Proses membebaskan jiwa kita dari pengaruh jasad adalah proses yang panjang. Setelah sekian puluh tahun lamanya jasad kita terbiasa dengan pola makan tertentu, pola tidur tertentu, memiliki selera tertentu, keinginan tertentu yang semuanya seperti membentuk siapa diri kita, padahal semuanya kebanyakan terpengaruh dari orang tua, masa asuhan, keluarga dan masyarakat sekitar. 'man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu', kenali dirimu maka engkau akan mengenali Rabb-mu, proses membebaskan jiwa dari pengaruh jasadiyah merupakan bagian dari proses pengenalan diri.
Lalu dimulai dari mana? Minimal kita mengimani dulu bahwa kehidupan kita yang tampaknya berserakan dan tak berhubungan ini ada hubungannya dengan Al Quran, minimal itu. Karena kalau sudah tidak yakin dengan Al Quran maka Al Quran itu tidak akan bekerja untuk kita, jadi sesuatu yang tidak diyakini tidak akan mujarab.
Prinsipnya jika sudah ada kepercayaan bahwa ada hubungan antara kita dengan Al Quran, baru akan terbuka rahasianya. Kalau tidak peduli dengan Qurannya, dibaca pun tidak, tidak peduli dengan nasib kita, dan kita pun tidak berusaha mencari jawaban pertanyaan dalam kehidupan selain hanya menunggu entah mentor yang menerangkan, entah pak ustadz, maka sungguh harta karun itus tidak akan terbuka. Jadi masing-masing harus membuka sendiri, kenapa? Karena setiap orang beda-beda kepalanya, beda-beda ujiannya, beda jalan hidupnya. Tidak ada yang mengetahui dengan detil kehidupan sahabat sekalian kecuali diri sendiri dan Allah Ta'ala.
(Zamzam AJT)
Wednesday, January 15, 2014
Jangan Setengah-setengah Dalam Beragama
Allah Ta'ala memerintahkan agar jangan mencampur-adukkan antara al haq dengan al bathil. Kekhawatiran dalam hidup itu adalah salah satu contoh al bathil.
Gambarannya begini, bayangkan tubuh kita yang sehat lalu tiba-tiba kita diberi sakit gigi, kan sangat mengganggu, mau belajar tidak bisa, makan tidak nyaman; begitu juga kalau tubuh kita ini diberi bisul setitik yang membuat tubuh meriang, itu kan membuat seluruh tubuh tidak berfungsi sempurna. Sama saja, apabila kita toleransi pada kebatilan, maka jiwa kita akan menjadi lemah, keyakinan dan keimanan pun melemah.
Jadi, kalau beragama itu harus bersih, jangan berkata "ah, sedikit curang, sedikit berbohong kan ngga apa-apa" , kalau itu yang terjadi maka keyakinan kita tidak akan kokoh dalam hidup. Jadi, kalau sudah bersih ya bersih saja, kalau jujur ya tetaplah jujur jangan setengah-setengah. Memang butuh keberanian untuk sekedar bersih dan jujur.
Rasulullah saw berkata kepada Ali ra, "Hai Ali, hendaklah engkau jujur, walaupun jujur itu membinasakanmu."
(Zamzam AJT)
Gambarannya begini, bayangkan tubuh kita yang sehat lalu tiba-tiba kita diberi sakit gigi, kan sangat mengganggu, mau belajar tidak bisa, makan tidak nyaman; begitu juga kalau tubuh kita ini diberi bisul setitik yang membuat tubuh meriang, itu kan membuat seluruh tubuh tidak berfungsi sempurna. Sama saja, apabila kita toleransi pada kebatilan, maka jiwa kita akan menjadi lemah, keyakinan dan keimanan pun melemah.
Jadi, kalau beragama itu harus bersih, jangan berkata "ah, sedikit curang, sedikit berbohong kan ngga apa-apa" , kalau itu yang terjadi maka keyakinan kita tidak akan kokoh dalam hidup. Jadi, kalau sudah bersih ya bersih saja, kalau jujur ya tetaplah jujur jangan setengah-setengah. Memang butuh keberanian untuk sekedar bersih dan jujur.
