Showing posts with label ruh. Show all posts
Showing posts with label ruh. Show all posts

Monday, October 15, 2012

Ruhul Qudus Sebagai Guru Sejati

Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah tulisi di hatinya al iman dan telah diperkuat mereka dengan ruh dari-Nya. Dan dimasukkanlah mereka dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap Allah. (Al Quran [58]: 22)

Istilah ‘diperkuat dengan ruh dari-Nya’ di atas adalah berupa diturunkannya ruhul qudus. Mereka yang telah memperoleh anugerah ini yang sejatinya disebut ‘Hizbullah’.

Setiap manusia mempunyai potensi untuk menerima anugerah ini. Ibaratnya dalam hati kita diberi sebuah pemancar yang bisa menangkap dan mengakses semua gelombang di segala alam. Karena ruhul kudus itu bisa membangun akses ke alam lain, maka jika ada persoalan di dunia, mata lahiriahnya melihat obyek di dunia atau peristiwa tertentu, namun dengan bantuan ruhul qudus akan terbuka hakikat yang tersembunyi di balik semua obyek dan peristiwa yang ada.

Maka orang yang telah mencapai maqam ini akan melihat jauh di balik sekedar fenomena atau hal yang superfisial. Oleh karena itu jarang ada perdebatan di antara para sufi karena hati mereka melihat hal yang sama. Dalam istilah Ibnu Arabi, “Tidak ada perbedaan pendapat dalam sufisme.” Sebaliknya jika orang hanya mengandalkan akal pikiran dan hal yang bersifat lahiriah pasti akan ribut dan berpecah-belah.

Semua nabi dan mursyid tarekat sebenarnya menuntun sang murid untuk menemukan mursyid yang sebenarnya, yaitu sang ruhul qudus. Pada saat seorang murid telah menemukan guru sejatinya, maka fungsi kemursyidan sang guru berakhir dan guru yang berupa ruhul kudus akan menjadi guru yang berada dalam dirinya. Inilah kondisi yang Rasulullah sabdakan, ‘mintalah fatwa ke dalam hatimu.’

Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan kita menemukan sang guru sejati, aamiin.

(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)

Monday, September 10, 2012

Fungsi Ruh

Apa perbedaan mendasar manusia dibanding makhluk Allah lainnya? Kalau jawabannya akal pikiran, maka akal pikiran mana yang dimaksud? Kalau sekedar akal yang biasa diukur dengan indeks IQ, sepertinya seekor chimpanse atau lumba-lumba juga memiliki IQ yang tidak kalah dengan manusia. Kalau begitu apa komponen yang hanya dimiliki oleh manusia dan tidak dimiliki oleh hewan dan tumbuhan?

Seekor merpati misalnya punya raga, dan dia hidup karena ada ruh (disebut ruh hewani). Tapi seekor burung tidak punya jiwa, maka seekor burung tidak akan diminta pertanggungjawabannya di hari akhirat. Sama halnya dengan seekor macan tidak akan dihisab walau menerkam kambing atau merebut betinanya, karena itu natural saja, tidak punya jiwa yang akan diminta pertanggungjawabannya.

Demikian pula tumbuhan mempunyai ‘raga’ tumbuhan dan bisa tumbuh atau hidup dengan ruh (disebut ruh nabatiyah). Perhatikan apabila setangkai bunga mawar dipotong dari pohonnya, maka dalam hitungan beberapa jam sang bunga akan layu dan kemudian mati, karena saat dipotong dari pohon itulah ruhnya tercerabut.

Raga manusia juga hidup dengan ruh disebut dengan ruh insaniyah. Hanya manusia memiliki sesuatu yang spesial karena manusia mempunyai jiwa.

Benda-benda material dalam tingkat partikel adalah hidup. Adanya pergerakan proton, elektron dan partikel-partikel lain membuktikan bahwa benda yang terlihat ‘mati’ pun adalah hidup. Dalam fisika, benda baru akan diam dalam suhu 0 derajat Kelvin.

Adapun ruh al quds, atau sering disebut sebagai ‘holy spirit’ atau ruh kudus; adalah ruh dari tingkatan yang tertinggi di alam ruh. Semua manusia mempunyai ruh yang dengannya ia hidup, tapi tidak semua manusia diberikan anugerah ruh al quds. Dalam hadis Rasulullah juga disebut beberapa kali tentang ruh al qudus, ada seorang penyair yang indah zaman Rasulullah, lalu Rasul berdoa untuknya “Semoga Allah menguatkan engkau dengan ruhul qudus” artinya ia bisa bersyair dengan syair-syair Tuhan. Di saat lain Rasulullah saw bersabda, “Ruhul qudus mudah ke dalam hatiku.”

