Friday, June 5, 2026

Choose to be happy, no matter what!

 Choosing joy ia a daily, resilient practice. It means choosing to find contentment and gratitude, even when your circumstances aren’t perfect.

But remember that joy does not require a perfect life. It simply asks us to notice the small blessings woven into each day.

***

Kita harus melatih diri untuk mensyukuri setiap aspek kehidupan untuk pada akhirnya diberi hati yang bersyukur. Terutama berjuang menerima saja dulu hal-hal yang kita masih berat bahkan sakit untuk menjalaninya. Penerimaan dan tidak meronta-ronta itu sendiri sudah sebuah langkah besar untuk bisa bersyukur. Karena kalaupun ngga nrimo, masalahnya takdir yang itu juga yang tetap harus kita jalani. Lebih baik cari cara bagaimana agar menjalaninya dengan less painful. Caranya dengan banyak-banyak dzikir. Karena sudah dijamin Allah,

Hanya dengan mengingat Allah (dzikrullah) hati menjadi tenteram

QS Ar Ra'd:28

Hati kita itu sepatutnya menjadi tempat tajali Allah. Tidak ada yang bisa memenuhi hati kita kecuali Dia Taála. Apapun obyek-obyek ciptaan yang coba kita jejalkan di dalamnya tidak akan pernah bisa memenuhi hati seorang manusia. Hanya Allah yang bisa.

Tidak memuat-Ku lelangit-Ku dan bumi-Ku, kecuali qalb hamba-Ku yang mukmin.

- Hadits Qudsiy

Dengan dzikir, seseorang berupaya menyambungkan dirinya dengan Allah. Agar koneksi itu terjalin. Dan Dia senantiasa hadir setiap kita mengingat-Nya dalam sepi maupun ramai, dalam kesenangan maupun kesedihan. Kehadirannya itu yang membuat hati lapang, damai, , tenteram, happy. Joy is another inevitable consequence of the Divine presence. Itulah yang dimaksud dengan hati yang bersyukur. Walaupun badai kehidupan masih menggila dan mengelilingi kita, tapi hati dibuat tenang menghadapinya, karena Allah menyertai kita. []

Amsterdam, Jumát 5 Juni 2026, jelang BHV training, 10.14 pagi


Tuesday, June 2, 2026

Takdir hidup itu menyembuhkan

 "Pena telah diangkat dan lembaran telah kering"

- Rasulullah SAW

Kemunginan-kemungkinan takdir hidup kita telah tertuliskan. Adapun kita mengalir ke arah takdir yang mana itu tergantung kondisi hati kita. Maka sebuah penyakit hati bisa mengakibatkan kita mengalir ke sebuah takdir tertentu yang bisa jadi menyakitkan ketika melampauinya, tapi bagaimanapun itu takdir itu bersifat mensucikan. Ada obat di semua penggal takdir yang kita jalani. Setiap penggalnya, karena Allah tidak menciptakan sesuatu sia-sia. Tidak pernah!

Maka, wajar kalau Ali r.a. pernah berkata bahwa jika kita melihat ada keburukan di orang lain, cabutlah dari hati kita. Sekilas pernyataan itu membuat kita bingung. Lha wong yang melakukan keburukan orang lain, kok mencabutnya dari dalam hati kita sendiri? Itulah rahasia besar kehidupan. Kesadaran bahwa semesta sekeliling kita adalah sebuah cermin canggih ini merupakan salah satu ilmu tertinggi dalam hidup. Beruntunglah orang-orang yang Allah beri kesadaran tentang itu. Dengannya, ia melihat sekitarnya dengan sebuah ketundukan dan ketakziman, sadar bahwa apapun yang mewujud tak lain adalah pancaran dari kondisi hati kita dari saat ke saat.

Inilah jalan pertaubatan, kembali kepada Allah. Kembali mengingat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jika kita paham ini, akan lebih ringan dalam menjalani hidup. Ringan itu adanya di hati, sebuah ketenangan walaupun di tengah badai kehidupan sekalipun. Dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya bahkan sebesar dzarrah sekalipun. Tidak mungkin. Jadi jalani kehidupan dengan tersenyum, syukuri apa yang ada dan terus berpengharapan kepada-Nya serta sabar dalam menanti ketetapan-Nya. This to shall pass...

Amsterdam, 2 Juni 2027

Musim semi yang mendung dan hujan, jam 11.09

Yang sedang-sedang saja


Selama 11 tahun saya diperjalankan oleh Allah untuk bekerja di Multinational companies. Perusahaan-perusahaan dengan cabang di berbagai negara. Posisi di level managerial memberi saya akses untuk menghadiri pertemuan regional atau sekadar hadir di quarterly meeting dengan boss dari head office. Pernah suatu kali ada boss yang terkenal galak datang ke Indonesia, saya ditugaskan untuk menjemput beliau dari hotel untuk pergi bersama ke tempat meeting dengan menempuh perjalanan sekitar satu jam. BIasanya saya ajak dia ngobrol hal-hal yang ringan dan melempar beberapa candaan sepanjang perjalanan. Kabarnya mood si boss itu baik setelah itu. Maka di kunjungan berikutnya saya ditugaskan lagi untuk menjemput dia dan menemani dia lagi di jalan, and yes saya sudah siapkan kisah-kisah lucu yang bisa dibincangkan selama mengisi waktu di perjalanan. Kali ini saya diundang ikut ke dalam rapat para senior managers dan directors. I wasn't supposed to be there. But there i was.

Saya perhatikan dengan seksama bagaimana meeting itu berjalan, setiap diskusi dan dinamika. Kemudian, ada hal yang menggelitik saya ketika si boss besar menekankan pada "two digit growth"sambil memperlihatkan pie chart. Dia bicara dengan berapi-api bernada "yes we can!". Semua diam, ada yang mengangguk-angguk. Lalu entah angin apa, tiba-tiba saya mengangkat tangan di tengah presentasi dia. Biasanya tidak ada yang berani menginterupsi dia. Si boss besar yang galak ini. Tapi kali itu dia memberikan saya kesempatan untuk berbicara. Rupanya itu kesempatan bicara saya yang pertama dan terakhir. Haha...mungkin pertanyaan saya dianggap aneh dan nyeleneh.

Saya mempertanyakan fokus perusahaan pada "double digit growth", memangnya sampai kapan? Kan 'kue-nya'segitu-gitu aja, market growth tidak sampai double digit. Kan tidak masuk akal untuk terus mempertahankan double digit growth setiap tahun, kecuali dengan mengakuisisi perusahaan lain.

Corporate world, sebatas yang saya perhatikan, terlalu menekankan pada profit, bottom line, EBITDA. Kalaupun sesekali bicara tentang Employee Well Being, itu dikaitkan dengan skema bonus atau family gathering tahunan untuk menghibur. Jarang didiskusikan tentang apakah seseorang pas di posisinya, apakah dia happy, apa yang bisa perusahaan lakukan untuk mencuatkan talenta seseorang. Kalaupun ada serangkaian training yang diberikan fokusnya lagi-lagi untuk mendongkrak sales. And yes, i get it. Perusahaan tanpa profit akan gulung tikar. The music will stop. Tapi fokus yang terlalu banyak pada duit akan membuat kultur penjajahan terselubung. It's a modern verse of human slavery. Bedanya perbudakan zaman sekarang tidak pakai rantai besi dan cambuk. Tapi orang dibuat takut kehilangan pekerjaan mereka dan diikat dengan "kontrak kerja"dan sekian banyak tuntutan kerja yang kadang tidak manusiawi.

Sad but true. I have been witnessing this for long time. Ketika kita diperbudak oleh pekerjaan kita sendiri. Bayangkan, seorang pekerja menghabiskan waktu hampir 10 jam sehari untuk bekerja, kalau ditambah waktu commuting rumah-kantor. Dikurangi waktu tidur dll untuk pribadi yang sekitar 8 jam, dia masih punya waktu sekitar 6 jam untuk keluarganya. Itulah waktu yang tersisa untuk berinteraksi dengan keluarga, dengan catatan dia tidak membawa pekerjaan ke rumah. The point is, waktu yang seseorang habiskan di pekerjaan itu benar-benar menyita nafas-nafas hidupnya. Sayang kalau orientasinya hanya sekadar untuk duit atau pangkat dan berbagai fasilitas duniawi lainnya. Sementara kesempatan hidup di dunia singkat. And yes, we are all replaceable in the corporate world. Perusahaan akan terus berjalan tanpa kita. So make sure we set our priority right.

Jadi gimana, apakah kemudian mesti berhenti kerja? Oh bukan ke sana maksudnya. Justru bekerjalah dengan produktif dan berprestasi. Tapi jadikan pekerjaan kita jadi ladang amal shalih agar waktu-waktu yang kita habiskan itu menjadi bekal akhirat kita. gaar sesuatu itu jadi amal shalih, kita harus sering-sering melibatkan Allah dalam apapun yang kita lakukan dan tegakkan shalat sebagai pilar. Jadikan shalat sebagai kesempatan untuk meraup cahaya dan kekuatan jiwa yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan di antara waktu shalat. Karena itu adalah saat kita beraudiensi dengan Allah Taála, Tuhan Semesta Alam. Semakin khusyu kita shalat, semakin kuat pancaran cahaya dan berkat yang akan diturunkan melalui kehadiran kita di alam mulkiyah ini. Maka jangan jadikan shalat sebagai "interupsi"semata. Malah indah kalau pekerjaan kantor dihentikan sesaat untuk shalat berjamaah - jika memungkinkan. Dan alangkah eloknya jika perusahaan menyediakan ruang shalat yang nyaman. Pasti Allah akan berkati perusahaan itu.

Allah mengutus kita ke dunia ini untuk memakmurkannya. So yes, give your best ar work, tapi fokusnya bukan dunia, tapi akhirat. Karena kalau fokus kita akhirat, dunia otomatis terlampaui. Sebaliknya kalau fokus kita hanya dunia, akhirat kita lepas. Nanti kita akan kerepotan menghadapi alam barzakh setelah jasad ini purna tugas.

Islam adalah agama pertengahan. Kita diajarkan untuk tidak mencampakkan dunia tapi pun agar tidak tenggelam di dalamnya. Kita boleh mencintai apapun di sini tapi ingat, ini negeri sementara. Jangan terlalu berlebihan mencintainya. Mengutip lagu dangdut dari Vetty Fera, "Hidup ini jangan serba ter~la~lu. yang sedang-sedang saja. Karena semua yang serba terlalu. bikin sakit kepala"

Amsterdam, 2 Juni 2026 / 16 Dzulhijjah 1447
jam 9.05 pagi, saat Rumi ogah sekolah :)

Monday, June 1, 2026

Ketika Dia mengizinkan nama-Nya disebut

 Saya yakin tidaklah seseorang diberi izin mengucapkan "Allah", "Bismillah", "Astaghfirullah", "Alhamdulillah" dengan sebuah ketakziman tertentu melainkan ada sebuah kebaikan tertentu di dalam diri orang itu yang Allah Maha Mengetahui. Terlepas apa agama orang itu. Tak memandang apakah dia shalat atau tidak. Tapi dalam kehidupan sehari-hari saya suka memperhatikan ada saat-saat dimana orang-orang yang tampaknya "tidak religius" toh diizinkan oleh Allah untuk sekadar mengucapkan nama-Nya yang sakral itu.

