Semua jiwa-jiwa sebelum dikirimkan ke rahim ibu dipanggil menghadap Allah dan diambil kesaksian dari jiwa mereka, perhatikan di sini yang bersaksi bukan ruh, jasad atau pun akal pikiran. Peristiwa ini berlangsung di alam persaksian.
Allah Ta’ala berkata: Alastu bi Rabbikum? Bukankah aku Rabbmu
Semua jiwa mengatakan “betul, kami bersaksi”
Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat nanti tidak mengatakan sesungguhnya kami Bani Adam adalah orang2 yang lalai.
Berkata “Kami tidak pernah tahu ttg persaksian ini”
(Al Quran [7]: 172)
Saat jiwa bersaksi, jiwa kita dalam kondisi mengenal Rabbnya. Begitu dimasukkan ke rahim ibu, dan lahir, kemudian menjadi tidak mengenal Allah. Yang tidak paham adalah akal raganya, tapi jiwa yang di dalam mengenal. Tapi, semakin seseorang bertambah usia, sang jiwa menjadi semakin terpuruk di dalam raga. Menjadi lemah oleh pengaruh buruk lingkungannya.Si jiwa menjadi tidak hidup dan sang entitas yang sempat mengenal Allah tadi menjadi tenggelam dalam dunia raga kita termasuk di dalamnya ada ego, hawa nafsu dan syahwat.
Salah satu tanda kita tidak lagi mengenal Allah yakni tidak yakin Allah akan menolong, ragu bahwa Allah yang akan memberi rezeki. Padahal ketika dalam kandungan kita diberi makan lewat plasenta, setiap bayi ada kantung kuningnya, itu adalah makanannya. Bayangkan sejak dalam kandungan bayi itu sudah ada makanannya. Saat dilahirkan ada air susu ibu, semua itu ada rezekinya. Jadi manusia ada rezekinya yang mendampingi sebagai bekal hingga ia meninggal pada saatnya. Begitu besar juga sebenarnya masih ada kantung rezekinya cuma tidak kelihatan, tidak sekonkret plasenta seperti waktu bayi namun harus diupayakan. Tapi semua Allah jamin, karena dunia ini diciptakan bukan untuk mencari makan, tapi utk mengenal Allah, mengabdi pada Allah Ta’ala. Artinya apa? Urusan rezeki kita itu Allah yang jamin!
Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali utk mengabdi kepada-Ku.
Sehingga kalau di dunia kita hanya sibuk cari ‘makan’ sampai mati dan lupa pada tugas untuk menemukan jalan keutamaan, maka rugi sekali.
Kenapa jiwa dilahirkan di alam bumi? Tentu ada yang dicari di alam dunia. Oleh karena itu harus berpengetahuan, harus belajar. Seperti halnya kita punya anak, kalau ia lahir lalu dibiarkan tidak sekolah, maka tidak akan pandai. Jiwa pun sama harus mengenal semua alam yang Dia buat. Memang jiwa awalnya mengenal Allah, dibekali dahulu tauhidnya, lalu disuruh dicari pengejawantahannya di seluruh alam-alam yang akan dilaluinya.
Perjalanan setelah dari alam persaksian adalah di alam rahim. DI situ jiwa mulai dimasukkan ke dalam raga, dibekali dengan empat hal yang menjadi skenario dasar yang harus dia lakoni di alam berikutnya, yaitu alam dunia. Berbekal dengan semua itu, seyogyanya manusia mencari kesejatian dirinya, menemukan sebanyak mungkin al haq, mengenali kebenaran dalam kurun waktu yang singkat ini.
”Sesungguhnya setiap orang di antara kalian, penciptaannya dikumpulkan dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa sperma (nuthfah), kemudian menjadi segumpal darah (’alaqah) selama 40 hari juga, kemudian menjadi segumpal daging (mudhghah) selama 40 hari juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya. Dia diperintahkan menuliskan empat kata:
Rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.
Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, salah seorang di antara kalian mengerjakan amalan ahli surga, sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. Ternyata ia didahului oleh ketetapan Allah untuk tidak masuk surga. Kemudian dia melakukan perbuatan ahli neraka, sehingga ia pun masuk neraka.
Ada pula salah seorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka, sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. Ternyata dia didahului oleh ketetapan Allah untuk tidak masuk neraka. Kemudian dia melakukan perbuatan ahli surga sehingga dia pun masuk surga.”
(HR Bukhari dan Muslim)
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Saturday, September 8, 2012
Tentang Shiraathal Mustaqiim
Setiap hari setidaknya 17 kali sehari kita diajarkan untuk memohon ditunjukkan kepada shiraathal mustaqiim dalam setiap rakaat shalat kita. Satu-satunya doa yang terdapat dalam surat Al Fatihah yang tanpa membacanya shalat kita menjadi tidak sah, sebenarnya doa itu betul-betul mengingatkan kita untuk senantiasa fokus dalam hidup untuk mencari jalan khusus kita menuju Allah.