Dengan demikian, ada lima tingkatan alam ruh :
1. Ruh al quds
2. Ruh insaniyah
3. Ruh hewaniyah
4. Ruh nabatiyah
5. Ruh material

Masing-masing tingkatan mempunyai tingkatan, makin ke atas, tingkat pengetahuannya makin tinggi. Ruh manusia pun tidak sama tingkatannya, ruh seorang nabi misalnya tidak sama dengan ruh manusia biasa.

Adapun fungsi ruh berbeda bagi jasad dan jiwa. Ruh bagi jasad berfungsi untuk menghidupkan, maka apabila ruh dicabut dari raga manusia, tibalah ajalnya. Pada saat ruh dicabut dari jasad, maka jiwa pun mengikuti keluar dari jasad sebagaimana pada saat pertama kali jiwa dan ruh dimasukkan ke dalam jasad manusia yang berbentuk janin di usia 120 hari dalam kandungan ibu.

Fungsi ruh bagi jiwa bukan untuk menghidupkan, karena jiwa sudah hidup – material jiwa adalah cahaya Allah yang maha hidup, maka ruh bagi jiwa berfungsi untuk menumbuhkan. Hakikat jiwa adalah cahaya Allah. Jiwa itu dicipta dari cahaya Allah. Sebagaimana malaikat. Jin dari api yang diwujudkan. Cahaya Allah tentu sesuatu yang dekat dengan Allah Taala, maka sudah mengenal Allah. Segala hal yang dekat dengan Allah semakin mewarisi sifat-sifat Allah. Jiwa akan tumbuh dengan memakan cahaya ruh (amr Allah), sabda-sabda Allah, perintah-perintah Allah. Wallahua’lam

(Referensi : Materi Serambi Suluk. Zamzam AJT, 2008)

Tentang Ruh, Jiwa dan Raga

Inti suluk adalah mengenal kembali jiwa, karena komponen dari manusia yang pernah bersaksi di hadapan Allah adalah jiwanya, dengan mengenal kembali jiwa kita masing-masing maka semua mandat yang Allah berikan kepada kita di alam persaksian akan kembali teridentifikasi. Maka Rasulullah bersabda man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu. Barangsiapa mengenal jiwanya maka akan mengenal Rabb-nya.

Proses mengenal jiwa betul-betul proses musyahadah atau persaksian, suatu peristiwa nyata yang bukan merupakan imaginasi atau sangkaan semata. Untuk mengenal jiwa ini mau tidak mau harus melalui proses tazkiyatun nafs atau pensucian jiwa, dengan sabar, tidak boleh bangga diri, tekun beribadah, giat bekerja, harus bersih hati. Lama kelamaan hijab hati yang terdapat dalam jiwa dapat terangkat dan terbuka. Dan setiap kita akan bisa bicara dengan jiwanya masing-masing. Ini memang suatu proses yang orang katakan mistik.

Gambaran saat seseorang mengenal jiwanya atau bermusyahadah diceritakan oleh seorang ulama di Bandung, almarhum adalah seorang sufi yang sangat sederhana, saat dia bertemu dirinya, suatu malam beliau wudhu hendak shalat malam, di rumah hanya ada beliau istri dan anaknya. Saat masuk ke mushala, di sejadahnya ada orang yang duduk menghadap kiblat, berjubah dan bersorban, beliau langsung bertanya, “kamu siapa?” Ketika orang itu berbalik ternyata wujudnya adalah dirinya sendiri, dia berkata “Aku adalah engkau, engkau adalah aku.”

Raga kita hanya kendaraan saja. Sebagaimana raga punya mata telinga, perasaan dll semua itu juga dimilki oleh jiwa. Mata jiwa (mata hati) disebut bashirah. Akal jiwa disebut lubb, fuad dsb (ada 7 tingkatan akal dalam), rasa jiwa disebut qalb. Apabila jiwa terhijab - tertutup oleh dosa maka qalb, lubb, fuad dsb tidak berfungsi. Adapun kalau kita merasakan sedih, gelisah, kecewa itu bukan qalb. Tapi di perasaan yang tersambung dengan pikiran jasadiyah kita.

