Tuesday, July 26, 2016

Cara Mempersiapkan Kematian

"Wahai guru, kematian adalah hal yang pasti datang menjemput setiap insan, lalu bagaimana sebaiknya kita mempersiapkan kedatangannya?"

"Anakku yang dirahmati Allah, kiranya Dia sedang melimpahkan sinar tauhidnya kepadamu karena tidak banyak manusia yang mengingat satu hal yang pasti merenggut mereka dari apapun yang tengah mereka kerjakan ini.

Manusia terbagi tiga golongan berdasarkan penyikapannya menghadapi kematian:

Ada yang acuh tidak mau tahu, ia seolah menutup telinga saat mendengar kabar tentang kematian. Jiwanya masih tertawan kuat oleh dunia, pikirannya masih terberati dengan kekhawatiran akan bagaimana kondisi orang-orang yang disayanginya jika ia tiada; kemana harus ia harus mendistribusikan kekayaannya, apa yang harus ditinggalkan untuk keluarganya. Pikirannya akan disibukkan sedemikian rupa oleh kepayahan mengurus dunia - padahal Allah Ta'ala sudah kadar sedemikian rupa - sehingga manakala maut datang menjemput lisannya akan sulit untuk mengucap "laa ilaaha ilallah" karena 'ilah-ilah'(tuhan-tuhan) selain Allah yang sedemikian mendominasi hatinya.

Ada golongan manusia yang telah mulai menempuh jalan pertaubatan. Kematian bagi mereka bagaikan bel yang berdentang keras sebagai pengingat bahwa kapal akan segera berlayar menuju kehidupan yang berikutnya, maka mereka bergegas banyak-banyak memohon ampun dan memperbaiki kehidupan mereka manakala mereka mengingatnya. Akan tetapi seringkali golongan yang kedua ini tenggelam dalam kesibukan waham dirinya masing-masing.

Ada pula golongan manusia yang benar-benar menantikan saat kematian sebagai momen berjumpa dengan Sang Kekasih. Mereka adalah orang-orang yang sudah mati sebelum mati, kehidupan mereka bagaikan orang yang jasadnya telah mati dan tengah dimandikan di tangan Sang Pencipta. Mereka sudah mati dari kehendak hawa nafsunya sehingga kehendaknya seirama dengan kehendak Allah, mereka adalah orang-orang yang dikatakan dalam hadits qudsi, Allah menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, sebagai gambaran hubungan yang demikian intim antara hamba dengan Rabbnya.

Anakku, engkau harus berjuang dalam kehidupan ini untuk menundukkan dirimu sendiri, ia adalah penghalang terbesar antara dirimu dengan Tuhanmu, Sang Pemilik kebahagiaan sejati. Caranya dengan menerima dan melakukan setiap amanah yang ada di tanganmu per hari ini dengan baik, dengan penyikapan yang baik lahir dan batin. Hanya dengan demikian maka benih yang ada dalam hatimu akan tumbuh berkembang dan pada saatnya menghasilkan buah-buahan yang akan menyenangkan Sang Penanam Benih. Demikianlah cara terbaik mempersiapkan menyambut saat kematian, saat perpindahan kita ke alam lain, dengan berjuang menumbuhkan benih diri dengan baik dan benar. Karena apabila dekat saat kematian sedangkan benih diri kita lalai untuk dipupuk dan disiram selama kurun waktu hidup yang diberikan sebelumnya, maka permohonanmu kepada Allah untuk menumbuhkan benih dalam waktu yang singkat akan sia-sia dan engkau akan kembali kepada-Nya dengan tangan hampa. Sungguh merugi. Maka bangkitlah anakku dari keterpurukanmu, singkirkan selimut kemalasanmu yang selama ini membalut dirimu, jadilah pejuang yang baik dalam kehidupan. Semoga Allah Ta'ala menolongmu. Aamiin."

No comments:

Post a Comment