Comfort is the enemy of achievement. So, instead of viewing discomfort as a sign to stop, see it as a signal that you are learning and developing. View challenges as necessary steps toward mastery, allowing you to build resilience and self-soothe when things get tough.
***
Kadang, bayangan kita akan hidup bahagia adalah kehidupan yang semuanya lancar dan nyaris tanpa masalah. Masalahnya, kalau itu yang dijadikan sebagai patokan, kelihatannya para nabi itu orang-orang yang hidupnya “ngga happy” gitu? Padahal mereka adalah golongan tertinggi dalam kategori ahlul nikmah (QS An Nisaa:69), orang-orang yang diliputi nikmat Allah, yang berada di shiraathal mustaqiim. Jalan keselamatan dan kebahagiaan yang kita minta setiap shalat. Di saat yang sama, coba perhatikan kisah hidup para nabi itu tidak mudah sama sekali. Medan konflik yang mereka hadapi besar, ngga sebanding banget sama kita pokoknya. Bagaimana Musa as harus menghadapi umatnya yang ngeyel, bagaimana Nuh as harus menyaksikan anaknya ditelan ombak dan tak diselamatkan, bagaimana Ayub as bersabar mendera sakit dan kehilangan banyak hal, bagaimana Rasulullah SAW lahir tanpa merasakan sentuhan tangan ayahanda dan sudah berpisah dengan ibunya sejak usia persusuan hingga tak lama kemufian ibunya tiada dan beliau harus hidup prihatin.
Lantas, kalau kita menilai kebahagiaan dari fenomena hidup yang nyaman tidak akan masuk hitungan bahagia tuh semua kehidupan paea nabi itu, padahal yakin mereka adalah orang-orang yang paling bersyukur dan berserah diri di antara para umatnya, yang demikian pasti orang yang paling bahagia. Karena mereka kebahagiaannya bertumpu pada Allah, bersandar pada mengerjakan karsa Yang Maha Kuasa, sang Arbbul ‘alamiin yang sudah membeli jiwa dan semua hartanya dengan surga.
Maka jangan berkecil hati ketika takdir kehidupan menyuguhkan sekian menu masalah dan ujian. Bahkan yang tampaknya mewujud sebagai sebuah tragedi di mata kebanyakan manusia, itu bisa jadi adalah rahmat Allah. Agar kita dit uhkan di dunia ini. Agar dibersihkan dari segala hal yang tidak haq. Agar dipersiapkan untuk menjelang kehidupan akhirat yang lebih panjang. Lebih baik mendera kepayahan sebentar di dunia ini dibanding harus membayar semuanya nanti, di alam yang jauh lebih panjang perjalanannya dan lebih berat konsekuensinya.
Belajarlah merasa nyaman untuk keluar dari comfort zone. Memang menakutkan di awal waktu, tapi kalau kita tawakalnya kuat pada Allah, sunggug Dia tak pernah mengecewakan hamba yang bersandar betul kepada-Nya.
Amsterdam, Sabtu pagi di musim semi yang cerah, 4 April 2026 10.43 am

No comments:
Post a Comment