Berdoa memohon shiraathal mustaqiim sebetulnya sama dengan meminta agar Allah Ta’ala menunjukkan agar kita masing-masing ditunjuk pada misi hidupnya. Setiap orang punya misi hidup yang tidak sama. Benda-benda di sekeliling kita pun punya fungsi spesifiknya masing-masing, asbak fungsinya ya untuk abu rokok, cangkir adalah untuk air minum, sendok untuk menyuap makanan dsb. Apa yang dibuat oleh manusia saja ada fungsinya, apalagi manusia, makhluk termulia di alam semesta, tidak mungkin diciptakan hanya sekolah, menikah, punya anak, kerja, pensiun dan mati. Semua seolah sama dan tidak mengenal fungsinya.
Kita harus mengenal apa fungsi diri masing-masing, itu adalah thariq dan shiraathal mustaqqim kita. Jadi bukan sekedar tarekat. Tarekat hanya salah satu cara utk menemukannya. Mau tarekat besar, kecil, ataupun tidak bertarekat, yang penting menemukan shiraathal mustaqiim-nya.
Jadi istilah shiraathal mustaqiim itu bukan semata-mata suatu jembatan di akhirat nanti, yang katanya seperti titian serambut dibelah tujuh yang tajam seperti pisau, yang menggambarkan betapa sulitnya menempuh jalan itu. Shiraathal mustaqiim itu kita minta hari ini setiap hari karena ia adalah sebuah jalan yang membentang sejak hari ini hingga ke hari akhir nanti, ke sebuah zaman yang sangat jauh. Artinya kita harus bisa menemukan dalam kehidupan yang samar ini sebuah jalan yang lurus. Itulah kenapa dalam konteks suluk harus dibuka mata hati, agar kita bisa melihat jalan yang satu itu di antara berbagai jalan semu yang ada. Yang dibuka adalah mata dalam untuk melihat apakah benar langkahku adalah dalam kodrat Allah?
Caranya bagaimana? Semua peta dan kunci untuk membukan jalan diri masing-masing ada dalam Al Quran, maka wajib untuk mempelajari dan mengamalkannya. Tentu saja mempelajari Al Quran sendiri bukan perkara mudah, maka kita butuh mencari referensi ke hadits Rasulullah, keterangan para sahabat dan waliyullah mengenai tafsir Al Quran. Seorang sufi berkata, ‘mustahil seseorang ingin menemukan kodrat diri tanpa shalat dan tanpa membaca Al Quran.’
Ibaratnya kita hendak melintasi padang pasir atau mendaki gunung yang besar, tentu kita membutuhkan peta. Peta itu memuat keterangan tentang jalanan yang ada, tanjakan, turunan dan semuanya tercantum di dalamnya. Al Quran adalah peta seseorang menempuh perjalanan menuju kesejatian diri. Tidak hanya itu Al Quran adalah transformator jiwa kita, hingga mata hati terbuka, jiwa bercahaya, hingga jalan itu makin jelas.
Semoga Allah Ta’ala menuntun kita kepada shiraathal mustaqiim. Aamiin
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Berdoa memohon shiraathal mustaqiim sebetulnya sama dengan meminta agar Allah Ta’ala menunjukkan agar kita masing-masing ditunjuk pada misi hidupnya. Setiap orang punya misi hidup yang tidak sama. Benda-benda di sekeliling kita pun punya fungsi spesifiknya masing-masing, asbak fungsinya ya untuk abu rokok, cangkir adalah untuk air minum, sendok untuk menyuap makanan dsb. Apa yang dibuat oleh manusia saja ada fungsinya, apalagi manusia, makhluk termulia di alam semesta, tidak mungkin diciptakan hanya sekolah, menikah, punya anak, kerja, pensiun dan mati. Semua seolah sama dan tidak mengenal fungsinya.
Kita harus mengenal apa fungsi diri masing-masing, itu adalah thariq dan shiraathal mustaqqim kita. Jadi bukan sekedar tarekat. Tarekat hanya salah satu cara utk menemukannya. Mau tarekat besar, kecil, ataupun tidak bertarekat, yang penting menemukan shiraathal mustaqiim-nya.
Jadi istilah shiraathal mustaqiim itu bukan semata-mata suatu jembatan di akhirat nanti, yang katanya seperti titian serambut dibelah tujuh yang tajam seperti pisau, yang menggambarkan betapa sulitnya menempuh jalan itu. Shiraathal mustaqiim itu kita minta hari ini setiap hari karena ia adalah sebuah jalan yang membentang sejak hari ini hingga ke hari akhir nanti, ke sebuah zaman yang sangat jauh. Artinya kita harus bisa menemukan dalam kehidupan yang samar ini sebuah jalan yang lurus. Itulah kenapa dalam konteks suluk harus dibuka mata hati, agar kita bisa melihat jalan yang satu itu di antara berbagai jalan semu yang ada. Yang dibuka adalah mata dalam untuk melihat apakah benar langkahku adalah dalam kodrat Allah?
Caranya bagaimana? Semua peta dan kunci untuk membukan jalan diri masing-masing ada dalam Al Quran, maka wajib untuk mempelajari dan mengamalkannya. Tentu saja mempelajari Al Quran sendiri bukan perkara mudah, maka kita butuh mencari referensi ke hadits Rasulullah, keterangan para sahabat dan waliyullah mengenai tafsir Al Quran. Seorang sufi berkata, ‘mustahil seseorang ingin menemukan kodrat diri tanpa shalat dan tanpa membaca Al Quran.’