Terkait hal itu, ada kejadian yang menarik di tempat kerja saya. Suatu hari seorang inspektur restoran independen datang dan melakukan inspeksi mendadak yang biasanya dilakukan setiap tiga bulan. Di Belanda masalah food safety dan kebersihan makanan sangat diperhatikan serius. Restoran yang tidak lulus inspeksi pertama kali harus dilakukan inspeksi kedua. Kalau tidak lulus juga, dia harus menutup restorannya setengah hari untuk memperbaiki kekurangannya. Lalu kalau tidak lulus ujiannya berikutnya dia harus tutup restoran selama beberapa hari hingga konsekuensi kehilangan izin usaha. Jadi kalau inspektur datang kita semua - bagian manajemen pasti tegang. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Ceritanya saat sang inspektur datang, semua hal seperti biasa sudah dicek. Tapi toh ada yang kebobolan juga dan satu poin itu sialnya termasuk critical point. Pucatlah wajah manajer restoran yang sedang on duty saat itu, dia adalah senior saya. Seorang ibu paruh baya dari Sri Lanka. Dengan mata berkaca-kaca dia menghampiri saya dan berkata, "Tessa, i missed that one thing, i thought i have checked..." katanya pilu. Karena sudah pasrah kalau memang hasilnya tidak lulus maka dia harus tanggung jawab sebagai manager senior. Saya mencoba menenangkan dia, "Jangan khawatir, kita sudah berusaha yang terbaik. Sekarang tinggal berdoa kepada Tuhan" Saya tahu dia orang yang suka pergi ke temple untuk melakukan persembahan kepada tuhannya.
Sambil menunggu hasil evaluasi keluar dalam beberapa menit ke depan, dia tampak kalut dan gelisah. Lalu ia mendatangi saya lagi dan berkata, "Tessa doa ya. Dan kalau kita lulus mari kita berdoa dengan menyebut Allah, Tuhanmu" Saya mengangguk dan tersenyum sambil terus berusaha menenangkan dia.
Akhirnya, keputusan evaluasi keluar. Kami berdua, sebagai manager on duty dipanggil oleh evaluator ke dalam kantor. Dan alhamdulillah hasilnya lulus! Ternyata 'kesalahan'itu masih bisa ditolerir dengan argumen yang tepat. Kolega saya langsung pecah tangisannya sambil memeluk saya. We're happy. And yes we did our powwow dance. Setelah sang inspektur pamitan. Kolega saya lalu mengajak saya ke atas, ke ruangan yang biasa digunakan untuk shalat, untuk menunaikan janjinya - berdoa dengan menyebut nama Allah - Saya pun gelar sejadah, bersimpuh ke arah kiblat sambil menengadahkan kedua tangan ke langit dan memimpin doa dengan disertai dzikir menyebut nama-Nya. Kolega saya mengikuti, sampai ikut sujud syukur pula. Sesuatu hal yang menakjubkan. Membimbing dia melakukan sujud syukur dan menyebut nama-Nya. Dan itu atas keinginan dia sendiri.
Kadang memang Allah membuat sebuah turbulens tertentu dalam hidup yang membuat orang membuat lonjakan spiritual yang tak terbayangkan sebelumnya. Masya Allah.

Because love never asks anything for return

 Belajarlah mencintai seperti matahari. Dia menebarkan sinarnya pada semesta dan kepada siapapun, tanpa berharap dia disinari kembali. Seperti cinta, sinar matahari bersifat menghidupkan dan menghangatkan. 

Cinta sejati itu bersinar tanpa pamrih. 

Ia tak akan meredup karena tak dibalas. Karena ia hanya ingin mencintai. 

Love no matter what.

Tebarkan cinta walaupun yang bersangkutan tak membalas pesan kita atau tak berterima kasih.

Love anyway.

Karena kita tengah belajar untuk menjadi saluran-saluran cinta Ilahiyah. Sebab Tuhan pun begitu. Dia tetap mencinta sekalipun manusia mencela-Nya.

Jangan biarkan ego kita menghalangi pancaran keindahan cinta. 

Jika yang lain meresponnya dengan dingin. Jangan ikut-ikutan menjadi dingin. Tetap sebarkan kehangatan cinta. Karena itulah yang menjaga fitrah kita juga sesama manusia lainnya. And love makes the world go round.

Amsterdam, Senin tenang di musim semi yang panas, 1 Juni 2026 jam 9.28 pagi

 

Friday, May 29, 2026

Merenungkan sebuah 'pengorbanan'

 Hari raya Idul Adha baru berlalu. Sebuah hari raya yang ditandai dengan pengorbanan (Adha).

Kalau saya pikir-pikir, ini menarik, kata pengorbanan itu terkait dengan memberikan sesuatu yang kita cintai, yang biasanya diklaim menjadi milik kita. Dalam kasus Ibrahim as, beliau diminta Allah untuk mengorbankan putra kesayangannya, Ismail as. 

Mari kita merenung sejenak. Di titik itu, kalau kita ada dalam posisi Ibrahim as, orang tua yang harus mengorbankan anaknya sendiri, wah ngga kebayang sebenarnya. Tapi pastinya berat sekali. Karena tidak hanya kita harus melepas anak itu, tapi kita sendiri yang harus mengeksekusinya. Itu kan ujian yang berlapis. Masya Allah. 

Kembali ke kata "pengorbanan" yang sampai dijadikan Hari Raya Qurban. Menarik untuk menelisik bahwa sebenarnya kita, manusia yang tidak punya apa-apa dan pada awalnya bahkan sebuah entitas tak bernama - karena kita adalah Bani Adam - secara harfiah arti kata "Adam" adalah tidak ada. Jadi begini, kalau kita tidak ada dan tidak punya apa-apa maka sebenarnya ngga kaci ada istilah "pengorbanan "itu, karena bagaimana bisa yang tidak ada dan tak punya apa-apa bisa mengorbankan sesuatu lha wong dia ngga punya apa-apa? Tapi Allah itu memang luar biasa baik dan sangat memahami perasaan hamba-Nya, maka dia sematkan kata "pengorbanan"itu dan dijadikan salah satu hari raya besar. Saking mengapresiasi perjuangan Ibrahim as dan semua yang mengikuti milah Ibrahim as. 

Kalaupun kita bisa kurban kambing atau sapi tahun ini dan merasa berjuang untuk menabung untuk itu, ketahuilah 'pengorbanan' itu sebenarnya sesuatu yang Allah fasilitasi semua. Karena semua rezeki dan kemampuan pun dari Allah. Oleh karena itu Allah Taála berfirman dalam QS Al Hajj [22]:37

Dan (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adlaah ketaqwaanmu...

Dan taqwa itu letaknya di qalb. Qalb adanya di dalam jiwa (nafs). Hanya jiwa yang telah hidup kembali dengan nur iman yang mulai menyala ketaqwaan dalam hatinya. Dan ini yang menjadi sasaran pandang Allah. Sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan, 

"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian." (HR Muslim) 

Amal yang datang dari qalb yang hidup dengan nur iman adalah amal shalih. Amal yang tertuntun, karena qalb sang mukmin sudah mampu mendapatkan petunjuk kembali dari Allah. 

Jadi, apapun bentuk 'pengorbanan' dan kegiatan kita di bumi, mau berumah tangga, bekerja, mengurus anak, wakaf masjid dan sekian banyak persembahan untuk Allah, sungguh Dia tidak melihat kuantitas dan nominal yang kita persembahkan. Dia hanya melihat hati kita. Maka sedekah sepuluh ribu rupiah tapi dengan hati yang ikhlas lillahi taála bisa melontarkan seseorang ke ketinggian ridho-Nya dibanding sedekah milyaran tapi sambil riya. Karena mau sepuluh ribu atau semilyar adalah uang Allah. Dia Sang Pemilik semuanya. Kita hanya dipinjami dan diuji dengan itu, apakah amanah atau tidak. 

Maka apapun yang kita persembahkan untuk Allah, pastikan itu datang dari lubuk hati yang terdalam. Ikhlas hanya untuk Dia. Sebuah ekspresi pemujaan dan kebersyukuran untuk Tuhan Yang Maha Baik. Bukan karena kita mampu, bukan karena kita merasa shalih, bukan karena kita merasa tinggi. Justru sebaliknya, kita persembahkan hidup dan mati kita untuk-Nya, Yang Memberi kehidupan yang indah ini. Sebagai sebuah upaya kebersyukuran kepada-Nya. Yang kita tidak akan pernah bisa mampu membayar semua anugerah-Nya, bahkan tak mampu untuk menghitung nikmat-Nya. 

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya..."(QS AN Nahl:18)


Amsterdam, 29 Mei 2026, sore hari jam 16.15 yang mendung dan berangin kencang di restaurant Ikea, menunggu Rumi les biola


Sunday, May 24, 2026

 RUMI & PUASA 18 JAM


“It’s sunnah Mama”

Ketika saya tanya mengapa mau puasa hari itu. Anak itu menjawab dengan tegas dan meyakinkan. Dengan keyakinan bahwa sunnah itu sesuatu keutamaan yang harus dikejar.


Padahal tantangannya tidak ringan untuk puasa di musim panas karena panjangnya waktu puasa dan panas yang bisa membuat badan sangat kepayahan. Tapi masya Allah, anak itu bangun untuk makan sahur, tahajjud dan diakhiri dengan shalat shubuh sebelum menyempatkan diri tidur singkat sebelum pergi ke sekolah.


Siang hari, Rumi datang dengan sempoyongan. “Panas mama” katanya tercekat, kehausan. Biasanya dia langsung lari membuka kulkas dan menjilat es buah kesukaannya. Tapi kali ini ia bergegas mengambil wudhu untuk shalat dhuhur lalu ngadem di kamarnya menikmati hembusan angin dari kipas angin yang dinyalakannya.


Memasuki waktu ashar yang jatuh pada hampir jam 6 sore, Rumi mulai berpikir apakah buka puasa di awal waktu saja dan mengambil keringanan? Apalagi Mama sudah menyiapkan Turkey Sandwich kesukaannya. Tapi dia mengambil langkah tak terduga, dengan memanggil kakaknya dan memberikan sandwich itu, yang kemudian disambut gembira oleh sang kakak. Rumi kembali ke kamar dengan lega dan berkata “Now i don’t have temptation to break my fast anymore” dan menguatkan dirinya untuk tetap melanjutkan puasa sampai maghrib.


And he did it…masya Allah. Ini adalah puasa terlama yang pernah dia lakukan. Dia berbuka dengan sebutir kurma dengan ekspresi kegembiraan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Semoga Allah mengganjar kegembiraan di hari akhir saat kau bertemu-Nya nak. 

Very proud of you❤️



Wednesday, May 20, 2026

People come and go

People come and go. We know this. Others visit just for a moment, and then they leave you with memories and lessons. Some are only meant to walk with you for a season, while others will stay for the long journey. All of them are valuable. No matter what happens, appreciate every soul you meet and every moment you have.

***

Orang-orang yang ada di sekitar kita datang dan pergi. 

Ada sahabat yang berjangka waktu tertentu, begitu pisah sekolah lantas menghilang.

Ada teman curhat yang asyik banget, begitu pindah kerja juga jarang nelepon.

