Sunday, November 18, 2018

Hadirnya khazanah Langit mensyaratkan pengeringan di tingkat bumi.
Sang Maha Pemberi hanya akan melimpahkan anugerah-Nya kepada tangan yang membuka ke langit.
Suasana fakir membuat beda potensial langit dan bumi berada pada titik optimal.
Karena yang turun adalah anugerah-Nya yang suci, yang mengubah makna sebutir debu menjadi intan bernilai tinggi.
Kehadiran bayi yang mulia, Muhammad saw, disimpan di keluarga termiskin di sukunya,
Yang menyusuinya pun keluarga yang termiskin di kabilahnya,
Tapi bayi yang membawa khazanah langit membuka pintu keberkahan buminya.
Susu sang Halimah yang surut tiba-tiba mengalir deras, ternak yang kering susu tiba-tiba mengeluarkan air susu yang berlimpah, padang yang gersang berubah menjadi oase yang sejuk dan subur.
Ada kunci terbukanya khazanah Ilahiyah dibalik kemiskinan dan kekurangan.
Miskin tak selalu berarti kekurangan harta, kadang seseorang dimiskinkan pergaulannya, dibuat sepi hatinya, dibuat bingung mengambil keputusan, didera rasa frustasi dengan keadaannya, dilepas dari hal-hal yang pernah membuatnya bahagia, apapun yang menarik seseorang hingga jatuh dalam kondisi fakir, mutlak membutuhkan pertolongan Allah. Itulah saat bumi dikeringkan. Tinggal sabar menunggu hujan dari langit, ketimbang sibuk menggali sumur di padang pasir atau menunggu kabilah lain datang membawa air yang belum tentu kapan datangnya.
Sumber air kita masing-masing begitu dekat, di atas kepala kita masing-masing. Kepala yang sama yang lebih sering menunduk ke bawah mencari “harta karun” dibanding menengadah ke langit meminta hujan bagi dirinya.
“Tapi aku sudah lelah menunggu dikabulnya doaku!”
“Aku sudah muak dengan keadaanku ini!”
“Aku sudah tak tahan lagi menanggung kesulitan hidup ini.”
Astaghfirullahaladziim...
Begitu lantangnya suara hawa nafsu yang bernuansa tak sabaran itu.
Baru diuji begitu saja sudah meraung-raung, padahal proses pengeringan diri yang dianggap menyakitkan itu adalah untuk kebaikan dirinya sendiri.
Karena agar tumbuh cepat sebiji benih harus dikeringkan sebelum ditanam.
Dia adalah Sang Penanam Terbaik,
paling tahu cara menumbuhkan benih yang ada dalam diri seseorang hingga akhirnya berbuah dan menyenangkan Sang Penanam.
Jauh memang jarak pengetahuan sebuah biji untuk memahami apa makna dijemur di bawah terik matahari dengan munculnya sebuah buah yang manis dan bisa dinikmati makhluk lain dan bijinya memungkinkan menumbuhkan buah lain. Ada sekian jenjang proses dari bertahan di sebuah proses pengeringan hingga masuk ke kegelapan tanah dan menumbuhkan pohon yang dahannya menjulang ke langit. Terlalu panjang untuk diterangkan dalam panjang bacaan selama tiga menit. Maka sabar saja. Pada saatnya semua akan menjadi terang.
Belajar dari kisah bayi mulia Muhammad saw yang ditakdirkan hadir di bumi yang serba kekurangan, akan tetapi berkah kesucian jiwanya bisa membuat suasana buminya berbalik seratus delapan puluh derajat. Sekarang, apa kebutuhan yang paling urgen saat ini, keinginan yang paling menghias doa di setiap malam atau yang mewarnai nuansa hati kita dari hari ke hari? Sebelum sibuk mencari solusi horizontal, menengadahlah dulu ke langit masing-masing, tempat jiwa kita berada. Disitu letak kunci-kunci perubahan kehidupan. Karena keadaan bumi diri kita baru berubah jika kita mengubah keadaan jiwa sendiri.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada di dalam anfus (jiwa-jiwa) mereka” QS Ar Ra’d:11

No comments:

Post a Comment