Monday, March 30, 2026

Conflict avoidant in relationship

 Any relationship is not easy. Membangun hubungan dengan siapapun adalah hal yang banyak tantangannya. Karena dua dunia berinterkasi, dua alam pikiran yang berbeda, dua keinginan yang tidak selalu sinkron, dua sifat yang beragam, sementara komunikasi seringkali sangat terbatas dan terbata-bata untuk menyampaikan apa yang sebenarnya dimaksudkan. Kalaupun sudah benar disampaikan, belum tentu pihak laiin bisa menerima dengan benar. Very, very complex alias ribet. 

Makanya dalam berinteraksi dengan orang lain, konflik adalah hal yang tak terelakkan, entah itu dengan pasangan, orang tua, mertua, anak, adik, kakak, tetangga, rekan kerja bahkan kadang interaksi yang sulit dengan abang bakso yang gagal memahami orderan kita apa. 

Sejak kecil, modus saya kalau menghadapi konflik ya dengan melarikan diri, baik secara fisik keluar saja dari ruangan bahkan keluar dari rumah, atau diam, stonewalling, menembok diri dari segala  hal yang masuk, demi melindungi diri sendiri. I became a conflict avoidant. Belum pernah belajar bagaimana caranya mengatasi konflik. Dan tidak belajar baik bahwa konflik itu wajar dan bukan akhir dari sebuah hubungan. 

Setelah saya bekerja atau berumah tangga, khususnya, respon saya yang selalu melarikan diri dari konflik dan tidak merasa nyaman dengannya itu menjadi tidak handy. Akhirnya kalau ada perseteruan dengan boss, saya cenderung mundur atau resign. Kalau ada konflik atau perseteruan dengan pasangan, dikit-dikit berpikir untuk berpisah. It's not sustainable. Lelah juga punya respon hidup seperti ini. 

Now i learn to sit with the pain.

Sekarang saya belajar bahwa ketidaknyamanan, kekecewaan dan konflik adalah bagian dari sebuah interaksi dengan manusia. Artinya kalau itu terjadi, let's work it through and stay with it. Bukan langsung jump into concusion, oh it doen't work and bye bye. Kita tidak akan belajar apa-apa kalau setiap kali ada kesulitan menjelang lalu kita melarikan diri. 

Ada doa yang indah terkait hal ini dalam Al Quran surat Al Isra: 80

rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqiw wa akhrijnī mukhraja ṣidqiw waj'al lī mil ladungka sulṭānan naṣīrā

 "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar (shidiq) dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong."

Jadi yang mestinya kita ambil dari semua pengalaman dalam berinteraksi dengan manusia adalah aspek haq, kebenaran disana yang harus kita raih. Sebab semuanya adalah ayat-ayat yang Allah tuliskan di semesta, agar kita makin mengenal kehidupan, makin paham siapa diri ini dan makin ma'rifat kepada Allah. []


Amsterdam, Senin, 30 Maret 2026 / 11 Syawal 1447




No comments:

Post a Comment