Ada juga bahkan pasangan yang di awal waktu sangat hangat dan membuat dunia kita berbunga-bunga, kemudian di tahapan lain dalam hidup berubah dan kita bisa jadi orang asing satu sama lain. 

Yang namanya keluarga pun - walaupun kita diikat oleh hubungan darah - tetap saja ada batasnya. Masing-masing punya kesibukan sendiri. 

And it's okay. Itulah kehidupan. Semuanya berubah. Begitulah natur dunia ini. Semuanya fana. Semua akan berakhir. So, just go with the flow. Supaya kita tidak sakit berkepanjangan. 

Lantas, apa gunanya dong kalau pada akhirnya semua ini akan berakhir juga? Disinilah pentingnya belajar agama yang memberi panduan supaya kita tidak salah dalam menyikapi kehidupan dan bisa mulai memaknai setiap episode kehidupan yang Dia takdirkan. 

"....agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu..."QS Al Hadiid: 23.


Amsterdam, 20 Mei 2026

Enduring the silent period...


Sunday, May 17, 2026

 Saya datang ke Belanda sepuluh tahun yang lalu dengan berbekal baju seadanya di dalam back pack dan uang 150 euro. Di awal-awal bulan saya lakukan apapun yang bisa saya kerjakan, sebagai buruh kasar, berkelana dari satu tempat sewaan ke tempat sewaan lain.

Hidup tidak mudah. Saya sudah terbiasa ditempa dalam keadaan yang orang kebanyakan pandang mungkin sebagai sesuatu yang '" "tidak ideal" atau bahkan tragis. Kedua orang tua saya tenggelam dalam kecanduan alkohol hingga pemerintah harus mengambil saya yang masih bayi untuk dibesarkan di panti asuhan.
Kehidupan di panti asuhan itu keras. Kami dididik untuk disiplin dan tidak cengeng. Makan apapun yang disuguhkan, kalau tidak mau dihukum. Harus mematuhi peraturan panti, tidur di jam yang ditentukan dan setiap anak akan bergantian melakukan piket, menyikat wc, tempat tidur, membersihkan kaca jendela dll. Tidak ada kesempatan untuk berdukaTidak ada ruang untuk curhat. Tidak ada kehangatan pelukan terutama di saat kita membutuhkannya.
Kami, "anak-anak panti" begitu julukan orang-orang di luar sana. Sudah terbiasa dengan kehidupan yang keras. Kadang itu pun membuat kami menjadi berwatak keras. Semata-mata karena survival mechanism yang terbentuk secara otomatis. Tapi saya mensyukuri kehidupan, walaupun praktis tidak pernah mengenal kedua orang tua saya. Mereka tidak pernah mencoba mengunjungi saya di panti asuhan. Sakit hati ini rasanya. Melebihi rasa sakit hati saya berpisah dari mereka sejak kecil dengan paksa. Karena ketika mereka kemudian memutuskan untuk tidak menjadi bagian dari hidup saya. But life goes on.
Saya mulai merasa kehangatan cinta ketika saya bertemu dengan lelaki yang saya cintai yang kemudian menjadi ayah dari kedua anak kami. Membina rumah tangga tidak mudah, apalagi kami datang dari dua belahan dunia dengan budaya yang jauh berbeda. But love conquers all. Saya percaya itu. Dan kami mulai membangun bahtera rumah tangga bersama. Bekerja keras siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hingga akhirnya dua minggu yang lalu kami menandatangani akta jual beli rumah dan menempati tempat tinggal baru dengan modal pinjaman dari bank dan dicicil selama 30 tahun. Akhirnya anak-anak akan punya sendiri. And for the first time ever, i can call myself being "at home".
(Terinspirasi dari curhat seorang kolega di tempat kerja.)

Amsterdam, 17 Mei 2026
For AC, my dear matje who's the inspiration of this piece.

Friday, May 15, 2026

Agar hidup makin fokus

 Not every situation deserve your reaction.

Not every person deserve access to your energy.

The stronger your mind become, the more selective of what you allow into your life.

***

Makin bertambah usia kita, semakin fokus mestinya hidup kita untuk mengumpulkan bekal akhirat.
Kuncinya mensyukuri apa yang ada. Makanya mata pun dibuat rabun dekat, agar visi akhirat kita dibangun, jangan hanya sibuk dengan hal-hal yang bersifat duniawi saja sambil lalai mempersiapkan kehidupan di negeri akhirat yang pasti akan kita jelang.

Makanya semakin berusia, mestinya semakin kalem. Ngga grasa-grusu atau emosian serta reaktif seperti dulu. Semua kata-kata ditimbang batul-betul sebelum diluncurkan dari lisan. Setiap pilihan dimohonkan baik-baik kepada Allah Taála Yang Maha Tahu mana yang terbaik.

Tidak semua situasi dan berita dunia mesti direspon. Tidak semua ucapan dan sikap orang harus dikomentari apalagi hingga menguras banyak energi dan emosi kita. Semakin kuat akal seseorang, dia akan semakin selektif menggunakan waktu dan menyalurkan energinya.

So, be selective and keep calm.

Amsterdam, 15 Mei 2026 di musim semi yang hujan, berangin dan dingin
18.11 sore

Monday, May 11, 2026

Siapkan mental setiap pagi

 Otak manusia didesain menyenangi pola. Itulah pentingnya kita memiliki ritual setiap hari. Dan syariat agama melalui waktu-waktu shalat membuat kita keeps grounded. Jadi lebih membumi. Mengokohkan akar pohon diri kita. 

Di antara hal yang kita siapkan di pagi hari adalah sebuah kesadaran bahwa hari ini kita mungkin akan menghadapi masalah atau orang yang menyebalkan. Dan itu adalah bagian dari hidup. Maka Rasulullah SAW mengajarkan agar kita berlindung dari kesedihan, "Allahumma inni aúdzubika minal hammi wal hazan" tapi sadari bahwa ketika kita berlindung dari kesedihan bukan berarti hari itu kita tidak berhadapan dengan masalah atau perilaku yang membuat kita mengusap dada. Karena ujian adalah sesuatu yang melekat bagi orag-orang beriman. Maka bedakan, bahwa kita bisa berada di tengah badai kehidupan atau diperlakukan dengan tidak baik tapi hati bisa merasa tenang dan tidak dibuat sedih karenanya. Kok bisa? Ya bisalah, karena Allah yang menjaga hati kita. Apapun bisa ditundukkan bagi seorang hamba-Nya yang beriman. Seperti halnya Allah Taála berfirman kepada api agar ia menjadi dingin dan tidak mendatangkan kesakitan untuk hamba-Nya Ibrahim as. Jadi walaupun tubuhnya berada di tengah kobaran api yang membumbung tinggi yang membuat ngeri semua orang yang menyaksikannya, dia keluar dengan selamat tanpa luka sedikit pun.

Itulah kekuatan doa di pagi hari. Untuk mempersiapkan kita mengadapi api ujian kehidupan harian. Agar ia tidak membakar diri walaupun ganas kelihatannya. Agar kita tidak tertelan oleh ilusi dunia dan supaya tauhid kita makin kuat kepada Allah Taála. 


Amsterdam, Senin tenang, 11 Mei 2026 jam 10.06 pagi

Saturday, May 9, 2026

Ketika sesuatu menjadi ilah kita

 Suluk adalah sebuah perjalanan panjang untuk memurnikan tauhid kita. 

Laa ilaa ha ilallah

Agar tidak ada tuhan-tuhan (ilah-ilah) lain yang bercokol di dalam hati kita, selain Allah. 

Kapan sesuatu telah menjadi ilah kita?

Ketika sesuatu itu telah menguasai dan mencengkeram diri. Sedemikian rupa sehingga terbentuk kemelekatan kita terhadapnya. 

Mungkin kita tidak menyembah ilah yang berbentuk patung seperti Latta atau Uzza seperti zaman dulu. Mungkin kita juga merasa tidak musyrik dengan tidak memiliki jimat-jimat yang kita anggap mendatangkan kekuatan tertentu. 

Tapi ilah yang nongkrong di dalam hati kita berupa pekerjaan yang kita takut kalau sampai kehilangan. Merasa kalau tanpa pekerjaan itu bagaimana bisa menghidupi diri dan keluarga. 

Ilah lain bisa berwujud sebagai pasangan yang dicintai berlebihan. Sampai "i can't live without you". Dan manakala dia tidak membalas pesan, tidak ngirim kabar, berpaling ke lain hati atau meninggal dunia, rasanya dunia kiamat. It's another form of attachment. 

Ilah yang berwujud non fisik banyak, diantaranya ilah bernama "reputasi", "popularitas"dll, yang demikian disanjung-sanjung. Saking ingin terkenal dan banyak follower sampai rela melakukan apapun. Tapi dia lupa bahwa semua hal di dunia itu sementara. Ketenaran pun akan pudar pada saatnya. Dan saat itu dia mulai sesak nafas, sempit dadanya karena hal yang da rasa memberikan kehidupan baginya perlahan-lahan hilang ditelan zaman. 

Dengan demikian, seruan para nabi untuk membangun dan memperkuat tauhid itu sebenarnya seruan kepada jalan kebebasan dari belenggu dunia yang akan menarik kita ke lumpur kesengsaraan. Karena kebanyakan manusia terbelenggu oleh ilah-ilah lain yang bersifat sementara yang hanya masalah waktu mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan. 

Tauhid therefore is the path to freedom. Bebas dari perbudakan selain Allah. Kita menjadi hamba-Nya, dan itu adalah hal terbaik dalam kehidupan, karena Allah Taála adalah Tuan yang sangat baik dan sangat memperhatikan hamba-Nya. Kalau kita mengimaninya...

Amsterdam, Sabtu 9 Mei 2026 jam 12.50 siang

Menanti waktu shalat dhuhur sambil menerjemahkan Complete Works of Josephus Flavius (1148 halaman)

Tak ada takdir buruk

 Syukuri kehidupan nak,

Tak ada yang namanya takdir buruk karena semua sudah diperhitungkan dengan matang dan dalam ilmu Allah Ta’ala.

Just believe…

(Dalam perjalanan ke mesjid Fatih, bersama Rumi)




Tuesday, May 5, 2026

Kenapa merasa kesepian?

 Being alone is not the same as being lonely.

***

Seorang kolega suatu hari tiba-tiba curhat, out of the blue. Saya sedang duduk di ruang crew untuk rehat sejenak ketika ibu satu anak ini datang berganti pakaian dan bersiap pulang. Entah kenapa sapaan saya yang bertanya "how's life?"dijawab dengan cerita yang panjang. Tentang perjuangannya datang ke Belanda dan harus menghabiskan sampai puluhan ribu euro (alias ratusan juta rupiah) untuk membayar jasa pihak ketiga yang membantu perizinannya namun ternyata orangnya menipu. Untung dia dibantu oleh sebuah lembaga dan pengacara pro bono, alisa dia tak harus keluar uang untuk menyelesaikan kasusnya. 

"Life is hard, Tessa. Sometimes at the end of the day, all i want is to talk to someone and share everything i feel or what i've experienced."

Dia tinggal di sebuah kamar sewa dengan anak gadisnya yang baru menginjak usia 18 tahun. Jadi dia tidak tinggal sendiri, tapi saya paham, tidak semua orang bisa diajak menjadi teman bicara. Bahkan pasangan kita sekalipun. 