Bentuk raga memang dicipta berdasarkan bentuk jiwa. Raga hanya bayangan dari jiwa. Raga bagaikan kuda saja. Kalau kuda tidak mengenal penunggangnya dia tidak akan tahu fungsinya. Akhirnya manusia akan bekerja dan beramal sembarangan, apa yang ada kerjakan, apa yang dia inginkan kerjakan, apa yang menjadi ‘trend’ di kerjakan. Raga dan jiwa sangat beda kualitasnya, sejauh beda bayangan dan benda aslinya. Jadi secanggih-canggihnya raga kita tidak ada apa-apanya dibanding jiwanya, termasuk ma’rifatnya, ilmunya dll, hanya hal ini jarang dikenali padahal ilmu ini bukan hal baru sama sekali. Semua para sufi menerangkan tentang ini semua.

Matahari adalah simbol ruh, sinarnya menerpa nafs, lalu bayangan sang nafs dihidupkan menjadi raga. Komponen raga terdiri dari: air, udara, api dan tanah (Plato) Jika kita membuat sebuah boneka dari tanah liat, kan tidak hidup, sebagaimana penciptaan Adam dulu. Sebagaimana Nabi Isa membentuk bentuk burung dari tanah liat (tercantum dalam Al Quran) dia mati, hingga ditiupkan ruh. Karena Nabi Isa memiliki ruhul qudus dalam dirinya, saat dikeluarkan ruh itu dari mulutnya yang suci, burung itu menjadi hidup dan terbang.

Kita yang jasadiyah dan kuda tidak beda, terdiri dari komponen daging dan ruh. Pada saatnya ruh akan keluar dan kita pun mati. Tumbuhan pun apabila diambil ruhnya akan mati. Setiap hal di dunia ini ada ruhnya. Bahkan batu yang tampaknya diam tak bergerak pun ada ruhnya, ilmu fisika modern bisa meneropong pergerakan atom dan sub atom yang bergerak dinamis dalam partikel pembentuk batu yang seandainya partikel itu berhenti bergerak maka batu pun hancur. Jadi fungsi ruh adalah menghidupkan sesuatu yang mati.

Jasad untuk hidup perlu ruh dan untuk beraktivitas perlu energi yang diperoleh dari makanan, karena dia berasal dari bumi maka sumber makanan pun berasal dari sari bumi, agar dia bergerak/berenergi. Karena raga berasal dari bumi, maka kecenderungan raga adalah kepada bumi. Ia akan mencintai hal-hal yang dari ibu pertiwinya. Semua hal yang bersifat material akan dicintai oleh raga seperti rumah mewah, mobil bagus, gadget canggih, lahan luas, nafsu seksual dll, ini disebut sebagai syahwat.

Dikatakan ajal itu apabila ruhnya diambil, tapi selain ruh ada sesuatu di dalam raga kita, yaitu nafs, jiwa kita. Jiwa dikirimkan ke alam dunia, dari alam malakut, diberi kendaraan yaitu jasad. Jadi kalau jiwa, asalnya sesuatu hidup, sedangkan jasad asalnya sesuatu mati.

Karena jiwa adalah entitas yang sudah hidup, jadi tidak perlu faktor penghidup. Namun untuk bergerak atau beraktifitas perlu makanan juga. Yang menjadi makanannya bukan yang berasal dari unsur bumi, karena jiwa bukan berasal dari alam mulk. Makanannya adalah “perintah Allah” atau amr-amr Allah. Aktifitas jiwa kita bergantung kepada cahaya amr, atau kehendak/perintah Allah. Semua hal yang dari Allah Ta’ala, seperti hikmah, taufiq, hidayah dll merupakan sumber energi bagi jiwa. Semua tendensi jiwa untuk kembali ke ‘atas’ disebut himmah. Maka dalam diri kita akan konflik antara himmah dan syahwat.

Adapun ruh sebagaimana api dan cahayanya. Tidak sama api dan cahayanya. Api adalah ruh, adapun cahaya ruh adalah sesuatu yang keluar dari api. Yang membuat raga hidup bukan apinya tapi cahaya api. Maka disebut “Kami hembuskan ruh Kami” Nabi Isa membuat burung dan meniupkan ruhnya, yang ditiupkan adalah cahayanya, api ruhnya ada di dalam dadanya. Manusia secara potensial mampu bukan hanya menerima cahayanya tapi apinya, jika bertemu diri suatu ketika.

