Monday, March 2, 2015

Hak-Hak Istri



Hak-hak istri atas suami sangat banyak, di antaranya suami harus memperlakukan mereka dengan akhlak yang baik, menerima dengan sabar perlakuan mereka yang menyakitkan, dan menyayangi mereka atas kekurangan akalnya. Allah SWT berfirman:

Pergaulilah mereka dengan baik (QS An Nisaa’ [4]: 19)

Lalu, mengenai besarnya hak mereka, Allah berfirman:

Mereka telah mengambil dari kalian perjanjian yang teguh (QS An Nisaa’ [4]: 21)

Teman dalam perjalanan (QS An Nisaa’ [4]: 36)

Perempuan termasuk salah satu dari tiga hal yang diwasiatkan Rasulullah saw. Sesaat sebelum meninggal beliau berwasiat, “Jagalah shalat. Perhatikan budak yang kalian miliki, janganlah mereka diberi beban di luar kesanggupannya. Bertakwalah kalian dalam menghadapi perempuan; mereka adalah tawanan yang berada dalam kekuasaan kalian; kalian telah menahannya dengan amanat Allah dan telah menghalalkan alat kelaminnya dengan kalimat Allah.”

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa bersabar atas keburukan akhlak istrinya, Allah akan memberikan pahala sebagaimana pahala yang diberikannya kepada Nabi Ayub a.s. atas kesabarannya menanggung ujian.”

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang bersabar atas keburukan akhlak suaminya, Allah akan memberinya pahala sebagaimana pahala yang diberikan kepada Asiyah istri Fir’aun.”

Yang termasuk akhlak baik seorang suami adalah bersikap sabar atas perbuatan istrinya yang menyakitkan, bukan menjauhinya. Lalu, bersifat lembut atas kecerobohan dan kemarahan mereka dalam rangka meneladani sunnah Rasulullah saw. Beliau pun biasa bersabar menghadapi kecerewetan dan bantahan istri-istrinya, sehingga salah seorang dari mereka tidak mau berbicara kepada beliau sampai sehari semalam.

Istri Umar bin Khaththab pada suatu hari membantahnya, Umar berkata, “Sungguh berani engkau membantahku!”
Istri Umar berkata, “Istri-istri Rasulullah saw pun membantah beliau, padahal beliau lebih baik darimu.”
Umar berkata, “Sungguh celaka Hafshah, jika ia pun membantah Rasulullah saw.”
Lalu Umar berkata kepada Hafshah, “Janganlah kamu terhasut oleh A’isyah. Ia adalah kecintaan beliau dan perempuan yang sangat ditakuti bantahannya.”

Diriwayatkan, A’isyah membantah Rasulullah saw. Ibu A’isyah tentu saja marah melihat perilaku putrinya itu terhadap Nabi saw. Namun, Rasulullah saw bersabda, “Biarkanlah, karena ia ingin melampiaskannya lebih banyak lagi.”
Ketika itu, masuklah Abu Bakar. Lalu Rasulullah saw memintanya untuk menengahi persoalan mereka. Beliau berkata kepada A’isyah. “Siapa yang akan berbicara terlebih dahulu, engkau atau aku?”
A’isyah berkata, “Silahkan, namun Anda jangan mengatakan kecuali yang sebenarnya.”
Melihat sikap A’isyah seperti itu kepada Rasulullah saw, Abu Bakar menempelengnya hingga mulut A’isyah berdarah. Lalu Rasulullah saw menarik A’isyah ke belakang punggungnya sambil berkata kepada Abu Bakar, “Bukan untuk hal ini kami mengundang anda. Kami pun tidak berharap anda melakukan hal ini.”

Pada suatu waktu, A’isyah marah-marah kepada Rasulullah saw, sehingga ia berbicara di luar batas, “Engkaukah yang mengaku seorang Nabi?”
Mendengar perkataan A’isyah, beliau hanya tersenyum dengan penuh kesabaran. Lalu, beliau bersabda, “Aku tahu saat engkau marah dan saat engkau ridha.”
A’isyah berkata, “Bagaimana engkau mengetahui hal itu?”
“Jika engkau ridha, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad.’ Akan tetapi jika engkau marah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’” Jawab Rasulullah saw.
Lantas A’isyah berkata, “Engkau benar. Aku memang menghindari namamu bila sedang marah.”

Rasulullah saw berkata kepada A’isyah, “Aku bagimu seperti Abu Zar’in kepada Ummu Zar’in. Hanya saja aku tidak menceraikanmu.”

Rasulullah saw pernah berkata kepada para istrinya, “Janganlah kalian menyakiti aku disebabkan A’isyah, karena demi Allah, tidak turun wahyu Allah kecuali saat aku sedang berada di samping A’isyah.”