Tidak sedikit orang yang mengalami hal yang mirip dengan kolega saya ini. Disergap oleh rasa sepi. Tapi saya ingin berbagi sesuatu yang merupakan sebuah pelajaran hidup dari pengalaman dan pengamatan kehidupan, bahwa kesepian adalah dikarenakan kita sebagai persona masih terpisah dengan jiwa. Akhirnya kita menjadi tidak menjiwai kehidupan. Bahwa memiliki seribu teman atau pasangan  tidak menjamin kita tidak merasa kesepian. Tidak sedikit kenyataannya orang merasa sepi di tengah orang banyak. Tidak jarang orang bahkan merasa kesepian di dalam rumah tangganya sendiri. 

Rasa sepi akan selalu muncul manakala kita selalu mengandalkan orang sekitar atau bahkan keadaan memuaskan diri kita alih-alih merasa cukup (qona'ah) dengan apa yang ada. Kuncinya adalah dengan mengenal jiwa. Dan itu tidak mungkin tanpa melalui syariat agama dan proses tazkiyatun nafs. Karena jiwa adalah entitas sakral di dalam diri. Selama kita belum mengenal jiwa, kita tidak akan mengenal apa aktivitas dan pekerjaan yang disukai oleh jiwa dan membuat kita merasa terpuaskan lahir batin. Akibatnya kita hanya akan terlunta-lunta dari satu fatamorgana ke fatamorgana lain yang kita kira sebagai oase kebahagiaan. Sebelum kehidupan kita menjejak ke mengenali tugas sakral (sacred duty) kita masing-masing, kita bagaikan masih terombang-ambing di samudera dunia dan membuat kita mabuk laut. Kaki kita belum berpijak di bumi diri yang sejati. Dan selama itu pula kita akan terserang oleh satu episode kesepian ke episode kesepian lainnya. 

Jadi, jangan cari solusi mengatasi kesepian dengan ngoyo ingin mendapatkan seseorang. That's not a guarantee. Malah bisa bikin makin runyam. Find yourself first. Kenali sumber kebahagiaan jiwamu. Baru kau akan merasakan air kehidupan yang menyegarkan yang menghilangkan sebuah dahaga kehidupan yang bernama kesepian. Insya Allah.

Amsterdam, 5 Mei 2026 

Tak Pernah Ada Kata Pensiun

 Ada fenomena menarik yang saya amati dari percakapan dengan salah seorang sahabat saya yang baru saja memasuki usia 55 tahun. Dia bilang beberapa rekannya di Indonesia, sudah mulai memasuki masa pensiun di usia yang sebenarnya tergolong masih produktif (bandingkan dengan usia pensiun di Belanda yaitu 67 tahun), bedanya 12 tahun bo! Lumayan kan? 

Apa yang terjadi kemudian? Beberapa dari rekannya itu sedang ngebut-ngebutnya berkarir, ide masih melimpah, inspirasi menggunung dan semangat masih kencang, tapi eh tiba-tiba disuruh lengser keprabon karena sistemnya memaksa demikian. Beberapa masih diberi kesempatan untuk memperpanjang masa kerjanya. Beberapa menjadi konsultan. Ada yang mulai menjalankan bisnis. Bahkan ada salah seorang eksekutif perusahaan besar yang biasa disupiri kemana-mana, rela menjadi pelayan. Kebayang kan? Biasa dilayani kemudian jadi pelayan. Tapi orang ternyata butuh beraktivitas dan mengkontribusikan sesuatu. Kebanyakan dari mereka yang pensiun kemudian 'bekerja' bukan butuh uang motif utamanya, karena biasanya tabungan sudah cukup dan dana pensiun memadai. Artinya, mau ongkang-ongkang kaki setiap hari juga bisa sebenarnya. Iya sepertinya asyik sebulan dua bulan bebas tak mesti kerja. Hingga kemudian mereka diterpa rasa bosan. "Ngapain lagi ya?" 

Karena sebagaimana burung dicipta untuk terbang, ikan untuk berenang, maka manusia dicipta untuk bekerja. Begitu kata Nabi Yaqub as. Sepertinya sebuah pernyataan yang simpel, tapi dalem banget kalau mau direnungkan. I mean, ya iyalah burung kan jago terbang karena diberi sepasang sayap dan tubuh yang tidak besar seperti gajah. Hanya dumbo - gajah dalam dunia Disney yang bisa terbang dengan mengepakkan kedua telinganya.  Dan ikan, jago banget berenang, bahkan bisa bernafas di dalam air, jadi ngga megap-megap atau panik macam kita yang baru belajar berenang. Artinya terbangnya seekor burung dan berenangnya seekor ikan terkait dengan desain tubuhnya masing-masing. Sesuatu yang Sang Pencipta sudah tetapkan. 

Kita? Apa desain diri kita? Punya sayap ngga. Insang apa lagi. Bisanya apa dong? 

Manusia, itu mulia karena akalnya. Itu yang mestinya diasah terus. Dan bukan hanya akal rasional. Tapi mestinya sampai menyala akal jiwanya yang menuntun dia menuju ketaatan dan bukan malah angkuh. Karena orang kalau hanya pinter tapi tak tertuntun dan diberkati malah pinter keblinger dan mendatangkan kerusakan di muka bumi. 

Kembali tentang pensiun. Sebenarnya setiap manusia dicipta dengan sebuah pekerjaan spesifik yang "gue banget". Yang di titik itu tidak ada orang lain yang bisa mengerjakan hal itu sebaik dirinya. "Kau tak akan terganti" mengutip lagunya Marcell Siahaan. Dan ketika orang sudah menemukan pekerjaan itu, sebenarnya tidak ada kata pensiun. Dibayar - ngga dibayar, dia akan terus mengerjakannya. Karena ganjarannya langsung dari Yang Mahakuasa. Tanda lain adalah dia akan sangat produktif di titik spesifik itu, karena inspirasi dan semangat juga kemudahan akan mengalir. Rezeki manna dan salwanya akan keluar. Dia akan terus produktif hingga nafas terakhir keluar dari raga sebagai kendaraan jiwanya di bumi tempat kita mesti berbekal banyak-banyak amal shalih ini. 

So, who are you? 

Apa bakat langitmu?

Apa yang Allah mudahkan buat dirimu? 

Do something about it, biar ngga nyesel nanti. []

Saturday, May 2, 2026

Saat kehilangan identitas diri

 "Dua hari yang sangat penting dalam hidupmu adalah saat kau dilahirkan dan saat kau paham mengapa (kau dilahirkan)."

 - Mark Twain

***

Ternyata tidak mudah menjadi diri sendiri. Menjadi versi original saat jiwa kita ditiupkan ke dalam kendaraan janin, ketika ia berusia 120 hari di dalam rahim ibunda. Seiring dengan pertumbuhan kita di alam dunia, semakin banyak bentukan baru dan tarikan semesta yang mengubah diri kita. 

Sadari bahwa tidak ada yang terlahir "kosong" ke muka bumi ini. Semua manusia terlahir membawa bakat jiwa masing-masing yang itu sangat cocok ditumbuhkan di takdir yang Allah sudah tetapkan dan disiapkan jauh hari bahkan sebelum semesta ini tercipta. Artinya desain kehidupan kita, orang tua, tanggal dan tempat lahir, tempat kita sekolah dan semua aliran kehidupan adalah tanah yang paling baik untuk pertumbuhan benih di dalam jiwa kita. Benih ini terkait dengan fitrah, yang Rasulullah SAW katakan bahwa "Setiap anak terlahir dengan fitrah" Dan fitrah itu seperti benih yang harus pecah kecambah (fatara) terbuka. potensinya di alam dunia ini.  Sebagaimana benih harus mengalami sekian tahapan sebelum ia pecah kecambah dan bertumbuh, kita pun mengalami pergantian episode "siang dan malam"dalam kehidupan. Kadang ada masa bahagia, kadang ada masa berduka. Ada masanya berkumpul, dan ada saatnya berpisah. Ada saat sedang semangat, ada kalanya tak bisa bergerak, bagaikan perahu layar yang kehilangan angin. 

Tapi coba perhatikan bahwa ujian bagi setiap orang itu spesfik dan berbeda-beda walaupun nampaknya sama. Semua itu yang membentuk kita hingga menjadi kita yang sekarang ada. Mestinya semua takdir itu mulai dibaca dan direnungkan, agar kita semakin bisa membaca diri "Aku ini siapa?". Apa yang dimudahkan? Apa yang dicegah? Apa yang disenangi? Apa yang memberi energi? Apa yang membuat hati bernyanyi? Apa yang membuat lelah? Dsb. Dalam QS Al Ahqaf [46]:15, dalam doa memasuki usia 40 tahun hidup, ia meminta amal shalih yang diridhoi. Kenapa 40 tahun? Itu adalah empat masa pembentukan bumi diri. Semua hal sudah Allah Taála hamparkan di sana. Seperti keping-keping puzzle yang berserakan dan mesti ditata untuk bisa dipahami apa pesan yang ada disana. Itulah informasi tentang jati diri kita. 

Artinya memasuki usia 40 tahunan seseorang sudah harus lebih fokus ke bidang dan kegiatan yang "dia banget". Hal-hal yang mengalir dari khazanah jiwanya. Yang hanya di titik itu dia bisa menemukan hal yang terbaik yang telah Allah siapkan sejak zaman ajali. Di jalan itulah shiraathal mustaqiimnya, sebuah jalan yang kaya dengan amal shalih - yang menjadi bekal dunia akhirat. Orang yang menapaki jalan itu adalah mereka yang sudah menemukan tugas spesifik hidup yang Allah amanahkan kepadanya. Di situ dia kokoh. Tak mudah terombang-ambing dengan gejolak kehidupan atau tawaran yang tampaknya menggiurkan tetapi sesuatu yang menjauhkan dia dari jalan kesejatian diri. 

Itu kenapa kita diajarkan untuk meminta "shiraathal mustaqiim", itulah jalan kita menjadi diri sendiri. Yang setiap orang adalah nomor satu dan tak terkalahkan di koordinat itu, karena setiap manusia memiliki "kursiy"dan walayahnya masing-masing yang tak akan bisa diambil orang lain, sebab desain setiap orang berbeda-beda dan khusus dicipta untuk tugas yang sangat presisi. 

Sadari, kadang ketika Allah menjauhkan kita dari dunia dan teman-teman dan dibuat sendiri. Itulah saat ketika kita tengah dikembalikan kepada diri sendiri. Karena kita cenderung memikirkan apa kata orang atau tercelup dengan pengaruh orang sekitar dan dunia. Kita takut untuk sekedar menjadi diri sendiri, apa adanya. Well, now is the time to get back to our own "self". Karena hanya dengan menjadi diri sendiri kita merasa penuh (whole) dan makin berbahagia tanpa harus tergantung dengan sebab-sebab luar. []


Amsterdam, 2 Mei 2026, sore hari yang cerah dan panas di musim semi

Wednesday, April 29, 2026

Agar terlepas dari belenggu masa lalu

 If you still question you past, "Why did it happened to me?"

Know that you are still living it.