Rasulullah saw berkata kepada Ali ra, "Hai Ali, hendaklah engkau jujur, walaupun jujur itu membinasakanmu."
(Zamzam AJT)
Perbedaan Orang Yang Gelap Hati dan Terang Hati
Pahamilah sahabat, bahwa kehidupan seorang mukmin itu ada dalam pengaturan Allah Taála. Sebetulnya ketika seseorang dilahirkan ke muka bumi ini seluruh kehidupannya sudah digariskan di Lauh Mahfuzh, artinya kita boleh saja berencana dalam hidup, tapi yang akan terjadi tetap saja ketetapan-Nya.
Orang yang tidak paham kebijakan Allah dalam kehidupan akan menderita dalam hidup, "kok hidup saya susah terus?" "kenapa bisnis saya gagal melulu!""hidup saya awut-awutan!""kenapa anak saya begini - istri saya begini - suami saya begini- mertua saya begitu", hidup seolah-olah berantakan, seolah-olah salah, seolah-olah mesti mencari jalan lain.
Orang yang gelap dan terang hatinya akan mengalami takdir yang sama yang telah digariskan, hanya bedanya orang yang dalam kegelapan hati akan diwarnai hidupnya dengan cacian, keluh kesah, kemarahan, tidak tenang, protes dan berprasangka buruk kepada Allah Taála, ia menciptakan nerakanya sendiri. Sedangkan orang yang hatinya diterangi pengetahuan yang benar (haq) walau secara fenomena mengalami ujian yang sama tapi hatinya pandai bersyukur, jeli melihat kenikmatan yang Allah sematkan dalam setiap peristiwa.
(Zamzam AJT)
Orang yang tidak paham kebijakan Allah dalam kehidupan akan menderita dalam hidup, "kok hidup saya susah terus?" "kenapa bisnis saya gagal melulu!""hidup saya awut-awutan!""kenapa anak saya begini - istri saya begini - suami saya begini- mertua saya begitu", hidup seolah-olah berantakan, seolah-olah salah, seolah-olah mesti mencari jalan lain.
Orang yang gelap dan terang hatinya akan mengalami takdir yang sama yang telah digariskan, hanya bedanya orang yang dalam kegelapan hati akan diwarnai hidupnya dengan cacian, keluh kesah, kemarahan, tidak tenang, protes dan berprasangka buruk kepada Allah Taála, ia menciptakan nerakanya sendiri. Sedangkan orang yang hatinya diterangi pengetahuan yang benar (haq) walau secara fenomena mengalami ujian yang sama tapi hatinya pandai bersyukur, jeli melihat kenikmatan yang Allah sematkan dalam setiap peristiwa.
(Zamzam AJT)
Kenapa Allah Kadang Menurunkan Bencana?
Kenapa Allah kadang memberikan bencana kepada kita?
Bencana itu bisa mengenai hal yang fisik seperti didera oleh penyakit, kecelakaan, kehilangan barang, kendaraan diserempet orang, kebakaran dll.
Juga bencana bisa mengenai jiwa kita; ditimpa rasa malas, bosan, jenuh, khawatir, gelisah, tidak puas, dan seribu satu macam rasa tidak enak lainnya yang syariatnya bisa datang dari mana saja. Bisa jadi dari pasangan sendiri, teman dekat, orang tua, keluarga dan sebagainya.
Semua itu Allah turunkan agar hamba-Nya tidak terjebak dalam kesenangan dunia yang semu. Karena Allah hendak memberikan nikmat yang sejati.
Kalau dalam kehidupan kita dibuat lancar-lancar saja; makan enak, rumah mewah, tempat tinggal nyaman, itu baru kenikmatan semu yang kita berkutat terus di dalamnya sampai mati, di dalam kebahagiaan yang dikira akan mendatangkan kebaikan. Keterlenaan ini yang dihindari...
(Zamzam AJT)
Bencana itu bisa mengenai hal yang fisik seperti didera oleh penyakit, kecelakaan, kehilangan barang, kendaraan diserempet orang, kebakaran dll.