Ibaratnya kita hendak melintasi padang pasir atau mendaki gunung yang besar, tentu kita membutuhkan peta. Peta itu memuat keterangan tentang jalanan yang ada, tanjakan, turunan dan semuanya tercantum di dalamnya. Al Quran adalah peta seseorang menempuh perjalanan menuju kesejatian diri. Tidak hanya itu Al Quran adalah transformator jiwa kita, hingga mata hati terbuka, jiwa bercahaya, hingga jalan itu makin jelas.
Semoga Allah Ta’ala menuntun kita kepada shiraathal mustaqiim. Aamiin
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Tuesday, September 4, 2012
Makna Thariqah
Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa yang menempuh (salaka) suatu thariqan (jalan) untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan ke surga.
Istilah thariqah ini juga berasal dari kata kerja tharaqa, artinya memukul sesuatu dengan palu atau menempa sesuatu menjadi tipis. Karena itu dalam sebuah thariqah, isinya penempaan. Dari besi yang tidak berbentuk, dibakar dan ditempa jadi pedang tipis yang tajam. Atau arti lainnya, mengetuk pintu. Sesuatu yang terus menerus dan ada tujuannya.
Siapapun yang menempa dirinya dengan tuntunan Allah Ta’ala, maka dirinya sedang menempuh thariqah, maka jangan mempersempit kata thariqah ini dengan tarekat. Thariqah adalah istilah dalam agama yaitu jalan yang sangat bersifat individu yang masing-masing kita wajib mencarinya mulai dari alam dunia ini. Siapapun yang berjuang melaksanakan aspek syariat dengan baik lalu masuk ke tahapan thariqah maka cirinya ada produk-produk pertaubatan yang terpantul pada dirinya, terlepas dari orang itu tergabung dalam suatu jamaah tarekat atau tidak. Istilah thariqah tidak secara khusus mengatakan Tarekat Naqshabandi, Maulawiyah , Kadisiyyah dsb itu hanya bentuknya saja. Ada yang berjalan sendirian, ada yang tersistem, kita tidak pernah tahu.
Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqatan, barangsiapa menempuh salah satunya niscaya akan sampai”
Istilah thariq juga terdapat di Al Quran [46]: 30 Hai kaumku, sesungguhnya aku telah mendengar sebuah kitab yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Kitab Al quran itu memberi petunjuk kepada Al Haqq dan thariqi mustaqiim.
Dari ayat di atas Allah memberi tuntunan kepada kita bahwa kunci untuk membuka jalan (thariq) masing-masing menuju Al Haqq adalah dengan mempelajari Al Quran sehingga kita mendapatkan petunjuk darinya. Al haqq itu sifatnya kebenaran yang umum, yang semua harus mengenalnya. Tapi thariq itu spesifik per individu. Ini terkait orbit diri dan misi suci masing-masing dari Allah.
Di ayat ini juga Allah menggunakan nama lain di depan mustaqiim dengan istilah ‘thariqimustaqiim’ . Kalau kita berdoa dalam shalat memohon ‘ihdina shiraathal mustaqiim’ maka ini identik dengan ‘thariqi mustaqiim’
Setiap hari kita berdoa dalam shalat ‘ihdina shiraathalmustaqiim.’ meminta jalan yang teguh. Setidaknya lima waktu dalam sehari. Dimana inti Al Fatihah adalah pada doa itu. Sebagai muslim kita harus mengerti apa yang kita minta, jangan meminta pada Allah sesuatu yang kita tidak pahami, sehingga pada saat Allah mengabulkan atau tidak mengabulkan, kita tidak tahu . Padahal dalam Al Quran dikatakan, ‘Janganlah engkau meminta kepadaKu sesuatu yang engkau tidak pahami.’
Maka harus kiranya masing-masing kita membaca dan mengkaji Al Quran, apa yang Allah katakan tentang shiraathal mustaqiim. Sehingga kita tidak berdoa atau shalat dengan lalai.
Semoga Allah Ta’ala membimbing kita kepada shiraathal mustaqiim. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Istilah thariqah ini juga berasal dari kata kerja tharaqa, artinya memukul sesuatu dengan palu atau menempa sesuatu menjadi tipis. Karena itu dalam sebuah thariqah, isinya penempaan. Dari besi yang tidak berbentuk, dibakar dan ditempa jadi pedang tipis yang tajam. Atau arti lainnya, mengetuk pintu. Sesuatu yang terus menerus dan ada tujuannya.
Siapapun yang menempa dirinya dengan tuntunan Allah Ta’ala, maka dirinya sedang menempuh thariqah, maka jangan mempersempit kata thariqah ini dengan tarekat. Thariqah adalah istilah dalam agama yaitu jalan yang sangat bersifat individu yang masing-masing kita wajib mencarinya mulai dari alam dunia ini. Siapapun yang berjuang melaksanakan aspek syariat dengan baik lalu masuk ke tahapan thariqah maka cirinya ada produk-produk pertaubatan yang terpantul pada dirinya, terlepas dari orang itu tergabung dalam suatu jamaah tarekat atau tidak. Istilah thariqah tidak secara khusus mengatakan Tarekat Naqshabandi, Maulawiyah , Kadisiyyah dsb itu hanya bentuknya saja. Ada yang berjalan sendirian, ada yang tersistem, kita tidak pernah tahu.
Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqatan, barangsiapa menempuh salah satunya niscaya akan sampai”
Istilah thariq juga terdapat di Al Quran [46]: 30 Hai kaumku, sesungguhnya aku telah mendengar sebuah kitab yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Kitab Al quran itu memberi petunjuk kepada Al Haqq dan thariqi mustaqiim.
Dari ayat di atas Allah memberi tuntunan kepada kita bahwa kunci untuk membuka jalan (thariq) masing-masing menuju Al Haqq adalah dengan mempelajari Al Quran sehingga kita mendapatkan petunjuk darinya. Al haqq itu sifatnya kebenaran yang umum, yang semua harus mengenalnya. Tapi thariq itu spesifik per individu. Ini terkait orbit diri dan misi suci masing-masing dari Allah.
Di ayat ini juga Allah menggunakan nama lain di depan mustaqiim dengan istilah ‘thariqimustaqiim’ . Kalau kita berdoa dalam shalat memohon ‘ihdina shiraathal mustaqiim’ maka ini identik dengan ‘thariqi mustaqiim’
Setiap hari kita berdoa dalam shalat ‘ihdina shiraathalmustaqiim.’ meminta jalan yang teguh. Setidaknya lima waktu dalam sehari. Dimana inti Al Fatihah adalah pada doa itu. Sebagai muslim kita harus mengerti apa yang kita minta, jangan meminta pada Allah sesuatu yang kita tidak pahami, sehingga pada saat Allah mengabulkan atau tidak mengabulkan, kita tidak tahu . Padahal dalam Al Quran dikatakan, ‘Janganlah engkau meminta kepadaKu sesuatu yang engkau tidak pahami.’
Maka harus kiranya masing-masing kita membaca dan mengkaji Al Quran, apa yang Allah katakan tentang shiraathal mustaqiim. Sehingga kita tidak berdoa atau shalat dengan lalai.
Semoga Allah Ta’ala membimbing kita kepada shiraathal mustaqiim. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Beda Antara Jiwa dan Ruh
Seringkali kita mendengar perkataan ‘semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan’ atau istilah ‘arwah gentayangan’ atau ‘perjalanan spiritual’, semuanya bicara tentang ruh, arwah adalah istilah jamak untuk ruh. Di sisi lain saat kita bernyanyi lagu Indonesia Raya, kita kumandangkan..’..bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya’ atau kita juga menyebut orang yang bermasalah mentalnya sebagai ‘mempunyai gangguan jiwa’. Nah, sebenarnya apa bedanya jiwa dan ruh? Sesungguhnya pengetahuan antara perbedaan kedua istilah ini sangat penting dalam memetakan struktur diri kita sendiri.
Ruh itu bungkusnya jiwa, sedangkan jiwa bungkusnya raga. Jadi di dalam raga kita yang kita llihat sehari-hari ini terdapat jiwa dan ruh, dua entitas yang berbeda. Sebelum jiwa bersama-sama ruh ditiupkan ke dalam raga manusia dipanggil dulu ke hadapan Allah Ta’ala di suatu saat yang peristiwa itu terekam dalam Al Quran Surat Al A’raaf [7] ayat 172. Dikatakan sbb:
Allah mengambil kesaksian atas anfus (jiwa-jiwa) mereka,
Perhatikan di sini dikatakan yang diambil kesaksian adalah jiwa-jiwa bukan ruh. Dengan demikian entitas utama manusia adalah jiwanya. Adapun ruh berfungsi untuk menghidupkan jiwa dan raga. Sedangkan raga adalah kendaraan jiwa selama berada di alam dunia dan alam mulkiyah. Jadi jiwa kita yang berjalan sejak di alam alastu (alam persaksian), alam rahim, alam dunia, di alam barzakh dan seterusnya Jiwa kita dan seluruh manusia dipanggil ke hadapan Allah ta’ala. Allah bertanya, Bukankah Aku Rabbmu ? Dan kita pun dulu menjawab Iya, dan kami bersaksi (balaa syahidna) Dialog ini menunjukkan bahwa kita sudah mengenal Tuhan disana.
Maka saat jiwa terdalam kita dan ruh ditiupkan ke dalam raga yang berusia 120 hari kandungan, sang jiwa sudah mengenal Allah. Akan tetapi seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan raga, pengaruh dari orang tua dan lingkungan menyelimuti jiwa dan meninggalkan sayyiah-sayyiah. Oleh karena itu kita sekarang menjadi ragu-ragu pada Allah Ta’ala, siapa Allah, siapa kita? Apa tugas kita? Oleh karena itu Plato, seorang filsuf Rabbani dari Yunani mengeluarkan konsep pendidikan yang berdasarkan ‘Recollection’, artinya setiap manusia dididik sesuai dengan ‘bakat langit’nya masing-masing yang perlahan-lahan akan dikenali recollection dalam perkembangannya.
