Wednesday, October 4, 2017

"Sabar saja dulu..."

"...dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting."(QS Luqman [31]:17)

Bagi yang sedang menunggu datangnya sang jodoh,
Bagi yang hatinya meradang karena sudah tidak betah di pekerjaannya,
Bagi yang harus menerjang kemacetan sehari-hari,
Bagi yang sedang berada dalam kemelut rumah tangga,
Bagi yang berjuang mencukupi kebutuhan rumah tangga,
Bagi yang masih banting tulang menutup hutang-hutangnya,
Bagi yang rempong mengurus anak-anak balita(ini jelas menasihati diri sendiri 😉)

"Sabar saja..." demikian selalu mursyid saya mengajarkan, walaupun yang curhat sudah cerita ngalor-ngidul. Ya memang itu satu-satunya jalan untuk mencapai kemuliaan hidup.
Sabar bukan berarti pasif, diam dan berpangku tangan.
Sebaliknya sang jiwa berjuang untuk menundukkan keliaran sang hawa nafsu yang selalu bersifat tergesa-gesa dan ngga sabaran. Padahal kalau saja seseorang sabar akan ada jalan keluar yang Allah tunjukkan, bukan jalan keluar hasil nerobos pagar atau nabrak tembok yang bikin runyam itu. Tunggu saja sampai Allah berikan jalan keluar yang jelas dan baik. Bukankah Rasulullah saw bersabda, "Menanti datangnya penyelesaian dari Allah adalah ibadah."

Kiranya sabar dan ngga grasa-grusu itu menandakan kematangan jiwa seseorang. Sebagaimana dikatakan oleh Jalaluddin Rumi, "Kawan, menjadi seorang pe-Cinta itu harus menelan dukanya! Dimanakah dukamu? Diamlah! Karena kesabaran itu memerlukan kedewasaan. Dimanakah kedewasaan?"

Tilawah QS Luqman
Amsterdam, 4 Oktober 2017
11.15 pagi yang mulai dingin di musim gugur
Menunggui Rumi yang asyik nonton Omnom, jelang belanja di Jumbo lalu jemput Elia



No comments:

Post a Comment