***

Dalam hidup, mendera luka-luka masa lalu adalah keniscayaan. Karena tak selamanya hidup itu bahagia dan senang terus. Sebagian besar luka masa kecil itu ditorehkan biasanya justru oleh orang-orang dekat sekitar kita. Orang tua kita sendiri, adik atau kakak atau anggota keluarga lainnya. Kadang luka itu didapat dari pergaulan di sekolah. Oleh orang yang membully kita hingga traumanya masih menjejak hingga sekarang. 

Seorang pakar trauma, Gabor Mate berpendapat bahwa yang namanya trauma itu bukan kejadian yang menimpa seseorang, tapi respon seseorang atas kejadian itu. Artinya, kejadian buruk yang sama yang menimpa dua orang yang berbeda bisa menghasilkan dua respon yang berbeda. Yang satu bisa move on dan yang lain masih hidup dalam tempurung masa lalunya bahkan berdekade tahun lamanya. 

"Kenapa itu terjadi pada saya?" Biasanya itu pertanyaan yang sering timbul. Dan itu adalah pertanyaan yang sangat valid dan mesti dikejar. Karena sebelum kita paham kenapa sesuatu itu menimpa kita, kita belum bisa bersabar atas sesuatu itu. Seperti halnya kaidah yang disampaikan oleh Nabi Khidir as kepada Musa as yang saat itu bersemangat sekali ingin berguru kepadanya, Nabi Khidir berkata, 

"...bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"QS Al Kahfi:68

Jadi pemahaman dan ilmu pengetahuan yang benar itu bisa mengubah cara pandang kita terhadap takdir hidup yang menimpa sehingga kita semakin sabar dan bahkan mensyukurinya. Memang butuh waktu hingga akhirnya pemahaman itu datang, dan kadang ia datang secara bertahap. Tidak apa-apa dijalani saja. Karena itu adalah jalan kesembuhan kita lahir batin. Insya Allah. 


Amsterdam, 29 April 2026, di musim semi yang  terik tapi angin masih dingin dan kencang. 13.27 siang

Monday, April 27, 2026

Kenapa sulit untuk move on?

 Holding on happens when you are clinging to the past.

Moving on is the movement to flow with the present, to accept what is instaed of what if.

***

Kita sering lupa bahwa dunia ini fana. Artinya semua akan berakhir. Pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Kesehatan kadang berakhir dalam periode tertentu dengan episode sakit. Masa gembira di satu masa akan berubah menjadi sebuah kesedihan. Merayakan keramaian dan kebersamaan pun hanya sementara sebelum kita mencecap kembali kesunyian dan kesendirian. Pernikahan bisa berakhir dengan perceraian atau dipisahkan dengan kematian. Pekerjaan tidak selamanya mulus. Bisnis tidak selamanya lancar. Itulah pergantian siang dan malam dalam kehidupan.

Iya sih, sadar (kalau lagi sadar). Tapi kenapa ada beberapa hal yang kita susah banget untuk melepasnya dan susah untuk move on? 

Pertama, it's okay merasa sedih dengan sebuah episode kehilangan. Itu wajar banget. Artinya perasaan suka, bahagia dan cinta kita itu real, sesuatu yang pernah kita cicipi, tapi kemudian apapun itu keadaan atau situasinya menjadi berubah. Khususnya jika kita pernah dekat sekali dengan seseorang atau bahkan jatuh cinta padanya. Hati merasa berbunga-bunga, banyak kenangan indah dirajut bersama, sampai ketika suatu saat itu semua hilang, bisa jadi bertahap atau mendadak, lalu kita gelagapan, in a panic mode, seperti hancur dunia kita rasanya. When this happens, please realize that physically our body is experiencing withdrawal effect. Karena semua perasaan indah yang kita alami terkait dengan hormon-hormon tertentu seperti dopamin dan oksitosin yang membuat kita relaks. Dan untuk sekian lama tubuh kita terbiasa dibanjiri oleh hormon-hormon cinta dan kebahagiaan ini, hingga pada satu titik si dia atau sesuatu yang biasa mencetuskan hormon-hormon itu untuk mengalir tidak lagi ada. Respon pertama sistem saraf kita adalah untuk kembali mengaktivasi itu kembali, tapi pada kenyataannya si dia telah pergi atau tiada. Kebanyakan orang kemudian mencoba mendapatkan sensasi itu kembali dengan memutar lagu-lagu nostalgia bersamanya, mengingat kembali masa-masa indah, membaca semua surat atau chat yang pernah membuat kita berbunga-bunga, bahkan diam-diam menguntit social medianya atau sekadar kepo dia lagi ngapain sekarang? Kangen ngga sama aku sebagaimana halnya aku kangen sama dia. And so on and so forth. Tapi semua upaya itu berujung pada kesedihan karena dia yang pernah singgah di hati kita itu sudah move on, sudah check out, dan move on sementara kita masih memutar film-film lama dalam benak kita. Di situ saat kita makin merasa sengsara. 

Jadi move on itu pilihan. Kita memilih untuk mengalir dengan saat ini apa adanya, tanpa yang bersangkutan atau berupaya meraih-raih kenangan lama yang tidak sesuai dengan kenyataan. Memang tidak mudah. Tapi bisa dilatih. We just need to shift our focus. Daripada ngelamun ngga jelas, mendingan waktunya dihabiskan untuk berdzikir atau mempelajari Al Quran. Dan manakala kesedihan itu menerpa, coba banyak-banyak "subhanallah wabihamdih"bertasbih dan memujinya. Itu adalah kunci menghadapi kesempitan dada yang Allah firmankan dalam QS Al Hijr [15]:97-98

Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit (gundah dan sedih) disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang sujud.

Amsterdam, 28 April 2026

In my solitude. Jam 6.43 pagi


Saturday, April 25, 2026

Memaknai 'kegagalan' hidup

"Gagal itu bukan sebuah kejatuhan.

Gagal adalah sebuah pembacaan"

- Mursyid Zamzam AJ Tanuwijaya


Kebanyakan orang emoh dibilang 'gagal'. Seolah-olah sebuah episode kegagalan adalah bagaikan aib besar yang diutup rapat-rapat atau dijauhi dan dicegah sebisa mungkin. 

Tapi kehidupan mengalir menurut dengan kehendak Sang Pencipta. Dan mengalami 'kegagalan' adalah hal yang niscaya. 

Gagal dalam pernikahan. Gagal dalam bisnis. Gagal dalam presentasi. Gagal dalam berkomunikasi. Gagal dalam mendidik anak. Gagal dalam memahami pasangan. Gagal membaca kehidupan. Dan lain sebagainya.   

Kalau memang gagal adalah bagian dari kehidupan, kenapa harus merasa seolah divonis hukuman mati saat kita mengalami kegagalan? Mengalami kegagalan bukan kiamat atau akhir dari segalanya. Ini masalah cara membaca persoalan. Bagaimana kalau kita membaca sebuah kegagalan adalah sebuah bantuan dari Allah Taála untuk mencegah kita memasuki atau melangkah lebih jauh ke sebuah keadaan, bidang, situasi yang tidak baik untuk kita. Sesuatu yang tidak membawa manfaat ke akhirat kita. Hal yang cenderung melumpuhkan dan melemahkan jiwa kita. Keadaan yang membuat kita malah menjadi semakin jauh dari Allah.  Dengan kata lain bahkan sebuah kegagalan sekalipun adalah salah satu dari bentuk rahmat-Nya. Pertolongan Allah Ta'ala agar kita mengalir di sebuah warna kehidupan yang lebih pas untuk diri sendiri. Kita belajar untuk "iqra" membaca aliran takdir kehidupan apa adanya. 

Jadi ketika kita mesti menempuh sebuah episode kegagalan, jangan berkecil hati. Itu bagian dari pertolongan Allah. Tugas kita untuk menemukan kebaikan yang tersimpan di dalamnya. Karena kalau Allah membuat takdir itu tidak asal, selalu ada kebaikan yang melimpah, itu sifat-Nya. Tidak mungkin tidak. Jangan terlalu termakan oleh apa kata orang. Kita harus mensyukuri kehidupan diri sendiri, apa adanya. Kalau bukan kita siapa lagi yang bisa mengagungkan takdir diri sendiri? So, stay calm. Merasa sedih dan kecewa itu wajar, namanya juga manusia. Tapi jangan terlampau larut berlama-lama sehingga dikuasai oleh kesedihan itu. Take a break and then move on. 

Amsterdam, 25 April 2026

Setelah Wawancara Suluk ke-69. Pukul 17.02, setelah melepas anak-anak pergi berlibur ke Skotlandia

Tuesday, April 14, 2026

Jadilah pengembara di dunia

 “Be in this world as if you were a stranger or a traveller along a path.” 

- Rasulullah SAW


Ibn Umar would say, “If you make it to the evening, do not wait for the morning. If you make it to the morning, do not wait for the evening. Take from your health for your sickness, and from your life for your death.”


Traveller itu ga bawa bawaan setruk penuh lengkap dengan sofa, rice cooker, baju selemari dll, itu mah pulang kampung namanya.


Travelling yang nyaman itu ya travel light. Tidak bawa banyak gembolan. Agar bisa berjalan dengan bebas tanpa menyeret-nyeret beban berat.


Para traveller tahu dimanapun mereka singgah akan ada rezekinya di tempat itu, maka mereka bekal seadanya saja.


Dunia ini tempat singgah jiwa-jiwa yang sedang diperjalankan oleh Allah. Tak perlu risau tentang akomodasi dan konsumsi sebenarnya, lha wong Event Organizernya sang Rabbul ‘alamiin sendiri. Kalau taqwa pasti dijamin hayatan thayyiba. Tinggal nikmati segala agenda yang sudah ditetapkan dari hari ke harinya. Setiap hari berbeda-beda walaupun tempatnya tampaknya itu-itu saja, tapi perhatikan tamu-tamu Allah yang Dia hadirkan selalu baru dengan segenap dinamikanya. Karena sungguh setiap saat kita dalam ciptaan yang baru.


Di perjalanan ini kita akan mengingat kembali siapa Rabb, yang jiwa kita sudah kenal saat di Alam Alastu (Alam Kesaksian) dulu (QS 7:172). Setiap etapenya penuh pelajaran di perjalanan dunia ini. Maka perhatikan baik-baik. Baca (iqra) dengan benar. Karena Dia sedang memperkenalkan Dirinya lebih jauh. Lewat kehidupan kita masing-masing yang luar biasa ini. So, enjoy the ride and be a grateful traveller🐫☺️


- Dalam perjalanan ke Rotterdam, 15 April 2026 jam 7.42 pagi

Wednesday, April 8, 2026

Jadilah yang terakhir tertawa

 You’ll Laugh Later


There are moments

that feel serious right now.


Important.

Heavy.

Worth stressing over.


But if you think about it—


A lot of those moments

don’t stay that way.


They pass.


And later,

you look back at them differently.


Lighter.

Less intense.

Sometimes even… funny.


Because perspective changes things.


And what feels big now

won’t always feel that way.


***

Jadilah orang yang tertawa terakhir.

Nanti di alam sana.


Ketika kebenaran terbuka seluruhnya.


Ketika semua pengorbanan dan penderitaan menjadi tak ada apa-apanya dibanding karunia yang didapatkan.


Ketika kesabaran kita menuai buah-buah kesabaran kita.


Biarkan mereka yang tak mengerti itu memandang kita kecil bahkan mengejek habis kita.