Anas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw adalah orang yang sangat berkasih sayang terhadap kaum perempuan dan anak-anak. Diantara sifat kasih sayangnya, beliau bersabar atas gangguan mereka, bermain dan bersenda gurau sehingga menyenangkan mereka.
Beliau pernah berlomba lari dengan A’isyah. Pada suatu saat, A’isyah memenangkan pertandingan itu, dan pada saat lainnya beliaulah yang memenangkannya. Lalu beliau bersabda, “Kemenanganku kali ini untuk menebus kekalahanku tempo hari.”

Rasulullah saw adalah orang yang dapat menyenangkan istri-istrinya. A’isyah bercerita bahwa pada suatu hari ia mendengar suara orang-orang Habasyah sedang mengadakan suatu permainan pada hari ‘Asyura. Rasulullah saw lantas berkata kepadanya, “Apakah engkau ingin melihat permainan mereka?”
“Ya,” jawab A’isyah.
Kemudian beliau memanggil mereka agar bermain di dekat rumahnya. Setelah itu beliau berdiri di antara dua pintu lalu memanjangkan tangannya.
“Aku berdiri sambil menyandarkan daguku ke tangan beliau sehingga aku dapat melihat permainan mereka,” kata A’isyah.
Beliau lalu berkata, “A’isyah, sudah cukup?”
“Sebentar lagi, dua atau tiga kali lagi,” kata A’isyah.
Beberapa lama berselang, beliau bertanya,  “A’isyah, sudah cukup?”
“Ya, sudah cukup,” jawab A’isyah.
Lalu beliau memberi isyarat kepada orang-orang Habasyah itu agar mengakhiri permainannya. Mereka pun kemudian berlalu. Rasulullah saw bersabda, “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan yang paling lembut kepada keluarganya.”

Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling baik dari kalian adalah yang paling baik kepada istrinya, dan akulah yang paling baik kepada istriku.”

Umar r.a. yang terkenal akan kekerasan wataknya berkata bahwa seorang laki-laki harus bersikap seperti seorang anak dalam keluarganya. Namun, jika mereka meminta pertolongan, ia tampil sebagai seorang laki-laki sejati.

Luqman al Hakim juga berkata bahwa seorang suami harus bersikap seperti seorang anak kecil dalam keluarganya. Namun, di tengah kaumnya ia tampil sebagai seorang laki-laki sejati.

Dalam Tafsir al Khabar al Marwi, dikatakan bahwa Allah sangat membenci seorang suami yang berwatak keras dan sombong dalam keluarganya.

Seorang perempuan Arab menyifati suaminya yang sudah demikian sbb:
“Demi Allah, suamiku adalah seorang periang, jika ada di rumah. Seorang pendiam jika pergi ke luar. Ia mau makan apa saja tanpa bertanya-tanya tentang sesuatu yang tidak ada. Ia senang bersenda gurau dan baik akhlaknya, namun ia tidak berbuat sesuatu yang dapat menjatuhkan wibawanya.”

Al Hasan berkata bahwa tidaklah seorang suami menuruti kemauan hawa nafsu istrinya kecuali Allah pasti memasukkannya ke dalam neraka.
Umar r.a berkata, “Janganlah kalian menuruti kemauan hawa nafsu istri kalian agar mendapat berkah.”

Dikatakan, ada saat untuk bermusyawarah dengan istri dan ada saat untuk menolak keinginan mereka. Rasulullah saw bersabda, “Celakalah seorang suami yang menjadi budak istrinya.”
Yang beliau maksud adalah jika seorang suami menuruti hawa nafsu istrinya, berarti ia menjadi budaknya. Ia dikatakan celaka, karena ia telah memutarbalikkan hak yang telah diberikan oleh Allah.
Allah telah memberi kekuasaan kepada suami untuk mengatur istrinya, bukan sebaliknya.
Jika terjadi demikian, sebenarnya ia telah mengikuti jejak setan, sebagaimana firman Allah SWT, (Setan berkata), “Mereka pasti akan kusuruh untuk mengubah makhluk ciptaan Allah (QS An Nisaa’ [4]: 119).


Hak seorang suami adalah ditaati oleh istrinya. Oleh karena itu, Allah menamai kaum laki-laki dengan al qawwamunaa a’laa an nisaa’, yaitu menjadi pemimpin kaum perempuan. Dalam ayat lain, Allah menamainya dengan sayyid, artinya tuan, sebagaimana firman-Nya: Mereka berdua (Yusuf dan Zulaikha) mendapati tuannya (suami Zulaikha) berada di muka pintu (QS Yusuf [12]: 25).

(Syaikh Abdul Qadir Jailani)

No comments:

Post a Comment