Tuesday, December 11, 2018

Saat bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran cepat saji saya baru paham bahwa proses membersihkan peralatan makan itu tidak sederhana. Ada tiga bak dari stainless steel untuk memproses alat makan kotor, satu bak paling ujung kanan diisi oleh campuran air dan larutan zat kimia tertentu untuk merendam peralatan makan yang diliputi oleh lemak tebal, semakin tebal lemaknya semakin lama direndam. Anda harus mengenakan sarung tangan khusus karena zat kimia ini kontan bikin telapak kulit tangan jadi kasar. Beberapa noda membandel malah harus digosok dengan sabut dengan kekasaran khusus, setelah itu disemprot dengan air panas tekanan tinggi lalu alat makan dimasukkan dalam dishwasher yang mencuci dengan air panas dan sabun sampai bersih. Bayangkan derita yang harus ditempuh oleh segenap peralatan makan untuk kembali bersih itu. Untungnya mereka makhluk yang manut, tidak diciptakan berkeluh kesah.

Dalam hidup kadang fokus kita hanya sejauh pada sabut kasar yang menggerus hati atau air panas yang disiram yang bikin hati mendidih. Jalannya bisa lewat mana saja, melalui pasangan atau mantan pasangan, kolega, sesama orang tua murid, orang tua, sengketa dengan saudara kandung sendiri, difitnah oleh teman dan banyak lagi.

Tapi kalau kita boleh berhenti sejenak dan bertanya, kenapa toh Allah izinkan juga semua itu terjadi? Bukankah Allah tidak akan seujung rambut pun menzalimi hamba-Nya? Jadi apa makna di balik semua peristiwa ini?

Inilah misteri kehidupan, sebuah ruang fakir bagi kita masing-masing untuk kembali berpaling kepada Dia Yang satu-satunya mengetahui solusi jitu, jalan keluar yang haq dari setiap permasalahan juga obat dari setiap kepedihan hati. Karena setiap masalah yang muncul sebenarnya tak lain dari ‘pasangan’ dari kerak membandel yang masih nangkring di hati kita masing-masing. Dan Dia bermaksud mensucikan hati kita semua agar kembali kepadanya dengan jiwa yang tenang*

Ihwal bersabar menanggung ujian dari pasangan kehidupan ini disebutkan oleh Jalaluddin Rumi sebagai berikut;
`Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidakmurnianmu kepada mereka. Jika engkau telah menyadari tentang ini, maka buatlah dirimu bersih! Singkirkan dari dirimu kebanggaan, iri dan dengki, sampai engkau alami kesenangan dalam perjuangan dan penderitaanmu. Melalui tuntutan-tuntutan mereka, temukanlah kegembiraan jiwa. Setelah itu, engkau akan tahan terhadap penderitaan semacam itu, dan engkau tidak akan berlalu dari penindasan, karena engkau melihat keuntungan yang mereka berikan.`

---
* “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS Al-Fajr [89]:27-30)


No comments:

Post a Comment