Ruh setiap orang tidak sama, namun saling mengenal, karena dari alam jabarut. Ruh kita saling mengenal satu sama lain, karena ada di alam yang sangat muuwahid dengan Allah ta’ala, jadi saling mengenal satu sama lain.

Allah punya tiga alam :
1. Alam jabarrut
2. Alam malakut
3. Alam mulk

Alam Mulk, adalah alam jasad dsb. Raga manusia, hewan, jin, tata surya, galaksi, semuanya adalah di satu alam. Jadi raga kita anggota dari alam mulk. Sebagaimana jin, karena dicipta dari api (salah satu komponen manusia). Jiwa adalah anggota alam malakut, jadi jiwa mengenal para malaikat, karena satu alam. Ia mengenal yang kiri kanan depan belakang. Raga memang susah mengenal malaikat, karena beda alam. Nanti di alam kubur kita bertemu malaikat, karena raga sudah tidak ada, maka jiwanya yang bertemu dengan malaikat. Jadi tidak aneh apabila ada orang yang ketemu dan berbincang dengan malaikat, asal jiwanya bangun.

Ada hal yang harus ditemukan oleh jiwa di bumi ini, yang itu dengan bantuan kendaraannya, yaitu jasad dan segala yang terkait dengannya. Pada saat kiamat, semua jiwa mati. Maka dalam Al Quran disebutkan ada dua ajal. Yang pertama ajal atau kematian raga dan yang kedua adalah kematian jiwa. Semua yang berjiwa, manusia, jin, malaikat akan mati.

Di alam mahsyar semua dihidupkan lagi, jasad, jiwanya. Jadi manusia akan diberi raga baru. Jadi yang ke surga pun jiwa dan raganya. Jadi kalau ada buah-buahan di surga, itu surganya raga. Kata Ibn Arabi, bentuk raga saat dibangkitkan akan sesuai dengan kondisi batin saat dia meninggal. Kalau sekarang kita mempunyai raga yang mirip jiwa, karena dibentuk dari kondisi batin di alam syahadah. Nanti raga disana betul-betul berdasarkan warna batin saat meninggal, kalau batin kita buruk penuh dengki, iri, amarah dll maka raganya jadi buruk.

Alam jabarut adalah alam ruh-ruh. Segala hal yang dinamai ruh, nisbatnya ke Allah Ta’ala. Kadang-kadang masyarakat tidak paham bahwa arwah jamak dari ruh, seringkali disalah tafsirkan dengan jiwa manusia. Padahal yang melanjutkan perjalanan di alam barzakh itu bukan ruh tapi jiwanya.

Demikian, dengan memahami istilah-istilah yang ketat ini, maka kita bisa lebih melihat kesinambungan satu ayat dan yang lainnya dalam Al Quran, yang semoga kehidupan kita dicahayai olehnya.

(Referensi : Materi Serambi Suluk. Zamzam AJT, 2008)

Tuesday, September 4, 2012

Beda Antara Jiwa dan Ruh

Seringkali kita mendengar perkataan ‘semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan’ atau istilah ‘arwah gentayangan’ atau ‘perjalanan spiritual’, semuanya bicara tentang ruh, arwah adalah istilah jamak untuk ruh. Di sisi lain saat kita bernyanyi lagu Indonesia Raya, kita kumandangkan..’..bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya’ atau kita juga menyebut orang yang bermasalah mentalnya sebagai ‘mempunyai gangguan jiwa’. Nah, sebenarnya apa bedanya jiwa dan ruh? Sesungguhnya pengetahuan antara perbedaan kedua istilah ini sangat penting dalam memetakan struktur diri kita sendiri.

