Holding on happens when you are clinging to the past.
Moving on is the movement to flow with the present, to accept what is instaed of what if.
***
Kita sering lupa bahwa dunia ini fana. Artinya semua akan berakhir. Pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Kesehatan kadang berakhir dalam periode tertentu dengan episode sakit. Masa gembira di satu masa akan berubah menjadi sebuah kesedihan. Merayakan keramaian dan kebersamaan pun hanya sementara sebelum kita mencecap kembali kesunyian dan kesendirian. Pernikahan bisa berakhir dengan perceraian atau dipisahkan dengan kematian. Pekerjaan tidak selamanya mulus. Bisnis tidak selamanya lancar. Itulah pergantian siang dan malam dalam kehidupan.
Iya sih, sadar (kalau lagi sadar). Tapi kenapa ada beberapa hal yang kita susah banget untuk melepasnya dan susah untuk move on?
Pertama, it's okay merasa sedih dengan sebuah episode kehilangan. Itu wajar banget. Artinya perasaan suka, bahagia dan cinta kita itu real, sesuatu yang pernah kita cicipi, tapi kemudian apapun itu keadaan atau situasinya menjadi berubah. Khususnya jika kita pernah dekat sekali dengan seseorang atau bahkan jatuh cinta padanya. Hati merasa berbunga-bunga, banyak kenangan indah dirajut bersama, sampai ketika suatu saat itu semua hilang, bisa jadi bertahap atau mendadak, lalu kita gelagapan, in a panic mode, seperti hancur dunia kita rasanya. When this happens, please realize that physically our body is experiencing withdrawal effect. Karena semua perasaan indah yang kita alami terkait dengan hormon-hormon tertentu seperti dopamin dan oksitosin yang membuat kita relaks. Dan untuk sekian lama tubuh kita terbiasa dibanjiri oleh hormon-hormon cinta dan kebahagiaan ini, hingga pada satu titik si dia atau sesuatu yang biasa mencetuskan hormon-hormon itu untuk mengalir tidak lagi ada. Respon pertama sistem saraf kita adalah untuk kembali mengaktivasi itu kembali, tapi pada kenyataannya si dia telah pergi atau tiada. Kebanyakan orang kemudian mencoba mendapatkan sensasi itu kembali dengan memutar lagu-lagu nostalgia bersamanya, mengingat kembali masa-masa indah, membaca semua surat atau chat yang pernah membuat kita berbunga-bunga, bahkan diam-diam menguntit social medianya atau sekadar kepo dia lagi ngapain sekarang? Kangen ngga sama aku sebagaimana halnya aku kangen sama dia. And so on and so forth. Tapi semua upaya itu berujung pada kesedihan karena dia yang pernah singgah di hati kita itu sudah move on, sudah check out, dan move on sementara kita masih memutar film-film lama dalam benak kita. Di situ saat kita makin merasa sengsara.
Jadi move on itu pilihan. Kita memilih untuk mengalir dengan saat ini apa adanya, tanpa yang bersangkutan atau berupaya meraih-raih kenangan lama yang tidak sesuai dengan kenyataan. Memang tidak mudah. Tapi bisa dilatih. We just need to shift our focus. Daripada ngelamun ngga jelas, mendingan waktunya dihabiskan untuk berdzikir atau mempelajari Al Quran. Dan manakala kesedihan itu menerpa, coba banyak-banyak "subhanallah wabihamdih"bertasbih dan memujinya. Itu adalah kunci menghadapi kesempitan dada yang Allah firmankan dalam QS Al Hijr [15]:97-98
Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit (gundah dan sedih) disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang sujud.
Amsterdam, 28 April 2026
In my solitude. Jam 6.43 pagi
No comments:
Post a Comment