Jiwa yang telah berpengetahuan awal tentang Tuhannya itu ketika dimasukkan ke dalam raga yang berupa janin tentu terjadi ‘gap’, karena akal raga sang janinn belum berkembang, sehingga belum siap menerima pengetahuan yang jiwa miliki. Jadi pengetahuan itu terkunci dalam jiwa yang ada di raga masing-masing manusia. Akan tetapi saat raga makin tumbuh, si anak mulai masuk taman kanak-kanak, sekolah dasar dan seterusnya, jiwa makin tercekik di dalam oleh pengaruh-pengaruh buruk yang diterima oleh sekitarnya. Sehingga pengetahuan itu terkubur di dalam diri.
Jikalau Allah tidak memberikan taufik dan hidayah kepada seseorang, maka pengetahuan tentang jati diri yang dia terima di alam alastu itu tidak akan pernah terbongkar hingga ia meninggal dunia dan berpindah ke alam barzakh. Kadangkala jalannya melalui ujian hidup berupa hilangnya orang yang disayangi, kehilangan pekerjaan, berbagai hal yang membuat guncang kehidupannya dan menjadikan orang tersebut mulai berpikir dalam tentan kehidupan dan mencari kesejatian hidup. Saat itulah jiwanya mulai mendapat energi kembali, seiring dengan ilmu yang dia cari dan pensucian jiwa maka perlahan-lahan pengetahuan purba ini kembali terbongkar, our own personal legend.
Rasulullah saw bersabda ‘man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu’ Siapa yang mengenal nafs (jiwa) nya maka akan mengenal Tuhannya. Perhatikan bahwa sang jiwa di sini yang menjadi titik fokus bukan ‘man arafa ruuhu’.
Suatu ketika raga kita akan meninggal dunia, dia akan hancur. Lalu komponen apa dari manusia yang melanjutkan perjalanan di alam barzakh? Sedangkan raga manusia sudah hilang tak bersisa. Jiwa kita yang sejak awal, dari alam alastu melakukan perjalanan hingga ke alam akhirat dan seterusnya. Di alam barzakh, jiwa akan berinteraksi dengan malaikat, ada malaikat Munkar dan Nakir yang datang dan mengajukan pertanyaan (lihat artikel Hadis Tentang Kejadian Di Alam Kubur). Kenapa jiwa bisa berinteraksi dengan para malaikat sedangkan kita selama di dunia jarang sekali bisa berinteraksi dengan mereka? Karena jiwa dan malaikat sama-sama komponen dari alam malakut.
Demikianlah pembahasan singkat tentang perbedaan antara jiwa dan ruh. Pembahasan lebih lanjut mengenai unsur-unsur pembentuk manusia dibahas dalam tulisan yang berjudul Struktur Insan.
Semoga Allah Ta’ala menuntun kita kepada kesejatian kita yang hakiki. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Ruh itu bungkusnya jiwa, sedangkan jiwa bungkusnya raga. Jadi di dalam raga kita yang kita llihat sehari-hari ini terdapat jiwa dan ruh, dua entitas yang berbeda. Sebelum jiwa bersama-sama ruh ditiupkan ke dalam raga manusia dipanggil dulu ke hadapan Allah Ta’ala di suatu saat yang peristiwa itu terekam dalam Al Quran Surat Al A’raaf [7] ayat 172. Dikatakan sbb:
Allah mengambil kesaksian atas anfus (jiwa-jiwa) mereka,
Perhatikan di sini dikatakan yang diambil kesaksian adalah jiwa-jiwa bukan ruh. Dengan demikian entitas utama manusia adalah jiwanya. Adapun ruh berfungsi untuk menghidupkan jiwa dan raga. Sedangkan raga adalah kendaraan jiwa selama berada di alam dunia dan alam mulkiyah. Jadi jiwa kita yang berjalan sejak di alam alastu (alam persaksian), alam rahim, alam dunia, di alam barzakh dan seterusnya Jiwa kita dan seluruh manusia dipanggil ke hadapan Allah ta’ala. Allah bertanya, Bukankah Aku Rabbmu ? Dan kita pun dulu menjawab Iya, dan kami bersaksi (balaa syahidna) Dialog ini menunjukkan bahwa kita sudah mengenal Tuhan disana.
Maka saat jiwa terdalam kita dan ruh ditiupkan ke dalam raga yang berusia 120 hari kandungan, sang jiwa sudah mengenal Allah. Akan tetapi seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan raga, pengaruh dari orang tua dan lingkungan menyelimuti jiwa dan meninggalkan sayyiah-sayyiah. Oleh karena itu kita sekarang menjadi ragu-ragu pada Allah Ta’ala, siapa Allah, siapa kita? Apa tugas kita? Oleh karena itu Plato, seorang filsuf Rabbani dari Yunani mengeluarkan konsep pendidikan yang berdasarkan ‘Recollection’, artinya setiap manusia dididik sesuai dengan ‘bakat langit’nya masing-masing yang perlahan-lahan akan dikenali recollection dalam perkembangannya.
Jiwa yang telah berpengetahuan awal tentang Tuhannya itu ketika dimasukkan ke dalam raga yang berupa janin tentu terjadi ‘gap’, karena akal raga sang janinn belum berkembang, sehingga belum siap menerima pengetahuan yang jiwa miliki. Jadi pengetahuan itu terkunci dalam jiwa yang ada di raga masing-masing manusia. Akan tetapi saat raga makin tumbuh, si anak mulai masuk taman kanak-kanak, sekolah dasar dan seterusnya, jiwa makin tercekik di dalam oleh pengaruh-pengaruh buruk yang diterima oleh sekitarnya. Sehingga pengetahuan itu terkubur di dalam diri.