Ruh itu bungkusnya jiwa, sedangkan jiwa bungkusnya raga. Jadi di dalam raga kita yang kita llihat sehari-hari ini terdapat jiwa dan ruh, dua entitas yang berbeda. Sebelum jiwa bersama-sama ruh ditiupkan ke dalam raga manusia dipanggil dulu ke hadapan Allah Ta’ala di suatu saat yang peristiwa itu terekam dalam Al Quran Surat Al A’raaf [7] ayat 172. Dikatakan sbb:
Allah mengambil kesaksian atas anfus (jiwa-jiwa) mereka,
Perhatikan di sini dikatakan yang diambil kesaksian adalah jiwa-jiwa bukan ruh. Dengan demikian entitas utama manusia adalah jiwanya. Adapun ruh berfungsi untuk menghidupkan jiwa dan raga. Sedangkan raga adalah kendaraan jiwa selama berada di alam dunia dan alam mulkiyah. Jadi jiwa kita yang berjalan sejak di alam alastu (alam persaksian), alam rahim, alam dunia, di alam barzakh dan seterusnya Jiwa kita dan seluruh manusia dipanggil ke hadapan Allah ta’ala. Allah bertanya, Bukankah Aku Rabbmu ? Dan kita pun dulu menjawab Iya, dan kami bersaksi (balaa syahidna) Dialog ini menunjukkan bahwa kita sudah mengenal Tuhan disana.

Maka saat jiwa terdalam kita dan ruh ditiupkan ke dalam raga yang berusia 120 hari kandungan, sang jiwa sudah mengenal Allah. Akan tetapi seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan raga, pengaruh dari orang tua dan lingkungan menyelimuti jiwa dan meninggalkan sayyiah-sayyiah. Oleh karena itu kita sekarang menjadi ragu-ragu pada Allah Ta’ala, siapa Allah, siapa kita? Apa tugas kita? Oleh karena itu Plato, seorang filsuf Rabbani dari Yunani mengeluarkan konsep pendidikan yang berdasarkan ‘Recollection’, artinya setiap manusia dididik sesuai dengan ‘bakat langit’nya masing-masing yang perlahan-lahan akan dikenali recollection dalam perkembangannya.

Jiwa yang telah berpengetahuan awal tentang Tuhannya itu ketika dimasukkan ke dalam raga yang berupa janin tentu terjadi ‘gap’, karena akal raga sang janinn belum berkembang, sehingga belum siap menerima pengetahuan yang jiwa miliki. Jadi pengetahuan itu terkunci dalam jiwa yang ada di raga masing-masing manusia. Akan tetapi saat raga makin tumbuh, si anak mulai masuk taman kanak-kanak, sekolah dasar dan seterusnya, jiwa makin tercekik di dalam oleh pengaruh-pengaruh buruk yang diterima oleh sekitarnya. Sehingga pengetahuan itu terkubur di dalam diri.

Jikalau Allah tidak memberikan taufik dan hidayah kepada seseorang, maka pengetahuan tentang jati diri yang dia terima di alam alastu itu tidak akan pernah terbongkar hingga ia meninggal dunia dan berpindah ke alam barzakh. Kadangkala jalannya melalui ujian hidup berupa hilangnya orang yang disayangi, kehilangan pekerjaan, berbagai hal yang membuat guncang kehidupannya dan menjadikan orang tersebut mulai berpikir dalam tentan kehidupan dan mencari kesejatian hidup. Saat itulah jiwanya mulai mendapat energi kembali, seiring dengan ilmu yang dia cari dan pensucian jiwa maka perlahan-lahan pengetahuan purba ini kembali terbongkar, our own personal legend.

Rasulullah saw bersabda ‘man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu’ Siapa yang mengenal nafs (jiwa) nya maka akan mengenal Tuhannya. Perhatikan bahwa sang jiwa di sini yang menjadi titik fokus bukan ‘man arafa ruuhu’.

Suatu ketika raga kita akan meninggal dunia, dia akan hancur. Lalu komponen apa dari manusia yang melanjutkan perjalanan di alam barzakh? Sedangkan raga manusia sudah hilang tak bersisa. Jiwa kita yang sejak awal, dari alam alastu melakukan perjalanan hingga ke alam akhirat dan seterusnya. Di alam barzakh, jiwa akan berinteraksi dengan malaikat, ada malaikat Munkar dan Nakir yang datang dan mengajukan pertanyaan (lihat artikel Hadis Tentang Kejadian Di Alam Kubur). Kenapa jiwa bisa berinteraksi dengan para malaikat sedangkan kita selama di dunia jarang sekali bisa berinteraksi dengan mereka? Karena jiwa dan malaikat sama-sama komponen dari alam malakut.

Demikianlah pembahasan singkat tentang perbedaan antara jiwa dan ruh. Pembahasan lebih lanjut mengenai unsur-unsur pembentuk manusia dibahas dalam tulisan yang berjudul Struktur Insan.

Semoga Allah Ta’ala menuntun kita kepada kesejatian kita yang hakiki. Aamiin.

(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)