Tuesday, December 31, 2024


 When i was a child, i had a dream a lot that i’ve ability to fly easily. Flying became one of my obsession. That’s probably why i like to watch Superman, Star Wars, Star trek and wanted to be an astronaut. I want to roam the sky and  reached the final frontier. Somehow i can feel its there.


Growing up, the feeling of flying it’s still there, but then i realized that it was my deepest longing for God. I started to do lots of shalat, as the way for my soul to fly (mi’raj). And it feels good! I testify that there is no actual worldly problem or situation that cannit be solved through shalat. It is when we tried to open up ourselves and let God’s power shines on us and magically moves our worlds.


I still like to fly. And i feel the closest thing to feel like flying is when i swim. It’s in the moment where my body just floating in the water. What a joy! 


I have learned that behind our desire for something - or even someone - there is an underlying divine desire that is waiting to be discovered or perhaps re-discovered. It is the knowledge of who we are and who God is. Something that our soul knows since the beginning of time. When all of our souls testified “balaa syahidna” , yes we testify to God’s question of “Am I not your Lord?” A very intimate and beautiful question where the answer of the question lies in the question itself. How can we not love Him?❤️

Leiden, 31 December 2024

10.13 morning

Monday, December 30, 2024

Yakin Rezeki Sudah Allah Jamin?

 Salah satu hal yang kerap membuat pusing manusia, rumah tangga retak, kekeluargaan rusak, persahabatan putus dan tak jarang perang dalam berbagai skala bisa berkecamuk, yaitu perkara duit atau rezeki. Yes, it's all 'bout the money. It's all 'bout the dum dum da da dum dum.

Tapi, kalau kita benar-benar orang yang beragama, sebenarnya tidak perlu dibuat susah oleh masalah rezeki ini, banyak hal dalam khazanah agama memberikan panduan bagaimana kita menyikapi kehidupan berkaitan dengan masalah rezeki ini, misalkan dalam Al Quran surat Al A'raaf [7]:96

“Andai penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menurunkan rezeki dari langitnya dan barokah yang datang dari bumi” 

Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya ruhul qudus telah membisikkan ke dalam jiwaku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya." 

Dan banyak lagi keterangan serupa yang menegaskan bahwa rezeki itu dijamin oleh Allah dan kita tahu itu tapi toh ketika kita berhadapan dengan kesempitan kehidupan hati kita masih tetap berguncang, tidak yakin bahwa Allah akan menjamin. Yang ada kita panik mencari solusi-solusi horizontal, kalau perlu pinjam sana-sini, tak peduli bunganya tak masuk akal. Kita seperti kehilangan akal sehat saat berhadapan dengan himpitan kehidupan dan melupakan Allah. Padahal kalau tenang saja menghadapinya, maka pintu-pintu penyelesaian masalah akan terbuka dan Dia akan bekerja sesuai dengan janji-Nya. Dan sungguh Allah adalah Dzat yang selalu memenuhi janji-Nya. 

Saya kerap mendengar penuturan langsung dari seorang ibu yang ditinggal suaminya, entah karena suaminya meninggal atau pergi meninggalkan dia dan anak-anak untuk perempuan lain. Di awal waktu ibu itu dalam keadaan tidak berdaya, tidak punya penghasilan sedangkan anak masih kecil semua. Selama bertahun-tahun ada yang bekerja dengan berjualan makanan di depan rumah, ada yang pulang ke kampung halaman dan berusaha menapaki kehidupan baru dari nol. Tapi semuanya memberi kesaksian setelah belasan tahun berselang dan anak-anak sudah lulus kuliah dan bekerja. Beberapa ada yang sudah memiliki 7 cucu. Ternyata life goes on. Ibu dan anak-anak tidak binasa walaupun pada saat itu tidak ada bayangan bagaimana mencukup kebutuhan sehari-hari. Mereka menjalani kehidupan hari ke hari dan menyaksikan bagaimana Sang Maha Pemberi Rezeki, Allah Ta'ala bekerja. Ada saja rezekinya, tak ada yang sampai mati kelaparan. 

