Showing posts with label ridha. Show all posts
Showing posts with label ridha. Show all posts

Monday, November 25, 2013

Apa Tanda Allah Ridha Kepada Kita?

Apa tanda Allah ridha kepada kita?
Begini saja,apakah kita sudah ridha dengan segala ketetapan yang Allah berikan dalam hidup kita? Apakah kita sudah belajar menerima masa lalu kita? Kesalahan yang kita dan orang lain lakukan? Keburukan atau kesialan dan kehidupan? Tidak mudah memang menerima hal-hal yang menyakitkan hati. Tapi tauhid dasarnya adalah bahwa segala sesuatu datang dari tangan-Nya, pasti tersimpan kebaikan yang banyak di dalamnya.

Semakin kita ridha bersama Allah, firasat hati kita akan semakin tajam. Jadi belajarlah ridha dulu sebelum mengatakan sesuatu itu haq atau tidak, karena bagaimana bisa belajar membaca sesuatu yang haq kalau kita tidak belajar ridha dengan qadha-Nya. Kalau masih bercampur, kadang ridha-kadang tidak, itu artinya mencampur aduk antara yang haq dan yang batil, tanda saja bahwa kita memang belum pada maqam ridha.

Ketika kita masih mengeluh, menjerit manakala didatangkan kesulitan dalam hidup, tandanya masih belum ridha, ia masih menangkap bentuk fenomena fisiknya “Aduh saya sakit hati, aduh saya sedang dihajar...dsb”. Adapun bagi orang yang bertaqwa kepada Allah, ia memandang bahwa semua urusan ada di tangan Tuhan, ia tidak melihat fenomenanya menyakitkan atau tidak, menyusahkan atau tidak, rugi atau untung, ia hanya akan mengatakan ini dari Allah Ta’ala. Kalaupun dia dicengkram oleh kesakitan menanggung beratnya ujian, dia hanya mengatakan “tangan Tuhan”, tidak fokus kepada bara apinya, tapi lebih melihat ke Dia yang sedang menjamah dirinya. Percayalah sahabat, ketika kita melihat sebuah bencana dengan keyakinan ini datang dari-Nya semata, tidak akan binasa kita ini, pasti kebaikan...pasti kebaikan..tidak akan binasa.***

Hati-Hati Menggunakan Firasat

Hati-hati dalam menggunakan firasat, kita harus belajar dulu sampai ke tahapan diridhai Allah, baru akan terasa mana yang haq (benar) dan mana yang tidak. Kalau dalam hati kita masih tercampur aduk bisa berbahaya, kita bisa mengira sesuatu itu haq padahal batil dan sebaliknya. 

Jadi tumbuhkan titik ridha dulu, cinta kepada Allah Ta’ala, karena itu tanda Allah ridha kepada kita. Entah apa yang membuat Dia ridha, kita hanya tiba-tiba dibuat mencintai-Nya, mencintai kehendak-Nya, mencintai ketetapan-Nya, memang bukan kita yang aktif, diberi begitu saja. Maka berbuat kebajikanlah banyak-banyak.

Tentang kebajikan (al birr) lihat QS Al Baqarah ayat 177.
...Kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan masa peperangan.***

Sunday, November 25, 2012

Perbedaan Orang Yang Sabar dan Orang Yang Ridha

Ketahuilah bahwa orang yang bersabar belum tentu ia ridha. Sebaliknya orang yang ridha pasti sabar, karena orang yang ridha dapat menerima dengan pasti segala akibat apa pun. Hal demikian ibarat seseorang yang lupa menaruh sekantung urang dirham miliknya, sedangkan ia tidak memiliki apapun selainnya. Dadanya menjadi bergejolak dipenuhi rasa sedih akan bayangan kemiskinan yang ia alami. Hal itu tampak jelas dalam keadaan dan raut wajahnya yang dipenuhi rasa sedih. Kemudian seorang yang sangat kaya, selalu menepati janji, dermawan dan terpercaya berkata kepadanya: “Pada awal tahun nanti saya akan mengganti setiap dirham (dari hartamu yang hilang itu) dengan satu dinar.” Orang yang kehilangan tadi menjadi tenang karena ucapan orang ini, sebagian dari gejolak hati dan rasa gundahnya pun menjadi tenang. Tetapi ia masih merasa sedih dan dadanya masih terasa sempit. Artinya, selama tenggang waktu menunggu hingga awal tahun nanti ia dapat bersabar walaupun terpaksa, tetapi ia terus diliputi oleh keinginannya dan rasa sedihnya itu. Dalam keadaan terpaksa bersabar ini, bebannya menjadi ringan.

Perumpamaan lain adalah seorang yang tidak tahu apakah ia kehilangan sekantung uang dirham miliknya, karena ia memiliki banyak rumah yang dipenuhi permata yang tidak ternilai harganya. Sehingga ia tidak merasa kehilangan sekantung dirham tersebut, ia tidak memperdulikannya. Keadaannya seperti orang yang kehilangan satu fals, sedangkan ia memiliki sekantung dirham.

Orang yang pertama kegembiraan mereka karena harta dan keadaan, sedangkan orang yang kedua kegembiraannya karena Allah, serta keutamaan dan rahmat-Nya. Ia senantiasa mengharap perlindungan dan pertolongan dari Allah. Orang yang pertama hatinya tertawan oleh bentuk-bentuk kebendaan, ia telah dibelenggu oleh manisnya kebendaan. Orang yang kedua hatinya telah merasa tenang oleh kedekatannya kepada Allah. Orang pertama kecenderungan hatinya terhadap segala sesuatu kebendaan. Sedangkan orang kedua selalu disibukkan oleh Allah, ia senantiasa kembali dan menuju kepada-Nya.