Thursday, March 8, 2018


الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّىٰ

Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.

(QS Thaha:53)

Ada tiga proses kehidupan yang Allah terangkan dalam surat ini.

Pertama, ia telah membentangkan bumi sebagai hamparan. Dalam ayat lain dikatakan proses penciptaan bumi membutuhkan waktu empat masa, dua kali lipat dibandingkan masa pembentukan langit. Bayangkan bagaimana Allah telah merancang demikian rapih bumi serta kehidupan yang ada di atasnya, juga aspek bumi yang lain yaitu jasad kita; sudah diatur rapih. Dilahirkan dari orang tua yang mana, lahir di bagian bumi sebelah mana, lengkap dengan potensi yang ada. Semua bekal kehidupan manusia sudah disiapkan bahkan sejak ia belum dibentuk di rahim ibunya.

Tahap kedua adalah dengan 'menjadikan'bagimu di bumi itu jalan-jalan  (subula). Kata 'menjadikan'itu diterjemahkan dari 'salaka' yang berarti juga 'berjalan'. (suluk= perjalanan, salik= orang yang menempuh perjalanan). Tahapan ini merupakan tahapan yang ada di tengah antara 'bumi'dan 'langit' karena kalimat berikutnya menyebutkan tentang 'dan menurunkan dari langit air hujan.'

Aspek bumi dalam Al Quran melambangkan jasad manusia, sedangkan aspek langit melambangkan jiwa manusia. Lalu apa komponen dalam diri manusia yang bisa melingkupi jasad dan jiwanya? Ialah sang qalb, sebagaimana hadits Rasulullah saw, :
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Daging yang dimaksud secara fisik memang jantung, yang bukan kebetulan terletak di dada manusia, mirip dengan letak qalb yang juga berada di dada jiwa manusia.

Jadi proses pembentukan bumi, dibentangkan jalan-jalan dan diturunkan langit dari hujan adalah sebuah urutan. Setiap manusia diberi modal buminya masing-masing. Selanjutnya tergantung kepada masing-masing orang apakah dia mau bersuluk, dalam arti menempuh qadha dan qadar kehidupan yang telah Allah jabarkan. Jika ia menerima takdirnya walaupun masih dengan ebrat hati, maka artinya ia mulai berjalan. Itulah syarat proses berikutnya berjalan, yaitu diturunkan oleh Allah air hujan dari langit.

Sesuatu dari langit menggambarkan sebuah anugerah Ilahiyah yang merupakan makanan bagi jiwa. Rasulullah diriwayatkan beberapa kali bergembira menyambut hujan salah satunya dikabarkan oleh Anas bin Malik ra yang berkata, "Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, mengapa Engkau melakukan demikian? Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "karena hujan ini baru saja Allah ciptakan". (HR. Muslim)

Apa fungsi air hujan bagi bumi?  Ia berfungsi sebagai sumber kehidupan, untuk menyuburkan bumi, dari tanah yang subur benih-benih tanaman akan tumbuh dan akhirnya berbuah pada musimnya masing-masing.

Setiap manusia menyimpan sebuah benih yang Allah simpan di dalam jiwanya masing-masing. Sesuatu yang harus ditumbuhkan seiring dengan usia kehidupannya di dunia. Agar ia berbuah dan menyenangkan hati Sang Penanam. Insya Allah

(Amsterdam, 8 Maret 2018. 15.15 sore, jelang musim semi)

No comments:

Post a Comment