Tuesday, October 10, 2017

Ini Rezeki Yang Patut Diperjuangkan

Rezeki dan usia itu salah satu yang sudah dikadarkan kepada setiap manusia saat jiwanya ditiupkan bersama sang ruh ke dalam janin ketika di dalam kandungan ibu*. Oleh karenanya Guru saya mengajarkan adab dalam berdoa agar menghindarkan diri dari meminta "rezeki sebanyak-banyaknya dan umur yang panjang." Sebaiknya jika memohon rezeki kasus per kasus saja, kalau sedang butuh uang sekolah anak mintalah, kalau butuh biaya menikah mohonkanlah. Kemudian saksikan bagaimana Allah Sang Penguasa seluruh alam menggerakkan semua ciptaan-Nya. Dengan cara inilah kita bisa mengenal-Nya dengan lebih baik.

Juga penting untuk memohon sesuatu yang pas dengan kadar diri, termasuk di dalamnya gaya hidup. Setiap orang sudah dikadar kapasitas mengatur rezekinya masing-masing ada yang punya kapasitas mengatur rezeki satu ember, ada yang berkapasitas mengatur rezeki satu gentong dan juga ada juga yang punya kapasitas mengatur rezeki satu danau. Disini pentingnya kemampuan untuk membaca diri dan jujur kepada diri sendiri. Sebab kalau seseorang kapasitas pengaturan rezekinya satu ember lalu meminta satu danau, bisa-bisa dikabulkan tapi jiwanya pasti akan pontang-panting mengatur itu semua, karena itu diluar kapasitasnya. Akhirnya apa yang terjadi? Keinginannya menjadi liar, waktu dan tenaganya akan habis oleh hal-hal yang bukan urusan dia, dan ia akan dibuat mabuk oleh rezeki yang terlalu banyak itu hingga akhirnya maut datang menjelang dia terlupakan oleh tugas utama dirinya, sebuah misi suci yang melatarbelakangi mengapa dia diutus ke muka bumi.

Oleh karenanya sangat tidak layak untuk mengukur pencapaian hidup dari kadar rezeki lahiriyah yang sudah dikadar berbeda untuk masing-masing orang itu. Sama sekali tidak adil. Rezeki itu bukan indikator kesuksesan hidup, lha wong sudah dijatah, biasa saja menyikapinya. Rezeki lahiriyah itu hanya alat untuk menggapai rezeki batin yang kebanyakan manusia meninggal dengan membawa kantong rezeki batin dalam keadaan kosong melompong.

Apa rezeki batin itu? Dia adalah ilmu, pengetahuan tentang-Nya, tentang kehidupan, kesabaran, kesyukuran, rasa tawadhu, tawakal dan sifat-sifat baik lainnya. Itulah sebaik-baik rezeki yang akan kita bawa ke alam berikutnya selain dengan berbagai harta, tenaga, waktu yang kita infaq-kan untuk-Nya. And that's the one worth fighting for...

---
* "Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rezekinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya.” (HR Bukhari Muslim)



Amsterdam, 10 Oktober 2017
Jam 16.23 sore selepas diskusi dengan kenalan dari Inggris

No comments:

Post a Comment