Biarkan mereka yang berbeda tujuan hidup itu mencap kita kurang sukses atau terbelakang. 


Jangan pedulikan pandangan manusia, karena hajat jiwa kita lebih kepada ridho-Nya, lebih peduli untuk membuat Allah senang.


Biarkan mereka tertawa sekarang dan kita yang tertawa terakhir nanti. Hanya seorang ulama berpesan, nanti kalau tertawa jangan terlalu keras, kasihan yang lain…

Tuesday, April 7, 2026

Ketika merasa kesepian

 Loneliness is an internal emotional state of disconnection, 

Not a measure of physical solitude.

***

Merasa kesepian itu tidak otomatis berkaitan dengan berada dalam situasi seorang diri. Karena banyak kasus, orang merasa kesepian padahal justru sedang berada dalam kerumunan orang. Di tengah arisan yang pembicaraannya tidak pas, atau berada di tengah kumpul-kumpul atau pesta kantor yang garing rasanya.

Merasa kesepian juga tidak selalu terkait dengan menjomblo alias belum punya pasangan. Karena tidak sedikit orang yang merasa kesepian dalam kehidupan pernikahannya. Pasangan ada di sekitarnya secara fisik tapi terasa jauh sekali hatinya, bahkan di beberapa kasus keberadaannya mengakibatkan munculnya ketidaknyamanan dan rasa tidak aman. 

Here's what i've learned about loneliness. 

It all begins with ourselves. 

Kesepian yang kita rasakan adalah sebuah konsekuensi ketika kita sedang disconnect dengan diri kita sendiri. Jelas sedang disconnect dengan Sang Pencipta. Karenanya tidak ada flow yang mengalir. Mirip seperti handphone yang kehilangan koneksi internet, tidak ada yang bisa didownload pun tidak ada yang bisa di-upload. Kita kehilangan kontak dengan aliran semesta pada saat kita merasa kesepian. Merasa sesak dan sedih padahal kita tengah dikelilingi oleh sekian banyak nikmat dan keajaiban dari-Nya. Tapi ya itu, karena ngga connect jadinya semua itu tidak dipersepsi dan tidak dirasakan. 

Dzikir itu upaya untuk connect lagi dengan Sang Maha Pencipta. Dengannya otomatis Dia akan membuat kita connect dengan diri dan sekitar kita. Itu urutannya. Jangan dibalik. Jadi ihwal wabah loneliness ini tak lain dari penyakit spiritual ketika kita berjarak dengan-Nya. Karena kalau kita sering kontak hati dengan-Nya sudah dijamin oleh Allah dalam QS Ar Ra'd:28

"...hanya dengan dzikr (mengingat/ connect) dengan Allah hati menjadi tenteram" 

Jadi, manakala kesepian menyergap, jangan panik. Ambil wudhu, gelar sajadah, lantunkan munajat kepada-Nya dan rasakan aliran ketersambungan itu kembali. Insya Allah 


Amsterdam, musim semi yang cerah, 7 April 2026 jam 11.29






Sunday, April 5, 2026

Take the risks son

 Take risks son, if you made it, you will be satisfied ; if you lose, you will be wise. 


And here’s what i’ve learned form life; that we are more likely to regret risks not taken, rather than mistakes made from taking action. 


So yes, take the step, even when you have to rise up againts the odds. As long as you have a nod from Allah, just go. Even if it seemingly doesn't work out, but trust me, it is still considered a better experience than the lingering doubt caused by never trying.


Amsterdam, 5 April 2026 on easter day in a windy and cold spring day




Saturday, April 4, 2026

Bertumbuh dalam ketidaknyamanan hidup

 Comfort is the enemy of achievement. So, instead of viewing discomfort as a sign to stop, see it as a signal that you are learning and developing. View challenges as necessary steps toward mastery, allowing you to build resilience and self-soothe when things get tough.

***

Kadang, bayangan kita akan hidup bahagia adalah kehidupan yang semuanya lancar dan nyaris tanpa masalah. Masalahnya, kalau itu yang dijadikan sebagai patokan, kelihatannya para nabi itu orang-orang yang hidupnya “ngga happy” gitu? Padahal mereka adalah golongan tertinggi dalam kategori ahlul nikmah (QS An Nisaa:69), orang-orang yang diliputi nikmat Allah, yang berada di shiraathal mustaqiim. Jalan keselamatan dan kebahagiaan yang kita minta setiap shalat. Di saat yang sama, coba perhatikan kisah hidup para nabi itu tidak mudah sama sekali. Medan konflik yang mereka hadapi besar, ngga sebanding banget sama kita pokoknya. Bagaimana Musa as harus menghadapi umatnya yang ngeyel, bagaimana Nuh as harus menyaksikan anaknya ditelan ombak dan tak diselamatkan, bagaimana Ayub as bersabar mendera sakit dan kehilangan banyak hal, bagaimana Rasulullah SAW lahir tanpa merasakan sentuhan tangan ayahanda dan sudah berpisah dengan ibunya sejak usia persusuan hingga tak lama kemufian ibunya tiada dan beliau harus hidup prihatin.

Lantas, kalau kita menilai kebahagiaan dari fenomena hidup yang nyaman tidak akan masuk hitungan bahagia tuh semua kehidupan paea nabi itu, padahal yakin mereka adalah orang-orang yang paling bersyukur dan berserah diri di antara para umatnya, yang demikian pasti orang yang paling bahagia. Karena mereka kebahagiaannya bertumpu pada Allah, bersandar pada mengerjakan karsa Yang Maha Kuasa, sang Arbbul ‘alamiin yang sudah membeli jiwa dan semua hartanya dengan surga.

Maka jangan berkecil hati ketika takdir kehidupan menyuguhkan sekian menu masalah dan ujian. Bahkan yang tampaknya mewujud sebagai sebuah tragedi di mata kebanyakan manusia, itu bisa jadi adalah rahmat Allah. Agar kita dit uhkan di dunia ini. Agar dibersihkan dari segala hal yang tidak haq. Agar dipersiapkan untuk menjelang kehidupan akhirat yang lebih panjang. Lebih baik mendera kepayahan sebentar di dunia ini dibanding harus membayar semuanya nanti, di alam yang jauh lebih panjang perjalanannya dan lebih berat konsekuensinya.

Belajarlah merasa nyaman untuk keluar dari comfort zone. Memang menakutkan di awal waktu, tapi kalau kita tawakalnya kuat pada Allah, sunggug Dia tak pernah mengecewakan hamba yang bersandar betul kepada-Nya.


Amsterdam, Sabtu pagi di musim semi yang cerah, 4 April 2026 10.43 am


Monday, March 30, 2026

Conflict avoidant in relationship

 Any relationship is not easy. Membangun hubungan dengan siapapun adalah hal yang banyak tantangannya. Karena dua dunia berinterkasi, dua alam pikiran yang berbeda, dua keinginan yang tidak selalu sinkron, dua sifat yang beragam, sementara komunikasi seringkali sangat terbatas dan terbata-bata untuk menyampaikan apa yang sebenarnya dimaksudkan. Kalaupun sudah benar disampaikan, belum tentu pihak laiin bisa menerima dengan benar. Very, very complex alias ribet. 

Makanya dalam berinteraksi dengan orang lain, konflik adalah hal yang tak terelakkan, entah itu dengan pasangan, orang tua, mertua, anak, adik, kakak, tetangga, rekan kerja bahkan kadang interaksi yang sulit dengan abang bakso yang gagal memahami orderan kita apa. 

Sejak kecil, modus saya kalau menghadapi konflik ya dengan melarikan diri, baik secara fisik keluar saja dari ruangan bahkan keluar dari rumah, atau diam, stonewalling, menembok diri dari segala  hal yang masuk, demi melindungi diri sendiri. I became a conflict avoidant. Belum pernah belajar bagaimana caranya mengatasi konflik. Dan tidak belajar baik bahwa konflik itu wajar dan bukan akhir dari sebuah hubungan. 

Setelah saya bekerja atau berumah tangga, khususnya, respon saya yang selalu melarikan diri dari konflik dan tidak merasa nyaman dengannya itu menjadi tidak handy. Akhirnya kalau ada perseteruan dengan boss, saya cenderung mundur atau resign. Kalau ada konflik atau perseteruan dengan pasangan, dikit-dikit berpikir untuk berpisah. It's not sustainable. Lelah juga punya respon hidup seperti ini. 

Now i learn to sit with the pain.

Sekarang saya belajar bahwa ketidaknyamanan, kekecewaan dan konflik adalah bagian dari sebuah interaksi dengan manusia. Artinya kalau itu terjadi, let's work it through and stay with it. Bukan langsung jump into concusion, oh it doen't work and bye bye. Kita tidak akan belajar apa-apa kalau setiap kali ada kesulitan menjelang lalu kita melarikan diri. 

Ada doa yang indah terkait hal ini dalam Al Quran surat Al Isra: 80

rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqiw wa akhrijnī mukhraja ṣidqiw waj'al lī mil ladungka sulṭānan naṣīrā

 "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar (shidiq) dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong."

Jadi yang mestinya kita ambil dari semua pengalaman dalam berinteraksi dengan manusia adalah aspek haq, kebenaran disana yang harus kita raih. Sebab semuanya adalah ayat-ayat yang Allah tuliskan di semesta, agar kita makin mengenal kehidupan, makin paham siapa diri ini dan makin ma'rifat kepada Allah. []


Amsterdam, Senin, 30 Maret 2026 / 11 Syawal 1447




Saturday, March 28, 2026

Mensyukuri hadirnya malapetaka, penderitaan dan guncangan hidup

 "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga

Padahal belum datang kepadamu seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. 

Mereka ditimpa malapetaka (al ba'saa''), penderitaan (adh dharraa'u), dan diguncangkan (az zulzilu)

Sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?"

Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."

QS Al Baqarah [2]: 214

***

Al Quran adalah panduan dalam kehidupan. Jika kita merenungkan ayat ini, mestinya respon kita ketika menghadapi takdir berupa hal yang dipandang sebagai musibah atau malapetaka buat orang banyak, sebuah penderitaan atau sakit yang berkepanjangan maupun sakit secara fisik maupun lelah secara batin dan keguncangan dalam kehidupan berupa kehilangan sesuatu yang kita cintai, juga hal-hal yang berupa "life changing moment", bisa kita maknai berbeda. Bahwa itu bukan sebuah hal yang buruk sama sekali. Melainkan harga yang harus dibayar, latihan yang harus ditempuh dan proses pensucian yang harus dilakoni , agar kita masuk kategori sebagai ahli surga. 

Dan perhatikan bahwa lamanya masa untuk mendera itu semua bisa ditempuh sekian lama sampai-sampai para Rasul dan orang beriman bertanya "Kapankah wahai Allah pertolongan-Mu tiba? " "Kapan doaku dikabulkan?" "Kapan aku bisa keluar dari situasi ini?' 