Jadi, apapun ketakutan yang ada di benak kita itu sama sekali tak beralasan. Itu adalah cerita yang kita kreasi dari sebuah ketakutan yang tak pada tempatnya dan tidak produktif dikuasai oleh ketakutan seperti itu. Lebih baik tenang, berdoa, dan berikhtiar dengan apa-apa yang Dia mudahkan dan disampaikan di semesta kita masing-masing. One day at a time. Tidak perlu mengkhawatirkan esok hari atau minggu depan apalagi bulan depan. Itu masih gaib. Dan orang beriman mestinya lebih percaya dengan rezeki yang ada di tangan Allah - yang memang tidak kelihatan - dibanding sekadar rezeki yang ada di rekening kita. Itulah cara mengenal Dia sebagai Rabb. Ketika tak ada satu makhluk pun yang terlibat dan kita melihat keajaiban demi keajaiban sekecil dan sesederhana apapun terjadi dalam hidup. Hanya dengan itu kita bisa memuja-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan sebuah ubudiyah dan tingkat ihsan yang lebih dalam. Karena kita makin mengenal Dia lewat pengalaman hidup itu. Dan tidaklah seseorang mengenal-Nya melainkan dia akan semakin mencintai dan takjub kepada-Nya.[]

Leiden, 31 Desember 2024

1.36 dini hari



Agar Tak Lalai Di Pergantian Tahun 2024-2025

 Pergantian tahun 2024 ini spesial, karena saat memasuki waktu maghrib jelang lepas tahun 2024 kita menyambut datangnya bulan Rajab yang dikenal sebagai bulannya Allah. Kenapa disebut sebagai bulannya Allah? Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rajab terpilih menjadi bulannya Allah karena bulan itu tidak pernah membuka keburukan seseorang. Kiranya demikian karakteristik Allah Ta'ala, Dia banyak menutupi kekurangan dan kesalahan kita di mata manusia yang kalau sekejap saja penutup itu disingkapkan mungkin banyak manusia sudah mengutuk kita atau merah padam muka kita karena malu. 

Bagi mereka yang menyambut bulan mulia Rajab ini maka Allah Ta'ala pun akan memberikan sambutan yang spesial. Akan tetapi kebanyakan kaum muslim sendiri lalai bersiap menyambutnya karena kurang pamor dibandingkan datangnya bulan Ramadhan atau bulan Syawal. Maka ada keistimewaan besar bagi mereka yang Allah izinkan untuk merenung, beribadah dan khusyu di malam satu Rajab. Mungkin godaannya akan tertarik ikut berpesta dan tenggelam dalam riuh rendah pesta pergantian akhir tahun dengan nyala dan bising petasan dan kembang api yang pecah bergantian. Tapi kalau kita mau benar-benar berubah hidup kita di tahun ke depan, selaiknya kita mengubah cara kita dalam menyambutnya. Apalagi ini bertepatan dengan datangnya bulan khusus Rajab. Lebih baik bertafakur, membaca dan mengkaji Al Quran, membaca kitab diri, berdzikir dan banyak bermunajat dengan Allah Ta'ala dan saksikan bagaimana penyambutan Allah pada mereka yang menyambut bulan-Nya yang spesial ini...

Musim dingin di Leiden, 30 Desember 2024

21.17

Monday, December 16, 2024

Kenapa kita mencari Tuhan?

 Kita sering mendengar ungkapan "mencari Tuhan" atau "mencari kebenaran" mencuat di antara deru pencarian manusia akan hal-hal yang dianggapnya bisa membawa kebahagiaan atau mengamankan kehidupannya. 

Jiwa pada dasarnya memang mencari sesuatu yang obyeknya bukan berasal dari alam material dunia ini, karena jiwa adalah makhluk langit dan berasal dari cahaya. Apa yang dicari oleh jiwa karenanya bukan komoditi yang bisa kita dapatkan di toko-toko online dan dibungkus rapi untuk dikirimkan ke alamat masing-masing. Apa yang dicari jiwa adalah hal-hal yang tinggi seperti ketenangan, kebahagiaan, kesadaran, pemahaman, kesabaran, kebersyukuran dll. Termasuk pencariannya tentang Tuhan. 

Dalam Al Quran, ada sebuah ayat penting yang mengatakan tentang suatu masa ketika jasad-jasad manusia belum dilahirkan di muka bumi, semua jiwa manusia pernah berkumpul di suatu tempat dan menyaksikan Dia sang Rabb, Tuhan semesta alam. 

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap jiwa-jiwa mereka sendiri (seraya berfirman), 

"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" 

Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi."

(Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak)mengatakan, "Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini."

