Ini fakta kehidupan mendasar yang mesti kita renungkan dalam-dalam, yaitu bahwa setiap saat Allah menciptakan yang baru. Artinya tidak ada ciptaan yang sama walaupun indera kita yang kemampuannya sangat terbatas ini melihat hidup sebagai satu aliran yang kontinu. Padahal tidak. Kita dimusnahkan dan dicipta dari saat ke saat yang satuan waktunya sepersekian detik. Saking cepatnya proses tersebut sampai-sampai kita melihatnya sebagai sesuatu yang terus ada. Ajaib ya?
Begitulah kuasa Allah. Yang selalu sibuk setiap saatnya. Mengurusi kita semua. Semesta ciptaan yang Dia kasihi.
Jadi apa yang membuat kita terikat pada sebuah kenangan hingga menimbulkan perasaan tertentu? Karena kita diberi memori. Itu kenapa untuk beberapa kasus tertentu, saat kita dibuat lupa itu sebetulnya pertolongan Allah yang besar. Karena kalau semua serba ingat pasti meledak kepala kita karena overloaded.
Sekaranh, kenapa kita susah banget untuk move on?
Karena kita masih hidup di masa lalu. Dalam bayangan nostalgia kita dan tidak menghirup udara segar penciptaan yang baru di saat ini. Ya, saat ini,l. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Siapapun yang menciptakan kalimat itu mestilah orang yang sangat bijak dan paham natur kehidupan. Bumi kita adalah semua takdir jasadiyah yang mengikat kita. Kita diikat dengan takdir yang Dia telah tuliskan di lauh mahfuzh jauh sebelum semesta dicipta. Agar setiap manusia mencapai kebahagiaan yang ultima, bukan sekadar kebahagiaan yang semu dan terbatas. Maka kehidupan akan penuh dengan pengaturanNya. Kita harus belajar menerima dan melepaskan dari waktu ke waktu. Flow with the flow. God’s flow. Agar kita tidak merasa terseret-seret aliran takdir kehidupan. Berserah diri adalah kuncinya. Just trust the process. Trust Allah. Tawakal. You’ll be fine.
Amsterdam, 30 Desember 2025
11.51 pagi on mu way to Subway
No comments:
Post a Comment