Friday, July 22, 2016

Perempuan Bagai Tanah Bagi Sang Langit

Hati perempuan itu bagaikan bunga. Dia bisa lekas berkembang dengan indah dan jika kita memetiknya dengan hati-hati ia bisa menghasilkan wewangian. Namun jika ia diambil dengan serampangan dan meremasnya maka ia akan hancur dan tidak bisa mengeluarkan wangi intinya. Demikianlah hati seorang perempuan itu demikian halus dan sangat rentan.
Seorang laki-laki bisa menjadikan perempuan menjadi buruk bagaikan setan dan membuat sang pria sengsara atau seorang lelaki bisa merawat hari sang perempuan sedemikian rupa hingga ia mengeluarkan wewangian dirinya. Oleh karena itu saat seorang laki-laki mengambil perempuan menjadi istrinya, sang lelaki harus memiliki komponen sabar-syukur-tawakal juga berbagai sifat baik, cinta, kasih sayang, kelembutan dan kepemurahan. Saat seorang perempuan diperlakukan dengan baik maka ia akan berubah menjadi emas, itulah sebetulnya kekayaan utama seorang laki-laki. Sebaliknya jika laki-laki itu tidak bisa membimbing sang perempuan maka ia malah akan membawa kemiskinan (jiwa atau raga) dan kesengsaraan.
Adapun seorang perempuan berfungsi seperti tanah bagi sang langit. Sifat tanah itu tenang, menerima, dan menumbuhkan. Tanah itu bersifat merengkuh apapun yang ditaburkan di atasnya, baik atau buruk. Seorang perempuan harus menumbuhkan kemampuan untuk membaca kondisi suami, saat ia berangkat kerja, meraba perasaannya saat pulang ke rumah.
Kadang suami pulang ke rumah membawa sekian kekesalan yang timbul di tempat kerjanya. Ia akan pulang ke rumah dengan muka yang kusut dan melampiaskan kemarahannya kadang ke orang sekitarnya. Di sinilah istri sebagai tanah yang subur dan menyejukkan berfungsi menenangkannya. Raih dia, tenangkan dia dengan senyuman dan kata-kata manis. Jangan coba memberikan saran atau masukan pada saat suami sedang lelah, jangan pula mencoba memberikan koreksi bahkan saat kita pikir ia melakukan kesalahan yang nyata. Tunggu saat yang tepat untuk memberikan masukan atau saran, yaitu saat suami terlihat tenang dan rileks, upaya sebaik apapun yang dilakukan pada saat yang tidak tepat hanya akan menimbulkan hasil yang negatif.
Sungguh seorang perempuan bisa mengubah seorang laki-laki dari seorang bodoh menjadi pintar atau sebaliknya. Perempuan bagaikan pilar di keluarganya, jika pilarnya kuat maka kuat pula keluarga itu. Adapun kekuatan perempuan justru terletak pada kelembutannya, kasih sayangnya, empatinya, kesabarannya, keindahan akhlaknya, suaranya yang menenangkan dan ketelatenan luar biasa yang membuatnya dilimpahi amanah merawat anak-anak manusia.
Sehebat dan sepintar apapun seorang istri harus berendah hati kepada suaminya, bagaikan tanah yang menampung khazanah langit. Sesungguhnya Tuhan memberikan kemampuan kepada kaum perempuan untuk mengendalikan sifat laki-laki yang menggelora bagaikan gelombang laut seperti kekuatan, kebanggaan dan energinya yang menderu.Maka sebagaimana Tuhan telah menciptakan tanah untuk menghentikan lautan maka seluruh kekuatan laki-laki akan luruh di hadapan tanah yang tepat. Cinta sejati seorang perempuan yang bisa menaklukkan keperkasaan seorang laki-laki. Kelembutan seorang perempuan yang membuat laki-laki terikat kepadanya, melebihi keterikatan ia terhadap ibu dan anak-anaknya. Bahkan jika sifat sang laki-laki itu demikian buruk, kekuatan cinta akan bisa mengubahnya.
Jika masing-masing laki-laki dan perempuan mengerti peran dan fungsinya masing-masing dan berupaya sekuat tenaga untuk mengeluarkan potensi yang baik dari diri mereka masing-masing maka penyatuan keduanya akan menjadi cermin indah yang merefleksikan asma-asma Allah Ta'ala.
(Adaptasi dari "Marriage", Bawa Muhaiyyaddeen)

No comments:

Post a Comment