Jikalau Allah tidak memberikan taufik dan hidayah kepada seseorang, maka pengetahuan tentang jati diri yang dia terima di alam alastu itu tidak akan pernah terbongkar hingga ia meninggal dunia dan berpindah ke alam barzakh. Kadangkala jalannya melalui ujian hidup berupa hilangnya orang yang disayangi, kehilangan pekerjaan, berbagai hal yang membuat guncang kehidupannya dan menjadikan orang tersebut mulai berpikir dalam tentan kehidupan dan mencari kesejatian hidup. Saat itulah jiwanya mulai mendapat energi kembali, seiring dengan ilmu yang dia cari dan pensucian jiwa maka perlahan-lahan pengetahuan purba ini kembali terbongkar, our own personal legend.
Rasulullah saw bersabda ‘man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu’ Siapa yang mengenal nafs (jiwa) nya maka akan mengenal Tuhannya. Perhatikan bahwa sang jiwa di sini yang menjadi titik fokus bukan ‘man arafa ruuhu’.
Suatu ketika raga kita akan meninggal dunia, dia akan hancur. Lalu komponen apa dari manusia yang melanjutkan perjalanan di alam barzakh? Sedangkan raga manusia sudah hilang tak bersisa. Jiwa kita yang sejak awal, dari alam alastu melakukan perjalanan hingga ke alam akhirat dan seterusnya. Di alam barzakh, jiwa akan berinteraksi dengan malaikat, ada malaikat Munkar dan Nakir yang datang dan mengajukan pertanyaan (lihat artikel Hadis Tentang Kejadian Di Alam Kubur). Kenapa jiwa bisa berinteraksi dengan para malaikat sedangkan kita selama di dunia jarang sekali bisa berinteraksi dengan mereka? Karena jiwa dan malaikat sama-sama komponen dari alam malakut.
Demikianlah pembahasan singkat tentang perbedaan antara jiwa dan ruh. Pembahasan lebih lanjut mengenai unsur-unsur pembentuk manusia dibahas dalam tulisan yang berjudul Struktur Insan.
Semoga Allah Ta’ala menuntun kita kepada kesejatian kita yang hakiki. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Kenali Misi Hidupmu
Thariqah adalah utk membangun bahtera di alam dunia agar tidak tenggelam didalamnya. Kita seyogyanya bekerja dan berkarya di bumi ini tapi jangan sampai tenggelam di dalamnya. Bukan kemudian meninggalkan dunia. Adapun tujuan sejati thariqah adalah untuk mengenal diri kita.
Setiap manusia mempunyai misinya masing-masing. Namun untuk mengetahui apa misi hidupnya maka hijab hati harus terbuka, sehingga musyahadah (mempersaksikan), yaitu musyahadah siapa diri kita sebenarnya. Jadi target sebuah thariqoh adalah mengenal misi kita apa. Bukan dengan cara psikotes, tes bakat dsb, itu hanya menyentuh permukaannya saja. Akan tetapi kita harus betul-betul menyentuh esensi yang terdalam dari diri kita.
Jalaluddin Rumi membuat perumpamaan begini, ada seorang raja menyuruh menterinya ke sebuah negeri, kata sang raja “pergi ke suatu negeri dan bangunlah jembatan di sana”. Si menteri kemudian pergi ke negeri itu dan menemukan banyak persoalan di sana, ia mengerjakan banyak hal, bikin gedung, rumah, jalan dsb. Dan kembalilah si menteri menghadap raja dan mengaku sudah mengerjakan banyak hal. Kata sang raja, “Bagaimana dengan jembatan itu?” dan sang menteri pun lupa mengerjakannya.
Seperti itulah, manusia banyak yang mengerjakan banyak hal di bumi ini, tanpa mengerti apa sebenarnya tugas spesifik yang diamanahkan kepada kita. Kita sudah sekian tahun hidup, tapi belum mengenal apa yang ada di dalam kita. Sesungguhnya tugas spesifik itulah yang harus kita kerjakan, karena kita akan kembali pada Allah Ta’ala dan diminta tanggung jawab.
Jadi siapapun yang bertarekat harus menemukan kodratnya, ruhul qudusnya, karena itu adalah amal sholeh tertinggi manusia (sacred mission on earth). Misi itu tidak akan pernah tahu kalau tidak mengenal jiwa yang paling dalam, yang bertemu Allah Ta’ala di mauthin syahadah QS [7]: 172.
Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan kita mengetahui kesejatian diri. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Setiap manusia mempunyai misinya masing-masing. Namun untuk mengetahui apa misi hidupnya maka hijab hati harus terbuka, sehingga musyahadah (mempersaksikan), yaitu musyahadah siapa diri kita sebenarnya. Jadi target sebuah thariqoh adalah mengenal misi kita apa. Bukan dengan cara psikotes, tes bakat dsb, itu hanya menyentuh permukaannya saja. Akan tetapi kita harus betul-betul menyentuh esensi yang terdalam dari diri kita.