Hidup betul-betul adalah untuk membangun keyakinan. Agar Dia Ta'ala menjadi semakin nyata buat kiat. Bukan sebagai Dzat Yang Maha Kuasa dan tak terjangkau. Memang Dia laisa kamitslihi syaiún, tidak bisa diperumpamakan dengan sesuatu apapun, tapi Dia pun cinta ingin dikenal. Dan Dia akan datang ketika manusia butuh pertolongan. Maka kita harus sadar bahwa manusia itu selalu dalam keadaan fakir atau membutuhkan-Nya. Dan musibah adan segenap ujian kehidupan akan mengkondisikan kita jadi fakir. Jangan kecil hati dan putus asa, justru itu saat dimana Dia akan hadir memperkenalkan Dirinya lebih lanjut dan lebih dalam kepada kita. Akibatnya otomatis kita jadi lebih paham kenapa takdir-takdir tertentu tersebut mesti kita jalani. Akhirnya kita jadi lebih mensyukuri setiap nafas kehidupan. Insya Allah. 


Amsterdam, 28 Maret 2026, musim semi cerah berangin dingin, Sabtu, 28 Maret 2026

Tuesday, March 24, 2026

Agar seimbang dunia dan akhirat

 Do your duty. 

Handle your responsibility.

Just don’t let them hold your soul.

***

Hidup itu harus seimbang. Karena beragama bukan berarti mengabaikan aspek dunia kita. Justru sebaliknya, setiap takdir dunia yang ada itu adalah anak-anak tangga agar jiwa kita bisa (mi’raj) naik ke langit. 

Karenanya orang yang benar mendalami agamanya justru akan semakin mahir dalam mengatur urusan dunianya. Akan makin produktif, makin berprestasi dan makin menebarkan rahmat bagi sekitarnya.

Itulah fungsi kita di bumi ini. Agar menjadi khalifah-Nya, wakil Allah di bumi, yang menebarkan rahmat bagi alam semesta. Dan seorang abdi-Nya tidak akan pilih-pilih pekerjaan. Ia akan bersuka cita dengan semua bentuk takdir yang ada. Menyadari bahwa semua yang ada adalah dari-Nya yang dia sambut dengan adab yang baik dan sepenuh penghadapan wajah. 

Amsterdam, 24 Maret 2026 

Sore hari jelang antar Rumi extra les biola, 15.22 

Live another day. Live it fully!

 Memasuki konflik perang Iran vs Israel-Amerika di minggu kedua. Di era internet ini kita bisa menyaksikan berbagai video yang diunggah ke sosial media tentang situasi harian di daerah konflik. Satu video yang membuat saya menuliskan ini adalah rekaman yang menggambarkan bagaimana seorang perempuan terus berdzikir menyebut Allah di tengah gempuran rudal yang salah satunya mengenai dirinya dan menjadikan itu akhir dari video yang sempat terekam, masih terdengar suara nafas jelang sakaratul mautnya. Sangat mengerikan.

Perang zaman sekarang berbeda, semua senjata penghancur dikendalikan dari jarak jauh dengan saya hancur yang besar yang membuat kita nyaris tak punya tempat berlindung. Artinya bagi mereka yang tinggal di daerah konflik setiap saat waspada apakah kali ini rudal dan drone-drone penghancur itu menimpa mereka. Bayangkan jika kita hidup seperti itu, setiap saat bersiap mati. Dimana kematian menjadi pemandangan keseharian di sekitar kita. Tentu tak akan berangan-angan panjang. Boro-boro memikirkan pendidikan, ambisi, angan-angan, membangun bisnis dll. Uang, emas dan semua harta bahkan kalau bisa ditukar dengan lima menit saja jaminan keselamatan terhindar dari ledakan bom. 

Hidup kita berubah saat berhadapan dengan kematian. Prioritas hidup kita bergeser. Apa-apa yang sebelumnya dianggap penting menjadi relatif tak berguna. Di saat itu kita sebenarnya menjadi menyadari hal yang paling penting yang sering kita lupakan di masa damai dan tenang. Sesuatu yang akan menjamin kehidupan kita bahkan setelah nyawa meninggalkan raga ini. Bahwa ternyata hidup tidak berakhir dengan kematian jasad. Bahwa kehidupan akhirat mestinya menjadi orientasi kehidupan kita saat di dunia. Kita jadi lebih menghargai nilai satu tarikan nafas kita. Jadi lebih mengagungkan Dia yang memberikan semua nikmat ini kepada ciptaan-Nya. Selagi kita dibuat damai situasinya, mari berbekal yang banyak. Live our life fully, day by day. Agar tidak menyesal nanti…


Amsterdam, Selasa 10.27 pagi

24 Maret 2026 / 5 Syawwal 1447 H

Monday, March 23, 2026

Ketika ibu memutuskan bunuh diri

“Live today because tomorrow is not promised…”


 Saya memutuskan memiliki tato ini sehari setelah ibu saya bunuh diri. We didn’t saw it coming. Kejadiannya cepat dan tiba-tiba. Ibu adalah orang yang sangat aktif dan tidak bisa diam, selalu saja ada hal yang beliau kerjakan. Maka ketika ibu terserang stroke yang membuat separuh badannya lumpuh dan sulit untuk berkata-kata, beliau menjadi sangat terpukul karenanya. Dua bulan setelah menjalani terapi, suatu hari tetangga menemukannya gantung diri dengan menggunakan kain-kain yang dibelitkan di lehernya. Kain-kain yang biasanya dia pakai untuk membuat berbagai pakaian untuk menyalurkan bakat kreativitasnya. Kain itu dililitkan sembilan putaran di lehernya, sebanyak jumlah anak-anaknya yang sembilan orang itu.


Saya masih berusia remaja saat itu terjadi. Setiap anak-anaknya berusaha menjalani hidup dengan terhuyung-huyung setelah itu. Banyak yang mencari pertolongan ke terapis. Adapun aku, aku menjadi berkelana dari satu agama ke agama yang lain. Aku ke gereja, ke mesjid, ke kuil, untuk mencari jawaban atas pertanyaan, “Mengapa ibuku ya Tuhan?”


Sejak saat itu saya sadar bahwa hidup demikian rapuh. One day we have everything and the next day it’s gone. Apapun yang kita miliki dan nikmati bisa hilang dalam waktu sekejap. Maka saya cenderung hidup di saat ini. Di hari ini. Karena besok belum tentu datang.

- Dari bincang malam di restaurant, Amsterdam, Senin 23 Maret 2026 dini hari 




Thursday, March 19, 2026

Anakku Cahaya Mataku

 You’re amazing Rumi.

I’m so grateful for you.

😍

Mama tahu Rumi masih ngantuk dan lelah setelah beraktivitas seharian, tapi Rumi tetap bersikukuh makan sahur. “Sunnah Rasul” katamu dengan yakin.

Walaupun mata masih merem-melek karena masih mengantuk. Perlahan tapi pasti Rumi mengunyah protein bar dan kurma, makanan favoritmu.


Ketika adzan shubuh tiba. Tubuh mungilmu dengan cekatan mengambil air wudhu dan melakukan shalat bersama mama. Namun setelah dzikir, di saat Mama pikir Rumi akan tidur lagi, kau memilih langkah mengambil Al Quran yang kau simpan rapi di bagian atas rak buku, sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Setelah sebelumnya memeluk dan mencium Al Quran, Rumi duduk membacanya dengan syahdu.


Sungguh sebuah pemandangan yang menyejukkan hati. Cahaya mata Mama.


Alhamdulillah. Semoga Allah menjaga fitrahmu dan menjadikanmu anak shalih.


Love,

Mama


Jelang akhir Ramadhan 1447 H




Monday, March 16, 2026

Kita tak sadar telah membunuh anak kita

 Ada penggal sesjarah memilukan di zaman Nabi Elisha a.s. - yang menerima mandat kenabian setelah Nabi llyas (Elijah/Elia) a.s. Kisah ini terjadi di masa pemerintahan Raja Yoram, raja Bani Israil yang tidak patuh sehingga rakyatnya diuji dengan kekeringan dan tidak tersedia bahan makanan dalam kurun waktu yang lama. Sebuah kondisi kelaparan yang luar biasa mematikan sehingga orang bisa terpaksa memakan daging manusia untuk sekadar bertahan hidup. 

Dikisahkan ada dua orang ibu yang masing-masing memiliki satu anak yang dalam kondisi menderita kelaparan yang sangat sedemikian rupa sehingga dua ibu itu mengambil keputusan yang musykil yaitu dengan mengorbankan kedua anaknya agar bisa bertahan hidup. Sebuah kisah yang membuat kita menggelengkan kepala tak pecaya, kok bisa seorang ibu tega berbuat itu kepada anaknya? Tapi kalau kita berada dalam kondisi mereka, belum tentu juga kita tidak melakukan hal yang sama. So better no judging, lebih baik kita berlindung kepada Allah dari hal seperti itu. 

Kita bisa merasa kaget dan bahkan jijik membaca kisah di atas. Tapi kita mungkin tidak sadar bahwa kita pun punya potensi untuk membunuh anak-anak kita sendiri? Mungkin tidak membunuh secara fisik, tapi jiwanya dilumpuhkan sedemikian rupa hingga tak berdaya dan dia hidup tidak menjadi dirinya sendiri. 

Kita bisa jadi membunuh jiwa anak kita ketika memaksakan dia mengambil jurusan kuliah yang tidak pas dengan potensi jiwanya, hanya karena jurusan itu tampak keren dan sepertinya lebih menjanjikan masa depan yang cerah. 

Kita bisa jadi memberangus jiwa anak kita ketika memaksanya menikahi seseorang yang bukan jodoh pilihan Allah, semata-mata karena untuk mendapatkan kemuliaan di depan masyarakat. 

Kita bisa jadi melumpuhkan potensi jiwa anak kita ketika tidak menyiraminya dengan cinta kasih tapi penuh dengan kekerasan bahkan kebencian. 

Kita memang tertatih-tatih dan tak berdaya untuk memegang amanah besar untuk menumbuhkan seorang jiwa manusia. Hanya Allah yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, karenanya tak ada jalan lain kecuali banyak-banyak berdoa dan memohon pertolongan, kekuatan dan bimbingan kepada Allah Sang Maha Pencipta agar kita benar dalam menjalankan fungsi hidup sebagai orang tua.[]

Amsterdam, 16 Maret 2026 waktu ashar di musim semi yang cerah.

 

Saat kita dibuat tak berdaya

 Yahya a.s. lahir melalui ketekunan, kegigihan dan kesabaran ayahnya, sang Nabi Zakariya a.s. yang dengan rela menanti puluhan tahun sejak janji Allah diberitakan bahwa ia akan diberi keturunan yang banyak hingga pada hari ketika ketetapan itu turun di saat ia dan istrinya sudah berusia senja. Di masa yang musykil untuk mendapatkan keturunan. Karenanya ketika berita itu akhirnya turun, bahwa anak yang dinantikan akan segera didapat, Zakariya sempat meragukannya. Sesuatu yang oleh Allah kemudian dihukumi dengan menjadi bisu selama penantian kelahiran anaknya. 

Masa penantian dan kebisuan adalah periode ketika hidup dibuat sunyi. Seolah tak ada gerakan. Padahal justru banyak hal yang tumbuh dalam kesunyian. Dan Allah justru seringkali mengilhamkan sesuatu ke dalam hati hamba-hamba-Nya tidak melalui kata-kata verbal. Ia seperti embun pagi yang menetes dan membasahi permukaan hati hingga menyerap dan membawa kesegaran tertentu, sebuah pemahaman, cara pandang yang baru tentang takdir kehidupan kita masing-masing.

