Saturday, September 8, 2012

Tentang Shiraathal Mustaqiim

Setiap hari setidaknya 17 kali sehari kita diajarkan untuk memohon ditunjukkan kepada shiraathal mustaqiim dalam setiap rakaat shalat kita. Satu-satunya doa yang terdapat dalam surat Al Fatihah yang tanpa membacanya shalat kita menjadi tidak sah, sebenarnya doa itu betul-betul mengingatkan kita untuk senantiasa fokus dalam hidup untuk mencari jalan khusus kita menuju Allah.

Berdoa memohon shiraathal mustaqiim sebetulnya sama dengan meminta agar Allah Ta’ala menunjukkan agar kita masing-masing ditunjuk pada misi hidupnya. Setiap orang punya misi hidup yang tidak sama. Benda-benda di sekeliling kita pun punya fungsi spesifiknya masing-masing, asbak fungsinya ya untuk abu rokok, cangkir adalah untuk air minum, sendok untuk menyuap makanan dsb. Apa yang dibuat oleh manusia saja ada fungsinya, apalagi manusia, makhluk termulia di alam semesta, tidak mungkin diciptakan hanya sekolah, menikah, punya anak, kerja, pensiun dan mati. Semua seolah sama dan tidak mengenal fungsinya.

Kita harus mengenal apa fungsi diri masing-masing, itu adalah thariq dan shiraathal mustaqqim kita. Jadi bukan sekedar tarekat. Tarekat hanya salah satu cara utk menemukannya. Mau tarekat besar, kecil, ataupun tidak bertarekat, yang penting menemukan shiraathal mustaqiim-nya.

Jadi istilah shiraathal mustaqiim itu bukan semata-mata suatu jembatan di akhirat nanti, yang katanya seperti titian serambut dibelah tujuh yang tajam seperti pisau, yang menggambarkan betapa sulitnya menempuh jalan itu. Shiraathal mustaqiim itu kita minta hari ini setiap hari karena ia adalah sebuah jalan yang membentang sejak hari ini hingga ke hari akhir nanti, ke sebuah zaman yang sangat jauh. Artinya kita harus bisa menemukan dalam kehidupan yang samar ini sebuah jalan yang lurus. Itulah kenapa dalam konteks suluk harus dibuka mata hati, agar kita bisa melihat jalan yang satu itu di antara berbagai jalan semu yang ada. Yang dibuka adalah mata dalam untuk melihat apakah benar langkahku adalah dalam kodrat Allah?

Caranya bagaimana? Semua peta dan kunci untuk membukan jalan diri masing-masing ada dalam Al Quran, maka wajib untuk mempelajari dan mengamalkannya. Tentu saja mempelajari Al Quran sendiri bukan perkara mudah, maka kita butuh mencari referensi ke hadits Rasulullah, keterangan para sahabat dan waliyullah mengenai tafsir Al Quran. Seorang sufi berkata, ‘mustahil seseorang ingin menemukan kodrat diri tanpa shalat dan tanpa membaca Al Quran.’

Ibaratnya kita hendak melintasi padang pasir atau mendaki gunung yang besar, tentu kita membutuhkan peta. Peta itu memuat keterangan tentang jalanan yang ada, tanjakan, turunan dan semuanya tercantum di dalamnya. Al Quran adalah peta seseorang menempuh perjalanan menuju kesejatian diri. Tidak hanya itu Al Quran adalah transformator jiwa kita, hingga mata hati terbuka, jiwa bercahaya, hingga jalan itu makin jelas.

Semoga Allah Ta’ala menuntun kita kepada shiraathal mustaqiim. Aamiin

(Referensi : Materi Serambi Suluk, Zamzam AJT, Jakarta 2008)

No comments:

Post a Comment