QS Al A'raaf [7]:172

Memang ada suatu masa ketika jiwa-jiwa kita mengenal Tuhan. Dan sejak saat itu tidak ada yang didambakan oleh hati kecuali mencari jejak-jejak-Nya di semesta alam. Barangkali ini bisa menjelaskan kenapa kita selalu punya rasa mencari dan sebuah kerinduan yang dalam yang tak pernah bisa terpuaskan oleh segala sesuatu selain Dia.

Kita lebih paham sekarang kenapa manusia cenderung mencari Tuhan. Karena kita pernah mengenal-Nya dan jatuh cinta kepada-Nya. Dialah Sang cinta pertama kita. Sejak saat itu tak ada yang hati ini dambakan kecuali mencari jalan untuk mengenal dan mendekati-Nya. Dan bukankah seseorang hanya mencari sesuatu yang pernah dikenalnya dan kemudian merasa kehilangan?

Amsterdam, musim dingin 16 Desember 2024 / 15 Jumadil Akhir 1446 H

14.06


Wednesday, October 30, 2024


 “SO WE CAN CONTINUE LIVING”


Kadang kita ditakdirkan berada dalam sebuah keadaan yang dizalimi sedemikian rupa - dalam berbagai level - sehingga kita harus berhijrah. Bisa jadi pindah pekerjaan, pindah rumah tangga, atau dalam penuturan ibu dari Syria berikut, dia terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya untuk bertahan hidup.


Perang yang berkecamuk di Syria sekitar 10 tahun yang lalu membuat Abdel, seorang ayah dengan istri dan anak di dalam kandungan sang ibu mencari jalan sebisa mungkin untuk mengungsikan keluarganya dari zona perang. Saat itu, rute evakuasi yang paling cepat dan memungkinkan adalah hijrah melalui jalur laut. Dia harus merogoh saku dalam-dalam untuk membayar uang sejumlah 7000 dolar Amerika per kepala untuk sekadar punya tempat di dalam perahu tua yang kadang sudah tidak layak tapi masih digunakan berkali-kali itu. Kadang si penjual tak memperhitungkan keselamatan penumpang, hanya menjual sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan kepanikan massa sehingga tidak sedikit para pengungsi yang berakhir mati tenggelam di laut.


Akhirnya Abdel dan sang istri yang sedang hamil besar itu mendapatkan perahu. Mereka semoat terkatung-katung di atas lautan beberapa hari tanpa minum dan makanan. Nyaris mati. Hingga akhirnya diselamatkan oleh tim penyelamat.


Saya berkesempatan bicara langsung dengan mereka. Setiap kali Abdel bercerita tentang hari dimana dia mengungsi, air mata menggenang di pelupuk matanya. “Saya melihat sehari-hari bagaimana anak-anak bermain di luar dan tak lama kemudian kembali dengan lubang di kepala atau dadanya. Saya tidak mau itu terjadi kepada anak-anak saya. Kita harus hijrah. So we can continue living”


Sekarang, setelah 10 tahun berselang, saya masih bertegur sapa setiap kali bertemu Abdel dan istri serta anak-anaknya di jalan. Ya, mereka dikarunai dua anak laki-laki yang sehat dan cerdas. Mereka bersekolah, bersepeda dan melanjutkan hidup. Abdel dan istrinya bekerja bergantian di sebuah restoran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yes, life goes on.

 

“Bukankah bumi Allah luas sehingga kami dapat berhijrah di sana?” QS An Nisaa:97


(photo ikustrasi pengungsi dari Syria dari shutterstock)

Saturday, October 26, 2024

 AGAR TAK KHAWATIR SOAL REZEKI


Rezeki itu sudah diaturkan oleh Allah. Saat janin di dalam kandungan ibunda usia 120 hari, ditentukan empat ketetapan hidup bersamaan dengan ditiupkan jiwa dan ruh sang bayi ke dalam jasadnya yang masih kecil. Rezeki ditetapkan pertama, diikuti oleh ajal, amal lalu kebahagiaan dan kesedihannya. Semua sudah dikadar dengan demikian teliti agar khazanah yang ada di dalam jiwa masing-masing orang bertumbuh dengan baik.

Maka, tak perlu pusing ihwal rezeki. Optimalkan ikhtiar tapi tawakal hanya kepada Allah, bukan kepada usaha kita atau yang selain Allah. Agar tauhid kita terjaga. Supaya ma'rifatnya pun diraih.