Tak ada yang perlu disesali dalam hidup. Semua ketidakberdayaan, masa penantian, dan ketika semua pintu kesempatan seolah tertutup rapat, sadarilah kita sedang dalam kondisi didiamkan. Saat semua pintu dunia ditutup itulah saat pintu langit akan terbuka dan kita akan mengenal Dia dengan pengenalan yang jauh lebih indah. Sebuah makrifat yang tak diajarkan oleh satu buku atau satu guru manapun, karena Dia yang langsung mengajarkan dengan memperkenalkan Diri-Nya kepada kita. 

So, be happy for the silence period, for silence is the language of God and all else is poor translation.

Amsterdam, 16 Maret 2027 / jelang malam 27 Ramadhan 1447 H



Belajar menelan rasa sakit

 I know it’s painful. But it is exactly what your soul needed to grow. So endure it. Finds hope in the promise of future glory rather than current circumstances.

***

Ingat, hidup kita masih panjang. 

Kematian dari alam dunia ini adalah gerbang perpindahan ke alam lain yang lebih abadi. Oleh karenanya Allah mengutus rasul-rasul ke muka bumi ini untuk mengingatkan akan hal itu. Bahwa hidup kita ada orientasinya. Bahwa takdir yang sudah Allah tetapkan itu ada tujuannya. Agar kita tidak kehilangan arah dalam hidup. Agar kita tidak salah dalam menyusun prioritas. 

Mendera rasa sakit adalah bagian dari pertumbuhan jiwa. It’s a growing pain. Sesuatu yang raga kita juga rasakan ketika ia harus bertumbuh. Dan rasa sakit bukanlah hal yang buruk, ia salah satu dari hal-hal yang Allah pergantikan. Ia menjadi buruk ketika pikiran kita melabelinya sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Padahal kebahagiaan bagi orang beriman hanyalah bersama dengan Tuhannya. Lantas, apakah ada satu noktah takdir kehidupan yang sama sekali bukan berasal dari-Nya dan Dia tidak terlibat di dalamnya?

Sama sekali tidak ada. Karena Dia meliputi segala sesuatu.

Tentang menyikapi dunia ini Syaikh Abdul Qadir Jailani berpesan,

“Dunia ini ada gantinya, yaitu akhirat.

Dan makhluk itu ada gantinya, yaitu Al Khaliq SWT.

Setiap kali kamu meninggalkan sesuatu dari dunia ini, maka akan diciptakan ganti yang lebih baik.”


Amsterdam, 16 Maret 2026 / 27 Ramadhan 1447 H

Sunny day at spring time, 10.34 am

Saturday, March 14, 2026

Hidup itu jalani saja dengan bersyukur

 Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepadamu!

Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi?

Tidak ada Tuhan selain Dia.

Lalu bagaimana kamu dapat dipalingkan (dari ketauhidan)?

Quran Fathiir [35]:3


Kita lahir ke dunia ini kan tidak bisa pilih lahir kapan, lewat orang tua yang mana, dalam kendaraan raga yang seperti apa. Artinya semua sudah diaturkan oleh Sang Maha Pencipta. Dan yang diaturkan secra presisi itu tidak hanya tentang kelahiran kita tapi semua takdir yang akan dijalani hingga akhir masa. Mestinya kesadaran ini membuat kita tenang menjalani hidup, karena meyakini bahwa pengaturan-Nya adalah yang terbaik. Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu asal-asalan. Dia itu Dzat Yang selalu all-out  memberikan yang terbaik. Selalu! Jangan ragukan itu. Masalahnya pemahaman kita yang dangkal yang membuat kita masih tertatih-tatih untuk melihat dimana kebaikan dari ketetapan-Nya itu. 

Karenanya sejak awal kita diajak untuk "Iqra". Baca Al Quran, Baca Kitab kehidupan. Baca kitab diri kita. Dan yang namanya membaca itu proses yang aktif, bukan sekadar mengeja huruf tanpa makna. Sejauh mana kita meraih makna akan seiring dengan pertumbuhan akal di dalam diri kita, baik itu akal jasadiyah apalagi akal jiwa yang rentangnya sejauh tujuh lapis langit mulai dari fuád hingga lubb. 

Mulai dari menerima dan mensyukuri takdir yang ada dari saat ke saat. Itu pun sudah banyak yang gagal dalam melakukannya karena tertarik oleh godaan syaithan dari depan, belakang, kiri dan kanan, sedemikian rupa sehingga kita tidak bersyukur di titik itu. 

Hidup itu mengalir saja dari titik ke titik. Dari satu waktu shalat ke waktu shalat lain. Terima sambil asyik menjalaninya, karena sungguh kita tengah berselancar di aliran takdir kehidupan yang merupakan kekaryaan luar biasa dari Sang Maha Pencipta, Allah abbul 'alamiin. []

Amsterdam, Sabtu 14 Maret 2026 / 25 Ramadhan 1447 H pukul 16.41 sore di musim semi yang masih dingin dan mendung

Menanti berbuka bersama my shaum and sahoor buddy, Rumi :)



Thursday, March 12, 2026

Live your life, dear son!

 Dear my son,


Live your life wholeheartedly for Allah. 

Don’t hold back. For even failures and feeling of being inadequate is essential part to live a wholehearted life. Because wholeheartedness is not just about perfection, but also to embrace your own flaws and vulnerabilities. That it is okay to be not okay. Just keep going. But be present and engaged.

Don’t just go through life but grow through it.

You’re gonna make it bud, insya Allah.


Love,

Mama


21 Ramadhan 1447 H

Watching you practice the 🎻 violin




Tuesday, March 10, 2026

Jangan panik, Allah menjamin rezeki kita

 Tidak ada satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)

QS Huud [11]:6

***

Ada sebuah kisah yang disampaikan oleh Syaikhul Akbar Ibnu Arabi tentang seekor cacing yang tinggal di  bagian yang sangat dalam di bumi dimana hampir tidak ada makhluk lain yang hidup di sana apalag tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi cacing ini bisa hidup lama dengan ketersediaan makanan yang ada di sekitarnya sehingga ia bertasbih dan memuji Allah yang tidak melupakannya. 

Ingat bahwa semua makhluk itu sudah Allah jamin rezekinya. Bayangkan kalau cacing yang ada di kedalaman bumi saja sudah terjamin rezekinya apalagi manusia, bahkan anak cucu kita. Semua sudah Allah aturkan. Maka tidak pada tempatnya mengkhawatirkan sesuatu yang sang Rabb - Sang Pemelihara semesta sudah aturkan. Khawatir masa depan atau takut kurang itu menunjukkan bahwa kita kurang percaya dan tipis keyakinannya kepada kemampuan pengaturan Sang Rabbul 'alamiin. Dia yang sudah mengatur alam semesta dan segenap kehidupan yang ada di dalamnya bahkan jauh sebelum umat manusia hadir di muka bumi ini. 

Jadi, jika suatu saat datang kekhawatiran dan keraguan, suara-suara dalam diri yang berkata "Apa bisa aku menyekolahkan anak-anak?" "Apa bisa aku membayar ini?" "Apa bisa aku mandiri dalam usia pensiun ? ". Hentikan suara-suara itu seketika itu juga, karena tidak produktif menyetel lagu-lau cengeng seperti itu dalam pikiran kita, bahkan membuat keruh cermin hati. Lebih baik dzikir dan banyak-banyak istighfar agar keyakinan kita semakin kuat adan rezeki akan mengalir dengan sendirinya, karena sungguh yang menghalangi hadirnya rezeki kita justru karena dosa-dosa dalam diri itu. Astaghfirullahládziim

Amsterdam,  Selasa 10 Maret 2026 - jelang malam ke-21 Ramadhan di musim semi yang mendung dan dingin, pukul 14.29 bersiap mengantar Rumi les biola tambahan dengan Meester Bart




Saturday, March 7, 2026

Belajar terang dalam hidup

 "You were born with wings, why prefer to crawl through life?"

- Jalaluddin Rumi

***

Manusia lupa bahwa ia lebih dari sekadar aspek jasadiyah yang dirawat dan diandalkan sehari-hari. 

Manusia lupa bahwa hakikat dia yang sejati adalah jiwanya (nafs). 

Manusia lupa bahwa sebelum dia terlahir di dunia, jiwanya sudah hidup lebih dulu dan bersaksi di Alam Alastu, 

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap jiwa-jiwa mereka sendiri (anfusakum), "Bukankah Aku ini Rabbmu?" (Alastu birabbikum)? Mereka menjawab, "Betul, kami bersaksi" (balaa syahidna). Agar pada hari kiamat kamu (tidak) mengatakan "Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini."

QS Al A'raaf [7]:172

Kita lupa bahwa jiwa kita mempunyai akal yang bisa menangkap dan memahami hal-hal yang lebih dalam serta hikmah di balik aliran takdir kehidupannya. Itulah yang digambarkan memiliki sayap. Fungsi sayap adalah untuk terbang, agar tidak hanya bergeser dari satu permukaan bumi ke permukaan bumi lainnya dan kehilangan orientasi kehidupan. Manusia pasti akan merasa kelelahan jika merespon segala dinamika kehidupan dengan segenap solusi horizontal, karena itu area bermainnya Iblis, dia hanya diberi kuasa oleh Allah untuk memainkan empat penjuru horizontal manusia. 

"Kemudian pasti aku (iblis) akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur"

QS Al A'raaf:17

Manusia lupa bahwa hidup di dunia itu lebih dari sekadar mampir sejenak dan membangun mimpi indah untuk kemudian berpisah dengan semua yang dicintai dan dikumpulkan seumur hidup itu. 

Manusia lupa bahwa kehidupan di dunia hanya jembatan dari satu alam ke alam lain. Dan seperti Nabi Isa Almasih katakan bahwa dunia bagaikan jembatan, tidak ada yang membangun rumah di atas jembatan. Kita semua hanya berada sementara disini untuk belajar, mengumpulkan bekal dan membangun keyakinan. 

Manusia lupa kalau dirinya punya sayap yang bisa mengakses aspek langit dari segala sesuatunya. Agar komponen langitnya tegak di atas tanah yang tengah dia pijak. Sebagaimana burung yang belajar untuk terbang, hal yang pertama dia harus tempuh adalah kesadaran bahwa dirinya punya sayap yang otomatis akan dikembangkan saat dia terjatuh dari ketinggian. Itu kenapa bayi-bayi belajar terbang dengan didorong atau difasilitasi oleh orang tuanya melakukan free fall, terjun dari ketinggian. 

Kadang dalam hidup, kita pun "dijatuhkan" sedemikian rupa. Entah bisnis bangkrut, rumah tangga hancur, rencana berantakan, harapan yang musnah dsb. Allah punya seribu satu cara untuk mentransformasi hamba-Nya. Jika kita sedang "terjatuh", sadarilah bahwa itu justru sebuah rahmat agar potensi Ilahiyah kita menjadi teraktivasi. Agar jiwa kita menjadi bangun dan mulai belajar membaca kehidupan (iqra). Supaya mengenal siapa dia, sang Rabb. Dan sungguh tidak ada hal yang lebih jiwa kita cintai kecuali bertambahnya ma'rifat kepada Sang Pencipta.

Amsterdam, Sabtu 7 Maret 2026 / 18 Ramadhan 1447 H

Jam 22.07 , saat off kerja di musim semi yang kembali dingin di tengah proses finalisasi