Juga bencana bisa mengenai jiwa kita; ditimpa rasa malas, bosan, jenuh, khawatir, gelisah, tidak puas, dan seribu satu macam rasa tidak enak lainnya yang syariatnya bisa datang dari mana saja. Bisa jadi dari pasangan sendiri, teman dekat, orang tua, keluarga dan sebagainya.
Semua itu Allah turunkan agar hamba-Nya tidak terjebak dalam kesenangan dunia yang semu. Karena Allah hendak memberikan nikmat yang sejati.
Kalau dalam kehidupan kita dibuat lancar-lancar saja; makan enak, rumah mewah, tempat tinggal nyaman, itu baru kenikmatan semu yang kita berkutat terus di dalamnya sampai mati, di dalam kebahagiaan yang dikira akan mendatangkan kebaikan. Keterlenaan ini yang dihindari...
(Zamzam AJT)
Kiamat Dalam Diri
"Hari Kiamat
Apakah hari kiamat itu?
Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?
Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang beterbangan
Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan..."
(QS Al Qaariáh [101]:1-5)
Ibnu Arabi berkata bahwa semestinya setiap manusia melalui fase 'kiamat' dalam dirinya. Kiamat artinya saat runtuhnya alam semesta. Nah, di dalam diri manusia juga terdapat alam semesta yang bernama waham, waham ini harus runtuh untuk Allah ganti dengan yang baru.
'Gunung'diri pun akan dihancurkan, dibuat seperti kapas yang ditiup angin. Gunung itu perlambang sesuatu yang kokoh, itu adalah sesuatu yang kita yakini, pegangan kita, falsafah hidup yang kita agung-agungkan tapi sebenarnya belum benar dalam pandangan Allah, semua akan dihancurkan dan diganti dengan keyakinan baru yang segar.
Keyakinan baru itu membuat manusia terhindar menjadi seperti anai-anai yang berhamburan; hidup tidak ada arahnya, walau terlihat mapan dalam kacamata dunia tapi jiwanya tidak kokoh. Antara pikiran, perasaan, keinginan tidak menyatu. Antara raga dan jiwa terjadi konflik.
(Zamzam AJT)
Apakah hari kiamat itu?
Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?
Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang beterbangan
Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan..."
(QS Al Qaariáh [101]:1-5)
Ibnu Arabi berkata bahwa semestinya setiap manusia melalui fase 'kiamat' dalam dirinya. Kiamat artinya saat runtuhnya alam semesta. Nah, di dalam diri manusia juga terdapat alam semesta yang bernama waham, waham ini harus runtuh untuk Allah ganti dengan yang baru.
'Gunung'diri pun akan dihancurkan, dibuat seperti kapas yang ditiup angin. Gunung itu perlambang sesuatu yang kokoh, itu adalah sesuatu yang kita yakini, pegangan kita, falsafah hidup yang kita agung-agungkan tapi sebenarnya belum benar dalam pandangan Allah, semua akan dihancurkan dan diganti dengan keyakinan baru yang segar.
Keyakinan baru itu membuat manusia terhindar menjadi seperti anai-anai yang berhamburan; hidup tidak ada arahnya, walau terlihat mapan dalam kacamata dunia tapi jiwanya tidak kokoh. Antara pikiran, perasaan, keinginan tidak menyatu. Antara raga dan jiwa terjadi konflik.
(Zamzam AJT)
Rencanakanlah Hidupmu
Manusia hidupnya tidak bisa tanpa perencanaan, karena perencanaan adalah haknya akal pikiran. Seperti misalnya kita hendak shalat lalu kucing disebelah kita mengeong terus karena lapar, ya kasih saja sedikit ikan untuknya kan langsung diam. Sama saja dalam diri kita pun banyak 'kucing'nya, maka berilah haknya agar kita bisa fokus.
Jadi kita wajib merencanakan setahun kedepan, dua tahun kedepan dst dengan detil, tergantung setiap orang pasti beda-beda perencanaannya. Saya sendiri adalah orang yang sangat merencanakan setahun, dua tahun , lima tahun ke depan, dst dengan detil. Kalau kata Rasulullah “Jika engkau hendak sholat hendaklah engkau berpikir akan mati besok, kalau tentang duniamu anggaplah engkau akan hidup 1000 tahun.”
