwa sang jiwa di sini yang menjadi titik fokus bukan ‘man arafa ruuhu’.

Suatu ketika raga kita akan meninggal dunia, dia akan hancur. Lalu komponen apa dari manusia yang melanjutkan perjalanan di alam barzakh? Sedangkan raga manusia sudah hilang tak bersisa. Jiwa kita yang sejak awal, dari alam alastu melakukan perjalanan hingga ke alam akhirat dan seterusnya. Di alam barzakh, jiwa akan berinteraksi dengan malaikat, ada malaikat Munkar dan Nakir yang datang dan mengajukan pertanyaan (lihat artikel Hadis Tentang Kejadian Di Alam Kubur). Kenapa jiwa bisa berinteraksi dengan para malaikat sedangkan kita selama di dunia jarang sekali bisa berinteraksi dengan mereka? Karena jiwa dan malaikat sama-sama komponen dari alam malakut.

Demikianlah pembahasan singkat tentang perbedaan antara jiwa dan ruh. Pembahasan lebih lanjut mengenai unsur-unsur pembentuk manusia dibahas dalam tulisan yang berjudul Struktur Insan.

Semoga Allah Ta’ala menuntun kita kepada kesejatian kita yang hakiki. Aamiin.

(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)