Jalaluddin Rumi membuat perumpamaan begini, ada seorang raja menyuruh menterinya ke sebuah negeri, kata sang raja “pergi ke suatu negeri dan bangunlah jembatan di sana”. Si menteri kemudian pergi ke negeri itu dan menemukan banyak persoalan di sana, ia mengerjakan banyak hal, bikin gedung, rumah, jalan dsb. Dan kembalilah si menteri menghadap raja dan mengaku sudah mengerjakan banyak hal. Kata sang raja, “Bagaimana dengan jembatan itu?” dan sang menteri pun lupa mengerjakannya.
Seperti itulah, manusia banyak yang mengerjakan banyak hal di bumi ini, tanpa mengerti apa sebenarnya tugas spesifik yang diamanahkan kepada kita. Kita sudah sekian tahun hidup, tapi belum mengenal apa yang ada di dalam kita. Sesungguhnya tugas spesifik itulah yang harus kita kerjakan, karena kita akan kembali pada Allah Ta’ala dan diminta tanggung jawab.
Jadi siapapun yang bertarekat harus menemukan kodratnya, ruhul qudusnya, karena itu adalah amal sholeh tertinggi manusia (sacred mission on earth). Misi itu tidak akan pernah tahu kalau tidak mengenal jiwa yang paling dalam, yang bertemu Allah Ta’ala di mauthin syahadah QS [7]: 172.
Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan kita mengetahui kesejatian diri. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Monday, September 3, 2012
Perjalanan Manusia Melintasi Alam-Alam
Ketahuilah bahwa setiap manusia telah dan akan melewati sekian banyak tempat menetap, alam atau negeri sepanjang perjalanan hidupnya.
Pengetahuan mengenai hal ini penting agar kita tahu skema besar perjalanan hidup, dan tidak tertumpu hanya di kehidupan dunia saat ini saja.
Keterangan ini diambil dari Kitab Risalah al Anwar (Risalah Cahaya-Cahaya) karangan Ibnu Arabi. Beliau menceritakan tentang 7 alam (mauthin) yang akan ditempuh oleh manusia:
1. Mauthin syahadah
2. Mauthin rahim
3. Mauthin dunia
4. Mauthin barzakh
5. Mauthin mahsyar
6. Mauthin akhirat
7. Mauthin al-katsiib (bukit pasir)
Mauthin syahadah atau alam persaksian telah kita lalui, di sana seluruh jiwa dikumpulkan dan bersaksi di hadapan Allah yang terekam dalam Al Quran,
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap anfus (jiwa-jiwa) mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?”. Mereka menjawab, “Betul, (engkau) Tuhan kami, kami bersaksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS Al A’raaf [7]: 172)
Dari alam syahadah, sang jiwa di turunkan pada waktu dan tempat yang telah Allah tentukan ke alam dunia melalui rahim sang ibu. Kemudian tinggallah sang jiwa menyatu dengan raganya di dalam rahim selama kurang lebih 9 bulan lamanya.
Sekarang kita berada di alam dunia dan sungguh kita hanya tinggal di sini sebentar saja dibandingkan dengan lama kita tinggal di alam-alam berikutnya. Para nabi dan leluhur kita yang telah wafat sudah berpindah alam ke alam barzakh, mereka masih hidup di sana selama ribuan tahun bahkan lebih. Dan semua mukmin yang hidup di alam barzakh bukan tidur, mereka shalat di sana, belajar, berkomunikasi dan berma’rifah. Namun ada juga yang mengalami pembersihan di alam barzakh atau sering disebut alam kubur.
Sungguh hidup di dunia ini sangat sebentar, mereka yang telah melaluinya bersaksi demikian dan terekam dalam Al Quran, Allah bertanya, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung.” Allah berfirman, “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS Al Mu’minuun [23]:112-114)
Akan tetapi, walaupun singkat kehidupan kita di alam selanjutnya sangat ditentukan di sini. Maka negeri dunia disebut negeri bekal. Inilah saatnya kita bekerja keras mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk melanjutkan perjalanan ke alam-alam selanjutnya.
Kesadaran tentang skema perjalanan alam-alam ini dan betapa singkatnya sebenarnya kehidupan kita di dunia seyogyanya menjadikan kita tidak dibuat pusing oleh takdir yang Allah desain untuk kita di alam ini. Karena sesulit-sulit hidup kita di sini, secape apapun sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan kesulitan di alam sana. Demikian juga kenikmatan tertinggi di alam dunia sekalipun tidak akan bisa menandingi kenikmatan yang akan diraup di alam sana.
Semoga Allah Ta’ala menuntun kita dalam menapaki kehidupan dunia dan mendapatkan bekal yang sebaik-baiknya dari sisi-Nya. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Keterangan ini diambil dari Kitab Risalah al Anwar (Risalah Cahaya-Cahaya) karangan Ibnu Arabi. Beliau menceritakan tentang 7 alam (mauthin) yang akan ditempuh oleh manusia:
1. Mauthin syahadah
2. Mauthin rahim
3. Mauthin dunia
4. Mauthin barzakh
5. Mauthin mahsyar
6. Mauthin akhirat
7. Mauthin al-katsiib (bukit pasir)
Mauthin syahadah atau alam persaksian telah kita lalui, di sana seluruh jiwa dikumpulkan dan bersaksi di hadapan Allah yang terekam dalam Al Quran,
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap anfus (jiwa-jiwa) mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?”. Mereka menjawab, “Betul, (engkau) Tuhan kami, kami bersaksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS Al A’raaf [7]: 172)
Dari alam syahadah, sang jiwa di turunkan pada waktu dan tempat yang telah Allah tentukan ke alam dunia melalui rahim sang ibu. Kemudian tinggallah sang jiwa menyatu dengan raganya di dalam rahim selama kurang lebih 9 bulan lamanya.
