Thursday, December 20, 2018


Takdir yang membentuk kehidupan setiap orang manusia adalah bahan baku agar membaca kodrat dirinya masing-masing. Kita tidak memilih dilahirkan dari orang tua yang mana, di titik bumi yang mana, di era tahun berapa, demikian pun semua kemampuan, potensi, kecerdasan serta kelemahan di dalam diri sudah ada benihnya masing-masing. Bedanya ada yang berkembang potensi itu dan ada yang tetap menjadi benih yang tidak tumbuh keluar bakat dirinya.

Oleh karenanya hidup itu bukan sekadar menyelesaikan masalah, bergerak dari satu ujian ke ujian lain, menutup satu lubang ke lubang lain, atau sekadar meraih satu pencapaian ke pencapaian lain. Jika jalur itu yang diikuti maka manusia sampai mati tidak akan pernah menemukan kepuasan diri dan jauh dari kebahagiaan sejatinya.

Hidup bukan sekadar kuliah di tempat yang terbaik, meraih pekerjaan yang keren, berumah tangga, membesarkan anak dan mencapai sekian banyak ambisi pribadi atau demi memuaskan keluarga dan memuliakan diri dalam pandangan manusia semata. Kenyataan Allah kerap menurunkan peringatannya bahwa apa yang kita kejar bisa jadi sebuah fatamorgana belaka. Tidak sedikit  yang sekolah tinggi-tinggi lalu jatuh dalam depresi, ada yang karirnya melejit tapi rumah tangga dan anak-anaknya berantakan, ada demikian cinta dengan keluarganya lalu harus menelan pil pahit perpisahan dengan anggota keluarga yang meninggal dunia.

Inilah kehidupan, roda yang akan terus menggerinda setiap kerak noda yang mestinya tidak menempel di cermin hati. Dengannya manusia akan digiring untuk senantiasa mencari sesuatu yang hakiki. Tentang makna sebuah keabadian, pun apa arti kebahagiaan. Kehidupan segila apapun, situasi sepelik apapun atau keadaan segenting apapun pada hakikatnya adalah sebuah rahmat-Nya yang menuntun setiap hamba yang menyerahkan diri kepada-Nya untuk meraih kebahagiaan yang sejati. Hanya dengan itu manusia menjadi lebih memaknai kehidupannya masing-masing, baik yang sudah berlalu maupun di bumi yang tengah ia pijak sekarang ini. Dengannya pula hati menjadi lebih ringan menjalani aliran sungai takdirnya.
(Adaptasi dari kajian hikmah Al Quran yang disampaikan Zamzam AJT, Februari 2010)

No comments:

Post a Comment