Jadi sekali lagi buatlah perencanaan hidup dengan baik. Walaupun dalam kasus saya misalnya hampir 75% dari apa yang saya rencanakan tidak kesampaian, selalu gagal. Dan saya tidak pernah kecewa, karena apa yang Allah berikan selalu lebih baik daripada apa yang saya rencanakan, dan saya akan terus membuat rencana...
(Zamzam AJT)
Jadi kita wajib merencanakan setahun kedepan, dua tahun kedepan dst dengan detil, tergantung setiap orang pasti beda-beda perencanaannya. Saya sendiri adalah orang yang sangat merencanakan setahun, dua tahun , lima tahun ke depan, dst dengan detil. Kalau kata Rasulullah “Jika engkau hendak sholat hendaklah engkau berpikir akan mati besok, kalau tentang duniamu anggaplah engkau akan hidup 1000 tahun.”
Jadi sekali lagi buatlah perencanaan hidup dengan baik. Walaupun dalam kasus saya misalnya hampir 75% dari apa yang saya rencanakan tidak kesampaian, selalu gagal. Dan saya tidak pernah kecewa, karena apa yang Allah berikan selalu lebih baik daripada apa yang saya rencanakan, dan saya akan terus membuat rencana...
(Zamzam AJT)
Saat Pikiran Dikalahkan Hawa Nafsu
"Dan Kami selamatkan kamu dari keluarga Firáun.
Keluarga Firáun itu menyembelih anak laki-laki dan membiarkan anak perempuan..."
(QS Al Baqarah [2]: 49)
Anak laki-laki adalah lambang dari akal, dan akal itu bertingkat-tingkat sejak dari akal pikiran jasad (otak) hingga akal pikiran di jiwa (lubb). Sedangkan anak perempuan (annisaa) adalah lambang dari hawa nafsu dan syahwat.
Dalam skala masyarakat, ayat ini menggambarkan bagaimana semrawutnya kondisi rakyat apabila tidak ada pengaturan yang baik dari pimpinan.
Dalam skala kehidupan diri pribadi, masing-masing kita mempunya aspek 'firáun'dalam diri yang kerjanya adalah membangkitkan hawa nafsu dan syahwat sehingga akal pikiran tidak jalan.
Kalau seseorang asal bicara tanpa dipikirkan lebih dahulu, gemar mengumbar syahwatnya - entah pada wanita, makanan, pakaian, perhiasan, mobil, perilaku konsumtif hingga harus hutang sana-sini dll itu semua adalah gejala ketidakterkendalian diri. Pertanda akal pikirannya 'tersembelih'dan membiarkan hawa nafsu dan syahwatnya mengambil alih setiap keputusan yang ia buat.
(Zamzam AJT)
Keluarga Firáun itu menyembelih anak laki-laki dan membiarkan anak perempuan..."
(QS Al Baqarah [2]: 49)
Anak laki-laki adalah lambang dari akal, dan akal itu bertingkat-tingkat sejak dari akal pikiran jasad (otak) hingga akal pikiran di jiwa (lubb). Sedangkan anak perempuan (annisaa) adalah lambang dari hawa nafsu dan syahwat.
Dalam skala masyarakat, ayat ini menggambarkan bagaimana semrawutnya kondisi rakyat apabila tidak ada pengaturan yang baik dari pimpinan.
Dalam skala kehidupan diri pribadi, masing-masing kita mempunya aspek 'firáun'dalam diri yang kerjanya adalah membangkitkan hawa nafsu dan syahwat sehingga akal pikiran tidak jalan.
Kalau seseorang asal bicara tanpa dipikirkan lebih dahulu, gemar mengumbar syahwatnya - entah pada wanita, makanan, pakaian, perhiasan, mobil, perilaku konsumtif hingga harus hutang sana-sini dll itu semua adalah gejala ketidakterkendalian diri. Pertanda akal pikirannya 'tersembelih'dan membiarkan hawa nafsu dan syahwatnya mengambil alih setiap keputusan yang ia buat.
(Zamzam AJT)
Subscribe to:
Posts (Atom)