Sekarang kita berada di alam dunia dan sungguh kita hanya tinggal di sini sebentar saja dibandingkan dengan lama kita tinggal di alam-alam berikutnya. Para nabi dan leluhur kita yang telah wafat sudah berpindah alam ke alam barzakh, mereka masih hidup di sana selama ribuan tahun bahkan lebih. Dan semua mukmin yang hidup di alam barzakh bukan tidur, mereka shalat di sana, belajar, berkomunikasi dan berma’rifah. Namun ada juga yang mengalami pembersihan di alam barzakh atau sering disebut alam kubur.
Sungguh hidup di dunia ini sangat sebentar, mereka yang telah melaluinya bersaksi demikian dan terekam dalam Al Quran, Allah bertanya, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung.” Allah berfirman, “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS Al Mu’minuun [23]:112-114)
Akan tetapi, walaupun singkat kehidupan kita di alam selanjutnya sangat ditentukan di sini. Maka negeri dunia disebut negeri bekal. Inilah saatnya kita bekerja keras mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk melanjutkan perjalanan ke alam-alam selanjutnya.
Kesadaran tentang skema perjalanan alam-alam ini dan betapa singkatnya sebenarnya kehidupan kita di dunia seyogyanya menjadikan kita tidak dibuat pusing oleh takdir yang Allah desain untuk kita di alam ini. Karena sesulit-sulit hidup kita di sini, secape apapun sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan kesulitan di alam sana. Demikian juga kenikmatan tertinggi di alam dunia sekalipun tidak akan bisa menandingi kenikmatan yang akan diraup di alam sana.
Semoga Allah Ta’ala menuntun kita dalam menapaki kehidupan dunia dan mendapatkan bekal yang sebaik-baiknya dari sisi-Nya. Aamiin.
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Sunday, September 2, 2012
Bagaimana Cara Memilih Thariqat ?
Seorang sahabat berbicara kepada saya, mengutarakan keinginannya untuk berthariqat - setelah mengetahui tahapan perjalanan menuju makrifatullah, yaitu syariat – thariqat – haqiqat – makrifat, bagaimana cara menemukan thariqat yang baik dan benar?
Guru saya seringkali mengingatkan bahwa hal yang paling mustahil di dunia ini adalah kalau kita mencari Allah, lalu Allah tidak menuntun. Dengan demikian saya yakin sekali kalau kita berbisik di hati kita yang terdalam memohon kepada-Nya agar senantiasa dituntun, maka kita tidak akan tersesat. Sebaliknya, seseorang walaupun sudah mencapai tingkatan yang tinggi dalam beragama namun hatinya berpaling dari ikhlas mencari Allah semata, maka niscaya akan tergelincir, na’udzubillah.
Dalam sebuah buku Thariqah Tijaniyah ada hadis Rasulullah saw, dlm kitab Mizan al Qubra juz 1.”Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqatan siapapun yang menempuh (salaka) salah satunya akan sampai.”
Jadi banyak sekali pilihan jalan menuju Allah, maka tidak pantas seseorang merasa dirinya paling benar thariqahnya, paling suci alirannya dan menganggap remeh kepercayaan atau agama lain. Lebih baik kita fokus pada pemurnian diri sendiri saja. Makin kita memohon agar ditunjukkan kepada jalan yang benar, yang haq, maka Allah yang akan memandu dengan indah ke mana kita harus berjalan. Insya Allah. []
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Guru saya seringkali mengingatkan bahwa hal yang paling mustahil di dunia ini adalah kalau kita mencari Allah, lalu Allah tidak menuntun. Dengan demikian saya yakin sekali kalau kita berbisik di hati kita yang terdalam memohon kepada-Nya agar senantiasa dituntun, maka kita tidak akan tersesat. Sebaliknya, seseorang walaupun sudah mencapai tingkatan yang tinggi dalam beragama namun hatinya berpaling dari ikhlas mencari Allah semata, maka niscaya akan tergelincir, na’udzubillah.
Dalam sebuah buku Thariqah Tijaniyah ada hadis Rasulullah saw, dlm kitab Mizan al Qubra juz 1.”Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqatan siapapun yang menempuh (salaka) salah satunya akan sampai.”
Jadi banyak sekali pilihan jalan menuju Allah, maka tidak pantas seseorang merasa dirinya paling benar thariqahnya, paling suci alirannya dan menganggap remeh kepercayaan atau agama lain. Lebih baik kita fokus pada pemurnian diri sendiri saja. Makin kita memohon agar ditunjukkan kepada jalan yang benar, yang haq, maka Allah yang akan memandu dengan indah ke mana kita harus berjalan. Insya Allah. []
(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)
Subscribe to:
Posts (Atom)