Dalam Al Qur'an, istilah "rezeki" diulang di 123 ayat. Dan kebanyakan terkait dengan "al maa'idah", bukan sembarang makanan tetapi makanan dari langit. Makanan buat jiwa kita, agar aql jiwa bertumbuh dan menjadi semakin mengenal Allah. Otomatis dia akan mengenal diri dan kehidupannya. Pengenalan ini menjadikan dia semakin kokoh dalam menapaki takdir kehidupan. Tak akan terombang-ambing oleh perubahan yang akan selalu ada. Tak akan dibuat mudah resah oleh kesempitan hidup yang merupakan bagian dari pemurnian jiwa.

Hidup itu ada orientasinya. Kadang kita dibuat dalam kelapangan, tapi ada masa-masa kita dalam kesempitan. Terima dan berdamailah dengan itu semua. Agar kita bisa menjadi hamba-Nya yang bersyukur.

Ardenne, Belgia
Liburan musim gugur, 27 Oktober 2024

Wednesday, October 9, 2024

Menemukan Kebahagiaan

 "Orang hanya akan bahagia jika menemukan hal yang pas dengan dirinya"

- Zamzam AJ Tanuwijaya, Mursyid Thariqah Qudusiyah


Selama berabad-abad lamanya orang menafsirkan kebahagiaan. Beragam konsep dan teori serta metode dicoba dikembangkan untuk membuat orang bahagia. Bermacam produk dan hiburan tertentu diluncurkan untuk membuat manusia bahagia. Tapi kenapa kenyataannya tidak sedikit orang yang merasa tidak bahagia bahkan dirinya merasa menjalani kesengsaraan hidup?

Konsep bahagia dalam Al Quran tersemat dalam kata "thayyibah", dimana akar kata yang sama diulang sebanyak 50 kali dalam berbagai ayat yang tersebar di dalam Al Quran. "Thayyib" terkait dengan konsep diri, karena yang dinamakan bahagia adalah ketika kita menemukan, bekerja, berkecimpung dalam hal yang pas bagi diri kita yang hakiki. Yaitu sang jiwa. Hati yang akan mengenali. Bukan kecocokan semu yang diukur dari hawa nafsu atau syahwat kita. Sangat halus memang pada pelaksanaannya, akan tetapi semakin kita mengasah hati dengan dzikir, hal-hal yang halus akan semakin teraba keberadaannya. Mengapa hati perlu diasah ? Agar dia mampu menerima petunjuk Allah.

"...siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya..."

- QS Ath Thaghabuun [64]:11

Tuntunan Allah itu yang akan memandu kita menemukan pasangan yang pas, pekerjaan yang pas, makanan yang pas, baju yang pas, hiburan yang pas, rumah yang pas dan lain-lain kebutuhan kita di dunia ini. Karena siapa yang lebih mengetahui apa yang paling pas buat kita selain Sang Pencipta kita sendiri. Masuk akal bukan?

Maka, absurd kiranya mencoba meraih kebahagiaan dengan melupakan Tuhan dan tidak melibatkan Dia dalam proses meraihnya. Yang ada orang hanya akan terapung-apung dalam samudera ketidakpastian dan tanpa arah. Merasa bahagia, tapi sebenarnya hanya membekukan perasaan sedih saja atau denial - mendustakannya, berpura-pura hal itu tidak ada. Karena bahagia bukan sekadar tidak merasa sakit. Dan orang hanya akan berlomba-lomba menenggak pain killer atau melakukan apapun yang bisa mengalihkan rasa sakitnya, rasa sepinya, rasa hampanya dan deritanya. Justru kebahagiaan hanya bisa diraih setelah kita berhadapan dengan semua aspek kegelapan diri, itu satu-satunya jalan untuk menjelang cahaya kebahagiaan. Sebuah kebahagiaan yang tidak lagi terikat oleh sebab-akibat, tidak lagi tergantung oleh keberadaan sesuatu atau seseorang yang akan selalu datang dan pergi. Sebuah kebahagiaan yang menjejak dalam di hati sanubari, bukan sekadar angin lalu yang mudah disapu oleh perubahan waktu. 

Bahagia yang kita cari adalah thayyibah, sesuatu yang berakar pada pengetahuan tentang siapa diri kita. Dan pengetahuan diri itu yang akan menuntun kita untuk semakin mengenal-Nya. Sang Pencipta kita. Cinta pertama kita...


Amsterdam, 9 Oktober 2024 / 6 Rabi'ul Akhir 1446 H

10.17 pagi, saat anak-anak sekolah di musim gugur yang mulai dingin.