Wednesday, May 3, 2017

Tentang Meminta Maaf


Kontroversi apakah dalil meminta maaf sebelum ramadhan didasari dalil yang shahih atau tidak adalah lagu lama dari tahun ke tahun, setelah itu biasanya nanti ada perdebatan lagi pas lebaran ngga ada dalilnya bilang "mohon maaf lahir dan batin".

Ada berbagai sisi dalam memandang keberagamaan, dan sisi syariat hanya satu pilar dari tiga pilar yang diterangkan dalam hadits shahih mengenai tiga pilar beragama sbb :

“Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat rasululah S.A.W. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha nabi,
Kemudian ia berkata: “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah S.A.W menjawab, ”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata, ”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.”
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi S.A.W menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi: “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab, ”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab, ”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga nabi bertanya kepadaku: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, ”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Dia bersabda, ”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.”
— HR. Muslim no.8


Aspek fiqih yang mengupas apakah shahih atau tidak suatu hadits berkutat dalam pilar islam, sedangkan bicara agama ada aspek batiniah lain yang menyangkut iman dan ihsan yang kerap luput dipertimbangkan. Akhirnya banyak orang menjadi ribut memperbincangkan ibadah lahiriah semata dan sedihnya kerap kali berujung kepada perpecahan dan penghancuran dua pilar agama lainnya.

Tentang meminta maaf, pada dasarnya setiap hari kita wajib meminta maaf kepada Allah, kepada orang-orang terdekat kita apalagi kepada mereka yang pernah kita sakiti. Karena kita tidak pernah tahu apakah hari itu akan menjadi jatah terakhir kita hidup di dunia. Jika kemudian banyak orang membangun tradisi meminta maaf sebelum datangnya bulan suci Ramadhan yang merupakan bulan ampunan dan rahmat Allah yang khusus semoga dilakukan dari niatan menegakkan agama dan membangun syiar Allah. Adapun meminta maaf itu juga hendaknya bukan lips service semata akan tetapi dilakukan dari hati yang terdalam, bisa jadi kita pernah mendengki yang bersangkutan, bisa jadi kita pernah mencibirnya dalam hati, bisa jadi kita pernah menggunjingnya, maka bersegeralah meminta maaf tanpa menunggu bulan Ramadhan.

Beribadah itu terdiri dari dimensi horisontal yang berkaitan dengan muamalah dengan sesama ciptaan-Nya juga dimensi vertikal yang menyangkut memurnikan tauhid kepada-Nya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW yang tidak menapaki tahapan isra' - diperjalankan di bumi di malam hari sebelum beliau diangkat ke langit untuk bertemu Allah (mi'raj), maka taubat kita tidak akan sampai jika kita belum meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, dengan mereka yang pernah kita sakiti, dengan saudara yang kita sudah tidak ajak bicara bertahun-tahun lamanya, dengan teman yang kita hindari terus karena menyimpan kekesalan dalam hati. Selama hati masih menyimpan dendam dan amarah kepada makhluk-Nya maka jiwa manusia tidak akan pernah bisa meraup makrifatullah. Karena hanya hati yang bersih yang bisa bertatapan dengan-Nya.

Jadi meminta maaflah kapanpun itu.
Wallahua'lam bishowwab

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” - (QS. Hud : 3)

No comments:

Post a Comment